
Malam hari ketika makan malam, semua orang dibuat tercengang saat melihat Steven yang sopan santun.
Menyapa semua orang dengan kepala menunduk dan bibir tersenyum.
"Selamat malam Oma, kakek, Papa, Om, kak Rina," sapa Steven.
Dia bahkan juga duduk sendiri, tidak memerintahkan Anya seperti biasanya.
Anya tersenyum, karena Steven benar-benar menepati janjinya untuk bersikap baik pada semua orang.
"Steven, apa kamu sakit Nak?" tanya Oma Putri.
"Tidak kok, aku dalam keadaan yang sangat baik."
"Coba Oma pegang dahi mu."
Steven turun dari kursinya dan berjalan mendekati sang Oma, berdiri dan membiarkan Oma Putri memeriksakan keningnya.
Semua orang makin dibuat heran melihat Steven yang patuh seperti itu. Mana pernah dia menurut saat diminta untuk melakukan ini dan itu.
Sangat mencurigakan. Batin Rina.
Makan malam pun berlangsung tanpa mendengar suara beradu antara piring dan sendok milik Steven. Bocah itu bahkan memakan sayuran yang selama ini dia hindari.
__ADS_1
Reza menatap sang anak intens lalu menatap Anya.
Jelas saja Steven tidak akan berubah sedrastis itu jika tanpa pengaruh Anya. Sesuatu hal yang harus dia luruskan sebelum besok pergi ke luar kota selama 3 hari.
Reza malah merasa cemas jika Steven berubah tiba-tiba seperti itu, jika Steven tetap nakal dia malah biasa saja.
"Anya, selesai makan malam nanti temui aku di ruang kerja," ucap Reza, bicara dengan suaranya yang dingin dan wajah datar.
Anya nyaris tersedak makanannya sendiri ketika mendengar itu, sejak awal dia memang selalu ikut makan malam bersama dengan keluarga ini, karena Steven pun harus di dampingi.
"Ba-baik Pa," jawab Anya gagap. Wajah dingin itu selalu membuatnya takut dan gugup.
Padahal om Ryan, kak Rina, Oma dan kakek sangat baik, kenapa papa Reza terlihat begitu jahat. Batin Anya, dia menunduk dengan kikuk dan kembali menyantap makanannya.
Selesai makan malam itu, Anya langsung menghadap pada Reza. Sementara Steven menunggu Anya duduk di ruang tengah, menghabiskan waktu bersama degan Oma dan kakek.
Anya menurut, mereka duduk saling berhadapan dengan meja sebagai penghalang.
"Ada apa ya Pa? apa aku membuat kesalahan?" tanya Anya lirih.
"Kalau sedang berdua seperti ini, tidak perlu memanggil aku dengan sebutan papa, panggil saja Pak."
"Tapi kata Oma Putri harus Pa terus biar jadi kebiasaan."
__ADS_1
Reza terdiam.
Beberapa minggu lalu Oma Putri memang mengatakan hal itu kepada Anya.
"Ya sudah terserah mu. Sekarang katakan pada ku, kenapa tiba-tiba Steven berubah jadi penurut seperti itu? Apa kalian merencanakan sesuatu?"
Deg! jantung Anya berdenyut, jadi berulang kali mengedipkan mata saking gugupnya.
Belum apa-apa kini Anya sudah merasa ketahuan. Dua telapak tangannya sudah basah dengan keringat dingin. Dan kini jadi merasa sangat bingung apa yang harus dilakukan, mengakui semua kesepakatan dengan Steven atau menutupinya rapat-rapat.
Aku harus mengaku kan? batinnya.
Tapi yang keluar dari mulut malah sebaliknya.
"Ti-tidak Pa, kami tidak merencanakan apapun, Steveen memang anak yang baik," jawab Anya.
Astaghfirullah, kenapa aku berbohong?! Dosa kamu Anya! Dosa!!
"Besok aku akan pergi ke luar kota selama 3 hari, kuharap selama itu kamu bisa mengawasi Steven dengan baik dan tidak membuat keributan apapun. Mengerti?"
"Baik Pa." jawab Anya pasrah.
Ketika keluar dari ruangan itu Anya lemas sekali, seolah separuh nyawanya hilang.
__ADS_1
Galau, antara jadi pengkhianat papa Reza atau pengkhianatnya Steven.
Ya Allah, tolong Anya ya Allah, aku harus gimana??