Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 28 - Minta Maaf berulang kali


__ADS_3

"Reza!" pekik Monalisa sekali lagi, dia pun mengetuk pintu rumah itu dengan kuat.


Namun bukan Reza yang kembali, melainkan penjaga keamanan yang datang.


"Maaf Nona, anda harus segera pergi dari sini," ucap penjaga itu.


Mona hanya terdiam, nafasnya memburu tanda amarah. Dia mundur beberapa langkah dan menjauh dari pintu, sungguh tak terima di perlakukan seperti ini.


Apalagi kesalahan jelas bukan hanya ada padanya, tapi juga pada Anya yang menghasut sangat anak.


Anya pasti marah dengannya karena insiden jatuh itu, lalu pengasuh tak tahu diri itu menghasut Steven untuk pulang.


"Sudah berapa lama Anya bekerja disini?" tanya Mona pada penjaga tersebut, dia tidak langsung pergi.


"Sudah 2 bulan ini Nona."


"2 bulan?" ulang Mona, itu bukanlah waktu yang lama, tapi bagaimana bisa anaknya terlihat begitu dekat dengan sang pengasuh.


Hal mencurigakan itu membuat Monalisa tak bisa diam saja, pasti ada hal lain yang dilakukan oleh Anya untuk membuat Steven bersedia dekat dengannya. Mungkin ancaman, atau bahkan niat terselubung.


Anya tidak hanya bekerja sebagai pengasuh, namun berusaha juga untuk menggantikan posisinya sebagai mama bagi Steven.


Mona menggelengkan kepalanya kecil, manusia miskin seperti aja memang pasti akan melakukan segala cara untuk bisa hidup enak dengan instan


Awas kamu Anya. Batin Mona.


Lantas tanpa ada kata lagi, Mona pun segera pergi dari sana.


Sementara itu di dalam rumah keluarga Aditama, tak ada satupun yang menganggap tentang kedatangan Monalisa barusan.

__ADS_1


Apalagi saat Steven mulai turun dan bergabung dengan semua keluarga, maka tidak ada sedikitpun pembahasan tentang wanita itu.


"Anya, panggil papa Reza di kamarnya, sekalian kamu kalau mau minta maaf," ucap Oma Putri, mereka sudah tiba di meja makan tapi belum terlihat Reza di sana. Kata Rina, kakaknya itu masih berada di dalam kamar.


Dan Ryan yang mendengar perintah ibunya itu pun langsung menoleh, sedikit ada rasa tak nyaman di dalam hatinya ketika Anya akan menemui sang kakak di dalam kamar.


"Mungkin sebentar lagi turun Oma, tunggu saja," ucap Ryan.


"Tidak apa-apa Om, aku akan naik ke atas." Anya yang menyahut, meski takut, dan meski setuju dengan kalimat om Ryan, tapi Anya tidak ingin menolak perintah Oma Putri, jadi mau tidak mau Anya pun harus segera pergi dari sana.


Steven yang tau ketakutan mbak Anya-nya pun hanya mengulum senyum.


Menaiki anak tangga sedikit berlari, Anya akhirnya tiba di lantai 2. Menuju kamar papa Reza yang ada disebelah kamar Steven.


"Ya Allah, diketuk apa tunggu saja ya?" gumam Anya, lalu menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


Dengan tangan yang seperti bergetar, dia pun mengetuk pintu kamar itu. Anya langsung bicara sebelum mendengar apapun dari dalam sana.


"Ini Anya Pa!" ucap Anya dengan suara cukup tinggi, setelah mengetuk pintu itu dia pun meremat kedua tangannya sendiri.


Selalu saja merasa gugup dan takut tiap kali hendak berhadapan dengan papa Reza.


Dan tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka, papa Reza keluar.


Deg!


Anya seperti gelagapan. Apalagi saat melihat papa Reza yang selalu menatapnya dengan tatapan dingin.


"Oma meminta aku memanggil papa untuk segera sarapan," ucap Anya, kedua matanya berulang kali berkedip dengan cepat, tanda gugup.

__ADS_1


Reza hanya mengangguk kecil, tanpa berkata sepatah kata pun. Membuat Anya makin bingung.


Namun sebelum papa Reza pergi dari sana, dia harus segera meminta maaf.


"Pa, aku, aku, aku minta maaf." Anya menunduk.


Reza tetap menatap datar.


"Hem," jawabnya singkat, lalu pergi.


"Pa!" Anya reflek menahan lengan pria itu, dia belum selesai bicara tapi papa Reza sudah mau pergi saja.


Namun secepat kilat dia pun sadar jika telah salah menahan lengan ini, jadi buru-buru Anya melepasnya.


"Ma-maaf, ta-tapi papa tidak akan memecat aku kan?"


"Kamu mau dipecat?"


"Tidak!!" balas Anya dengan membentak. Sadar salah, dia minta maaf lagi.


"Maaf."


"Jangan banyak ulah, jangan ambil keputusan sesuka hatimu meski itu adalah permintaan Steven, cobalah untuk bicara denganku atau Oma Putri. Paham kan?" balas Reza akhirnya.


Anya sudah menunduk, rasanya dia sedang dimarahi oleh ayahnya sendiri.


"Baik Pa," jawab Anya lirih.


"Maafkan aku," timpal Anya lagi. Entah sudah berapa banyak dia mengucapkan kata maaf itu. Minta maaf terus.

__ADS_1


__ADS_2