
Tanaka, Sanji dan Luffy terus berlari menuruni gunung tersebut untuk menghindari longsor salju.
"Kita harus gimana dong, Sanji?!" Tanya Luffy.
"Mana kutahu! Yang jelas, utamakan keselamatan kita, ngerti nggak?!" Teriak Sanji.
"Aku mengerti! Tapi, bagaimana?!" Tanya Luffy.
"Kesana, tebing itu!" Ucap Sanji yang menunjuk ke sebuah tebing.
"Tebing?!" Tanya Luffy.
"Larilah! Sebisa mungkin naik ke tempat yang tinggi!" Ucap Sanji.
Mereka bertiga berhasil naik ke tebing itu tapi ternyata tebing itu masih kurang tinggi sehingga mereka berakhir terkena longsor salju tersebut.
Luffy yang terlempar langsung memiliki ide dengan menaiki sebuah batang pohon sebagai kereta salju.
"Tanaka, Sanji pegang tanganku!" Teriak Luffy yang kedua tangannya langsung dipegang oleh Tanaka dan Sanji yang terjebak longsor salju.
Setelah Tanaka dan Sanji berada di belakang Luffy, batang pohon itu terus meluncur ke bawah, mengikuti longsoran salju.
"Meski kita tak tenggelam dalam salju, jika kita tak melakukan sesuatu, kita akan menuruni gunungnya!" Ucap Luffy.
"Apa?! Jangan bercanda! Padahal kita sudah susah payah berhasil mendekati gunung cerobong asap itu! Kita makin menjauh dari tempat dokter itu! Luffy, lakukanlah sesuatu untuk menghentikan ini! Sial, ini semua salah kelinci-kelinci itu! Kalau ketemu lagi akan kumasak mereka!" Ucap Sanji.
Tanaka melihat lapin-lapin itu menggunakan pohon untuk meluncur dan kembali menyerang kami.
"Ck, merepotkan!" Pikir Tanaka.
Dia menggunakan kekuatan forcenya untuk menjatuhkan para lapin itu dari batang pohon yang mereka naiki sehingga mereka langsung terjebak longsor salju.
Tanaka terus melakukan hal itu sampai dia melihat ada tebing tinggi di depan mereka.
"Lompat ke bawah tebing itu, Luffy, Sanji!" Teriak Tanaka.
Luffy melakukan apa yang dikatakan oleh Tanaka begitu juga dengan Sanji.
Akan tetapi saat Tanaka yang melompat terakhir, batang kayu menabrak sebuah batu sehingga membuatnya hancur dan Tanaka kehilangan pijakan untuk melompat sehingga dia jatuh ke dalam arus longsor.
"Tanaka!" Panggil Luffy dan Sanji.
Luffy mencoba meraih tangan Tanaka dengan memanjangkan tangannya itu tapi hanya sarung tangan Tanaka saja yang berhasil diambil Luffy.
"Bodoh! Kenapa kamu malah mengambil sarung tangannya?!" Teriak Sanji.
Setelah beberapa saat longsor itu berakhir dan Tanaka tertimbun salju setebal 3-4 meter.
"Master! Master! Sadarlah master!" Panggil Honjo.
Tanaka berusaha membuka matanya tapi tidak bisa karena adanya timbunan salju.
"Master!" Panggil Honjo.
"Hei, jangan mati disini!" Ujar Sengo yang juga merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja." Pikir Tanaka.
Honjo merasa lega setelah mendapatkan respon dari Tanaka. Sengo juga sama, tapi dia tidak menunjukkan secara terang-terangan.
"Hmpp! Baguslah, dengan itu aku tidak akan terkubur selamanya di timbunan salju ini" ujar Sengo.
Tanaka segera menggunakan kekuatan forcenya untuk keluar dari timbunan salju tersebut. Dia membuat Honjo dan Sengo meluncur keluar dari timbunan salju tersebut karena tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Luffy, disana, aku melihat ada sarung pedang yang keluar dari timbunan salju." Ujar Sanji yang segera berlari ke tempat Sengo dan Honjo muncul.
