
"Mbak Anya! ayo ke kamar," ajak Steven dengan suara yang cukup tinggi hingga berhasil membuyarkan lamunan Anya, sejak tadi dia termenung di depan ruang kerja sang ayah.
"Stev," panggil Anya dengan suara yang lirih.
"Mbak Anya kenapa? papa marah?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Entahlah, aku bingung."
"Bingung kenapa?"
"Tidak tahu."
Arght!! Steven menggaruk kepalanya frustasi, lalu menarik tangan mbak Anya agar mengikuti langkahnya untuk naik ke lantai 2 dan menuju kamar.
Jika dilihat-lihat kini keadaan seperti berbalik, Steven malah terlihat seperti sedang mengasuh mbak Anya dan bukan sebaliknya.
Malam ini mereka harus menyusun misi untuk bisa menemui Mama Mona. Karena itulah Steven buru-buru mengajak mbak Anya untuk masuk ke dalam kamar.
Steven bahkan mengunci pintu kamar itu, sesuatu hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Selama ini pintu kamar Steven selalu bisa dimasuki oleh siapapun dan kapanpun.
"Mbak Anya, kata Oma besok papa akan pergi ke luar kota selama 3 hari. Nah, itu adalah waktu yang tepat untuk kita bisa menemui mama."
__ADS_1
"Tapi Stev, mbak Anya takut."
"Mbak Anya jangan takut, aku tahu rumah mama, aku tau alamatnya, jalan untuk menuju rumah itu pun aku sangat tahu, mbak Anya hanya perlu menemani aku saja, tidak perlu melakukan apapun," tegas bocah berusia 6 tahun itu. dia bicara dengan sungguh-sungguh bahkan menatap kedua mata Anya dengan sangat serius.
Entah lah, Anya selalu merasa bahwa Steven memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya.
Harusnya di usia ini Steven hanya tahu caranya bermain, tapi ternyata tidak, Steven bahkan bisa menyusun untuk menjalankan misi.
Anya tidak tahu jika Steven adalah anak yang jenius.
"Apa tidak sebaiknya kita izin saja dengan Oma?" usul Anya, sungguh dia sangat cemas. tidak peduli Sematang apapun rencana Steven, dia tetaplah seorang anak kecil.
"Tidak, Oma Putri dan yang lainnya tidak akan pernah mengizinkan aku untuk bertemu dengan Mama, Aku sangat merindukan mama mbak Anya," lirih Steven, dia tahu jika mbak Anya ragu, Karena itulah kini dia menjual kesedihan.
Sangat tahu jika mbak Anya memiliki hati yang lembut, Mbak Anya tidak akan sanggup melihat dia yang menangis.
Steven lantas memeluk mbak Anya dengan sangat erat.
Dan Anya pun membalasnya, mengelus puncak kepala Steven dengan penuh kasih sayang.
Malam itu mereka berdua bahkan tidur saling memeluk.
Berulang kali Steven mengatakan bahwa dia sangat merindukan ibunya.
Anya hanya coba mengertikan akan hal itu, dia tidak bertanya lebih Kenapa ayah dan ibunya Steven sampai berpisah.
__ADS_1
Anya merasa tak punya hak untuk mengetahui hal itu, tugasnya hanyalah untuk menjaga Steven.
Pagi datang.
Semalam Steven dan Anya sudah menyusun rencana matang-matang.
Sepulang sekolah nanti mereka akan langsung pergi ke apartemen Mama Mona tanpa menggunakan mobil Steven, tapi mereka akan menggunakan taksi.
Sarapan kali ini Steven bersikap biasa saja, konsisten dengan sikapnya yang sudah berubah baik.
Sementara Anya tidak berselera sama sekali, dia hanya memasukan 1 suap makanan dan malah jadi ingin muntah.
Oma Putri sudah bertanya apa Anya sakit. Namun Anya menggelengkan kepala dengan kuat.
"Aku tidak sakit Oma, aku sangat sehat," jawabnya dengan mantap.
Rasa gugup Ajeng jadi semakin bertambah berkali-kali lipat saat Reza mengantarkan mereka pergi ke sekolah.
"Ajeng, ingat pesan ku. Jangan membuat ulah," ucap Reza. Sean sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam sekolah setelah pamit pada sang ayah.
Dan kini Anya menghadap Reza sendirian.
Berulang kali gadis itu mengigit bibir bawahnya, cemas.
Rasanya sudah di ujung lidah untuk mengatakan semua rencananya Steven, tapi tiap ingat Kerinduan anak itu yang ingin bertemu dengan ibunya membuat Anya pun mengurungkan niat.
__ADS_1
Entahlah apa yang terjadi nanti, tapi yang jelas sekarang pikirkan saja tentang Steven lebih dulu.
"Ba-baik Pa," jawab Anya patuh, gagap, bingung dan takut.