Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 23 - Memang Ingin Melepaskan


__ADS_3

Jam 6 sore saat mama Mona kembali ke apartemen ini, Steven dan Anya sedang duduk berdampingan di ruang tengah menyaksikan televisi yang menyala, serial si kembar nakal kesukaan Steven.


Mereka langsung saling pandang, seolah memikirkan hal yang sama.


"Sayang," panggil Mona dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya. Tapi Mona tidak berhenti untuk sekedar memeluk sang anak, dia langsung melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya.


Dan saat itu juga Anya dan Steven menghitung di dalam hati, menunggu suara teriakan mama Mona


1


2


3


"Steven!!" pekik Mona dengan sangat kuat, suaranya bahkan menggelegar hingga memenuhi seisi apartemen ini. Mona marah besar, di saat lelah dia pulang bekerja ternyata di rumah mendapati buku sketsa-nya yang hancur.


Padahal buku ini sudah seperti bagian dari hidup Mona, semua pekerjaannya dimulai dari buku ini, desain baju yang dia buat, beberapa desain baru yang akan segera diluncurkan.


Wanita itu bahkan langsung keluar dari ruangan kerjanya dengan membawa buku sketsa yang sudah tidak berbentuk lagi. Bukan hanya banyak coretan, tapi juga ada beberapa lembar kertas yang sudah tercabik-cabik.


Dan mendengar suara teriakan itu, Steven pun langsung turun dari duduknya untuk menghampiri sang mama.


"Apa ini?! kamu yang sudah merusak buku sketsa MAMA?!" pekik Mona, kedua matanya menatap nyalang.

__ADS_1


Anya yang tak kuasa melihat pemandangan itu pun langsung mendekat.


"Maaf Ma, kami kira buku itu sudah tidak terpakai lagi," ucap Anya dengan kepala yang sudah menunduk.


Tapi kekesalan Mona masih tertuju pada sang anak. Steven jika tidak diberi pelajaran maka akan kembali mengulangi kenakalannya.


"Sini tangan mu! biar mama pukul tangan nakal itu!!" geram Mona, dia berniat mencubit tangan kecil Steven.


Namun Anya tidak tinggal diam, dia menahan tangan Mama Mona yang hendak menjangkau Steven.


"Jangan Ma!"


"Minggir kamu! berani-beraninya menyentuh tangan ku!!" pekik Mona, sekuat tenaga dia menepis Anya bahkan mendorongnya.


Anya sampai terpelanting dan jatuh, keningnya membentur pinggiran meja di ruang tengah itu.


Awh! Anya meringis merasakan sakit, tapi dia tidak menjerit, hanya memekik di dalam hati.


"Mbak Anya!" Steven buru-buru menghambur memeluk mbak Anyanya, memastikan wajah sang pengasuh.


Tenyata kening mbak Anya sampai terluka.


"Ya Ampun Mbak, keluar darah," cemas Steven.

__ADS_1


Namun Mona yang melihat pemandangan itu makin kesal saja, dia putuskan untuk segera pergi dari sana.


Masuk ke dalam ruang kerjanya kembali dan menutup pintu itu dengan sangat kuat.


Brak!!


Anya dan Steven bahkan sampai terperanjat kaget.


"Mbak, ayo aku obati lukanya," ucap Steven dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Anya malah sudah menangis, perlakuan kasar seperti ini pun membuatnya kembali teringat dengan papa Reza.


Tak menyangka jika pekerjaannya menjadi seorang pengasuh akan seberat ini.


"Stev, kita pulang saja yuk, Oma Putri sering marah, tapi dia tidak pernah memukul mu. Papa Reza juga dingin, tapi dia juga tidak pernah memukul mu, jangan disini," ucap Anya dengan sesenggukan.


Steven jadi menangis, dia mengangguk dan segera memeluk mbak Anya-nya.


Perjalanan mereka terasa begitu panjang, namun di ujung ternyata tidak menemukan kebahagiaan.


Steven telah banyak menyelidiki sendiri semenjak tau sikap kasar sang mama. Dia baru tahu jika perceraian itu pun keinginan mamanya, bahkan mama Mona tidak memperebutkan hak asuh atas dia.


Mama Mona memang ingin melepaskan dia dengan jalan perceraian itu.

__ADS_1


Steven juga sadar satu hal, bahwa pertemuan kali ini pun karena dia yang mengusahakannya, sementara mama Mona


tidak.


__ADS_2