
"Anya, aku tadi lupa tidak bawa minum Steven, aku cari dulu ya, kamu mau ikut?" tanya Ryan setelah Reza berjalan jauh ke ujung sana menghampiri sang anak.
Anya nyaris menjawab iya, namun urung karena tiba-tiba terdengar suara Steven memanggil namanya.
"Mbak Anya!!" pekik Steven, saat Anya dan Ryan menoleh ke arahnya Steven melambaikan tangan dengan tubuh yang melompat-lompat.
Anya lantas menatap om Ryan kikuk, jadi bingung mau bagaimana.
"Ya sudah sana datangi Steven, aku akan pergi sendiri."
"Maaf ya Om."
"Iya... tidak apa." Ryan tersenyum.
Anya kemudian pergi lebih dulu, dengan riangnya dia berlari menghampiri Steven, lupa jika di samping bocah manis itu ada sang ayah yang berdiri dengan wajah datar.
"Mbak Anya, tolong pegang Malvin, aku mau beli gelembung sabun itu," ucap Steven, dia juga langsung menyerahkan Malvin pada sang pengasuh.
Reza merasa tak dianggap, kenapa Steven malah meminta Anya untuk membawakan kodok kesayangannya itu, padahal dia sejak tadi sudah berdiri disini.
"Stev, tidak mau mbak temani beli gelembungnya?" tawar Anya pula.
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri," tolak Steven. Bocah itu bahkan langsung berlari ke arah penjual gelembung di sudut sana, meninggalkan Anya jadi hanya berdua dengan papa Reza.
__ADS_1
Hening sesaat.
Anya seperti jadi batu, berdampingan dengan papa Reza membuatnya mati kutu.
Kwek! bunyi Malvin, pemecah suasana hening itu.
Kwek!
Anya yang kesal malah menekan tubuh Malvin hingga katak itu kembali berbunyi.
Kwek!
"Mungkin dia mau dilepas," ucap Reza, lama-lama terganggu juga dengan bunyi katak itu.
Siapa yang menduga jika Malvin malah melompat dengan sangat jauh.
Anya sontak mendelik, seketika takut katak itu hilang.
"Malvin! Astaghfirullah! Pa! tangkap!" pekik Anya, dia bahkan langsung menarik tangan papa Reza untuk segera menangkap katak
itu.
Bisa sangat mengerikan jika Steven sampai marah.
__ADS_1
Anya dan Reza lantas sibuk sendiri untuk kembali menangkap katak itu. berulang kali berdiri dan berjongkok namun belum membuahkan hasil.
"Papa yang bener dong! hap! gitu!!" kesal Anya, papa Reza kan pria jadi harusnya lebih cekatan dibanding dia.
Reza tak menjawab apapun, hanya sekilas melirik Anya dengan tatapannya yang dingin.
Steven di ujung sana yang melihat kelakuan mbak Anya dan papa Reza seketika tertawa terbahak. Bahkan di dalam benaknya mulai terpikir sebuah rencana, agar sang ayah bisa memiliki waktu lebih banyak untuk bermain bersamanya.
Semoga saja Malvin hilang. Batin bocah 6 tahun itu.
Ayo Malvin, melompatlah yang lebih jauh, cepat kabur dan temukan keluargamu sendiri. dengan begitu aku akan punya alasan untuk membuat papa berada lebih lama di sini.
Dan cemplung! akhirnya Malvin masuk ke dalam danau buatan yang ada di taman tersebut.
Anya menjerit tertahan, sementara Reza menganga dengan nafas yang sudah terengahh.
Reza bahkan tak pernah menyangka jika dia akan berburu katak seperti ini, seumur hidupnya, ini adalah hal paling konyol yang pernah Reza lakukan.
"Papa, bagaimana iniii? Steven pasti marah," rengek Anya.
Reza tetap diam dengan wajahnya yang datar. Menatap danau dimana Malvin berenang bebas
"Mbak Anya, kenapa kesini? kan tadi mainnya di sana," ucap Steven, yang entah kapan datang.
__ADS_1
Lama-lama bocah itu sama seperti ayahnya, datang tiba-tiba dan selalu mengagetkan Anya.