Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 15 - Menjalankan Misi


__ADS_3

Bagi Anya hari ini waktu berjalan begitu cepat, belum apa-apa jam sudah menginjak di angka 10.


Berulang kali dia menelan ludahnya sendiri dengan kasar, begitu gugup mendekati detik-detik dia akan menjalankan misi bersama Steven.


Gadis cantik berambut panjang itu bahkan langsung bangkit dari duduknya ketika dia melihat sang anak asuh adalah yang pertama kali keluar dari dalam kelas dengan berlari.


"Ayo mbak Anya, cepat, sebelum om Deri datang," ucap Steven dengan tergesa dan makin membuat Anya semakin cemas.


Mereka berlari keluar, Steven keluar lebih dulu dibandingkan teman-temannya. Dia keluar disaat guru sedang mengucapkan salam.


"Stop!" ucap Steven lagi saat dia melihat om Deri sudah tiba di parkiran sekolah.


Jantung Anya makin berdegup. Mereka berdua saling menggenggam erat, saling menautkan jemari saat menjalankan misi ini.


"Kita lewat samping mbak, jangan gugup, pokoknya jalan terus."


"Baik Stev," jawab Anya patuh, sungguh saat ini Steven jauh lebih mirip yang berperan yang sebagai pengasuh.


Dengan langkah pasti Steven pun memimpin jalan mereka. Lewat pintu samping sekolah yang biasa dipakai keluar masuk petugas kebersihan.


Berhasil keluar dari sana, Steven pun berlari hingga Anya mengikuti, mereka menuju jalanan dan langsung mencegat taksi.


Tangan kecil Steven bergerak lincah untuk membuat taksi itu berhenti.


Dan ketika sudah duduk di dalam taksi tersebut, barulah Anya bisa bernafas dengan normal.


"Astagfirulahalazim, astagfirulahalazim, astagfirulahalazim," gumam Anya, dia mengelus dadanya sendiri dan merasakan jantung yang berdegup kencang.


"Tenang mbak Anya, yang penting sekarang kita temui mama dulu, masalah nanti pikir belakangan. Aku janji mbak Anya tidak akan dipecat."

__ADS_1


"Bukan gitu Stev, mbak Anya cuma takut mengecewakan Oma Putri dan yang lainnya."


"Tenang saja, aku yakin mama juga akan membantu kita."


Anya coba mempercayai ucapan itu, dia bahkan mengelus puncak kepala Steven dengan penuh kasih sayang.


Semenjak 2 tahun ini sejak perpisahan kedua orang tuanya, Steven mengaku Jika dia tidak pernah bertemu dengan sang ibu.


Papa Reza dan semua keluarga seolah memang sengaja memisahkan mereka berdua.


Anya turut bersedih tentang hal itu, apalagi anak seusia Steven pasti membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari sang ibu.


Dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka tiba di salah satu gedung apartemen terbesar di kota Jakarta. Steven membayar taksi itu menggunakan uang tunai yang ada di dalam tasnya.


Uang yang dia punya lebih banyak daripada yang ada di dalam dompet milik Anya.


Semalam Steven dan sang mama pun sudah terhubung dalam sambungan telepon, diam-diam bocah genius itu menghubungi mamanya melalui telepon rumah.


Terlebih mama Mona bukanlah orang biasa, dia adalah seorang desainer ternama. Semua karyanya dikenakan oleh para artis dan kalangan atas di kota ini. Setiap hari butiknya pun tak pernah sepi dari pengunjung, bahkan sudah ada tiga cabang.


Steven terus menggandeng mbak Anya saat mereka masuk ke dalam apartemen itu. Penjaga keamanan pun langsung menghentikan mereka berdua.


Dan disinilah peran Anya digunakan oleh Steven.


"Aku dan kakak ku mau menemui mama, kami sudah membuat janji temu."


"Siapa nama mu Nak?"


"Steven Aditama."

__ADS_1


"Anda?" tanya penjaga itu pada Anya.


Namun Anya begitu gugup untuk menjawab.


"Anya," Steven yang menjawab.


"Boleh tunjukkan kartu identitasnya?"


Anya mengangguk cepat, dengan buru-buru mengambil kartu tanda penduduknya di dalam tas.


Petugas itu melihat beberapa saat, lalu mempersilahkan keduanya masuk.


Anya tercengang, semakin dia masuk ke dalam apartemen ini semakin indah dia lihat, bangunan megah dengan langit-langit yang begitu tinggi.


Steven menarik Anya untuk masuk ke dalam lift.


"Mbak, tekan tombol 5, unit apartemen mama ada di lantai itu."


"Baik!" jawab Anya, diantara gugup dan antusias. Bersama Steven dia malah seperti sedang jalan-jalan.


Tiba di unit apartemen 5001, Steven meminta Anya untuk menekan Bell.


Tak tak butuh waktu lama, pintu itu pun terbuka.


Monalisa berdiri disana dengan kedua mata yang berbinar, rindu luar biasa pada sang anak ...


"Steven," panggil Mona dia langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar, sementara Steven pun langsung berlari memeluk sang ibu.


"Mama!" pekik Steven dengan suara tertahan.

__ADS_1


Seperti itu saja sudah berhasil membuat Anya menangis.


Ya, tak apa jika akhirnya dia akan dimarahi, tapi yang jelas sekarang Steven bertemu dengan ibunya.


__ADS_2