
1 mingu berlalu.
Steven terus saja tertawa ketika dia berhasil membuat mbak Anya kesal. Saat sedang berdua, Steven akan selalu memanggil mbak Anya dengan sebutan mama.
Anya tentu marah dan kesal, berulang kali mengancam akan memarahi Steven andai bocah itu berani memanggilnya seperti itu apalagi jika di tempat umum.
Entahlah, Anya tak bisa membayangkan akan jadi apa dia andai ada anggota keluarga Aditama yang mendengar.
Mungkin saat itu juga Anya akan dibuat adonan kue. Hii, Anya sungguh takut.
"Steven benar-benar menyebalkan, selalu saja membuat aku takut, sama seperti papa Reza," gerutu Anya. Dia menutup kamar Steven dan hendak pergi ke kamarnya sendiri.
Saat ini sudah jam 9 malam, Steven baru saja tertidur.
Baru 1 langkah kaki Anya berjalan, dia langsung berhenti saat merasakan ponselnya di tangan bergetar. Ada 1 pesan masuk, dari Nia sang adik.
Tanpa pikir panjang dia pun segera membuka pesan tersebut.
'Mas Erwin tadi datang ke rumah Mbak, dia tanya sekarang mbak dimana. Tapi aku nggak jawab apa-apa. Dia datang ke rumah buat ngundang acara 3 bulanan anaknya.'
Tulis Nia dalam pesan itu.
Deg!
Ada bagian di sudut hati Anya yang masih saja terasa sesak tiap kali membahas pria tersebut.
Ada bagian hatinya yang seperti luluh meski hanya ditanya keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Bodoh, bodoh kamu Anya kalau masih mencintai pria seperti itu. Bodoh. Batin Anya, dirinya sendiri.
Tak ingin semakin larut dengan masa lalu, Anya lantas melanjutkan langkah.
"Bodoh!" umpatnya dengan sangat kesal.
"Siapa yang bodoh?" balas Reza.
Dan seketika berhasil membuat Anya tersentak, berjangkit kaget dan memegangi daddanya yang bergemuruh. Lagi-lagi jantung Anya seperti mau copot. Mana tau dia jika papa Reza sudah naik ke lantai 2, seingatnya tadi pria itu masih duduk di bawah.
Bisa tidak sih Pa, jangan mengagetkan aku! gerutu Anya. Di dalam hatinya.
"Siapa yang bodoh?" tanya Reza sekali lagi, dia sudah curiga pasti Anya sedang mengumpat dia.
"Bu-bukan siapa-siapa Pa, a-aku yang bodoh," balas Anya.
Gadis ini memang bodoh, pikirnya.
"Besok Oma, Kakek, Rina dan Ryan akan pergi ke Jogja, aku akan mengantar mereka ke bandara. Jadi besok pergi ke sekolah bersama Deri saja, mengerti?"
"Baik Pa." balas Anya, dia hanya bicara 2 kata itu, meski sebenarnya sangat ingin bicara banyak, ingin tau kenapa semua orang tiba-tiba pergi ke Jogja, padahal belum ada pembicaraan apapun yang dia dengar.
Dan setelah mengatakan itu pun, Reza langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya.
Anya yang sangat penasaran ada apa, lantas buru-buru turun ke lantai 1, berharap Oma Putri masih berada di sana.
Dan untung lah yang dia harapkan terwujud, Oma Putri dan kakek Agung masih duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Oma!" panggil Anya dengan suara cukup tinggi, pasalnya dia habis berlari.
"Kenapa Anya?"
"Besok Oma pergi ke Jogja? kenapa?" tanya Anya pula dengan nafas terengah.
"Duduklah dulu," titah Oma Putri.
"Baik Oma." Anya duduk.
"Kakaknya kakek Agung sakit, kritis sekarang di rumah sakit. Kami sekeluarga akan kesana kecuali Reza dan Steven. Mungkin sekitar 1 Minggu Oma pergi, bisa lebih cepat atau lebih lama. Kalau lama ya nanti Ryan dan Rina yang pulang duluan. Oma dan kakek berada di sana setidaknya sampai keadaan beliau lebih baik."
Anya mengangguk, ternyata ada kabar tidak baik. Ada anggota keluarga yang sakit.
Pagi datang.
Penerbangan Oma Putri dan seluruh keluarga dijadwalkan jam 07.30 pagi.
Jadi berangkatnya bersamaan dengan Steven yang pergi sekolah.
"Anya, di rumah nanti tidak ada siapa-siapa. Sehabis pulang sekolah langsung saja datang ke kantor ku. Mengerti?" titah Reza.
"Baik Pa."
"Steven, jangan nakal."
"Baik Pa," jawab Stev patuh.
__ADS_1