
Tanaka yang telah mengambil langkah pertama, berlari dengan cepat menuju ke arah Luffy yang dikejar oleh reptil padang pasir yang cukup besar dan berwarna ungu.
Tepat dibelakangnya ada Sanji dan Zoro yang berlari dengan cepat, berusaha menyamai kecepatan Tanaka.
"Kadal Sandora!" Ucap Vivi yang masih berdiri di tempat berbatuan.
"A-Apa itu?!" Tanya Usopp yang ketakutan.
"Itu adalah reptil terbesar yang ada di padang pasir yang menenggelamkan seluruh tubuhnya di pasir sambil menunggu mangsanya melewati tepat di atasnya!" Jawab Vivi.
"Kadal itu memiliki cakar dan taring yang tajam, tapi jarang menggunakannya! Karena ukurannya yang besar, dia pun langsung menelan mangsanya!" Ungkap Vivi.
"Dia itu benar-benar jenius kalau mendatangkan masalah!" Ucap Ace yang menghela nafas.
Saat Luffy sudah berada dekat dengan tiga orang yang berlari itu, Zoro bertanya, "Luffy, apa kamu kesulitan menjatuhkannya?" Ucap Zoro.
"Akan kami bantu!" Ucap Sanji.
"Luffy, kamu membawa makanan untuk kami." Ujar Tanaka.
"Ya, aku bawa daging! Ayo kita mulai, kadal!" Ucap Luffy.
Mereka berempat pun langsung mengeluarkan jurus masing-masing kecuali Tanaka yang tidak ada jurus sama sekali, hanya mengayunkan Sengo secara vertikal.
Dia menggunakan Sengo daripada Honjo yang sering digunakan karena yang menjadi lawannya adalah bahan makanan sehingga tidak segan-segan untuk mencabut nyawa kadal padang pasir itu.
Kadal padang pasir itu dengan cepat kehilangan nyawanya tanpa memberikan perlawanan sama sekali.
Nami, Usopp, Chopper, Vivi dan unta yang dibawa oleh Luffy terkejut melihat kadal padang pasir yang memiliki tubuh besar dapat dikalahkan dengan cepat.
"Kalian sampai berbuat sejauh itu." Ucap Usopp.
"Kalau sampai dengan kekerasan, aku jadi kasihan sama monsternya." Ucap Nami.
Pada saat itu sesuatu muncul di belakang Nami, Usopp, Vivi dan Chopper dan itu adalah kadal padang pasir lainnya.
"Masih ada lagi?" Tanya Nami yang terkejut.
"Aku lupa mengatakannya, tapi Kadal Sandora berburu secara berpasangan!" Ucap Vivi.
"Katakan dari tadi dong!" Ucap Nami, Usopp dan Chopper secara bersamaan.
Kadal padang pasir itu berada di dekat Ace yang kemudian langsung memasukkan kakak angkat Luffy itu ke dalam mulutnya.
"Ace!" Teriak Nami dan Vivi secara bersamaan.
Ace yang berada di dalam mulut kadal padang pasir itu langsung membakarnya sehingga dari mulut kadal itu keluar api dan tidak sampai disitu saja, komandan divisi 2 bajak laut Shirohige itu membangkar seluruh tubuh kadal padang pasir itu sampai hangus.
"Ha~ merepotkan saja." Ujar Ace dengan santainya.
Nami, Vivi, Usopp, dan Chopper terkejut melihat tindakan Ace tersebut.
Setelah kedua kadal padang pasir itu telah di kalahkan, Sanji memotong daging kadal yang dikalahkannya bersama Tanaka, Zoro dan Luffy menjadi bentuk dadu dan kemudian memasaknya di atas batu yang panas karena sinar matahari.
"Lihat ini, batu ini bisa jadi tempat penggorengan alami!" Ucap Sanji pada Chopper yang melihat dengan kagum.
Sedangkan yang lainnya terfokus pada unta yang dibawa oleh Luffy.
"Lalu, darimana asalnya unta itu?" Tanya Zoro.
"Entahlah, dia dimakan oleh tumbuhan misterius saat aku mengejar burung-burung itu." Jawab Luffy.
