
Anya duduk di depan dengan Reza yang mengemudikan mobil, sementara Steven duduk di belakang bersama Oma.
Oma Putri memangku sang cucu dengan penuh kasih sayang, dia rindu sekali, bahkan sampai saat ini masih saja merasa cemas.
Biasanya mana mau Steven dipangku seperti ini, dan hal itu makin membuat Oma Putri jadi sendu.
"Oma, aku baik-baik saja, mbak Anya malah yang terluka," ucap Steven, dia bicara cukup keras hingga Reza pun mampu mendengarnya.
Sementara Anya hanya diam dan menunduk, melihat kedua tangannya sendiri yang saling meremat di atas pangkuan.
"Mbak Anya terluka? bagaimana bisa?" tanya Oma Putri.
Dan saat itu juga Steven menjelaskan semuanya, tentang buku sketsa, tentang kemarahan mama Mona dan tentang mbak Anya-nya yang di dorong hingga jatuh terjerembab ke atas lantai dan keningnya membentur pinggiran meja.
Oma Putri terenyuh, dia memang menghawatirkan Anya, namun lebih banyak pilu terhadap nasib sang cucu. Datang ke tempat Mona memang hanya akan memberikan luka.
"Rez, berhentilah di rumah sakit di depan, kita obati lukanya Anya," titah Oma Putri.
"Tidak perlu Oma, ini cuma lecet sedikit," sanggah Anya buru-buru, baginya pun ini hanyalah luka ringan. Di desa sering juga terluka bahkan lebih parah, sungguh, tentang luka ini Anya merasa baik-baik saja.
Reza hanya diam, dia tetap melaju.
__ADS_1
"Coba Oma lihat."
Anya menoleh kebelakang, sementara Oma Putri menghidupkan lampu di dalam mobil itu. Baginya luka itu tetap saja parah, ada memar dan luka di bagian tengah.
"Tidak, kita berhenti di rumah sakit." putus Oma Putri.
"Jangan Oma, lebih baik kita pulang saja, aku akan meminta bantuan bik Asmi untuk mengobatinya," tolak Anya lagi. Bik Asmi adalah salah satu pelayan di rumah Aditama.
"Mbak Anya kok ngeyel sekali sih, kata Oma kan ke rumah sakit, itu Artinya kita harus ke rumah sakit," timpal Steven.
Anya tak bisa membantah lagi, terlebih saat Reza pun membawa mobil itu untuk masuk ke area rumah sakit yang mereka lewati.
Anya di bawa ke ruang IGD dan langsung mendapati penanganan oleh salah satu pegawai kesehatan di sana.
"Sakit ya?" tanya Steven.
Anya mengangguk.
"Perih," jawabnya.
"Jangan nangis," balas Steven lagi. Lama bersama membuat mereka sama-sama tahu, jika mereka berdua adalah dua orang yang cengeng.
__ADS_1
Oma Putri tersenyum melihat kedekatan itu, sementara Reza tetap memasang wajahnya yang datar. Untung saja Steven tidak terluka, kalau sampai anaknya lecet sedikit saja, dia akan langsung memecat Anya.
Jam 9 malam lebih, mereka semua baru tiba di rumah.
Kakek Agung, Rina dan Ryan sudah menyambut dengan cemas.
Apalagi saat tahu mereka semua singgah di rumah sakit.
Steven yang sudah tertidur langsung di bawa ke dalam kamarnya.
Ryan adalah yang terakhir masuk dan paling lama memperhatikan luka di kening Anya.
"Kening mu terluka?" tanya Ryan.
"Iya Om," jawab Anya dengan pandangan yang turun, dia tidak berani bersitatap degan siapapun di rumah ini. Sadar telah melakukan kesalahan besar dengan membawa Steven menemui mama Mona.
"Perbannya seperti mau copot," ucap Ryan, dia mendekat dan langsung menyentuh perban itu. Membenahinya dengan lembut.
"Istirahat lah, tidur yang nyenyak," ucap Ryan.
Kalimat biasa, namun malah membuat Anya menangis.
__ADS_1
Ryan pun lantas menghapus air mata itu, entah apa yang dia ucapkan, Reza hanya bisa melihat adegan tersebut dan tak mampu mendengar pembicaraan keduanya.