Luffy juga mengarah ke tempat yang sama dan mereka berdua langsung menggali timbunan salju itu dengan kedua tangan mereka.
"Fuahhhh!"
Tanaka akhirnya bisa bernafas setelah timbunan salju di wajahnya disingkirkan.
"Baguslah, kamu berhasil bertahan Tanaka." Ujar Luffy yang menarik tangan Tanaka untuk keluar dari timbunan salju tersebut.
"Terima kasih, kalian sudah menyelamatkan aku." Ujar Tanaka setelah menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Tidak masalah, kamu adalah kru bajak lautku dan sebagai kapten harus menyelamatkan anggotanya agar tetap hidup." Ujar Luffy.
"Ya, Ayo kita kembali mendaki, Nami pasti sudah sembuh dan menunggu kita." Ujar Sanji.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan mereka kembali mendaki. Setelah beberapa saat mendaki, mereka melihat seekor anak Lapin yang sedang menggali salju dan menarik tangan induknya yang tertimbun salju.
Luffy berjalan mendekati Lapin kecil itu yang menyadari kedatangan Luffy dan menggeram pada Luffy yang hanya ia acuhkan.
Manusia karet itu dengan satu tangan saja menarik keluar induk Lapin itu dari salju dan kembali berjalan, begitu juga dengan Tanaka dan Sanji yang mengikutinya dari belakang.
Saat hampir dekat dengan bukit yang berbentuk drum suara keras memberhentikan mereka.
"Tunggu, bocah!" Ucap sebuah suara dibelakang mereka bertiga.
Tanaka, Luffy dan Sanji pun berbalik dan melihat Wapol beserta dua anak buahnya.
Mereka lalu berhenti di depan agak sedikit jauh dari tempat Luffy dan kedua anggota itu.
"Sudah berapa banyak perbuatan tak sopanmu padaku?! Aku akan menghabisi kalian!" Ucap Wapol.
"Pergilah!." Pinta Luffy.
"Kamu itu bodoh, ya? Siapa juga yang mau pergi!" Ucap Wapol. "Aku harus menghukum kamu dan anggotamu atas perlakuan kalian padaku."
Luffy langsung berbalik lagi mengabaikan Wapol. Dia kembali meneruskan perjalanan begitu juga dengan Tanaka dan Sanji.
"Tunggu!" Panggil Chess.
"Oh, begitu, ya! Chess, aku mau menerapkan peraturan baru. Catatlah!" Ucap Wapol.
"Baik!" Tegas Chess.
"Siapapun yang mengabaikan raja akan dieksekusi!" Tegas Wapol.
Mereka bertiga tetap berjalan tanpa peduli pada Wapol.
"Belum-belum sudah diabaikan?! Kalian berdua! Eksekusi mereka bertiga!" Perintah Wapol.
"Luffy, Sanji pergilah dulu! Aku akan menahan mereka!" Ucap Tanaka sambil bersiap di posisi bertarung.
"Tidak, kita lari saja, Nami menunggu kita." Ujar Luffy.
Tanaka menghela nafas dan mereka bertiga mulai berlari menuju ke bukit yang paling tinggi.
"Kejar mereka!" Perintah Wapol.
Dua bawahannya segera mengejar dan memberikan serangan pada Luffy dan kedua anggotanya itu.
Saat Luffy akan diserang dengan panah milik Chess, Tanaka memotong panah itu dengan Sengo lalu kembali berlari. Ini adalah pertama kalinya Tanaka menggunakan Sengo sebagai senjatanya.
"Hei, jangan gunakan aku seenaknya!" Protes Sengo.
"Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk menggunakan kamu sebebas mungkin." Pikir Tanaka.
"Uhhhh! Ya, tapi bilang-bilang dulu kalau mau gunakan aku!" Ujar Sengo marah.
"Baiklah, tapi kamu tajam juga ya, panah tadi terpotong dengan mudahnya seperti aku sedang memotong selembar kertas." Pikir Tanaka.
"Hmmp! Jangan remehkan aku! Tidak ada satupun yang tidak bisa aku potong, baja, angin, air, batu dan apapun itu bisa aku potong." Ujar Sengo dengan bangganya.