"Sepertinya dia bukan unta liar, ya." Tanya Nami.
"Ya, bahkan ada pelananya." Ucap Vivi.
Chopper mendekati unta itu karena merasa familiar dan saat dia melihat lebih dekat, Chopper tersenyum senang.
"Sudah kuduga! Begitu ya, syukurlah!" Ucap Chopper yang sedang berkomunikasi dengan unta itu.
"Apa? Kalian sudah saling kenal?" Tanya Luffy yang sedang makan daging kadal yang sudah dimasak oleh Sanji.
Chopper memberitahu kalau unta itu sudah menolongnya saat sempat tersesat di gurun pasir yang tidak jauh kota pertama mereka datangi.
"Dia bisa dinaiki, ya? Kalau memang bisa, jadi gampang!" Ucap Usopp yang bangkit dari tidurnya.
"Ya, itu bisa membantu banget! Sepertinya bisa bawa dua orang!" Ucap Sanji sambil memasak daging kadal di atas batu panas.
"Unta pasti bisa tahan di padang pasir!" Ucap Zoro yang tersenyum senang.
Luffy kemudian mencoba untuk menaiki unta itu, tapi kepalanya langsung digigit oleh unta itu sehingga dia tidak jadi dan merasa bingung.
"Aku ini unta yang cinta damai, kuat, penyayang dan suka membuat orang senang! Terima kasih sudah menyelamatkanku dari bahaya. Aku bersedia mengangkut orang tapi laki-laki tak boleh menaiki aku!" Ucap Chopper yang menerjemahkan ucapan unta itu yang terdengar seperti orang sedang berkumur-kumur.
Unta itu pun dihajar oleh Luffy, Usopp dan Sanji sedangkan Tanaka hanya tertawa melihat itu.
"Dia sombong banget!" Ucap Luffy.
"Benar sekali, Chopper saja boleh naik!" Ucap Usopp.
"Aku itu lelaki sejati!" Ucap Chopper yang menerjemahkan ucapan unta itu lagi.
Unta itu pun kembali dihajar sampai babak belur oleh tiga orang itu.
"Maafkan mereka ya! Teman-temanku bersikap kasar padamu! Laki-laki yang baik! Enaknya dipanggil apa, ya?" Ucap Nami sambil mengelus unta itu yang membuat mata unta itu berubah jadi lope-lope seperti Sanji.
"Bodoh!" Ucap Luffy.
"Boge!" Ucap Sanji.
"Tako!" Ucap Usopp.
"Sanji 2 !" Ujar Tanaka.
Sanji yang mendengar pemberian nama untuk unta itu oleh Tanaka langsung marah.
"Kenapa? Bukankah itu cocok, kalian berdua memiliki karakter yang sama." Ujar Tanaka.
Nami mengabaikan pemberian nama oleh mereka berempat itu dan kemudian memberikan nama Matsuge untuk unta itu yang langsung menerimanya dengan senang hati bahkan matanya lope-lope.
"Lihat, dia sama playboy nya seperti kamu, Sanji." Ujar Tanaka.
Meskipun begitu Sanji tidak terima dengan ucapan Tanaka sehingga dia pun bertengkar dengan pria itu.
Nami menaiki unta itu dan kemudian mengajak Vivi untuk menaikinya juga.
"Tidak, aku masih bisa berjalan, kok!" Tolak Vivi.
Akan tetapi Nami tetap memaksa sehingga Vivi pun menaiki unta itu dan duduk di belakang Nami.
"Unta mesum! Unta mesum! Unta mesum!" Ucap Luffy dan Usopp yang mengejek Matsuge seperti anak kecil.
"Dengan begini, kita jadi sedikit lebih cepat! Kita harus pergi ke Yuba secepat mungkin untuk berbicara dengan pasukan pemberontak! Ayo jalan, Matsuge!" Perintah Nami.
Matsuge pun membawa mereka berdua dengan cepat dan meninggalkan kami.
"Tunggu!" Ucap mereka semua kecuali Tanaka dan Ace.
"Ayo, kalian cepatlah, jika sampai terpisah, kalian takkan bisa keluar dari padang pasir!" Teriak Nami sambil melihat ke belakang.
