Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 34 - Antara Salah Dengar Atau Tidak


__ADS_3

Anya membuang nafasnya perlahan, sekuat apapun dia coba untuk menghindari kebersamaannya bersama papa Reza, tapi nyatanya takdir selalu membuat mereka bersatu.


Melalui Steven Anya merasa dia jadi banyak sial.


"Tangan papa jadi kotor, maafkan aku ya Pa, harusnya aku yang turun ke dalam selokan itu," lirih Anya.


Saat ini mereka berdua sudah berada di toilet umum.


Reza tidak masuk ke dalam toilet itu, tapi Anya yang mengambil air melalui gayung dan membawanya keluar.


Di luar sana lah mereka mencuci tangan Reza yang kotor.


"Apa kamu selalu seperti itu? selalu tidak sadar jika telah melakukan kesalahan? lalu beberapa jam kemudian kamu baru menyadarinya?" balas papa Reza, membalas dengan pertanyaan yang bertubi. bahkan sampai Anya merasa pusing sendiri apa saja pertanyaan tadi.


Anya blank, tiba-tiba pikirannya jadi kosong. Satu yang dia yakini bahwa saat ini dia sedang dimarah.


Jadi kalimat yang bisa keluar dari mulutnya hanya satu.


"Maafkan aku Pa."


Reza diam saja.


Dia juga hanya diam saat Anya membasuh tangannya. Menggosok berulang kali hingga tangan itu benar-benar bersih.


Drama berudu akhirnya berakhir.


Nyaris jam 10 pagi mereka baru pulang ke rumah.


Steven langsung berlari ke taman belakang dan membuat rumah baru untuk berudu-berudu itu.

__ADS_1


Semua berudu itu dimasukkan ke dalam aquarium kecil, bisa dipindah-pindah.


Ini adalah hari minggu paling indah yang pernah Steven rasakan.


Malam tiba.


Selepas makan malam, Steven melihat burudu-berudunya, jadi gemas sendiri dengan mainan barunya ini.


"Mbak Anya," panggil Steven, di sampingnya memang ada sang pengasuh. Mereka duduk berdua di taman belakang ini. Lampu taman yang benderang membuat tak ada sedikit pun sisi gelap.


"Hem, kenapa?"


"Hari ini aku bahagia sekali."


"Mbak Anya tahu, pasti karena papa yang ambil berudu-berudu ini kan?"


Steven mengangguk antusias.


Anya memeluk Steven erat.


"Aamiin," jawab Anya singkat, namun syarat akan makna, berharap doa tersebut dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.


"Mbak Anya."


"Hem, apa lagi?"


"Apa aku boleh meminta satu hal?"


"Apa?" tanya Anya.

__ADS_1


"Aku ingin memanggil seseorang dengan sebutan mama, apa aku boleh memanggil mbak Anya dengan sebutan itu?"


Deg! seketika jantung Anya berdenyut. Selalu ada saja yang dilakukan Steven hingga membuatnya jadi jantungan.


Hal ini memang terlihat sederhana, namun tidak sesederhana itu.


Bagaimana bisa seorang pengasuh jadi pengganti ibu untuk anak asuhnya.


Awalnya memang hanya panggilan, namun Anya yakin lambat laun hal itu akan jadi kebiasaan. Dan Anya tidak ingin seperti itu.


Bisa-bisa dia kembali mendapat kemarahan seluruh orang di keluarga ini.


Anya tidak menginginkan hal tersebut, meski dia pun merasa iba dengan keinginan Steven.


Dan untunglah disaat Anya sedang bingung seperti itu, tiba-tiba papa Reza datang menghampiri.


"Steven, ayo masuk, ini sudah waktunya kamu tidur," ucap papa Reza. Dia datang kesini atas permintaan Oma Putri.


Steven tersenyum, menggandeng tangan Anya dan berjalan masuk.


"Ayo Ma," ajak Steven. Dan berhasil membuat Anya mendelik, sementara Reza mengerutkan dahi, antara salah dengar atau tidak.


Tiba di kamar Steven, barulah Anya berontak.


"Stev!! aku tidak mengizinkan mu memangilku mama ya,


aku tidak mau!"


"Mama ayo kita tidur."

__ADS_1


"STEV!!" geram Anya.


__ADS_2