Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 12 - Kesepakatan


__ADS_3

Anya belum sempat menjawab pertanyaan Steven, tapi di wajah gadis cantik itu sudah dihinggapi oleh nyamuk, bahkan langsung mengigit hingga Anya merasa gatal.


Dia usir menggunakan punggung tangan yang masih bersih, sementara telapak tangannya sudah kotor dengan lumpur.


Anya saat ini berjongkok di pinggiran kubangan itu, hanya Steven yang masuk ke dalam sana.


"Aduh Stev gatel, mbak Anya cuci tangan dulu ya."


"Jangan mbak, tanggung, kan mau 15 menit disini, sekarang masih 10 menit, 5 menit lagi ya."


"Tapi pipi mbak Anya gatel."


"Sini aku garuk."


"Nggak mau! tangan mu juga kotor Stev."


Rambut panjang dan lebat milik Anya juga lupa di ikat, makin membuat gadis itu merasa tak nyaman. Jadi semakin membuat wajahnya terasa gatal.


"Kalau begitu biar Om saja yang garuk," ucap Ryan, yang entah Sejak kapan datang ke sini namun tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Anya.


Hari ini memang hari Minggu, jadi semua orang berada di rumah.


Ryan kemudian merapikan rambut Anya ke belakang dan mengikatnya secara sederhana menggunakan karet gelang yang dia dapatkan di dapur.


Sejak tadi Ryan sudah memperhatikan Anya dari pintu belakang, melihat berulang kali wanita ini yang merasa tidak nyaman dengan rambut panjangnya, yang maju ke depan menutupi wajah, apalagi saat gadis ini menggaruk pipinya.

__ADS_1


"Om jangan Om, biar aku cuci tangan saja."


"Sstt diamlah, masa kamu mau meninggalkan Steven."


Anya merasa geli, namun kemudian tersenyum saat Ryan benar-benar berhasil mengikat rambutnya.


Steven juga tersenyum, lucu saja melihat om Ryan dan mbak Anya bersama.


"Yang mana yang gatal?" tanya Ryan.


"Sudah tidak lagi, aku masih bisa menggaruknya sendiri," balas Anya, dia kembali menggosok wajah kirinya mengunakan punggung tangan, namun yang kali ini Anya kurang hati-hati hingga ada sedikit lumpur yang menempel disana, 2 garis hingga mirip kumis kucing.


Steven langsung tertawa terbahak melihat itu, sementara Ryan hanya mengulum senyum.


Lalu membersihkan wajah Anya menggunakan tangannya langsung.


Senyum Ryan jadi semakin berkembang.


"Steven berhentilah tertawa, sekarang keluar dari kubangan itu," titah Ryan.


Anya yang sedang berdebar jadi kikuk sendiri.


"Baik Om," jawab Steven patuh.


Karena terlalu sering mendengar Mbak Anya berucap Baik, Baik dan Baik, kini Steven jadi ikut-ikutan juga.

__ADS_1


Dan saat Steven keluar dari kubangan itu, Anya pun ikut berdiri juga. Lalu mengantar Steven untuk membersihkan tubuhnya di pancuran yang tak jauh dari sana.


Sementara Ryan pergi lebih dulu meninggalkan mereka berdua.


"Mbak Anya, Bagaimana dengan permintaanku tadi? Mbak Anya mau menurutinya atau tidak?" tanya Steven.


Dia diam saja saat Anya mengguyur tubuhnya menggunakan air untuk membersihkan semua Lumpur.


"Kenapa minta tolong sama Mbak Anya sih Stev? kenapa tidak minta tolong dengan Papa? dengan Oma? dengan kakek? dengan om Ryan? atau kak Rina? kenapa harus mbak Anyaaa?" rengek gadis itu.


"Mbak Anya lo nggak tau apa-apa disini," timpal Anya lagi.


"Pertanyaan Mbak Anya banyak sekali, aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu," keluh Steven pula.


Steven dan Anya sama-sama mau mengerucutkan bibirnya, sama-sama merasa kesal satu sama lain.


"Mau tidak? Kalau tidak mau berarti Mbak Anya memang ingin jadi musuhku terus!"


"Iya iya mau!" Jawab aja mesti dengan terpaksa.


"Tapi Mbak Anya juga punya syarat," tambah Anya.


"Apa?"


"Steven harus mulai bersikap baik pada semua orang, bukan hanya pada mbak Anya."

__ADS_1


"Oke deal, sepakat ya?"


"Sepakat!" balas Anya dengan mantap, mereka berdua bahkan saling menjabat tangan seolah benar-benar membuat sebuah kesepakatan yang serius.


__ADS_2