Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
33


__ADS_3

Kapal Going Merry berlayar kembali melalui sebuah kanal yang akan membawa mereka keluar dari dalam perut Laboon dengan dipandu oleh Crocus.



"Kanal yang hebat. Tak kusangka dia masih bisa hidup, dengan adanya hal seperti ini ditubuhnya." Ucap Zoro yang sedikit kagum dengan apa yang dia lihat tersebut.



"Apa ini juga berkat dirimu, yang mengisi waktu luang?" Tanya Sanji.



"Hanya dokter yang mengisi waktu luang." Jawab Crocus singkat.



"Dokter?" Ucap Usopp.



"Begini-begini, aku ini seorang dokter. Aku juga sudah lama membuka klinik di tanjung menara kembar. Klinikku berjalan selama beberapa tahun, tapi aku juga dokter sebuah kapal." Ungkap Crocus.



"Benarkah? Kalau begitu jadilah dokter kapal kami!" Pinta Luffy dengan semangat.



Tanaka berpikir kalau ide Luffy tersebut, tidak buruk karena Crocus merupakan dokter kapal raja bajak laut, Gol D Roger.



"Tapi ... " Gumam Tanaka yang melihat Crocus dari bawah ke atas.



"Jangan bodoh! Aku sudah tak punya banyak energi untuk melakukan sesuatu yang bodoh seperti yang kalian lakukan!" Ucap Crocus.



Tanaka menganggukkan kepalanya.



"Dia memang sudah sangat tua untuk kembali menjadi bajak laut, apalagi dengan petualangan yang akan dilakukan Luffy, bisa-bisa dia mati lebih dulu sebelum sampai di pulau Rafael , tempat one piece berada." Pikir Tanaka



"Dokter, ya? Jadi karena itulah dia bisa hidup didalam tubuh paus seperti ini." Ucap Sanji.



"Jadi ini bagian dari perawatan juga?" Tanya Nami.



"Benar sekali. Karena paus ini besar, mustahil merawatnya dari luar." Ucap Crocus. "Aku akan membuka pintunya."



Crocus segera membukakan pintu untuk kapal Going Mery bisa kembali berlayar di lautan Grand Line.



"Yeaah! Akhirnya aku bisa menghirup udara, melihat langit dan mencium aroma lautan." Ujar Luffy yang berdiri di atas kepala domba.



Kapal Going Merry berlabuh di Tanjung Menara Kembar tempat Crocus membuka kliniknya.



"Tapi, 50 tahun, ya? Bajak laut itu membuatnya menunggu terlalu lama." Ucap Usopp.



"Bodoh, ini adalah Grand Line. Mereka pasti sudah mati. Mau berapa lama pun ditunggu, mereka takkan kembali." Ucap Sanji.



Tanaka menganggukkan kepalanya, meskipun sebenarnya ada satu yang sudah mati tapi tidak bisa mati dan tubuhnya hanya tinggal tengkorak saja.



"Memang benar, kalau sudah 50 tahun. Lautan ini adalah lautan yang belum terpetakan dan lebih berbahaya dan lebih mengancam daripada lautan East Blue." Jelas Nami.



"Kenapa kalian berkata seperti tak ada harapan begitu? Itu semua masih belum pasti, bukan? Mungkin saja mereka akan kembali!" Ucap Usopp.



Tanaka menganggukkan kepalanya lagi.



"Sayangnya, kenyataan itu pahit. Aku sudah memastikannya dari informasi yang bisa dipercaya. Mereka melarikan diri dari Grand Line." Ucap Crocus.



Tanaka menggelengkan kepalanya karena kabar itu tidak benar.



"Tidak mungkin, jangan-jangan mereka meninggalkan paus ini?!" Ucap Usopp.



Sekali lagi Tanaka menggelengkan kepalanya karena mereka belum sempat melakukan hal itu karena sudah mati dan hanya meninggalkan satu orang yang tidak bisa mati meskipun tubuhnya sudah menjadi kerangka tengkorak.



