Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 27 - Tiga Orang Pria


__ADS_3

Anya langsung menundukkan kepalanya, sungguh dia tak kuasa untuk membalas tatapan tajam papa Reza.


tapi Anya bisa melihat dengan jelas, ketika kaki pria berwajah dingin itu hendak melewati dia.


"Pa!" panggil Anya dengan cepat, sebelum Reza pergi.


Langkah kaki itu pun terhenti, Anya dengan semua keberaniannya akhirnya dia mengangkat wajah. Tentang hal ini memang sepertinya tidak bisa dia tunda lagi, saat ini juga dia harus meminta maaf.


Tidak ada waktu yang tepat untuk nanti, karena Tuhan telah mempertemukannya sekarang.


Mereka telah saling tatap.


Tapi belum sempat Anya bicara, sudah terdengar suara keributan di lantai bawah. Padahal mulut Anya sudah terbuka siap berucap.


"Steven!!" pekik Mona di bawah sana, dia baru menyadari pagi ini jika sang anak sudah tidak berada di apartemen.


Mona cemas, kalang kabut mencari keberadaan anaknya itu, dia sangat takut jika Steven hilang dan Reza akan marah besar kepadanya.


Dan mendengar suara yang tak asing itu, Reza pun segera turun. Tapi sebelum dia benar-benar pergi Reza lebih dulu menatap ke arah Anya.


"Masuk ke kamar Steven dan pastikan dia tidak keluar," titah Reza.


"Ba-baik Pa," jawab Anya gagap. Begini saja jantungnya sudah berdegup dengan hebat. lantas tanpa mengulur waktu akhirnya Anya pun berlari menuju kamar sang anak asuh.

__ADS_1


Di lantai 1.


Mona berteriak memanggil anaknya, dia sungguh ingin meminta maaf dan berharap Steven masih bersedia ikut dengannya lagi. Mona sedang marah dan dia hilang kendali, bukan berarti dia tidak menyayangi anaknya itu.


Ryan adalah yang pertama menyambut kedatangan Mona, disusul kakek Agung lalu Reza, sementara Oma Putri sudah berada di kamar Steven. Rina masih berada di dalam kamarnya.


Kakek Agung adalah yang bicara.


"Untuk apa kamu datang ke rumah ini dan membuat keributan?" tanya kakek Agung, dia tidak mempersilakan Mona untuk duduk.


"Apa Steven ada disini Kek? Aku ingin bicara dengan dia."


"Steven memang ada di rumah ini tapi aku tidak mengizinkan dia bertemu denganmu."


Tapi sungguh, siasat Mona itu tidak berpengaruh pada semua orang di rumah ini.


Tanpa perlu dijelaskan pun mereka semua bisa melihat ketulusan Anya pada Steven. semua orang malah cemas jika Steven lah yang akan menghasut Anya.


"Lebih baik kamu pulang ke apartemen mu, cepat-cepat hapus CCTV di sana, sebelum tindakan mu yang menganiaya Anya kami laporkan ke polisi," ancam kakek Agung, dia malas berdebat tidak penting, jadi langsung saja eksekusi.


Mona tercengang. Kedua matanya mendelik, terkejut dengan ucapan kakek Agung tersebut.


Bagaimana bisa 3 pria ini berdiri di hadapan dia hanya untuk melindungi pengasuh kurrang ajjar itu.?

__ADS_1


Mona melirik Reza, berharap belas kasih, berharap masih ada sedikit saja rasa untuk dia. Tapi Reza tak mengindahkan tatapannya itu.


Reza tetap membalasnya dengan tatapan dingin.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Steven Kek," mohon Mona sekali lagi, kini dia bicara dengan lirih.


"Sudah lah Mona, sejak dulu karir adalah yang terpenting bagimu. Uang mungkin bukan segalanya, tapi kamu jelas gila kehormatan," balas kakek Agung.


Reza kemudian bergerak menarik Mona untuk keluar dari rumah ini. Sebelum keributan semakin menjadi.


"Rez, dengarkan aku dulu."


Reza hanya terdiam, terus menarik tangan Mona sampai akhirnya mereka tiba di teras.


"Jika Steven tidak berlari ke apartemen mu, sampai kapan pun kamu tidak akan menemui Steven, iya kan?" tanya Reza.


Sebuah pertanyaan yang begitu sulit untuk Mona jawab.


Karena jawabannya adalah lya.


"Pergilah, setelah ini Steven tidak akan menganggu kamu lagi." Reza masuk, menutup pintu.


"Rez. Reza!!" pekik Mona. Tapi yang dia dapatkan adalah pintu rumah yang sudah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2