Tanaka hanya diam, mengabaikan Sengo karena dia hanya fokus berlari sambil menghindari serangan dari dua bawahan Wapol itu.
Setelah berlari terus dengan mengabaikan para pengganggu itu, secara tiba-tiba suasana menjadi tenang.
"Tak ada siapapun, ada apa? Apa mereka sudah menyerah?" Tanya Sanji saat menoleh ke belakang tidak ada lagi yang mengejar.
"Baguslah kalau mereka sudah menyerah." Ujar Luffy yang masuk ke dalam perangkap Wapol.
Saat Luffy akan masuk ke mulut Wapol, Tanaka segera menarik Luffy dengan kekuatan forcenya. Kemudian kedua anak buah Wapol menyerang mereka lagi dari belakang.
Secara tiba-tiba saja muncul dua ekor Lapin yang menolong kami dengan memukul dua bawahan Wapol itu.
"Apa mereka melindunginya?" Ucap seorang berambut afro dengan memakai sarung tinju bernama Kuromarimo.
"Pasti hanya kebetulan. Lapin itu monster liar yang tak pernah memihak manusia." Ucap Chess.
__ADS_1
Mereka bertiga melihat lapin kecil yang sedang berada di belakang leher induknya sambil melambaikan tangannya.
"Bukankah itu kelinci kecil tadi? Yang kamu tolong induknya, Luffy." Tanya Sanji.
"Mereka balas budi karena kamu sudah menolongnya, Luffy." Ujar Tanaka.
"Terima kasih! Aku terselamatkan!" Ucap Luffy tersenyum lalu kembali berjalan.
Tanaka tersenyum pada Lapin itu lalu kembali berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Luffy. Begitu juga dengan Sanji.
"Disini, ya?" Ucap Luffy saat kami sudah berada tepat dibawah gunung Drum Rockie.
"Puncaknya nggak kelihatan!" Ujar Sanji Tunggulah Nami!"
Mereka bertiga segera memanjat tebing gunung tersebut dengan berhati-hati, tanpa menggunakan sarung tangan karena akan mengurangi daya cengkeraman pada tangan mereka.
Bila saja Tanaka tidak memiliki tubuh abadi, dia tidak akan mau memanjat tebing gunung tersebut. Meskipun memakai alat pengaman juga dia tidak mau.
Mereka bertiga terus memanjat hingga tangan Luffy terluka membuat dia menjerit, begitu juga dengan Sanji.
Sedangkan Tanaka baik-baik saja, meskipun dia juga terluka tapi lukanya itu langsung sembuh dengan cepat. Efek dari pemegang gelar penjelajah alam semesta.
Mereka bertiga sudah sampai di tengah-tengah tebing. Tanaka melihat tangan Luffy dan Sanji berdarah dan wajahnya yang sudah membiru.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Tanaka.
"Aku baik-baik aja, tidak perlu khawatir." Ujar Luffy.
"Demi Nami, luka seperti ini tidak masalah!" Ujar Sanji yang terus memanjat.
Luffy secara tidak sengaja meletakkan kakinya di tempat yang salah sehingga dia tergelincir membuat Tanaka dan Sanji menatap kebawah dengan panik.
"Luffy!" Teriak Tanaka dan Sanji.
Luffy berhasil menahan tubuhnya lalu kembali memanjat. Sedangkan Tanaka dan Sanji menunggu Luffy hingga sejajar dengan mereka berdua lalu kembali memanjat lagi.
Kami terus memanjat hingga akhirnya aku melihat puncaknya.
"Luffy, Sanji, itu puncaknya!" Ucap Tanaka sambil tersenyum lalu memanjat lebih cepat.
Saat dia sudah diatas, Tanaka menggunakan kekuatan forcenya untuk membuat kedua orang itu melayang dan mendarat di puncak gunung tertinggi tersebut.
"Kita sampai..." Ucap Luffy lalu jatuh tak sadarkan diri.
Begitu juga dengan Sanji yang saat mendarat sudah tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Ukhhh, kepalaku pusing!" Gumam Tanaka yang ternyata juga kelelahan tanpa dia sadari.
