Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 6 - Duduk Kaku


__ADS_3

Ryan melihat saat Steven menutup pintu kamarnya dengan kuat, lalu mendengar saat Anya bicara pada dirinya sendiri.


Sabar dan istighfar.


Mendengar itu Ryan tersenyum, bisanya para pengasuh yang lain akan menangis atau langsung mengumpat, tapi tidak dengan gadis kampung ini.


"Om Ryan, mau apa kesini? bertemu dengan Steven?"


"Rencananya iya, tapi sepertinya dia sedang marah."


"Dia marah padaku, bukan pada om Ryan, silahkan masuk," balas Anya pula, dia sedikit menyingkir agar Ryan punya akses lebih banyak pada pintu itu.


Jujur saja Anya juga mencemaskan keadaan Steven di dalam, akan lebih baik jika bocah itu ada yang menemani dan untunglah Ryan datang.


Pria tampan itu lantas dengan perlahan membuka pintu, lalu melihat Steven yang sudah tertidur, memunggungi arah pintu.


"Steven," panggil Ryan, dia masuk dan duduk di tepi ranjang.


Steven bergeming, memejamkan mata pura-pura tidur.


"Sepertinya dia sudah tidur Anya, lebih baik kamu kembali ke kamar mu. Besok pagi-pagi temui Steven lagi untuk bersiap ke sekolah."


Anya juga sudah masuk ke kamar ini, berdiri 2 langkah di hadapan Ryan.


"Saya tidur disini saja Om."


"Tidur dimana? di sini kan ranjangnya cuma 1."


"Itu ada sofa panjang." Anya menunjuk sofa di dekat jendela.

__ADS_1


Ryan lantas memindai tubuh Anya, tubuhnya mungil, mungkin tingginya hanya sekitar 145, tubuhnya juga langsing, jadi sepertinya tidak masalah untuk tidur di sofa panjang itu.


"Baiklah, di lemari Steven ada selimut dan juga bantal, pakai agar kamu tetap nyaman."


Anya tersenyum malu-malu, tak menyangka Mendapatkan perhatian seperti ini dari seorang pria tampan.


Astagfirulah, istighfar Anya, istighfar, fokus, kerja mu cuma jaga Steven, bukan berhayal jadi nyonya.


"Baik Om, terima kasih," balas Anya patuh.


Ryan pun keluar dari dalam kamar itu, terkekeh pelan ketika sudah berada di luar.


Kedua pipi Anya yang langsung berubah merah merona terlihat lucu di mata pria itu.


"Anya," ucap Ryan, seolah mengingat-ingat namanya.


Di dalam kamar Steven.


Dua kepribadian yang berbeda.


Jadi agar Anya bisa tidur, dia menutup seluruh tubuhnya itu menggunakan selimut. Dinginnya AC juga membuat dia nyaman tidur dalam keadaan seperti itu.


Di jam 11 malam Steven membuka matanya dan melihat mbak Anya tidur di sofa.


Ada sebuah perasaan hangat yang tiba-tiba merayap masuk ke dalam hatinya yang dingin.


Sean tidak bereaksi apapun,


"Stev! bangun Stev, ini sudah pagi," ucap Anya, saat ini sudah jam 6 pagi.

__ADS_1


"Ayo mandi bareng Malvin!!" panggil Anya lagi dengan suara yang lebih tinggi. Meski pun semalam mereka seperti bertengkar, tapi pagi ini Anya ingin terlihat biasa saja.


Dan mendengar nama Malvin disebut, Steven pun langsung membuka mata.


"Aku mandi sendiri, mbak Anya tidak usah masuk," titah Steven.


"Baik," balas Anya patuh dan antusias.


Steven juga memakai baju seragamnya sendiri, Anya hanya perlu merapikannya sedikit.


Sekolah nanti Anya akan terus menemani, dari jam 7.30 pagi sampai jam 10.


Tiap pagi Reza selalu mengantar sang anak, nanti ketika pulang baru dijemput oleh supir.


"Kamu mau kemana?" tanya Reza saat Anya hendak masuk ke kursi tengah.


"Duduk Pa."


"Kamu duduk di depan."


Ha? Anya bingung, padahal Reza mengemudikan mobil itu sendiri, tapi kenapa malah memintanya untuk duduk di depan. Padahal dia ingin menemani Steven dibelakang.


Apa pak Reza mau deket-deket sama aku ya? batin Anya, pipinya tiba-tiba merah merona.


Dia tidak tahu, jika kursi pengasuh/pelayan memang di depan sana. Sementara di tengah hanya untuk majikan.


Anya nyaris tersipu, sampai akhirnya dia melihat wajah Reza yang dingin, lengkap dengan tatapan tajam.


Deg! Anya tidak jadi tersipu, kini dia mendadak takut.

__ADS_1


Duduk kaku di samping sang Tuan.


__ADS_2