"Jangan bercanda!" Ucap Usopp yang kesal.
"Aku menyukai Nami yang seperti itu!" Ucap Sanji dengan menebarkan lope-lope di udara.
Mereka semua pun berlari mengejar Nami sedangkan Tanaka masih berada di tempat menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya adikku ini mendapatkan kru yang menarik semua." Ujar Ace yang berdiri di samping Tanaka dengan tersenyum melihat Luffy yang berlari bersama dengan para krunya.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan dia pun berlari mengejar mereka, begitu juga dengan Ace yang berlari sedikit dibelakang Tanaka.
Beberapa saat kemudian ...
"Sepertinya kita terpisah dari yang lain." Ucap Tanaka yang tidak lagi melihat Luffy dan lainnya.
Dia pun menghela nafas panjang karena kecerobohannya itu. Cuaca yang begitu panas dan tidak ada air membuat dia kehilangan konsentrasi sehingga berjalan ke arah yang berbeda.
"Kita perlu mencari jejak Nami dan Vivi." Saran Ace.
__ADS_1
Mereka berdua kembali berjalan tanpa arah sambil mencari jejak kaki yang ditinggalkan oleh Matsuge. Tapi karena datarannya adalah pasir dan juga angin panas yang berhembus tanpa henti membuat jejak kaki Matsuge menghilang sehingga sangat sulit untuk menemukannya.
Pada saat mencari itu, Tanaka mendengar suara teriakan dari kejauhan yang kemungkinan besar itu adalah suara Luffy.
"Barusan aku mendengar sesuatu?" Tanya Ace.
"Aku juga mendengarnya." Jawab Tanaka.
Saat mereka sedang mencoba untuk fokus mendengarkan suara teriakan Luffy, seekor kalajengking raksasa muncul dari dalam pasir.
"Merepotkan." Ucap Tanaka yang menghela nafas lalu mengeluarkan Sengi dari sarungnya.
Dia sebenarnya ingin menggunakan Honjo tapi berpikir kembali karena lawan yang dilawannya itu memiliki racun yang cukup mematikan sehingga mencari aman menggunakan Sengo untuk membunuhnya daripada membuat kalajengking itu pingsan.
"Biar aku saja, kamu cukup melihatku." Ucap Ace lalu menatap kalajengking itu dengan senyum seringai.
Tanaka menganggukkan kepalanya karena dia juga tidak ingin membunuh makhluk hidup sebisa mungkin.
Dia memasukkan kembali Sengo ke sarungnya yang langsung mendapatkan protes dari pedang itu karena tidak jadi bertarung. Tanaka hanya mengabaikan protes tersebut sambil melihat Ace yang siap bertarung dengan kalajengking raksasa.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini!" Ancam Ace pada kalajengking raksasa itu.
Kalajengking itu tetap tidak beranjak dari tempatnya, sehingga Ace mengambil langkah pertama untuk menyerang yang tenyata kalajengking raksasa itu tidak dapat menghindari serangan Ace sehingga dengan mudah Ace memanggang tubuh kalajengking itu.
"Karena itulah tadi kuperingatkan." Ucap Ace lalu kami berjalan kembali. "Aku keren kan?"
"Ya, kamu keren." Ucap Tanaka dengan wajah datar.
"Berhentilah berwajah datar, aku ingin membuat kamu kagum padaku sehingga kamu ikut bergabung menjadi kru aku, divisi 2 bajak laut Shirohige." Ujar Ace.
Tanaka tertawa kecil dengan nada datar. "Usaha yang bagus tapi itu tidak akan berhasil padaku."
Mereka berdua kembali berjalan, akan tetapi seekor kadal berukuran agak besar berdiri di depan Ace.
Saat Ace melangkah ke kanan, kadal itu juga mengikutinya, saat Ace melangkah ke kiri, kadal itu juga mengikutinya.
"Oi, apa kalian berdua sedang melakukan tarian pandang pasir?" Tanya Tanaka yang tertawa.
Kadal itu terus mengikuti Ace kemanapun dia melangkah sehingga membuat pemilik buah iblis api itu sangat kesal.