Pria itu pun ambruk tapi posisi ambruknya di posisi yang salah karena dekat dengan tepi gunung tertinggi tersebut yang membuatnya akan jatuh.
Pada saat akan jatuh, sebuah tangan besar dan berbulu coklat menangkap tangan Tanaka sehingga tidak jadi jatuh dari ketinggian yang bisa membuat manusia normal langsung mati atau manusia kuat mengalami cidera yang cukup parah.
"Uhhhj~ kepalaku ... " Ujar Tanaka yang kembali sadar dari pingsannya.
Saat matanya benar-benar dapat melihat sempurna, dia melihat langit-langit tanpa asbes sehingga Tanaka dapat melihat bawah atap bangunan tersebut.
Dokter Kureha dan Chopper yang sedang berbicara terkejut melihat Tanaka yang sudah bangun. Dokter Kureha lalu memeriksa tubuh pria itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Kamu hanya pingsan selama 10 menit dan pulih seperti sedia kala. Padahal kamu radang dingin dan dehidrasi yang cukup parah, setidaknya butuh waktu cukup lama untuk memulihkan diri." Ucap Dokter Kureha.
"Ah, itu pasti efek samping dari seorang penjelajah alam semesta." Pikir Tanaka.
Dia mengambil posisi duduk lalu menatap Nami yang masih memejamkan matanya di ranjang di sebelahnya.
"Bagaimana dengan temanku, Nami?" Tanya Tanaka.
"Dia sedang dirawat oleh Chopper. Tapi kamu ini sebenarnya apa? Bagaimana bisa pulih secepat itu? Bahkan kedua temanmu lainnya belum sadar." Tanya Dokter Kureha.
"Tubuhku memang sedikit istimewa, jadi bagaimana apa Nami masih dalam kondisi kritis?" Tanya Tanaka sambil tersenyum.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, sekarang dalam proses penyembuhan." Ujar dokter Kureha.
Tanaka bernafas lega dan kemudian melihat Chopper yang sedang merawat Nami.
"Chopper, itu namamu kan?" Tanya Tanaka yang membuat Chopper terkejut lalu bersembunyi dibalik tembok tapi ia salah menempatkan tubuhnya sehingga Tanaka masih bisa melihatnya.
"Bukankah itu terbalik?" Ujar Tanaka yang tertawa pelan.
"Kamu yang membawa aku dan kedua teman aku kesini saat pingsan kan?" Tanya Tanaka. "Terima kasih sudah menyelamatkan kami."
Tanaka kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Aku Tanaka, Tanaka Syahputra, salam kenal dan mohon bantuannya, ya, Chopper."
Chopper terlihat takut-takut untuk mendekat tapi ia tetap mendekati Tanaka. Saat tangannya menyentuh tangan pria itu, ia terlihat akan mundur kembali tapi aku mencegahnya dengan memegang tangannya dan tersenyum.
Chopper terpaku menatap Tanaka sesaat sampai pria itu melepaskan tangannya dan menatap Dokter Kureha.
"Dokter Kureha terima kasih sudah mau merawat kami." Ucap Tanaka sambil tersenyum.
Dokter Kureha hanya menatap pria itu sekilas lalu memasuki ruangan lain yang sepertinya tempat ia merawat Luffy dan Sanji.
Tanaka yang bosan memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri kastil yang dulunya menjadi kediaman Wapol beserta bawahannya.
"Ternyata cukup luas juga kastil ini." Gumam Tanaka.
Dia memasuki beberapa tempat yang memang tidak dikunci seperti ruang perpustakaan, ruang makan, dapur, dan bahkan ruang yang memiliki sebuah meriam besar dan tepat di moncong meriam itu ada sangkar burung dengan anak-anak burung yang berkicau-kicau.
Setelah puas menyusuri kastil tersebut, Tanaka kembali ke ruangan tempat Nami berada.
Akan tetapi dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali karena dia lupa jalan ke arah ruangan tersebut sehingga dia menjadi tersesat.
"Tidak mungkin aku menjadi seperti Zoro." Gumam Tanaka.
