Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 26 - Begitu Manis


__ADS_3

"Sudah jangan menangis, kami tahu ini semua karena permintaan Steven kan?"


"Kemarin kami hanya terkejut dan cemas, jadi belum bisa berpikir jernih dan hanya tau untuk menyalahkan kamu," timpal Ryan lagi.


Tapi kalimat itu bukannya membuat tangis Anya reda, malah semakin menangis deras.


Dimaafkan rasanya lebih pilu dibandingkan meminta maaf.


"Anya," panggil Oma Putri, setelah menidurkan Steven dia pun kembali turun dan melihat Anya yang menangis.


"Oma, maafkan aku," ucap Anya dengan sesenggukan.


Oma Putri tidak langsung menjawabnya, dia lebih dulu memeluk Anya dengan erat.


Membuat tangis gadis itu jadi semakin menjadi.


"Sudah, sudah, jangan menangis lagi, Oma bersyukur kalian sekarang sudah pulang,"


"Sekarang lebih baik kamu istirahat, besok kan minggu, biar Oma yang urus Steven pagi-pagi, kamu istirahat saja,"


"Nanti kalau keadaan mu sudah membaik, baru temui papa Reza dan minta maaf padanya, ya?"


Oma Putri bicara panjang lebar dan Anya hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala.


Malam yang terasa panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir.


Di rumah ini Anya tertidur dengan sangat nyenyak, tapi tetap saja ketika waktu sudah jam 5 pagi Anya terbangun.


Menyelesaikan semua kewajibannya di waktu itu dan segera keluar.


Dia ingin buru-buru mendatangi kamar Steven, namun kemudian malah berpapasan dengan Ryan di tengah-tengah tangga.

__ADS_1


Deg!


Anya kaget dan gugup. Masih saja merasa canggung sendiri gara-gara kesalahannya.


"Om Ryan, selamat pagi," ucap Anya langsung, Anya berada di bawah, 2 anak tangga dari Ryan, membuat pria itu sampai harus menunduk untuk melihat Anya.


Ryan lantas turun, mencari anak tangga yang pas agar mereka bisa saling bersitatap.


"Pagi sekali kamu bangun, bukannya Oma memintamu untuk istirahat lebih dulu," kata Ryan.


"Aku sudah banyak istirahatnya, ingin segera menemui Steven."


"Kening mu masih terasa sakit?"


"Tidak kok, nanti siang kata dokternya juga sudah bisa dilepas."


"Baiklah, nanti setelah sarapan aku akan mengajak kamu dan Steven ke taman."


"Benarkah?" tanya Anya, memastikan.


"Iya, kenapa? kamu tidak mau."


"Mau!!" balasnya dengan suara tinggi dan antusias.


Ryan bahkan sampai mengulum senyum saat melihat sikap Anya yang menggemaskan seperti itu.


"Tapi sebelumnya kamu harus temui Reza lebih dulu, jangan lupa untuk meminta maaf."


Senyum Anya seketika hilang, karena tiba-tiba dia jadi takut dipecat.


"Kenapa? kamu takut?" tanya Ryan, dia bisa melihat dengan jelas kecemasan yang tergambar di raut wajah Anya.

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepalanya kecil.


"Papa Reza pasti akan memecat ku."


Ryan tersenyum, pikiran Anya terlalu jauh pikirnya.


"Tidak, percayalah, Reza tidak mungkin memecat kamu."


"Apa iya?"


"Iya, ya sudah aku mau pergi dulu."


"Kemana? ini kan masih pagi."


"Ke dapur, ambil minum, mau ikut?" goda Ryan.


"Ti-tidak," jawab Anya dengan tersenyum kikuk, dia kira mau pergi kemana.


Ryan lagi-lagi mengulum senyum, pembicaraannya dengan Anya entah kenapa terasa begitu manis.


Ryan lantas turun lebih dulu, dan Anya pun langsung naik menuju lantai 2.


Sama seperti Ryan, Anya pun jadi senyum-senyum sendiri setelah pembicaraan itu.


Namun kemudian, senyum Anya langsung hilang saat di ujung tangga dia malah bertemu dengan papa Reza.


Deg! jantung Anya seperti mau terlepas saat itu juga.


Kenapa harus bertemu sekarang?


Aku belum siap.

__ADS_1


Anya membeku dan makin jadi batu saat melihat tatapan papa Reza yang begitu dingin.


__ADS_2