
"Mama sangat merindukan kamu sayang." Mona menciumi wajah sang anak banyak-banyak, kedua matanya berbinar haru. Dia peluk erat namun tak sedikit pun mengurangi rindu.
Steven tumbuh semakin besar, sangat tampan. Begitu mirip dengan Reza.
Mona selalu saja tersenyum tiap kali mengingat kemiripan keduanya.
"Ayo kita masuk sayang, mama sudah menyiapkan banyak makanan dan mainan untuk mu." ajak Mona dengan lembut, dia pun membelai wajah sang anak, mengelus puncak kepala Steven.
Mona pun lantas berdiri dan menggandeng sang anak untuk masuk, namun kemudian Steven tidak langsung pergi. Dia malah menahan sang ibu agar diam dulu.
"Aku tidak datang sendiri Ma, aku datang bersama mbak Anya." Steven lalu menarik mbak ajengnya untuk ikut masuk bersama mereka.
Senyum Mona semakin berkembang lebar, gara-gara sangat merindukan sang anak, dia sampai lupa pada pengasuh baru Steven.
"Maaf ya Anya, saya sampai lupa kalau ada kamu. Padahal semalam Steven sudah memberi tahu, bahwa dia akan datang bersama kamu."
"Tidak perlu minta maaf Ma, aku baik-baik saja," balas Anya dengan menundukkan kepala karena merasa tak enak hati.
Namun panggilan Ma yang di ucapkan oleh Anya membuat dahi Mona berkerut.
__ADS_1
Bagaimana bisa seorang pelayan memanggilnya dengan panggilan yang sama seperti anaknya, harusnya Anya memanggil dia dengan sebutan nyonya.
Sementara Steven yang menyadari kebingungan sang ibu pun langsung mengulum senyum.
Dan belum sempat Mona menginterupsi panggilan Anya tersebut, mereka sudah lebih dulu tiba di ruang tengah. Di sana sudah berjejer banyak mainan milik Steven.
Bocah tampan itu pun langsung bersorak kegirangan, bahagia sekali ketika mengetahui sang mama sangat menyayangi dia, bahkan menyiapkan mainan sebanyak ini pula.
Dan melihat kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah Steven, sudah memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Mona.
"Mbak Anya! ayo sini!" ajak Steven dengan antusias, dia menarik Anya untuk mulai memainkan mainan itu.
Andaikan waktu bisa diulang, mungkin kami tidak perlu berpisah seperti ini. Batin Mona. Tapi sikap Reza yang angkuh membuatnya tak bisa bertahan.
"Steven," panggil Mona, hanya suara pelan namun membuat Steven langsung menoleh ke arah ibunya.
Steven juga langsung berlari menghampiri. Bersama mama Mona, Steven benar-benar bersikap baik dan hal itu membuat Anya tak merasa was-was.
"Kenapa Ma?" tanya Steven.
__ADS_1
Mona lantas membawa Steven untuk duduk di atas pangkuannya.
"Apa Steven mau tinggal bersama Mama?"
"Tentu saja, sejak dulu aku ingin tinggal bersama mama," balas Steven dengan cepat. tidak ada yang dia inginkan selain hal ini, menghabiskan banyak waktu dengan sang ibu. Sungguh Steven begitu rindu. Steven pun ingin seperti teman-temannya yang lain, yang lengkap kasih sayangnya.
Selama ini dia telah tinggal bersama sang papa, dan sekarang Sean sangat ingin menetap dengan ibunya.
"Baiklah, kalau begitu, mama akan langsung telepon Oma Putri," balas mama Mona.
Steven mengangguk antusias.
Sementara Anya yang juga mendengar pembicaraan itu seketika langsung bergemuruh lah hatinya.
Dia merasa bahaya kecil itu akan segera menghampiri dia, entah bagaimana caranya Anya bisa menunjukkan wajah pada Oma Putri.
Anya sungguh dilema, di satu sisi dia pun ikut bahagia melihat senyum yang terukir di bibir Steven dan ibunya.
Namun di sisi lain, dia pun merasa telah mengecewakan Oma Putri.
__ADS_1
Maafkan aku Oma. Lirih Anya