Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 5 - Kamu Harus Bisa Sabar


__ADS_3

"Stev," panggil Anya.


"Apa?" sahut bocah itu, akhirnya mau juga dipanggil Steven, setelah perdebatan cukup panjang dan setelah baju mereka berdua sama-sama kotor.


Anya bahkan sangat yakin, baju Steven nanti tidak akan bisa dipakai lagi, karena saat ini Steven memakai baju berwarna putih.


"Steven sayang sama Malvin?" tanya Anya.


"Iya, cuma dia teman main ku."


"Harusnya kalau sayang Malvin-nya dilepas, biar dia hidup di alam bebas. Malvin pasti merindukan sesama kodok."


"Memangnya kalau sayang harus melepaskan seperti itu?" tanya Steven pula, raut wajahnya berubah jadi serius.


Anya bahkan sampai bingung sendiri. Ucapan Steven seperti bukan lagi membahas tentang kodok, yang yang lain dan entah Anya tidak tahu.


Sementara bocah tampan itu tersenyum getir. Apa yang diucapkan oleh Anya kali ini sama persis seperti apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya ketika memberi dia alasan kenapa harus berpisah.


Karena mama dan papa sangat menyayangi Steven, karena itulah kami berpisah.


Cih! alasan macam apa itu. Geram Steven, namun tentu saja hanya dia ucapkan di dalam hati. kepedihannya atas perpisahan kedua orang tua selama ini hanya dia pendam sendiri dan hanya meluapkan pada orang lain dengan cara kenakalannya.


Tanpa ada kata lagi, Steven bangkit lebih dulu dan keluar dari kubangan itu. Dia pun tetap membawa Malvin untuk ikut bersamanya.


"Stev, tunggu mbak Anya!"


Steven tidak mau dengar.

__ADS_1


"Steven!"


Bocah itu tetap berjalan dengan cepat, tak peduli dengan tubuhnya yang kotor, Steven tetap masuk ke dalam rumah.


Malam hari setelah makan malam.


Steven langsung masuk ke dalam kamarnya. Anya menemani, dia akan bersama Steven sampai bocah itu tertidur.


Anya melihat jadwal sekolah Steven di atas meja belajar. Dia menyiapkan semua kebutuhan sang anak asuh.


Saat Anya melirik Steven yang kini duduk di atas ranjang, bocah itu nampak melihat ke arah pintu.


3 kali Anya melirik dan tetap mendapati Steven melihat pintu itu.


Seolah sedang menunggu seseorang.


Anya tidak akan bertanya kenapa Steven melihat ke arah pintu, Anya akan melakukan segala cara agar Steven melupakan semua kesedihannya.


"Pada suatu hari."


"Mbak Anya! aku kan tidak minta dibacakan dongeng, kenapa membaca buku itu!"


"Mbak Anya nggak baca dongeng buat Stev kok, Mbak Anya baca buat diri sendiri."


Sean mendelik, "Tapi aku terganggu!"


"Iya iya maaf, jadi Stev maunya apa?"

__ADS_1


"Mbak Anya keluar dari kamar ku!"


Anya tersenyum kecil, dia mengangguk.


"Baiklah, mbak Anya akan keluar."


Saat itu juga Anya berjalan menuju pintu, dia buka pintu itu lebar-lebar lalu keluar.


Tapi Anya tidak benar-benar pergi, dia berdiri di samping pintu itu dan Steven masih mampu melihatnya.


Steven jadi semakin marah. Dengan raut wajah penuh kekesalan dia pun turun dari atas ranjang dan segera menutup pintu itu dengan kuat.


BRAK!!


"Astagfirulahalazim," ucap Anya seraya menyentuh dadanya yang berdegup karena terkejut.


Dia sampai tak bisa berkata-kata, tapi sedih sekali ketika mendapati perlakuan Steven yang seperti ini.


Anya bahkan seperti ingin menangis.


"Sabar Anya, Sabar, istighfar," ucap Anya lagi, bicara pada dirinya sendiri agar tetap tenang.


"Iya, kamu harus sabar," ucap Ryan, sampai berhasil membuat Anya kembali terkejut.


"Pak Ryan"


"Om."

__ADS_1


__ADS_2