"Kamu juga ingin menghalangiku, kan?" Tanya Ace dengan ekspresi
Kadal melihat kalajengking yang dibakar oleh Ace sehingga menjadi merah seperti udang rebus. Dia pun menangis ketakutan saat melihat nasib kalajengking itu.
Dengan cepat kadal itu berubah posisi, merendahkan tubuhnya agar bisa dinaiki oleh dua orang itu.
"Sepertinya dia ingin kita menaikinya." Ujar Tanaka.
Mereka berdua pun menaiki punggung kadal tersebut dengan posisi Ace berada di depan dan Tanaka di belakangnya.
"Oke, mari kita pergi, Toka." Ujar Ace yang memberikan nama kadal itu.
Mereka berdua pun mulai mencari jejak Nami dan Vivi, tapi sangat sulit menemukannya di tengah padang pasir yang jejaknya cepat hilang akibat pasir yang terhembus oleh angin.
"Luffy, dimana kamu?!" Ucap Ace yang berteriak.
"Lebih baik kamu menghemat tenagamu, tidak perlu berteriak seperti itu." Saran Tanaka.
"Mungkin saja mereka mendengarnya." Ucap Ace.
"Itu akan sulit karena padang pasir itu sangat luas." Ujar Tanaka. "Kita tidak punya kompas, peta dan stok makanan dan minuman."
"Masalah makanan, kita punya kadal ini." Ujar Ace.
Mendengar itu membuat kadal yang mereka berdua naiki terkejut dan menangis.
"Jangan takuti dia." Ujar Tanaka. "Kita harus berterima kasih padanya karena sudah mau dijadikan kendaraan."
Mereka terus bergerak tanpa arah dan berakhir dengan hari sudah mulai gelap sehingga Tanaka dan Ace memutuskan untuk berkemah di sebuah batu besar.
Mereka memakan daging ular padang pasir yang ditangkap oleh Ace sebagai santapan makan malam.
"Kamu benar-benar bisa diandalkan, Ace." Ucap Tanaka sambil memakan daging ular yang sudah terbakar dengan baik oleh api unggun yang dibuat oleh Ace.
Namun karena ada Ace yang dari kecil hidup di hutan dengan para bandit gunung yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Dandan sehingga dia memiliki kemampuan survival.
Meskipun Tanaka tidak pernah melewatkan kegiatan pramuka tapi dia belum sampai ke tahap teori dan praktek bertahan hidup di alam liar.
"Tanaka, apa kamu benar-benar tidak ingin bergabung dengan Bajak Laut Shirohige?" Tanya Ace yang masih mencoba merekrut Tanaka.
Pria itu menghela nafas panjang karena Ace masih belum menyerah untuk merekrut dirinya.
"Astaga, butuh berapa kali aku harus menolaknya agar kamu menyerah? Tanya Tanaka. "Lagian bagaimana bisa kamu mengambil anggota bajak laut adikmu, Luffy?"
Ace tertawa kecil mendengar pertanyaan Tanaka.
"Tentu saja bisa karena kami berdua bajak laut." Jawab Ace. "Bukankah bajak laut itu saling merebut kepunyaan orang lain?"
"Kamu benar, aku melupakan hal itu karena Luffy tidak berperilaku seperti itu meskipun dia bajak laut." Jawab Tanaka. "Walaupun yang direbut nya selalu makanan."
Ace tertawa mendengar itu karena memang seperti itulah Luffy, dalam pikirannya tidak ada hal lain selain makanan dan raja bajak laut.
Mereka berdua terus berbincang-bincang sampai akhirnya Tanaka mengambil bagian tidur pertama dan Ace berjaga yang nantinya akan bergantian dengan Tanaka setiap satu jam setengah.
Saat matahari sudah mulai menunjukkan cahayanya di ufuk timur meskipun belum menampakkan dirinya, Tanaka dan Ace kembali melanjutkan perjalanan mencari Luffy dan lainnya dengan menunggangi Tako.
"Tanaka, aku melihat ada sebuah kota di depan." Ujar Ace. "Mungkin itu kota Yuba yang menjadi tujuan kita."
"Itu bukan kota Yuba." Pikir Tanaka.
Seingatnya, kota Yuba sudah hancur tenggelam oleh pasir seperti kota Erumalu.
