Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 24 - Orang Asing


__ADS_3

Steven menggunakan tas sekolahnya dan Anya tidak membawa apa-apa. Hampir jam 7 malam waktu itu mereka berdua akhirnya keluar dari apartemen Mama Mona.


Tidak ada kata pamit karena mama Mona masih setia mengurung dirinya di dalam ruang kerja. entah apa yang dilakukan oleh wanita itu di dalam sana, tapi dia seolah tidak peduli dengan keberadaan sang anak di luar.


Mona sebenarnya menyayangi Steven, namun dia merasa banyak hal pula yang harus dia urus, yang dia utamakan dibandingkan sang anak. Lagi pula Steven sudah memiliki seorang pengasuh, harusnya Anya lah yang bertanggung jawab penuh pada anaknya.


"Ayo mbak," ajak Steven, dia menggandeng tangan mbak Anya-nya dan mulai berjalan, melewati lorong apartemen menuju lift.


"Kita tidak pamit Stev?"


"Tidak usah," jawab Steven dengan wajah yang nampak dingin.


Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di tepi jalan raya, menunggu taksi yang lewat.


"Stev, Apa tidak sebaiknya kita telepon Oma dulu?" tanya Anya pula, dia takut serba salah. pulang malam-malam begini tanpa pemberitahuan, pasti akan kembali menciptakan rasa cemas bagi semua orang.


"Mbak Anya bawa HP?" tanya Steven, dia mendongak dan menatap sang pengasuh.

__ADS_1


"Bawa kok."


"Ya sudah, telepon Oma saja dulu, berarti kita tidak perlu naik taksi. kita duduk saja di halte bus, Oma pasti akan datang menjemput."


Anya mengangguk, meski rasanya begitu takut untuk menghubungi Oma Putri lebih dulu dalam keadaan seperti ini.


Dengan jantung yang berdegup hebat, Anya pun mulai menghubungi nomor ponsel Oma Putri. Dia sangat yakin kali ini pun akan kembali menghadapi kemarahan seluruh keluarga Aditama.


Anya sungguh tidak berdaya, hanya Steven satu-satunya kekuatan untuk bisa bertahan.


"Halo Oma," ucap Anya setelah panggilannya mendapatkan jawaban, sambil bicara dalam sambungan telepon itu Anya pun terus berjalan mengikuti langkah kaki Steven yang membawanya menuju ke sebuah halte bus.


selalu ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya, Oma Putri sangat yakin jika sedikit saja Steven melakukan kesalahan pasti Mona akan langsung memukulnya.


"Oma, Aku dan Steven sudah keluar dari apartemen Mama Mona, Steven ingin pulang."


"Astaga! dimana kalian? Oma jemput sekarang!"

__ADS_1


"Halte Bus pertama dari apartemen."


Panggilan itupun terputus setelah Anya menyebutkan Di mana lokasi mereka saat ini.


Steven dan Anya duduk di kursi halte Bus itu dan menunggu, sepanjang waktu berjalan Anya pun terus merasa ketakutan sendiri.


hampir 30 menit mereka menunggu dan akhirnya mobil hitam yang begitu mereka kenal berhenti tepat di hadapan, itu adalah mobil milik papa Reza.


Deg! jantung Anya rasanya ingin terlepas saat itu juga, ada denyut nyeri yang dia rasakan dan begitu sakit.


Papa Reza dan Oma Putri lantas keluar dengan tergesa ketika melihat mereka duduk di sana.


"Steven!!" pekik Oma Putri, beliau sudah menangis, berlari dan memeluk Steven dengan erat.


Papa Reza pun berjongkok memeriksa keadaan sang anak.


"Apa kamu terluka? apa wanita itu menyakiti kamu?" tanya Oma Putri beruntun. Dia dan Reza memeriksa keadaan Steven secara seksama, dan untunglah tidak menemukan sedikit pun luka.

__ADS_1


Sementara Anya, dia benar-benar seperti orang asing di tengah-tengah keluarga itu.


Anya menunduk dan air matanya jatuh. Sakit di hatinya membuat Anya sampai lupa jika keningnya terluka.


__ADS_2