
Saat ini Steven dan Anya sudah berada di dalam mobil nya yang dikemudikan oleh Deri.
Melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Steven.
"Ma," panggil Steven.
Anya langsung mendelik, sementara Deri yang samar-samar mendengar pun lebih pilih untuk tidak menggubris, melainkan tetap fokus pada jalanan yang saat ini dia lalui.
"Stev., jangan panggil mbak Anya seperti itu!" kesal Anya.
"Kenapa memangnya?"
"Kalau mbak Anya jadi mamanya Steven, mbak Anya pasti akan berubah jadi jahat."
"Seperti mama Mona?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Ah entahlah," bingung Anya, rasanya percuma saja dia menjelaskan ini semua pada anak seusia Steven. Dia tidak akan memahaminya.
Selama ini Anya bersikap baik pada Steven karena dia memang bekerja dan itu adalah tugasnya. Mungkin akan jadi berbeda jika Steven jadi anaknya.
Mungkin Anya pun akan bersikap seperti ibu-ibu yang lain, yang tidak akan sungkan ataupun segan untuk memarahi sang anak.
__ADS_1
Sementara selama ini Anya pun selalu menahan diri untuk tidak memarahi Steven, tiap kali dia merasa kesal Anya selalu memendamnya sendiri di dalam hati sementara yang ditunjukkannya hanyalah yang baik-baik saja.
Anya jadi murung.
Dia seperti sedang mempermainkan hati seorang anak yang sedang terluka.
"Aku tau kok," balas Steven, tiba-tiba dia bicara seperti itu. padahal perdebatannya dengan Anya tadi belum menemukan ujungnya.
"Tau apa?" tanya Anya pula, dia menoleh pada Steven yang kini duduk di sampingnya.
Kalau tidak dengan papa Reza maka Anya akan duduk di belakang bersama Steven seperti ini, bukan duduk di depan.
"Tau kalau mbak Anya bisa marah juga seperti mama Mona, atau bahkan lebih parah."
"Tiap orang tua pasti menyayangi anaknya, termasuk dengan Mama Mona. Tapi mungkin sekarang Mama Mona belum bisa menunjukkan kasih sayang itu secara penuh, mungkin dia hanya butuh waktu. Dan sampai kapanpun Mbak Anya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mama Mona itu."
Steven terdiam.
Deri di depan sana yang meski hanya diam mulai memahami situasi karena dia pun sejak tadi mendengar pembicaraan keduanya. Steven ingin Anya jadi mamanya, itulah kesimpulan yang Deri dapat.
"Mbak Anya akan selalu menyayangi Steven, tapi bukan berarti harus jadi Mama," jelas Anya lagi dengan suara yang lebih pelan daripada tadi.
Tentang hal ini rasanya perlu dia perjelas, sebelum Steven semakin memperdalam perasaannya sendiri.
Steven terdiam.
__ADS_1
Dalam benaknya dia mulai berpikir banyak hal.
Mungkin bukan hal yang mudah juga untuk Mbak Anya berubah jadi mamanya. Karena untuk jadi mamanya, mbak Anya bukan hanya akan berurusan dengannya saja, tapi juga dengan papa Reza.
Pasti mbak Anya takut dimarahi papa kalau tiba-tiba aku memanggilnya mama. Batin Steven.
Ya pasti seperti itu, aku tidak boleh terburu-buru.
Yang jelas sampai kapanpun, aku tidak mau berpisah dengan mbak Anya.
"Oh iya Stev, Mbak Anya kan selama ini belum pernah pergi ke kantornya papa Reza. Kalau kamu bagaimana? pernah ke sana?" tanya Anya, coba mengalihkan pembicaraan.
"Sama Mbak, aku juga belum pernah ke kantornya papa. Aku saja heran kenapa papa meminta kita untuk datang ke kantornya. Ku rasa papa ingin dekat-dekat dengan Mbak Anya."
"Stev! jangan jadikan ini misi mu yang baru." kesal Anya. Dari bahasa Steven itu, Anya cukup paham jika Steven ingin dia dekat dengan papa Reza.
Sesuatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Anya sangat sangat sadar diri.
Hanya membayangkannya saja dia sudah yakin jika papa Reza pasti akan merasa jijjik. Hii.
Tapi Steven tertawa. padahal memang inilah misi dia selanjutnya, membuat Mbak Anya dan papa Reza jadi semakin dekat. Apalagi mulai hari ini hingga seminggu ke depan mereka bertiga akan banyak menghabiskan waktu bersama.
"Aku tau kok, kantor papa Reza, kamu tenang saja," ucap Deri, menginterupsi pembicaraan keduanya.
Dan tak berselang lama setelah itu, mobil pun berhenti tepat di depan sekolah Steven.
__ADS_1