Meskipun begitu, Tanaka dan Ace menuju ke kota tersebut. Saat sudah sampai di kota yang bernama Ido, mereka mendapatkan informasi tentang adanya pasukan pemberontak.
Tanaka dan Ace berinisiatif untuk menemui pasukan pemberontak tersebut di tempat kediaman pasukan itu berada.
Saat tiba di kediaman pasukan pemberontak, mereka berdua melihat bangunan yang menjadi tempat tinggalnya pasukan pemberontak sangat sepi.
Tidak terlihat sama sekali sekumpulan orang yang dapat disebut dengan pasukan.
"Kenapa kelihatan sepi?" Tanya Ace.
"Ayo kita masuk, mungkin saja mereka sedang berkumpul di dalam." Jawab Tanaka.
Mereka berdua langsung masuk dengan Tako dan mendengar percakapan yang hanya beberapa orang saja, tidak banyak seperti sebuah pasukan.
Berdasarkan percakapan yang mereka berdua dengarkan, tenyata tidak adanya pasukan pemberontak tapi hanya beberapa orang yang mengaku sebagai pasukan pemberontak. Terlebih mereka ingin kabur dari kota Ido.
"Pengecut seperti kalian berani juga mengaku sebagai pasukan pemberontak, ya? Menurut pendapat seorang kakak sepertiku, yang kalian lakukan itu memalukan sekali." Ucap Ace yang berhasil menyelinap ke dalam bangunan dan makan makanan yang ada diatas meja.
Tanaka yang mengikuti Ace hanya duduk dan tidak berniat untuk memakan makanan sisa para penipu itu.
"Itu benar, kalian benar-benar sampah." Ucap Tanaka.
"Siapa kalian? Bukan urusan kalian! Sejak kapan kalian ada disini?"
"Dasar pencuri makanan!"
"Apa kalian tidak tahu kalau kami ini ... "
Belum sempat orang terakhir berbicara, Tanaka sudah menghajar mereka semua dengan Honjo.
"Tambah." Pinta Ace dengan santainya.
"Baik! Baik! Maaf, ya!" Ucap Camu yang merupakan pemimpin dari kelompok penipu yang berjumlah empat orang termasuk dirinya.
"Enak juga ya makanan disini." Ucap Ace lalu menyodorkan makanan pada Tanaka "Apa kamu tidak mau?"
"Aku tidak lapar, kamu saja yang makan." Ucap Tanaka.
"Apa kamu benar-benar tidak mau?" Tanya Ace. "Kamu belum makan apapun dari tadi pagi." Ucap Ace sambil tetap menyodorkan makanan pada pria itu.
Tanaka pun menghela nafas dan mulai makan makanan yang disodorkan Ace sebagai bentuk menghormati keramahan Ace.
Camu lalu bersujud pada Ace.
"Mohon maaf, aku tau kamu bukanlah orang biasa! Seperti yang kamu lihat, kami tak mungkin melawan bajak laut padang pasir! Tolong bantu kami!" Pinta Camu.
__ADS_1
"Bajak laut padang pasir?" Pikir Tanaka yang merasa aneh dengan sebutan bajak laut tapi bukan di laut melainkan di pasir.
Seharusnya itu bukan bajak laut tapi bajak padang pasir atau lebih lebih tepatnya bandit padang pasir.
"Yah, aku sih tak keberatan, tapi dengan satu syarat." Ujar Ace sambil makan dengan tenang, tidak merasa aneh dengan apa yang dikatakan Camu.
"Ya, apapun kami lakukan!" Tegas Camu.
Ace meminta banyak makanan dan minuman sebagai bayarannya. Camu pun menyetujuinya.
Ace dan Tanaka pun segera keluar dari bangunan tersebut untuk berhadapan dengan bandit padang pasir.
Mereka berdua kembali menaiki Tako dengan membawa stok makanan dan minuman.
Saat sudah berada di luar kota dan melihat sekumpulan orang dan satu unta yang sedang bergerak menuju kota, Ace melihat kalau bandit padang pasir yang dibicarakan oleh Camu adalah Luffy dan lainnya.
"Hei! Hei!" Panggil Ace.
"Ace! Tanaka!" Teriak Luffy.
