
"Dimana mbak Anya?" tanya Oma Putri saat melihat cucunya itu masuk seorang diri ke dalam rumah, harusnya Anya sudah mengekor di belakang.
Steven diam, tetap berjalan masuk.
"Steven! dimana mbak Anya?" tanya Oma Putri lagi, dengan suara yang lebih tinggi. Dia takut Steven kembali meninggalkan pengasuhnya di jalanan, sama seperti pengasuh-pengasuh terdahulu.
Yang dulu mungkin bisa kembali ke rumah ini dengan selamat, tapi Anya? wanita itu bahkan baru kali ini menginjakkan kaki di kota Jakarta.
"Steven!"
"Dia terlalu lama! jadi aku pulang duluan!!"
"Ya Allah Steven, apa salahnya menunggu? kalau terjadi sesuatu dengan mbak Anya bagaimana?"
"Kalau begitu pecat saja dia, aku tidak butuh pengasuh!"
"Ya Allah," Oma Putri menyentuh dadanya yang bergemuruh, mau marah bagaimana lagi pun dia tak sanggup.
Steven pergi dari sana dan segera menuju kamar, tak peduli pada semua yang terjadi. Pada Oma Putri, pada mbak Anya semuanya terserah.
"DERI!!" pekik Oma Putri.
Deri lari dengan terbirit-birit.
"Cari Anya sekarang juga, cepat pergi ke tempat kalian meninggalkan Anya tadi!"
"Siap Oma!" balas Deri, dia bahkan langsung kembali berlari ke luar.
__ADS_1
Sudah jam 1 siang Deri belum juga kembali, Oma Putri menelpon sang supir dan Deri mengatakan jika Anya sudah tidak ada di tempat mereka meninggalkannya tadi.
Deri pun sedang berkeliling namun belum menemukan keberadaan Anya.
Oma Putri terduduk di kursi ruang tengah, dia cemas sekali. Satu-satunya solusi yang terpikir adalah meminta bantuan dari Reza.
Tanpa menunda Oma Putri langsung menghubungi anak pertamanya itu.
"Halo Oma."
"Reza!! masya Allah anak mu itu ya ampun, dia meninggalkan Anya di jalanan saat pulang sekolah! Deri sudah cari tapi belum ketemu! pokoknya oma tidak mau tau ya Rez! bagaimana pun caranya kamu harus cari Anya! titik!"
Reza hanya terdiam, tak sempat pula untuk menjawab dari banyaknya rentetan kalimat yang diucapkan oleh sang ibu.
Pria itu hanya mampu bicara di ujung telepon itu tersambung.
"Iya Oma, aku cari Anya sekarang."
Reza tidak benar-benar mencari sendiri, tapi dia memerintahkan 10 anak buahnya untuk mencari sang pengasuh.
Ryan yang mendengar kabar itu pun langsung mendatangi sang kakak.
"Anya ditinggal Steven?"
"Hem."
"Dimana lokasi terakhirnya."
__ADS_1
"Di Food Court kenanga."
Ryan langsung mau pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Reza.
"Ya cari Anya lah, makin banyak yang cari makin cepat juga di temukan, lagipula rapat sudah selesai kan?"
Reza terdiam.
Ryan pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan sang kakak, ruang Presiden Direktur PT. Aditama Kingdom.
Sampai menjelang magrib, Anya belum juga di temukan. Bukan tanpa sebab kenapa Anya sulit di deteksi oleh semua orang, pasalnya Anya pun tak tinggal diam, dia terus bergerak berusaha untuk pulang.
Bertanya pada semua orang dimana arah rumah keluarga Aditama.
Kakinya lelah sekali tapi Anya tidak berhenti, kalau dia berhenti Anya takut semakin sulit untuk pulang.
Anya tidak tahu jika orang-orang sudah kesusahan mencari dia.
"Ya Allah, ayo Anya semangat, sebentar lagi sampai rumah," gumam gadis cantik berbadan mungil itu. Kini jalan yang dia lewati mulai Anya ingat sedikit-sedikit.
Langit di atas kepalanya mulai berubah jadi gelap.
Dia berjalan di tepian jalan.
Reza yang baru saja pulang melihat Anya
__ADS_1
disana.
"Stop, hentikan mobilnya Pak." titah Reza.