Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 17 - Hati Terluka


__ADS_3

Jantung Anya berdegup tidak karuan, gadis itu juga berulang kali meremat kedua tangannya sendiri. Dia melihat mama Mona yang mulai mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Seseorang yang dia yakini 100% adalah Oma Putri.


Deg! wajah cemas itu nampak terlihat jelas, hingga Steven menyadarinya.


"Mbak Anya, jangan takut," ucap Steven, dia turun dari sofa dan mendekati mbak Anya yang duduk di karpet.


"Mbak Anya bukan takut dimarahi Stev, mbak Anya takut buat Oma Putri kecewa."


Mendengar itu Steven lantas memeluk mbak Anya nya erat.


"Tidak peduli apa kata Oma, tapi mulai sekarang mbak Anya adalah pengasuhku selamanya. Jadi saat aku memutuskan untuk ikut Mama, mbak Anya juga akan tetap ikut denganku," terang bocah itu, masih dengan memeluk sang pengasuh erat-erat.


Anya tersenyum.


Dia pun membalas pelukan itu.


Dalam hatinya selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa anak seusia Steven punya pemikiran yang begitu dewasa.


Bukannya senang, Anya kadang merasa sedih. Mungkin saja Steven jadi dewasa lebih cepat karena keadaan.

__ADS_1


"Tapi nanti, kita tetap harus meminta maaf pada Oma, pada semua orang di rumah, termasuk om Deri, ya?" tanya Anya, dia melerai pelukan mereka dan saling tatap.


Steven mengangguk, dia juga tersenyum kecil sebagai tanda patuhnya pada sang pengasuh.


Sementara itu, Mona di ujung sana panggilannya pun mulai terhubung pada Oma Putri.


"Halo Oma," ucap Mona, sapaan pertama dia setelah cukup lama tak ada komunikasi diantara keduanya.


"Ini aku Mona," timpal Mona lagi.


"Untuk apa kamu menelepon?" balas Oma Putri, pikirannya sedang kacau karena Steven dan Anya tiba-tiba menghilang. Belum lagi Reza sedang pergi ke luar kota dan kini ditambah lagi dengan Monalisa yang menelpon.


"Steven ada bersama ku," kata Mona.


Seketika membuat Oma Putri terduduk di sofa ruang tengah itu, nafasnya terengaah, naik turun dengan kasar.


"Bagaimana bisa Steven ada di sana? apa kamu yang mengambilnya di sekolah?!"


"Iya," bohong Mona.


"Kurrang ajjar! berani-beraninya kamu mengambil cucuku Mona!" pekik Oma Putri, suara teriakannya itu bahkan sampai mampu didengar oleh kakek Agung yang sedang berada di teras rumah, dia sedang memerintahkan semua pekerja pria di rumah ini untuk mencari sang cucu.

__ADS_1


Dan mendengar suara teriakan istrinya, kakek Agung pun berlari masuk.


Melihat Oma Putri yang sedang memaki di dalam sambungan telepon itu.


"Jangan pernah berpikir untuk bisa mengambil Steven dari kami! aku akan menjemputnya sekarang!"


"Steven ingin tinggal bersamaku Oma, dia sendiri yang memintanya," terang Mona pula, sedikitpun dia tidak merasa gentar dengan ancaman Oma Putri.


"Sekarang Steven sudah besar Oma, aku mohon, jangan buat dia melihat secara langsung pertengkaran kita, aku mohon setidaknya beberapa saat biarkan Steven tinggal bersamaku," mohon Mona.


Oma Putri tergugu, diingatkan tentang sang cucu seketika membuatnya lemah. Steven memang tak boleh melihat pertengkaran ini.


"Aku akan tetap menjemput Steven, aku sendiri yang akan bertanya pada Steven apa maunya dia." Oma Putri pun Langsung memutus sambungan telepon itu. Lalu menatap kakek Agung di hadapannya dengan tatapan nanar.


"Kenapa Oma?" tanya kakek Agung.


"Steven bersama Mona, minta Ryan untuk pulang Kek, kita harus segera menjemput Steven."


"Baiklah, tenangkan diri mu." kakek Agung, mengelus lengan sang istri dengan lembut.


Tiap kali membahas tentang wanita itu selalu berhasil membuat hati mereka terluka.

__ADS_1


__ADS_2