Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 31 - Permainan Segera Dimulai


__ADS_3

"Dimana Malvin?" tanya Steven lagi, karena mbak Anya-nya malah diam dan papanya pun diam saja.


Steven bisa melihat dengan jelas ada peluh di dahi kedua orang dewasa ini. Papa Reza dan mbak Anya benar-benar kelelahan karena mengejar Malvin.


"Malvin-nya kabur Stev, papa Reza yang suruh mbak Anya lepas tadi," cicit Anya, menjawab dengan suaranya yang sangat pelan. Dia dilema, antara takut dimarahi Steven atau papa Reza.


Jadi Anya putuskan untuk memilih dimarah papa Reza saja, lagipula kedepannya dia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Steven, bukan pria berwajah dingin sekaligus menyeramkan ini.


Dan papa Reza yang disalahkan oleh Anya seketika menganga mulutnya, dia seperti di tusuk tepat di hadapannya.


Reza menoleh dan menatap Anya, namun wanita bertubuh mungil itu malah menunduk dan menyembunyikan wajahnya.


Maafkan aku Pa. ucap Anya, tapi hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. Karena mulutnya tidak seleluasa itu untuk bicara dengan pria ini, lidahnya selalu kaku.


"Kenapa papa minta mbak Anya buat lepas Malvin?! itu kan hewan kesayangan ku! teman ku!!" pekik Steven, mulai berlagak tantrum, marah-marah dan menatap sang ayah dengan tatapan nyalang, penuh amarah.


Padahal percayalah, di dalam hatinya dia tertawa. Karena permainan akan segera di mulai.


Reza tergugu, selalu tak tahu mau menjawab apa tiap kali sang anak bertanya seperti ini. Dia tidak pandai membujuk, tak bisa merayu. Lidahnya betah diam dan akhirnya hanya diam.


"Pokoknya aku tidak mau tau! pokoknya Malvin harus kembali!!" pinta bocah itu dengan satu kakinya yang menghentak-hentak tanah.


"Stev, sabar Stev," ucap Anya, terpaksa ikut buka suara karena dilihatnya Steven mulai keterlaluan, membentak tidak sopan pada sang ayah.

__ADS_1


"Mbak Anya juga! kenapa menuruti keinginan papa! memangnya Mbak Anya pengasuhnya papa?"


Anya mendelik, kenapa jadi serba salah begini pikirnya.


"Tapi Malvin sudah masuk ke danau itu Stev, tidak mungkin kita ambil lagi," lirih Anya.


"Ya sudah cari katak yang lain, pokoknya aku mau yang seperti Malvin! Titik!"


"Carinya dimana?" tanya Anya lagi, disini tidak ada sungai seperti di kampungnya, tidak ada hutan atau kebun pisang. Anya bahkan selalu bertanya-tanya dimana Steven mendapatkan katak itu.


"Baiklah," jawab papa Reza akhirnya, akhirnya dia buka suara meski hanya 1 kata.


Tujuannya datang kesini memang untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang anak, dan mungkin memang ini lah jalannya.


Anya sedikit tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Baiklah apa?" tuntut Steven.


"Ayo kita cari katak yang lain," balas papa Reza, bicara seperti itu dengan wajahnya yang masih nampak dingin.


"Papa serius?"


"Tentu saja, mungkin di taman ini kita akan menemukan pengganti Malvin."

__ADS_1


"Ya sudah sana cari!"


"Ayo kita cari berdua." Papa Reza mulai beranjak dari sana, dia tidak menggandeng Steven, namun bocah itu seperti tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah sang ayah.


Karena memang inilah yang dia inginkan, menghabiskan waktu bersama-sama.


Anya tergugu, ini seperti baru pertama kali dia melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Meski masih terkesan dingin, namun setidaknya mereka sudah saling bicara.


"Mbak Anya! kenapa diam saja! ayo ikut!!" ajak Steven dengan suara yang masih menggebu-gebu.


Sampai Anya tersentak dibuatnya.


Dengan jalan perlahan, mereka bertiga beriringan menyusuri taman tersebut.


Sangat berharap bisa menemukan Malvin.


Ryan yang telah kembali tersenyum kecil melihat kedekatan Steven dan sang ayah.


Kedua orang itu memang harus banyak menghabiskan waktu seperti ini.


Senyum Ryan makin tersenyum lebar saat melihat Anya yang berjalan di belakang, gadis itu kadang tertinggal karena kelamaan berjongkok dan entah mencari apa.


Lalu berlari dan bersama lagi, lalu ketinggalan lagi.

__ADS_1


"Anya, Anya," gumam Ryan tanpa sadar, kalimat itu seperti otomatis keluar dari mulutnya.


__ADS_2