"Jadi mereka disana, ya?" Tanya Nami.
"Ternyata bajak laut pasirnya itu kalian?" Tanya Ace saat sudah dekat dan turun dari Tako.
Tanaka juga turun dari kadal itu.
"Apa maksudmu? Kami baru saja berpisah dengan bajak laut padang pasir." Jawab Luffy.
"Begitu, ya. Ya sudahlah. Oh iya, Luffy, kamu pasti senang! Kami dapat banyak makanan dan minuman, loh!" Ucap Ace yang menunjukkan stok makanan yang berada di atas gerobak sederhana.
"Oh, benar-benar membantu sekali! Kalau dapat sebanyak ini, kita tak perlu khawatir tentang makanan!" Ucap Sanji yang senang.
Mereka semua pun memuji Tanaka dan Ace karena mendapatkan stok makanan dan minuman.
"Tenggorokanku kering sekali." Ucap Chopper.
"Minumlah, Chopper." Ucap Tanaka.
"Aku juga!" Ucap Luffy.
Chopper dan Luffy langsung meminum sebanyak mungkin air yang ada dalam gentong kayu.
"Ano, Ace? Harusnya kamu tak punya uang sebanyak itu untuk membelinya. Jangan-jangan, kamu mencuri dari desa itu?" Tanya Vivi yang turun dari Matsuge dan merasa cemas.
"Sama sekali tidak! Pasukan pemberontak memberikannya padaku!" Jawab Ace.
"Pasukan pemberontak?!" Ucap Vivi terkejut.
"Lebih tepatnya pasukan pemberontak palsu. Mereka adalah sekelompok berandalan yang mengaku-ngaku sebagai pasukan pemberontak. Yah, meskipun para penduduk desa terlihat senang meski mereka ditipu." Ungkap Tanaka.
"Sepertinya kalau mereka menyebut pasukan pemberontak, bandit manapun akan langsung kabur. Itu hal sepele. Buat ladang uang lalu kekayaan akan datang dengan sendirinya." Jelas Ace.
"Pasukan pemberontak bukanlah berandalan dan tak membanggakan nama mereka." Bantah Vivi.
Sanji pun bertanya apa yang harus mereka lakukan pada para preman yang menyamar menjadi pasukan pemberontak itu?
"Yah, menurutku menipu para penduduk desa tak ada bedanya dengan bandit. Setidaknya, para penduduk desa hidup damai bersama mereka. Apa kita mau merusak kedamaian itu?" Tanya Ace.
Sanji merasa tidak setuju dengan ucapan Ace karena menurutnya para preman itu perlu dihajar karena sudah menipu warga demi mendapatkan keuntungan dengan mengaku sebagai pasukan pemberontak.
"Dia boleh berpendapat apapun. Aku hanya memberikan pendapat saja." Bela Ace.
"Orang-orang kurang ajar seperti mereka tak perlu dibenarkan." Tegas. Sanji.
Vivi pun merasa memaklumi para preman yang mengaku sebagai pasukan pemberontak agar kota tempat mereka berada menjadi aman dari serangan bandit atau hal yang bisa membuat kota itu hancur.
Kerajaan Alabasta yang saat ini belum bisa mengawasi dan memberikan perlindungan pada kota-kota yang ada dalam wilayah kekuasaannya.
"Jadi tak ada salahnya jika ada kota yang meminta perlindungan pada siapapun juga." Ucap Vivi. "Tapi aku ingin menguji mereka dulu."
"Menguji?" Tanya Nami.
"Ya. Jika para penipu itu benar-benar ingin melindungi para penduduk kota, kurasa tak masalah kalau mereka mengaku sebagai pasukan pemberontak." Ungkap Vivi.
"Jadi kamu ingin menguji tekad mereka, ya?" Tanya Tanaka.
"Ya. Karena itulah, maaf kalau merepotkan lagi, aku ingin meminta tolong pada kalian semua." Pinta Vivi.
Mereka semua pun menyetujui permintaan Vivi dan Luffy yang menganggap adanya hal menarik menjadi bersemangat.
"Luffy! Ini bukan permainan ya, kamu mengerti?" Tanya Nami.
