
Sebuah kapal Marine mendekati pulau dan beberapa warga yang menempati pulau itu melihat kedatangan kapal Marine tersebut.
"Hei lihat, ada kapal Marine yang datang."
"Tapi itu bukan kapal Marine yang sering kita lihat."
"Apa itu kapal Marine yang bukan berasal dari pangkalan dekat sini?"
Selagi para warga mengobrol tentang kehadiran kapal Marine tersebut, seorang anak kecil berlari mendekati mereka.
"Kakak!" Panggil anak kecil itu.
"Ohh~bukankah kamu anak kecil yang berasal dari desa Gosa?"
"Apa kakak lihat kapal Marine?" Tanya anak kecil itu saat sudah tiba.
"Apa kapal itu?"
Anak kecil itu menganggukkan kepalanya. "Ya, kapal itu datang setelah mendapatkan perintah dari pemerintah untuk menjemput kita"
"Menjemput kita? Maksudnya?"
Anak kecil itu kemudian menjelaskan kalau para warga desa Gosa yang masih bertahan telah berhasil memberikan kabar tentang keadaan pulau tempat mereka berada.
Sementara itu, di kapal Marine terlihat seorang perwira yang menjadi komandan kapal itu sedang menatap Arlong Park.
"Jadi itu, Arlong Park?" Tanya perwira itu. "Dunia sudah menjadi kacau sampai ada bajak laut mendirikan markasnya di pulau ini dan membuat kekacauan pada warga sipil yang tidak berdosa di pulau ini."
"Anda benar, komodor Pudding." Ujar bawahannya.
"Baiklah, kita mendapatkan tugas untuk melakukan evakuasi pada warga desa Gosa yang desanya sudah dihancurkan oleh para bajak laut brengsek itu!" Perintah Pudding.
Meskipun mendapatkan perintah seperti itu, namun Pudding merasa kalau itu adalah sebuah kesalahan.
"Tapi menurut pendapatku ... Apa yang menjadi rasa keadilan kita?" Tanya Pudding.
"Hanya diam saja melihat ada markas bajak laut di depan mata, tidak akan!" Jawab para bawahannya.
"Ya, bagus, kita sebagai Marine, kesatria laut, pelindung kedamaian laut tidak bisa membiarkan ada bajak laut merusak ketentraman dan kedamaian, jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Pudding.
"Hancurkan semua bajak laut yang merusak kedamaian laut." Teriak para bawahannya.
"Bagus, siapkan meriam dan berikan tembakan peringatan pada baja laut sialan itu." Perintah Pudding.
Para bawahannya segera melakukan perintah tersebut dengan cepat.
"Meriam telah siap, komodor Pudding!"
"Tembak!" Perintah Pudding.
Suara ledakan meriam berbunyi dengan sangat keras dan sebuah bola meriam terbang melesat ke langit dan mulai jatuh tepat di tempat Arlong berada.
Arlong dengan santainya menerima bola meriam itu dengan mulutnya dan menghancurkannya dengan gigi-gigi yang dia miliki.
"Bagaimana dengan perundingannya?"
"Lupakan, tenggelamkan mereka!" Perintah Arlong.
Para bawahannya langsung bergerak dengan cepat menuju ke kapal Marine tersebut.
Hanya dalam waktu yang sangat cepat kapal Marine yang dikomandoi oleh Pudding tenggelam di lautan.
Para warga yang melihat itu hanya menatap dengan perasaan kecewa, terutama anak kecil yang tadinya senang kembali menjadi sedih.
Dia mengeluarkan air matanya karena tidak bisa menerima apa yang dia lihat itu.
"Padahal mereka datang untuk menolong kita!"
"Inilah kenyataan ... Tidak ada yang bisa lolos dari kekuasaan Arlong."
Sementara itu di tempat Luffy dan lainnya, Luffy tidak bisa menerima kabar tentang kematian Usopp yang dibunuh oleh Nami.
"Benarkah perkataanmu itu, Nami membunuh Usopp?" Tanya Luffy.
"Ya! Dia benar-benar seorang penyihir! Dia selalu menuruti perintah Arlong agar dia bisa memiliki semua harta karun yang terkubur di desa Cocoyashi! Dengan tenangnya dia membunuh orang-orang! Gadis berdarah dingin yang busuk hatinya! Dia telah menipu kita..." Ungkap Johnny.
"Kamu!" Ujar Luffy sambil memegang kerah baju Johnny dan menjatuhkan topi jeraminya. "Coba katakan hal buruk sekali lagi tentang Nami! Aku kuhajar kamu!"
"Hentikan, Luffy. Ini tidak ada hubungannya dengan Johnny." Ucap Zoro yang melerai.
