
3 hari Steven dan Anya tinggal bersama dengan Mama Mona.
Bukan hanya Steven yang terus mengawasi sikap sang mama, tapi Anya pun selalu menilai.
Dalam hati kecilnya Anya mulai berkata harusnya tidak seperti ini.
Jam 11 siang, Steven dan Anya sudah tiba di apartemen sehabis pulang sekolah dan mereka tidak melihat mama Mona di sana, bahkan pelayan pun tidak ada karena pelayanan tersebut datang di waktu pagi dan sore.
Rasa sepi seperti ini tidak akan pernah Steven rasakan jika tinggal di rumah Aditama. Di sana banyak orang yang bisa menemani Steven.
Bahkan Malvin pun pasti sudah menunggu kepulangannya.
"Mbak Anya," panggil Steven dengan suara yang cukup pelan.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang tengah, Steven duduk di atas sofa sementara anya berjongkok melepaskan sepatu sang anak asuh.
"Kenapa Stev? mau lihat TV?"
Steven menggeleng.
"Lalu?"
"Kenapa aku lahir ke dunia ini kalau tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku?"
Deg! pertanyaan Steven itu seketika menyayat hati Anya, dia tak bisa langsung menjawab, karena tiba-tiba lidahnya pun terasa kelu.
Mereka berdua sudah seperti sama-sama tahu, bagaimana sikap mama Mona selama mereka tinggal di sini.
__ADS_1
Anya lantas sedikit bangkit dan memeluk Steven erat, saat dia melepaskan pelukan itu, Anya melihat Steven yang tersenyum miris.
Ternyata benar apa kata papa Reza, keberadaan Steven disini malah semakin membuatnya merasa terluka. Batin Anya.
"Jangan bicara seperti itu Stev, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya."
"Lalu kenapa mama tetap pergi bekerja saat aku tinggal disini, padahal aku hanya diberi waktu selama 1 Minggu oleh kakek."
"Mungkin pekerjaannya mendesak."
"Papa juga, kenapa dia selalu pergi bekerja dan tidak ingin menghabiskan waktu bersama ku!!" Suara Steven mulai nampak meninggi.
Anya lihat degan jelas ada genangan air bening dari kedua matanya.
Sumpah, saat ini juga Anya ingin sekali menangis, tenggorokannya bahkan terasa tercekat, tapi sekuat tenaga dia tahan diri. Harus kuat agar Steven juga kuat.
"Papa adalah tulang punggung keluarga, memang sudah tugasnya bekerja Stev."
Dan saat itu juga Steven tak mampu lagi menahan air matanya. Hanya di hadapan mbak Anya-nya lah, Steven menunjukkan sisi lemah itu.
Dan melihat Steven yang menangis, akhirnya Anya pun ikut menangis juga.
Mereka lantas saling memeluk erat, tidak peduli jika di salah satu kaki Steven masih terpasang sepatu.
"Kenapa mbak Anya menangis juga?" tanya Steven, setelah cukup lama mereka saling menumpahkan rasa dan kini saling melerai pelukan.
Anya juga sudah duduk si samping Steven.
__ADS_1
"Ya nangis lah, liat cicak mati aja mbak Anya sedih, apalagi liat kamu nangis, ya mbak Anya tambah sedih," balas Anya, mencari-cari alasan.
Karena jika seperti ini jadinya, maka Anya pun harus siap untuk meninggalkan Steven, anak asuh yang sudah sangat dia sayangi. Pergi seperti apa yang papa Reza ucapkan dulu.
Jika sampai dia menyakiti anakku, bersiaplah untuk segera keluar dari rumah Aditama.
Dan mendengar jawaban mbak Anya, Steven malah tertawa.
"Masa aku disamakan dengan cicak," keluhnya.
Anya tersenyum kecil.
"Mbak, aku punya rencana," ucap Steven lagi.
"Apa lagi Stev? mbak udah kapok ikut rencana mu."
Namun Steven malah tersenyum miring, seolah lupa jika beberapa saat lalu dia baru saja menangis dengan kuat.
Steven lalu melepas sepatunya sendiri dan menarik mbak Anya untuk mengikuti langkahnya.
Masuk ke dalam ruang kerja sang ibu.
Mengambil buku sketsa ibunya dan mencoret-coret.
"Stev!" pekik Anya, tapi dia terlambat karena kini buku itu sudah tidak berbentuk.
"Tidak apa-apa Mbak, aku hanya ingin memastikan sesuatu," ucap Steven.
__ADS_1
Sementara Anya sudah menganga, lagi-lagi ketakutan sendiri. Dia sangat tahu jika buku itu begitu penting bagi Mama Mona.
Menjadi pengasuh Steven, Anya selalu mendapatkan serangan jantung.