Dia terus berjalan menyusuri kastil sampai akhirnya menemukan ruangan tempat Nami sedang dirawat.
Nami sudah sadar dan sedang berbicara dengan dokter Kureha. Tanaka ingin bergabung tapi dia mendengar keributan di belakangnya sehingga dia berbalik dan melihat Sanji, Luffy dan Chopper.
"Ah, tolong!" Teriak Chopper sambil berlari agar tidak dijadikan makanan oleh Luffy dan Sanji.
Luffy berhenti berlari saat melihat Nami sudah sadar. Nami kemudian mengambil posisi duduk.
"Nami." Ucap Luffy yang berjalan mendekati Nami.
"Nami!" Ucap Sanji yang juga ikut mendekati Nami.
"Kamu sudah sembuh, ya?" Ucap Luffy.
"Berkat kalian." Ucap Nami.
"Baiklah, akan kumasakkan daging rusa untuk Nami!" Ucap Sanji.
Luffy dan Sanji lalu mengejar Chopper lagi.
"Mengejutkan sekali. Mereka sudah bisa bergerak, ya?" Ucap Dokter Kureha.
"Mereka memiliki tubuh monster jadi jangan samakan tubuh mereka dengan manusia normal." Ujar Tanaka sambil berjalan mendekati Nami.
Tanaka menanyakan keadaan Nami yang dijawab kalau dirinya sudah semakin membaik dari sebelumnya.
Pria itu menganggukkan kepalanya dan menghela nafas lega. Kemudian dia menatap dokter Kureha.
"Makhluk apa itu? Rusa hidung biru yang bisa bicara itu." Tanya Tanaka yang pura-pura tidak tahu tentang Chopper.
"Apa yang membuatnya berbeda dari rusa lainnya?" Balik tanya Dokter Kureha.
"Yang membuatnya berbeda dari rusa lainnya? Dia bisa bicara seperti manusia dan berdiri seperti manusia?" Jawab Nami yang bingung.
"Apa dia makan buah iblis?" Jawab Tanaka.
"Itu benar, dia memakan buah iblis Hito Hito. Dia adalah rusa yang memiliki kemampuan menjadi manusia. Dan dia mempelajari semua ilmu pengobatanku." Jelas Dokter Kureha.
Setelah Luffy dan Sanji kehilangan Chopper, mereka kembali ke tempat ruang perawatan berada. Dokter Kureha lalu menyajikan makanan untuk mereka semua santap.
Chopper tidak ikut makan bersama karena dia masih merasa takut dengan Luffy dan Sanji yang terus-menerus mengejar untuk dijadikan makanan.
Setelah kami selesai makan Luffy terus membujuk dokter Kureha untuk menjadi krunya agar di kapal memiliki dokter.
"Jadilah kru bajak lautku! Kumohon, nenek! Kami butuh dokter di kapal kami!" Ucap Luffy yang memohon.
"Luffy! Itu kan namamu?" Tanya Dokter Kureha.
"Ya." Ucap Luffy singkat.
__ADS_1
"Apa tadi kau memanggilku nenek'?" Ucap Dokter Kureha.
"Ya, aku panggil begitu karena kamu sudah seperti nenek." Ucap Luffy yang lalu ditendang oleh Dokter Kureha.
Luffy terlempar dan menabrak dinding yang membuat dinding itu retak.
"Hati-hati kalau bicara! Umurku itu masih 130 an!" Tegas Dokter Kureha.
"Wuah, nenek yang luar biasa." Ucap Sanji yang terlalu berani untuk mengatakan hal tabu tersebut di depan Kureha meskipun sudah diperingati.
Alhasil Sanji juga ditendang oleh Dokter Kureha dan mengenai Luffy sehingga dia kembali menabrak dinding.
"Kamu memintaku menjadi bajak laut? Jangan bercanda! Buang-buang waktu saja. Aku tak tertarik dengan lautan." Tolak Dokter Kureha.
"Nggak tertarik, nggak masalah. Yang penting ayo berpetualang, Nenek!" Ucap Luffy yang tidak mendengar peringatan dokter Kureha.
