
Setelah Ryan tiba di rumah, mereka bertiga segera pergi menuju apartemen Monalisa. Ryan, Oma Putri dan kakek Agung.
Rina tidak ikut karena dia sedang ada pekerjaan di luar.
Reza, Ryan dan Rina sudah sama-sama bekerja di perusahaan Aditama Kingdom.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka bertiga pun tiba di apartemen Monalisa.
Oma Putri menekan bel apartemen itu dengan tidak sabaran. Rasanya dia begitu tidak rela ketika mengetahui sang cucu menghabiskan waktu bersama wanita itu.
Namun disaat kemarahan siap membuncah, mereka bertiga malah melihat Anya yang membukakan pintu itu.
Lengkap dengan wajahnya yang sudah memelas.
Tapi sungguh, Oma Putri dan kakek Agung tidak peduli akan hal itu, mereka berdua bahkan langsung masuk dan melewati Anya begitu saja.
"Steven!" panggil Oma Putri dengan suara khasnya yang tinggi.
Anya sudah menangis, dan Ryan hanya mampu menatap tanpa berkata apa-apa. Ryan juga melewati Anya dan segera masuk.
Sementara di dalam sana, Steven langsung bersembunyi di balik tubuh sang ibu.
Mona menghadapi ketiga orang itu sekaligus.
"Steven, kenapa kamu pergi tanpa memberi tahu Oma? memangnya Mbak Anya tidak melarang kamu?" tanya Oma Putri bertubi.
Anya yang sudah ada di belakang mereka pun hanya menundukkan kepala, tidak bersuara sedikitpun.
__ADS_1
"Aku yang mengajak Steven untuk ikut, Anya sudah melarang, tapi bagaimana, Steven pun ingin bersama ku Oma," terang Mona, dia berbohong untuk kebaikan semua orang.
Tak masalah dia dibenci, karena Mona pun telah terbiasa dengan hal itu.
"Steven, ayo kita pulang sayang," ucap Oma Putri lagi, dia tidak mengindahkan ucapan Mona dan langsung mengajak sang cucu untuk segera pergi meninggalkan apartemen ini.
Ryan bahkan sudah berjongkok, memberi isyarat Steven agar masuk ke dalam pelukannya.
Tapi Steven tetap bergeming, dia pun menurunkan pandangannya dan terus memegang baju sang ibu.
"Aku mohon Ma, setidaknya beri aku waktu untuk tinggal bersama Steven." pinta Monalisa.
Oma Putri langsung memijat kepalanya yang berdenyut-denyut. Ini semua tidak akan terjadi andai Anya lebih tegas melarang.
"Kalau Oma tidak percaya padaku, biarkan Anya juga tinggal disini," timpal Mona.
"3 hari, hanya 3 hari dan setelah itu antar Steven pulang," ucap kakek Agung.
Oma Putri menangis, dia menggeleng.
Dan melihat Oma Putri yang menangis, Anya pun ikut menangis juga.
Dan melihat mbak Anyanya menangis, Steven pun ikut bersedih.
"Itu terlalu sebentar kek, beri aku waktu setidaknya 1 bulan."
"Tidak, 1 Minggu saja, cukup! jangan membuatku marah Mona," balas kakek Agung.
__ADS_1
Mona terdiam seribu bahasa, akhirnya dia hanya bisa mengangguk. Dia juga bahkan langsung berjongkok dan memeluk Steven erat.
Oma Putri makin tak berdaya disana. Untunglah ada Ryan yang memapah tubuhnya.
"Steven, kakek, Oma dan om Ryan pulang dulu ya, kakek harap kamu menikmati kebersamaan mu bersama mama Mona," ucap kakek Agung.
"Terima kasih kek," balas Steven pula. Dia berlari dan memeluk kakek Agung, memeluk Oma Putri dan memeluk om Ryan.
Dia sudah berjanji untuk berbuat baik, jadi benar-benar Steven turuti.
Dan setelah itu, kakek Agung, Oma Putri dan Ryan pun memutuskan untuk pulang. Anya mengantar hingga ke depan.
"Oma tanya sama kamu Anya, benar Mona yang menjemput kalian?" tanya Oma Putri.
Anya menangis sesenggukan, dia tidak bisa bohong dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan aku Oma, maafkan aku. Aku dan Steven sendiri yang datang kesini." jelas Anya diantara suaranya yang sesenggukan.
Ryan bahkan sampai mengelus pundaknya agar gadis ini tenang.
Sementara Oma Putri tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Baiklah, kalau begitu jaga Steven untuk kami," ucap kakek Anya.
Oma Putri pergi lebih dulu, dia bahkan tidak lagi melihat ke arah Anya.
Dan sikap seperti itu makin membuat Anya merana.
__ADS_1