
"Jadi ini? jadi inilah jawaban kenapa sikap Steven berubah?" tanya Reza dengan suaranya yang terdengar begitu dingin, tatapannya pun sangat tajam, seperti langsung menusuk tepat di ulu hati.
Sementara Anya sudah menangis, karena memang begitulah kenyataannya.
Sebuah kesepakatan sudah mereka buat, tentang Anya yang harus mengantarkan Steven untuk bertemu dengan mamanya dan akan dibalas dengan sikap Steven yang berubah baik.
"Maafkan aku Pa."
"Jangan lancang kamu Jeng! sadar kamu itu cuma pembantu! tidak berhak ikut campur masalah keluarga kami! Steven itu tanggung jawab kami! lalu bagaimana bisa kamu membawanya pada orang lain? Hah!!"
Tubuh Anya bergetar mendengar bentakan itu. Dia sadar, sangat sadar jika ini salahnya. Karena itulah Anya tak punya pembelaan apapun, dia hanya bisa menunduk dan menangis, meremat kedua tangannya sendiri dan tubuhnya gemetar ketakutan. Dia tak bisa mundur karena tubuhnya membentur dinding.
Sedangkan Reza tak merasa iba sedikitpun dengan apa yang dia lihat. Kemarahan masih menguasai dirinya.
Semua kenangan pahit itu bahkan masih jelas terekam diingatan.
Mona tidak pernah menginginkan Steven. Wanita itu bahkan berniat mengugurkan kandungannya hanya karena saat itu tendernya berhasil. Andai Reza tidak memohon dan bersujud Mona jelas telah menggugurkan anak mereka.
Reza kira sikap itu bisa berubah saat anak mereka lahir, tapi ternyata tidak. Mona semakin menjadi bersamaan dengan bisnisnya yang semakin tinggi. Di hadapan semua keluarga Aditama Mona berteriak tak mau merawat Steven, tak mau menyusui, bahkan menggugat cerai Reza dan tak menginginkan pengasuhan Steven.
__ADS_1
Kembali mengingat itu semua, Reza pun mengepalkan kedua tangannya kuat. Saking membuncahnya amarah ini, akhirnya Reza melayangkan sebuah pukulan yang sangat kuat.
Bugh!!
"Akh!" pekik Anya, dia menutup matanya menggunakan kedua tangan, sementara Reza meninju dinding tepat di samping kepalanya.
Hingga tangan pria itu terluka dan mengeluarkan darah.
Anya semakin menangis, kini dia tak sanggup lagi berdiri dan segera berjongkok menyembunyikan wajahnya.
"Maafkan aku Pa, aku salah," mohon Anya sungguh-sungguh, bicara diantara suaranya yang sesenggukan.
"Lihatlah, lihatlah sendiri bagiamana Mona memperlakukan Steven. Jika sampai dia menyakiti anakku, bersiaplah untuk segera keluar dari rumah Aditama."
Anya masih menangis.
Dia menangis terus sampai entah berapa lama.
Saat kembali masuk ke dalam apartemen, dia sudah tidak melihat mama Mona dan Steven.
__ADS_1
Lampu sdh mati. ruang tengah pun sudah kembali
Anya duduk di sofa, meratapi nasibnya yang begitu malang.
"Buk," lirih Anya, dia sungguh merindukan ibunya. Tapi tak mungkin pulang ke desa. Belum ada 2 bulan dia pergi. Pulang pun Anya tak akan sanggup berhadapan dengan Erwin dan Elisa.
"Ya Allah," gumamnya sendu, terasa berat sekali benda yang mengganjal di hatinya.
Pagi datang.
Hari ini Steven tidak masuk sekolah, bocah itu memutuskan untuk libur, ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya bersama sang mama.
"Steven, panggil mbak Anya sayang, kamu harus segera mandi," ucap mama Mona.
"Kenapa harus panggil mbak Anya, aku mau mandi bersama mama."
"Mama tidak bisa, mama harus menghubungi klien dulu, kemarin mama tidak masuk kerja karena menunggu kamu datang. Jadi sekarang keluar lah dan panggil mbak Anya, ya?"
Steven tertegun.
__ADS_1
Dia masih berdiri di tempat yang sama dan melihat sang mama yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
Padahal saat ini masih jam 6 pagi.