"Hei, hei, bukankah tadi sudah kubilang, hati-hati kalau bicara?" Ujar Dokter Kureha kesal.
Luffy dan Sanji yang melihat Chopper dibalik tembok yang salah menempatkan tubuhnya.
"Itu daging rusaku!" Teriak Luffy.
Mereka lalu mengejar Chopper lagi, dan kali ini, Dokter Kureha juga ikut untuk menghentikan mereka berdua.
Aksi kejar-kejaran itu membuat pintu menjadi terbuka dan hawa dingin mulai masuk kedalam ruangan.
Nami yang melihat hal itu akan bangkit dari kasurnya tapi dihentikan oleh Chopper.
"Istirahatlah. Kau masih demam." Ucap Chopper.
Tanaka menutup pintu agar angin dingin tidak lagi masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sudah nggak kok, sudah turun drastis." Ucap Nami.
"Tapi, jangan banyak bergerak! Karena obat dari dokterine bekerja dengan baik, demamnya turun drastis." Ujar Chopper yang melihat sekelilingnya, bersikap waspada karena Sanji dan Luffy yang terus-menerus ingin menangkapnya untuk menjadi stok makanan.
"Bakteri Kestia masih ada di tubuhmu. Konsumsilah antibiotik dan teruslah beristirahat, mengerti?" Lanjutnya sambil melihat membuka pintu ruangan itu yang tadinya ditutup oleh Tanaka hanya untuk melihat keberadaan Luffy dan Sanji.
Chopper menutup kembali pintu yang terbuka terbuka tersebut saat merasa sudah aman.
"Terima kasih, kamu yang merawat ku, kan?" Tanya Nami.
"Diam kamu manusia! Aku tak butuh terima kasih dari manusia!" Ucap Chopper yang menari-nari karena senang.
"Ucapan dan tindakan saling berlawanan, tapi itu membuat dia imut sekali.' Pikir Tanaka sambil tersenyum.
Chopper lalu dengan takut-takut akan menyentuh tangan Nami.
"Apa kalian bajak laut?" Ucap Chopper.
"Ya." Ucap Tanaka.
"Be-Beneran?" Tanya Chopper yang sedikit kaget.
"Beneran." Tegas Nami.
"Apa kalian punya lambang tengkorak?" Ucap Chopper.
"Tentu saja kami punya." Ujar Tanaka yang kemudian mendapatkan ide. "Apa kamu ingin menjadi bajak laut? Kalau begitu bergabunglah, kami masih belum memiliki dokter kapal." Ungkap Tanaka sambil tersenyum.
Chopper terlihat terkejut dengan ucapan Tanaka tersebut.
"Ja-Jangan bodoh! Aku ini rusa! Mana mungkin aku satu kapal dengan manusia!" Ucap Chopper yang terkejut sampai dia berjalan mundur dan menabrak rak buku.
"Kami tidak mempermasalahkan itu, benarkan Nami?" Tanya Nami untuk mendukungnya.
Nami menganggukkan kepalanya.
"Apa kalian tak takut padaku? Aku ini rusa, tapi bisa berdiri dengan dua kaki, berbicara dan ... " Ucap Chopper
"Apa perlu kami takut agar kamu bisa bergabung dengan kami?" Tanya Tanaka yang memiringkan sedikit kepala karena bingung.
"Dan hidungku biru." Lanjut Chopper yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Tanaka langsung berbicara.
"Justru itu menjadi ciri khas darimu kan?" Ucapku lalu berdiri dan berjalan mendekati Chopper. "Kami juga memiliki ciri khas, seperti Luffy, kapten kami yang bodoh dan bertindak seenaknya ... "
Tanaka menjelaskan pada Chopper tentang anggota bajak laut topi jerami yang memiliki ciri khasnya masing-masing.
Saat Tanaka menjelaskan tentang ciri khas Nami dan memberikan peringatan untuk tidak berbisnis dengannya karena semuanya akan disedot sampai menjadi kering.
Tanaka langsung dilempar bantal oleh Nami karena menjelekkan dirinya pada Chopper.
