
Anya dengan cepat semakin menyingkir ke pinggir jalan ketika melihat ada sebuah mobil seperti hendak berhenti di dekat dia. Anya takut, sangat takut jika mobil itu adalah mobil milik seorang penculik.
Apalagi saat ini hari sudah malam dan jalanan yang dia lewati sangat sepi.
Jadi sebelum pemilik mobil tersebut sempat keluar Anya pun dengan segera berlari kencang.
Dia juga berteriak... "Ahk! Tolong!" pekik Anya, lari tunggang langgang.
Reza tercengang.
"Apa-apaan gadis itu," ucapnya dengan terbengong-bengong.
"Kejar pakai mobil, aku akan memanggilnya dari dalam mobil saja," titah Reza kemudian.
"Baik Pak."
Mobil kembali melaju, menyusul Anya yang sudah berlari di depan sana. Tak sampai lama mobil itu pun akhirnya bisa mengimbangi larinya gadis desa ini.
Reza yang sudah membuka kaca mobil pun langsung memanggil.
"Anya!" panggilnya sedikit berteriak.
Anya tersentak, kaget bagaimana orang itu bisa tahu namanya. Dia berhenti dan mobil pun ikut berhenti juga, Reza buru-buru keluar menampakan diri.
"Papa," panggil Anya diantara nafasnya yang terengah.
__ADS_1
Reza membuang nafasnya dengan kasar.
"Masuk mobil, kita pulang bersama," ajak Reza.
"Alhamdulilah..." Anya bahkan sampai mengelus daddanya merasa lega, akhirnya dia selamat dan tidak jadi gelandangan di kota Jakarta.
Jam 7 malam akhirnya Anya tiba di rumah. Reza juga sudah menghubungi Ryan mengatakan jika Anya telah ditemukan. Reza juga memerintahkan semua anak buahnya untuk menghentikan pencarian.
Masuk ke dalam rumah, Anya langsung di sambut oleh pelukan Oma Putri.
"Ya Allah Anya!! untung kamu ketemu Nak," ucap Oma Putri dengan cemas, Anya yang bertubuh mungil dan wajah begitu imut membuat Oma Putri merasa Anya benar-benar seperti cucunya, karena itulah dia cemas bukan main.
Rina juga ada disana dan menghembuskan nafas lega.
"Ayo ku antar ke kamar mu," ucap Rina pula, wanita cantik itu pun langsung menggandeng tangan Anya.
Tapi Anya belum mau kembali ke kamarnya, dia harus bertemu Steven lebih dulu.
"Mbak Rina"
"Kak Anya, biasakan saja panggil Kak."
"Maaf Kak, tapi aku mau ke dapur dulu."
"Oh kamu lapar ya?"
__ADS_1
Anya hanya tersenyum kikuk. Rina tertawa pelan, lalu mengantar Anya ke dapur, bukan ke kamar gadis itu.
Dan setelahnya Rina pun pergi.
Hampir jam 8 malam setelah Anya membersihkan tubuhnya, dia pun berlari naik ke lantai 2. Oma Putri hanya memandang dan bersyukur Anya tidak trauma.
Gadis itu bahkan kembali menemui Steven tanpa dia minta.
"Oma," panggil kakek Agung.
"Kenapa Kek?"
"Itu Anya tingginya berapa sih? mungil banget."
"149," balas Oma Putri apa adanya, info tersebut ada dalam data diri Ajeng.
"Oh pantesan, menolak gede," balas kakek Agung hingga membuat Oma Putri tertawa, lalu memukul lengan sang suami.
Di lantai 2.
Anya membuka pintu kamar Steven dengan perlahan. Bocah yang sedang duduk di kursi belajarnya itupun menoleh dan melihat siapa yang datang.
Ternyata mbak Anya, tersenyum menatap ke arahnya.
"Untung belum tidur, ini bakso tusuknya," ucap Anya seraya meletakkan piring berisi bakso tusuk yang Steven minta di atas meja belajar tersebut.
__ADS_1
Tadi siang Anya tetap membelinya, di dapur tadi dia minta pada pelayan untuk kembali dihangatkan, dan kini Anya akhirnya bisa memberikan bakso itu pada sang pemilik.
Steven tergiur, menatap nanar pada bakso tusuk di hadapannya.