"Terserah kalau tidak mau percaya padaku! Tapi, aku melihatnya dengan kedua mataku ini! Gadis itu membunuh abang Usopp!" Tegas Johnny.
"Hentikan omong kosongmu itu! Nami tidak mungkin membunuh Usopp! Kita adalah teman dan anggota bajak lautku!" Teriak Luffy.
"T-Tapi, aku-" Ucap Johnny yang terpotong oleh kehadiran seseorang.
"Siapa yang kamu maksud dengan teman, Luffy?" Tanya Nami yang tiba-tiba saja muncul dan berdiri di depan mereka semua.
"Nami!" Panggil Luffy sambil melepaskan kerah baju Johnny.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Nami dengan pandangan tajam.
"Bicara apa kamu? Kita adalah teman, aku ingin menjemputmu!" Ucap Luffy lalu mengambil topi jeraminya yang tadi terjatuh.
"Menganggu saja!" Ujar Nami dengan nada datar.
"Nami?" Ucap Luffy.
"Teman? Jangan membuatku tertawa! Bukankah ini cuman kumpulan kerja sama yang tidak berguna? Kalian hanyalah kelompok menyedihkan yang telah membantuku." Jelas Nami.
"Kurang ajar! Kamu telah membunuhnya!" Ucap Johnny dengan marah.
"Johnny! Diam!" Ucap Tanaka memberi peringatan pada Johnny. "Kapten sedang bicara!"
Johnny pun terdiam.
__ADS_1
Tanaka berjalan mendekati Nami dan berbisik di telinganya. "Sudah cukup dengan sandiwaramu, aku tahu kalau kamu melakukan ini karena memikirkan kami, Nami."
Perempuan itu menatap Tanaka dengan penuh kebingungan.
"Hei, jangan dekat-dekat dengan Nami!" Teriak Sanji yang marah karena cemburu.
Tanaka mengabaikannya dan terus berbisik pada Nami.
"Mengenai kamu membunuh Usopp, itu hanya sebuah kebohongan, buktinya punggung tanganmu yang terluka itu karena menyelamatkan Usopp." Bisik Tanaka.
Nami terkejut lagi dan merasa kebingungan tentang bagaimana Tanaka bisa tahu akan hal dilakukannya.
"Sudah cukup penderitaanmu yang telah lama kamu jalani dengan Arlong. Kami akan membebaskan mu, tunggu saja, Luffy akan mengalahkannya dan kita dapat berlayar bersama lagi." Ungkap Tanaka.
Tanaka lalu memundurkan wajahnya dan tersenyum lembut pada Nami. Aku dapat melihat ekspresi terkejut di wajah Nami tapi itu hanya sesaat.
Nami segera menormalkan kembali ekspresinya. "Biar kuberi tau. Saat ini, Arlong berniat membunuh Roronoa Zoro dan kelompoknya."
"Meskipun kekuatan kalian semua seperti monster, kalian bukanlah tandingan bagi monster asli. Jika kalian masih ada di pulau ini, kalian pasti akan dibunuhnya. Yah, tapi itu bukan urusanku." Ucap Nami dengan santainya.
Tanaka hanya menghela nafas panjang karena sikap Nami tersebut. "Mengapa dia tidak jujur saja untuk meminta tolong pada kami? Apa sampai segitu buta matanya akibat hidup dalam kekejaman Arlong sampai meremehkan kekuatan yang kami miliki?"
Nami menatap Tanaka sejenak karena dia masih terpikirkan perkataan pria itu sebelumnya tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap Luffy.
"Sifatnya yang dingin pun sangat menawan! Halo, Nami-san. Ini aku! Masih ingatkan?! Ayo berlayar bersama-sama!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.
"Diam lah sebentar! Situasi kita jadi semakin rumit!" Ucap Zoro.
"Apa kau bilang?! Cinta itu seperti angin ribut!" Ucap Sanji tapi diabaikan oleh Zoro.
"Hei, kalau ada orang yang berbicara, dengarkan!"
"Dimana Usopp?" Tanya Zoro.
"Di dasar lautan." Jawab Nami.
"Kurang ajar, hentikan omong kosongmu!" Ucap Zoro lalu akan menyerang Nami tapi Sanji menghentikannya.
"Apakah pendekar pedang tega menyerang wanita, Roronoa Zoro?" Tanya Sanji.
"Apa kamu bilang?! Kamu bahkan tak mengerti situasi saat ini, menyingkir lah!" Pinta Zoro dengan tegas.
"Hah! Oh aku tahu, kamu hanya ingin melampiaskan kekesalan kamu karena pertarungan sebelumnya, ya, aku juga pasti akan kesal jika kalah dalam pertarungan." Ucap Sanji yang memprovokasi Zoro.
