Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 4 - Seperti Memiliki Dua Cucu Nakal Sekaligus


__ADS_3

Anya mengelus daddanya lega saat Reza sudah keluar dari dalam kamar ini.


Sungguh, sesaat Anya memang terpana melihat ketampanannya, tapi pria itu memiliki sorot mata yang dingin, membuatnya takut.


Merinding, Anya sampai tidak berani meski hanya mengagumi.


Sementara Steven masih saja tertawa, menertawakan ayahnya sendiri.


"Steven, sudah dong ketawanya, kan nggak sopan ngetawain orang tua," ucap Anya dengan suara yang lembut, dia kembali duduk di karpet sementara Steven sudah duduk di tepi ranjang, memegang robot Batman hitam miliknya.


"Suka-suka ku lah mau ketawa, kenapa mbak Anya jadi yang repot?" sinis Steven, kini tatapannya berubah dingin, persis dengan tatapan Reza tadi, plek ketiplek.


Anya bahkan sampai tersentak, beberapa saat lalu mereka berkomunikasi dengan baik sekali. Steven pun cukup sopan kepadanya.


Tapi apa yang terjadi sekarang, Steven bahkan menatapnya dengan tatapan remeh.


"Bukan begitu maksud mbak Anya Steven, tapi kan tidak sopan kalau papa Reza jadi bahan tertawaan seperti itu."


"Mbak Anya sendiri yang salah, kenapa memanggil papaku dengan sebutan Pak? memangnya Oma tidak pernah bilang, jangan pernah panggil papaku dengan sebutan Pak!"


"Iya mbak Anya salah, maafin mbak ya?"


"Kalau panggil pak Reza, dia seperti bukan papaku, dia orang asing!" balas Steven dengan nada tinggi.


"Iya Steven, mbak minta maaf, yok main kodok lagi."


"Malas, aku mau main di luar!" sentak Steven tanpa perasaan.


Ya Allah. Anya sampai membatin menyebut nama Tuhan, mencari ketenangan dari berubah yang tiba-tiba ini.


Setelah meletakkan robot mainannya, Steven mengambil kodoknya dan melangkah keluar, kata Steven kodok itu namanya Malvin.

__ADS_1


Anya mengikuti langkah bocah kecil itu, dia akan selalu menemani kemana pun Steven pergi.


"Mbak Anya, kita main di taman belakang ya?" ajak Steven, kini tersenyum dengan hangat, seolah melupakan tentang perdebatan mereka beberapa menit lalu.


Anya lagi-lagi dibuat bingung, mulai belajar memahami karakter Steven yang sesunguhnya.


"Kenapa di taman belakang? mbak Anya lihat taman di depan bagus banget," balas Anya.


"Tapi di belakang lebih bagus Mbak."


"Mau kemana Steven?" tanya Oma Putri, kini Steven dan Anya memang telah tiba di ruang tengah.


Steven tidak menjawab pertanyaan Oma Putri, bocah itu melengos begitu saja. Jadi Anya yang menjawab.


"Mau main di taman belakang Oma."


"Itu kodoknya suruh buang Anya, jorok, sebentar lagi juga makan siang, jangan lama-lama mainnya," ucap Oma Putri dengan suara yang pelan, takut Steven mendengar ucapannya dan berakhir marah.


Sementara Anya hanya mengangguk, diantara langkah kakinya yang terus mengikuti sang anak asuh.


Anya terperangah, mulutnya menganga dan sedikit tersenyum. Hanya lihat saja dia sudah merasa bahagia sekali.


Tapi tidak mungkin kan Anya mandi disitu?


Baru sesaat dia mengagumi kolam renang itu, namun kemudian langsung menjerit saat melihat Steven sudah masuk ke dalam sebuah kubangan.


"Steven!!" pekik Anya, dia seperti kecolongan.


Bagaimana bisa di tempat indah seperti ini ada kubangan bebek seperti di kampungnya begitu.


"Ya Allah Steven, apa yang kamu lakukan?" cemas Anya, raut wajahnya terlihat takut dan bingung.

__ADS_1


Ini sangat kotor, pikir Anya.


"Ini tempat mainnya Malvin Mbak, aku cuma menemani dia bermain." jawab bocah kecil itu, sungguh Steven sebenarnya anak yang sangat tampan, tapi kenapa dia nakal seperti ini?


"Tapi kan nggak ikut nyemplung gini Stev." Anya sampai menghela nafas.


"Steven mbak Anya, bukan Stev." Dia tidak terima dipanggil Stev. Bukannya menjawab pertanyaan Anya Steven malah membahas nama panggilan.


"Susah lah, enak panggil Stev saja."


"Steven Mbak Anya!"


"Stev!"


"STEVEN!"


"STEV!" pekik Anya juga tak kalah kuat.


"Hih!!" Steven yang geram langsung menarik Anya sampai jatuh.


Berakhir mereka berdua yang tertawa di dalam kubangan kotor itu. Tidak luas sih, tapi tanahnya berwarna merah dan banyak air yang makin membuat semuanya kotor.


Teriakan mereka berdua sampai terdengar hingga lantai 2, di kamarnya masing-masing Reza, Ryan dan Rina melihat pemandangan itu.


Rina tertawa.


Ryan mengulum senyum.


Sementara Reza tetap menatap dengan tatapan dingin.


Sementara Oma Putri di bawah langsung memijat kepalanya yang berdenyut, jika seperti ini rasanya dia malah mendapatkan 2 cucu nakal sekaligus.

__ADS_1


"Aduh, pusing aku. Tenang, tenang, mungkin itu caranya Anya biar deket sama Steven"


Oma Putri masuk kembali, tanpa memperdulikan keduanya yang asik bermain lumpur.


__ADS_2