"Jadi tidak masalah kalau kamu itu rusa yang berbicara, berperilaku seperti manusia dan berhidung biru, karena itu adalah ciri khas yang kamu miliki dan tidak dimiliki oleh makhluk lainnya." Jelas Tanaka.
Saat Chopper akan berbicara tiba-tiba saja, Luffy dan Sanji muncul dan mengejar Chopper lagi.
Akan tetapi Kali ini Tanaka ikut berlari untuk menghentikan tindakan aneh Luffy dan Sanji yang terus-menerus menakuti Chopper.
Tanaka berhasil menangkap Luffy dan Sanji lalu memberikan pukulan kepala pada mereka dan meminta mereka mengejar Chopper yang sudah menghilang.
"Hei, Luffy. Lihatlah gerbang itu! Pintunya terbuka lebar!" Ucap Sanji.
"Pantas dingin banget." Ucap Luffy.
"Kalau begitu, kita tutup pintunya. Kalau dibuka begini, tak ada bedanya diluar dan didalam." Ucap Sanji.
"Hei, hentikan! Jangan sentuh gerbang itu!" Ucap Chopper.
"Abaikan saja dia bilang apa, kalau tidak ditutup kita bisa mati." Ucap Sanji.
"Bener banget." Ucap Luffy.
Merasa diabaikan, Chopper langsung mengubah tubuhnya menjadi lebih besar, seperti seorang tubuh binaraga.
"Luffy, hentikan, jangan tutup pintu itu!" Tegas Tanaka.
Luffy dan Sanji bingung karena Tanaka juga mengatakan hal yang sama seperti Chopper.
"Lihatlah di atas pintu itu." Tunjuk Tanaka.
Luffy dan Sanji melihat keatas pintu gerbang itu dan ada sarang burung disana.
"Bayi burung salju. Yah, jika kita menutupnya, mereka bisa jatuh." Ucap Sanji.
"Jadi karena itu tak boleh ditutup, ya." Ucap Luffy.
Kami lalu kembali masuk kedalam karena udara yang dingin.
"Tunggu sebentar." Ucap Luffy yang tiba-tiba saja berhenti.
"Ada apa?" Ucap Sanji.
"Ba-Barusan dia berbicara, kan?" Tanya Luffy.
"Astaga naga, baru sadar sekarang?" Pikir Tanaka. "Kamu benar-benar bodoh, Luffy!"
"Yah, tadi memang dia berbicara dan berdiri dengan dua kaki." Ucap Sanji.
"Dia monster!" Ucap mereka berdua.
Tanaka segera memukul kepala mereka berdua lagi karena mengatakan hal itu pada Chopper.
"Jangan panggil dia monster!" Tegas Tanaka.
"Tapi dia memang monster, bisa berbicara, berdiri, dan mengubah bentuk tubuh, apalagi kalau bukan monster?" Tanya Sanji yang marah karena Tanaka memukul kepalanya.
Chopper yang mendengar itu hanya berjalan pergi menjauh dengan ekspresi wajah lesu. Bagaimanapun dia juga merasa dirinya monster karena dirinya rusa tapi bisa berbicara dan berdiri seperti manusia.
"Aku bilang jangan panggil dia monster!" Ujar Tanaka sambil memukul kepala Sanji lagi dan itu membuat Sanji marah sehingga dia mencengkram kerah pakaian Tanaka.
"Kamu ngajak bertarung sama aku!" Teriak Sanji.
"Dia juga punya perasaan, bagaimana rasanya kalau aku menyebut kamu monster? Apa kamu tidak marah atau berkecil hati?" Tanya Tanaka.
Sanji terdiam mendengar itu, sedangkan Luffy sudah berbinar-binar matanya sambil melihat Chopper.
"Dia keren sekali! Menarik! Tanaka, Sanji, aku akan mengajaknya untuk bergabung dengan kita!" Ucap Luffy yang kemudian kembali mengejar Chopper. "Tunggu monster! Jadilah kru bajak lautku!"
__ADS_1
Chopper langsung kembali melarikan diri sambil berteriak. Sanji juga ikut mengejar Chopper sedangkan Tanaka hanya menghela nafas panjang dan memutuskan untuk kembali ke tempat Nami berada.