"Hah?! Hei, jaga mulutmu!" Ucap Zoro marah.
Tanaka yang tidak tahan melihat pertengkaran Zoro dan Sanji yang hanya menambah rumit masalah yang terjadi saat ini segera menggunakan kekuatan forcenya dengan mendorong mereka ke arah saling berlawanan.
Mereka berdua tersungkur ke tanah.
"Jangan ikut campur, dasar pria aneh!" Teriak Sanji marah.
"Apa yang kamu lakukan, Tanaka!" Ujar Zoro yang juga marah.
"Hentikan! Bukan saatnya untuk bertengkar! Jangan menambah masalah yang belum diselesaikan saat ini." Ujar Tanaka sambil menatap tajam mereka berdua.
"Dia masih saja mementingkan keselamatan kami, padahal nyawanya sendiri bisa saja terancam jika Arlong melihatnya bersama kami." Pikir Tanaka yang menghela nafas.
"Masih belum mengerti juga? Satu-satunya alasan bagiku untuk bergabung dengan kalian adalah uang! Sekarang kalian sudah tidak punya uang lagi, jadi tidak ada untungnya bagiku!" Ungkap Nami.
"Akan kukembalikan kapal kalian. Carilah navigator lain, lalu pergilah ke Grand Line! Carilah One Piece atau apapun itu! Cepat pergi dari sini! Kalian merusak pemandangan! Selamat tinggal." Ucap Nami yang berbalik dan menggigit bibirnya karena di merasa sangat sedih telah mengatakan hal itu.
"Nami..." Ucap Luffy yang lalu tiba-tiba saja dia tumbang.
"Abang Luffy?!" Sahut Johnny yang panik.
Nami berbalik lagi karena mendengar suara teriakan panik dari Johnny. Dia melihat Luffy dengan tenangnya berbaring di atas tanah.
"Aku mau tidur." Ucap Luffy dengan santainya.
Tanaka yang mendengar itu hanya tersenyum. Dia kemudian mencari tempat yang nyaman untuk duduk sambil menyadarkan punggungnya pada sebuah pohon kelapa.
"Tidur?!" Ucap Johnny.
"Disaat seperti ini?! Di tengah-tengah jalan pula!" Ucap Yosaku.
"Aku tidak mau meninggalkan pulau ini, aku juga tidak peduli dengan apa yang terjadi di pulau ini. Aku juga sedikit ngantuk. Aku mau tidur." Ngeles Luffy.
Yosaku menjatuhkan rahangnya mendengar hal itu. Lalu Luffy pun tertidur.
"Lakukan...lakukan saja sesukamu! Mati saja kamu!" Ucap Nami lalu berlari pergi sambil menangis sedih tapi tidak mengeluarkan air mata.
"Abang Zoro! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?!" Tanya Johnny yang merasa aneh dengan seniornya itu.
"Nyawa kita sedang diincar Arlong! Lalu, kenapa kita tidak kabur saja?!" Tanya Yosaku.
"Karena sudah tau gadis seperti apa Nami itu, tidak ada alasan lain untuk tetap berada di pulau ini, kan?!" Tanya Johnny.
"Alasan untuk tetap berada di pulau ini? Ada." Ucap Zoro lalu menoleh menatap Luffy. "Karena dia masih ada disini."
"Jangan-jangan, abang Zoro masih berniat untuk membawa kak Nami kembali?" Tanya Yosaku.
"Aku tidak ada urusan dengannya. Urusan aku sama dia, karena dialah kaptenku, pergi atau tidak dari pulau ini adalah keputusannya, aku harus menunggu." Jelas Zoro.
"Begitukah?! Baiklah! Pertemuan kita memang sebentar, tapi peran kami sebagai pemandu cukup sampai disini saja!" Ucap Johnny.
"Aku sependapat! Aku tak ingin mati sia-sia disini!" Ucap Yosaku.
"Ya, jaga diri kalian baik-baik!" Ucap Zoro dengan tenang.
"Baiklah, sampai jumpa lagi." Ucap Johnny.
Lalu Johnny dan Yosaku pun pergi.
"Hei." Panggil Sanji yang membuat Zoro menoleh menatapnya. "Kenapa Nami tadi menangis?"
"Gadis itu menangis?" Tanya Zoro.
__ADS_1
"Hatinya yang menangis." Ucap Sanji.
"Mungkinkah itu tangisan penyesalan karena membunuh Usopp?" Tanya Zoro.
"Mana mungkin, kau ini yang benar saja! Benarkah Nami membunuh si hidung panjang itu?" Tanya Sanji.
"Tidak, dia tidak membunuh Usopp, aku percaya pada Nami, dia tidak mungkin membunuh Usopp." Bantah Tanaka membuat mereka berdua menoleh padanya.
