
Oma Putri berbalik dan menatap ke arah tangga, dia menunggu apakah Anya akan berlari keluar dari dalam kamar sang cucu, kemudian lari terbirit-birit menuruni anak tangga itu.
Tapi sampai 1 menit waktu berlalu ternyata teriakan Anya hanya terdengar satu kali, kemudian di atas sana mulai terasa hening, tenang lagi.
Anya juga tidak berlari keluar.
"Huh, syukurlah, sepertinya Anya bisa mengatasi masalah pertamanya," gumam Oma Putri, meski dia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di atas sana.
Tapi yang terpenting adalah Anya bisa bertahan.
Bocah itu awalnya tertawa terbahak-bahak, namun kini tawanya sudah hilang.
Diganti dengan tatapan sinis pada sang
pengasuh.
"Mbak Anya nggak takut sama kodok?" tanya Steven dengan kedua mata yang menelisik, dia adalah anak Genius, kecerdasannya menurun langsung dari sang ayah.
Steven sebenarnya sudah lancar membaca, mahir matematika dan fasih beberapa bahasa.
Tapi kepintaran itu hanya dia yang tahu, sementara semua orang hanya menilai jika dia adalah anak nakal dan bodoh, bahkan Steven pura-pura tidak bisa menulis.
"Tidak kok, kenapa harus takut, dia menggemaskan kan? ini squishy-nya orang kampung," balas Anya, dengan santainya dia mengelus kodok milik bocah ini, tidak merasa takut sedikit pun.
"Squishy?" tanya Steven dengan dahi berkerut.
"Iya, nih kalau dipencet kan lembut."
__ADS_1
Kwek! bunyi kodok itu gara-gara di tekan Anya.
Steven tidak terima kodoknya di sakiti, jadi langsung dia rebut dan dipeluk.
"Lalu kenapa tadi teriak?" balas Steven lagi.
"Kaget." Anya menjawab singkat, lengkap dengan senyum yang terukir lebar.
Herg! geram Steven di dalam hati.
Pagi itu Steven pura-pura sudah jadi teman Anya, mereka bicara banyak hal, tentang sekolah, tentang makanan kesukaan dan masih banyak lagi.
Anya merasa telah berhasil menaklukan bocah ini. Dia merasa pekerjaannya sangat mudah, tidak semenakutkan yang bi Ratih bilang.
Jam 11 Reza pulang dari bermain golf bersama dengan Ryan.
Sedangkan Rina sejak tadi berada di kamarnya dan tidak mau keluar, gadis itu anak kamar.
Ryan naik lebih dulu ke dalam kamarnya, sementara Reza menghampiri sang ibu yang sedang berada di ruang tengah. Oma Putri dan kakek Agung sedang dipijat kakinya oleh tukang urut, santai sambil menonton televisi.
"Sudah, Anya namanya, dari tadi masih di kamar Steven, sepertinya yang ini akan cocok," jawab Oma Putri.
Reza tidak menjawab lagi, pria berwajah dingin itu hanya mengangguk kecil. Mengaminkan ucapan sang ibu.
Semenjak perceraian itu hubungannya dengan Steven tidak begitu baik.
"Lebih baik kamu temui dulu itu si Anya, bagaimana pun sekarang dia yang akan mengasuh anak mu. Oma sudah tua, nggak sanggup kalau sendirian."
__ADS_1
"Iya Oma," potong Reza dengan cepat, sebelum Oma Putri bicara panjang kali lebar.
Pria itu bahkan segera berlalu dari sana dan menaiki anak tangga.
Tiba di kamar Steven, pintunya masih terbuka. Dilihatnya seorang wanita asing sedang duduk di karpet bermain dengan Steven.
"Ehem!" Reza berdehem.
Steven hanya melirik, sementara Anya langsung bangkit, menyapa.
"Pak Reza."
"Papa," potong Reza.
"Oh pak Reza," ledek Steven.
Bocah 6 tahun itu lantas menatap sang ayah dengan tatapan remeh, arti Pak seolah Reza bukanlah ayahnya.
Sementara Reza pun membalas tatapan itu dengan raut wajahnya yang dingin.
Anya seperti berada di tengah-tengah pertempuran, terlebih lidahnya terasa kaku sekali untuk menyebut pria tampan ini dengan sebutan papa.
Saking kakunya, Anya rasa-rasa ingin menarik lidahnya sendiri.
Karena dia harus bicara untuk memecah keadaan mencekam ini.
"Papa Reza!! perkenalkan nama saya Anya." saking gugupnya Anya sampai terdengar seperti memaki.
__ADS_1
Steven tertawa.
"hahahaha..tawa boca cerdik itu."