"Aku sudah tau! Yang jelas, tugas kita menghajar pasukan pemberontak palsu itu, kan?" Tanya Luffy.
"Ternyata sama sekali nggak ngerti! Siapapun, lakukan sesuatu sama otaknya!" Pinta Sanji.
Tanaka hanya tertawa kecil melihat komedi tersebut.
Luffy, Zoro, Usopp, Sanji dan Chopper yang berubah menjadi bentuk manusia pun melakukan tugas mereka untuk menguji para pemberontak palsu itu sedangkan Tanaka, Nami dan Vivi hanya memperhatikan mereka dari tempat persembunyian kami.
Tanaka tidak ikut ambil bagian menjadi peran seperti lima orang itu karena dia sudah diketahui oleh para penipu itu.
Ace sendiri kembali ke kota Ido dan bersembunyi diantara para penduduk.
"Siapa kalian? Pasukan pemberontak?!" Tanya Luffy yang memulai sandiwaranya.
"Bukan seperti itu! Kami hanya kebetulan lewat desa ini!" Jawab Camu.
"Rasakan, bajak laut! Pasukan pemberontak akan menghajar kalian habis-habisan!" Ucap kepala desa.
"Sudah cukup, kalian diam saja!" Teriak Camu.
"Aduh, lagi-lagi aku bicara tidak sopan! Baiklah, tuan Camu!" Ucap kepala desa.
"Sepertinya dia memang pecundang. Sama sekali tak bisa diandalkan." Ucap Nami.
"Jangan cepat menyimpulkan, lihat sampai akhir." Saran Tanaka.
Kedua perempuan itu menganggukkan kepalanya dan sambil tetap melihat Luffy dengan yang lainnya sedang bersandiwara di depan Camu dan tiga anggotanya.
Luffy secara tiba-tiba menghajar Camu sampai babak belur yang membuat kru yang bersandiwara dengannya terkejut.
"Bodoh! Kenapa dia menghajarnya sampai seperti itu?" Tanya Nami kesal.
Tanaka hanya menghela nafas panjang karena tindakan Luffy yang sudah diluar rencana.
Camu bangkit dan langsung mengarahkan pukulan yang kuat ke wajah Luffy yang langsung tersungkur ke tanah pasir
Camu mengatakan dengan keras kalau dia akan tetap bertarung untuk melindungi kota Ido walaupun nyawanya dipertaruhkan.
Luffy memposisikan dirinya duduk di atas pasir dan tersenyum, lalu secara tiba-tiba dia bangkit dan tertawa yang membuat Camu dan tiga anggotanya merasa bingung.
Nami memberikan tanda untuk mengakhiri sandiwara tersebut pada Usopp dengan menggunakan cahaya pantulan dari cermin.
"Kurang ajar! Pasukan pemberontak memang hebat!" Ucap Sanji yang berlari menjauh dari kota Ido sambil menarik Luffy.
"Baru kali ini aku bertemu orang sekuat mereka!" Ucap Usopp yang juga lari seperti Sanji.
"Aku tak mau berpura-pura seperti ini!" Ucap Zoro yang juga lari dengan wajahnya bersemu merah karena menahan rasa malu.
"Tu-Tunggu aku!" Ucap Chopper.
Tanaka, Nami dan Vivi yang menaiki Matsuge pun ikut berlari menuju ke arah yang sama dengan Luffy dan lainnya, menjauh dari kota itu.
"Yo, Luffy!" Ucap Ace yang tiba-tiba muncul sambil berlari di samping Luffy.
"Oh, Ace!" Ucap Luffy.
"Sampai kapan kita lari terus?! Aktingnya sudah selesai, kan?" Tanya Ace.
"Saat mereka mempertaruhkan nyawa memang menakutkan!" Ucap Zoro.
"Begitu, ya." Ucap Ace.
"Wajah Zoro yang memerah juga sangat menakutkan" Ucap Tanaka sambil tersenyum mengejek.
"Diam! Mau aku bunuh kamu!" Ucap Zoro yang kesal.
Tanaka pun tertawa kecil dan mereka terus berlari menuju ke tujuan mereka yakni kota Yuba tempat markasnya para pemberontak.
__ADS_1