"Nami juga tidak jujur pada perasaannya sendiri. Nami ingin bersama kita, tapi ada sesuatu yang menahannya di pulau ini, sama sama seperti keadaan kamu Sanji tapi dengan konteks yang berbeda." Jelas Tanaka.
"Sesuatu? Apa itu?" Tanya Zoro.
Tanaka hanya tersenyum misterius sambil menatap Zoro, tidak berniat menjawab.
Dia lalu melihat Usopp yang berlari ke arah tempat kami berada.
"Syukurlah! Kalian masih selama! Jangan pergi ke Arlon-"
Zoro dan Sanji bertengkar dan saling menyerang tapi serangannya itu mengenai pipi kanan dan pipi kiri Usopp yang muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah konflik mereka berdua
"Dia masih hidup!" Ucap Sanji.
"Tidak, sepertinya baru saja mati." Ucap Zoro.
"Uhh~itu pasti sangat menyakitkan, tapi dengan itu, tubuhnya sudah terlatih dengan baik sehingga meskipun mendapatkan luka parah sekalipun dia akan tetap baik-baik saja." Pikir Tanaka.
Luffy terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Usopp. Pada saat itu juga, dia melihat Usopp yang sudah babak belur pada wajahnya.
"Usopp! Apakah Nami yang melakukannya?!" Tanya Luffy yang panik.
"Maaf, ini ulahku dan dia." Ucap Sanji.
"Cuma Kamu saja!" Ucap Zoro.
"Lu...Luffy! Tanaka! Kalian sudah datang?!" Tanya Usopp.
"Ya, baru saja." Ucap Luffy.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya.
"Ah, aku juga! Salam kenal!" Ucap Sanji.
"Suatu hari nanti akan kubunuh kamu!" Ucap Usopp marah.
"Ada apa? Kamu sudah lebih baik, kan?" Tanya Sanji
"Diam lah!" Tegas Usopp.
"Oh ya, katanya kamu dibunuh oleh Nami?" Tanya Zoro.
"Sial! Johnny kurang ajar, sudah kuduga ini memang omong kosong!" Ucap Luffy marah.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Usopp?" Ucap Tanaka pura-pura tidak tahu.
Usopp lalu menceritakan yang sebenarnya terjadi saat itu.
"Begitulah, Nami pura-pura membunuhku supaya aku bisa melarikan diri! Menurutku, ada alasan khusus mengapa ia bergabung dengan kelompok Bajak Laut Manusia Ikan." Ungkap Usopp.
"Tentu saja." Ucap Sanji.
"Lalu, bagaimana? Langsung menyerbu Arlong Park?" Tanya Zoro.
"Tu-Tunggu dulu! Kita harus membuat rencana terlebih dahulu!" Ucap Usopp.
"Yang mana pun tetap saja percuma." Ucap seorang gadis yang membuat para bajak laut topi jerami menoleh menatapnya.
"Nojiko!" Ujar Usopp.
"Kakak Nami." Pikir Tanaka
"Tak peduli apapun yang kalian lakukan, kekuasaan Arlong tidak akan berakhir." Tegas Nojiko.
"Siapa?" Tanya Luffy.
"Kakak perempuan Nami." Jawab Usopp.
"Kakak Nami?! Pantas saja dia sangat cantik!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.
"Kenapa percuma?" Tanya Zoro.
"Kumohon, jangan ikut campur dengan urusan pulau ini. Tinggalkan Nami. Akan kuceritakan yang sebenarnya." Pinta Nojiko.
"Yang sebenarnya?" Tanya Sanji.
"Tentang alasan Nami bergabung dengan kelompok Arlong?" Tanya Usopp.
"Ya, setelah mendengarnya, kalian harus meninggalkan pulau ini." Ucap Nojiko.
"Baiklah, ayo dengarkan ceritanya dulu..." Ucap Usopp.
"Aku tidak mau." Tolak Luffy.
"Setuju, Nami teman kita dan dia sedang mendapatkan masalah, kita harus membantunya." Tegas Tanaka
"He-Hei kalian berdua..." Ucap Usopp.
"Aku tak peduli dengan masa lalunya." Ucap Luffy yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Mau pergi kemana kau, Luffy?" Tanya Sanji.
"Jalan-jalan." Jawab Luffy
"Jalan-jalan katamu?! Kamu tidak mau mendengar ceritanya?!" Tanya Usopp.
"Tidak mau." Ucap Luffy.
Tanaka segera beranjak untuk mengikuti Luffy.
__ADS_1
"Biar aku yang bersamanya, aku akan mengawasinya agar tidak melakukan tindakan sembarangan." Ujar Tanaka yang berlari mengejar Luffy.