
Tiba di sekolah, Steven turun lebih dulu dari dalam mobil sebelum Anya sempat membukakan pintu untuknya.
Anya bahkan sampai harus buru-buru turun untuk segera menyusul Steven, bocah itu tidak berpamitan sepatah kata pun pada sang ayah.
"Kami pergi dulu Pa!" pamit Anya, dengan kepala yang menunduk memberi hormat.
Reza terpaku sesaat, Entah kenapa melihat Anya yang seperti itu, kini dia malah merasa mendapatkan anak baru.
Apalagi tubuh Anya yang tergolong kecil hingga membuat wanita itu terlihat masih sekolah di jenjang sekolah dasar.
Reza tidak menanggapi apapun hingga akhirnya Anya pun menutup pintu itu dengan cukup kuat.
Brak!
Sungguh, Anya tidak sengaja melakukannya. semua itu murni hanya karena reflek, karena dia buru-buru ingin mengejar Steven.
"Stev! tunggu mbak Anya dong."
Steven hanya diam.
"Tadi kok nggak pamit sama papa? lain kali pamit ya?"
Steven tetap betah diam, dia terus berjalan sampai akhirnya bertemu dengan teman-temannya.
Bocah itu mulai bicara dan tertawa, seolah mengacuhkan keberadaan Anya.
Huh! sabar, istighfar. Batin Anya, dia tetap tersenyum, melambai saat Steven mulai masuk ke dalam kelas. Sementara dia menunggu di ruang tunggu yang memang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.
__ADS_1
Dari tempat nya duduk ini, Anya masih mampu mendengar jalannya kelas yang diikuti oleh Steven.
Mulai dari menyanyi, menebak jenis hewan sampai bermain kucing dan tikus.
Diantara banyaknya suara tawa bocah-bocah itu, Anya seperti tidak mendengar tawa Steven.
Saking penasarannya, Anya memberanikan diri untuk mengintip. melihat Steven yang tetap memasang wajah dingin meski mengikuti permainan itu.
Jam 10 kelas selesai.
Teman-teman Steven keluar dengan ceria, sementara Steven tidak. Hanya tersenyum kecil dan pamit pada sang guru. Lalu menghampiri Anya.
"Mbak Anya aku capek, bawakan tas ku ya?"
"Baik," balas Anya patuh dan antusias.
Anya duduk di depan lagi, kata pak Reza Anya harus selalu duduk disini.
"Mbak Anya, aku mau makan bakso tusuk, nanti belikan ya?"
"Baik, dimana belinya?"
"Ada nanti disana."
"Oke."
Mobil terus melaju, cukup jauh dari area sekolah, bahkan jalannya nampak berbeda dari saat pergi tadi, karena kini Steven ingin membeli bakso tusuk kesukaan dia.
__ADS_1
"Itu Mbak!" tunjuk Steven.
Sopir perlahan menghentikan mobilnya.
Anya turun seorang diri dari dalam mobil itu. Sementara Steven memperhatikan dari dalam sini. Melihat mbak Anya yang masih antri.
"Jalan Om," ucap Steven, tatapannya kini berubah dingin. Sebaik apapun mbak Anya untuk dia, Steven tetap tak mau didampingi oleh seorang pengasuh.
Dia ingin ibunya lah yang menemaninya seperti ini, bukan orang lain.
"Tapi Steven, mbak Anya kan masih di luar," jawab Deri, sang supir.
"Aku bilang jalan, dengar tidak?"
Deri tak punya jawaban lagi atas pertanyaan itu. Meski dia merasa sangat bersalah kepada Anya tapi akhirnya dengan perlahan Deri pun kembali menekan pedal gas.
Sampai akhirnya mobil itu kembali melaju dan benar-benar meninggalkan Anya seorang diri di sana.
"Loh, kok mobilnya pergi!" cemas Anya, dia sengaja menoleh ke arah mobil untuk memastikan keadaan sang anak asuh, tapi ternyata malah melihat mobil itu yang pergi meninggalkan dia.
Anya yang cemas langsung berlari, padahal bakso tusuk itu belum sempat dia beli.
"Stev!!"
"Stev!!" pekik Anya, tapi mobil itu tetap
melaju.
__ADS_1