"Melarikan diri dari Grand Line? Itu artinya mereka pergi melalui Calm Belt dengan selamat?" Tanya Nami.



"Meski mereka masih hidup, mereka mungkin takkan pernah kembali kesini. Musim, cuaca, arus laut, dan arah angin. Semuanya terjadi secara acak." Jelas Crocus.



"Insting saja takkan ada gunanya di Grand Line. Kengerian Grand Line mampu \*\*\*\*\*\*\* mereka yang memiliki hati lemah." Tegas Crocus.



"Jadi karena hati mereka yang lemah, mereka melarikan diri dari lautan ini dan tak menepati janji mereka agar mereka tak malu." Ucap Sanji.



"Mereka meninggalkan paus ini?! Padahal dia sudah menunggu selama 50 tahun?! Itu kejam sekali!" Ucap Usopp.



Tanaka mengepalkan tangannya erat-erat hingga jari-jarinya memutih.



"Tenanglah...aku harus tenang. Mereka tidak tau fakta sebenarnya, aku tidak boleh mengatakan sesuatu yang bisa membuat mereka curiga padaku.' Pikir Tanaka lalu menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk menenangkan diri.



"Master, lebih baik biarkan mereka tahu dengan sendirinya." Saran Hanjo.



"Kamu benar, mereka akan tahu juga kebenarannya pada saatnya." Gumam Tanaka.



"Kenapa kamu bicara bisik-bisik? Apa yang kamu bicarakan? Dan tingkahmu aneh sejak kita keluar dari Laboon." Tanya Nami.



"Eh, tidak ada, langitnya cukup cerah ya, padahal di seberang dinding Red Line ini terjadi badai." Ujar Tanaka yang mengalihkan pembicaraan.



Nami menatap Tanaka dengan rasa penasaran, tapi itu hanyalah sebentar saja karena dia kembali bertanya pada Crocus.



"Kalau memang begitu, kenapa kamu tak memberitahunya? Paus ini bisa mengerti bahasa manusia, kan?" Tanya Nami.



"Aku sudah mengatakan semuanya." Tegas Crocus. "Sejak saat itulah, Laboon terus meraung di Reverse Mountain. Dan dia menabrakkan tubuhnya ke dinding Red Line. Dia melakukan itu karena merasa teman-temannya sudah kembali dari sisi lain dinding itu."



"Paus itu sesuatu banget." Ucap Sanji.



"Padahal tak ada gunanya menunggu." Ucap Usopp.



"Apa yang tidak berguna? Laboon mempercayai mereka akan kembali karena sudah berjanji, jadi mau selama apapun itu dan apapun kondisinya dia telah sangat hebat untuk berusaha memegang janjinya itu!" Bantah Tanaka yang membuat Usopp terdiam.



"Apa yang kamu katakan mungkin benar, jika dia menerima apa yang kukatakan, maka penantiannya selama ini tak ada artinya." Ujar Crocus sambil melihat Laboon yang kembali memposisikan dirinya dalam posisi vertikal di depan kanal reverse mountain sambil meraung.



"Dialah yang paling takut menerima kenyataan itu. Dia berasal dari West Blue, dia tak mungkin bisa pulang kesana. Karena itulah bajak laut itu datang kesini membawa teman serta harapannya." Ungkap Crocus.



Tanaka tetap memasang wajah datar, tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang menatap kasihan pada Laboon.



"Tapi, dia memang paus yang malang, tapi dilihat darimana pun, kamu sendiri juga dikhianati, bukan? Bukankah sebaiknya kamu biarkan saja paus itu?" Ucap Sanji.



"Lihatlah luka di kepalanya itu! Jika dia terus menabrakkan kepalanya seperti itu, dia pasti akan mati." Ujar Crocus.



Mereka berenam melihat kepala Laboon yang penuh dengan berbagai jenis luka akibat terus menerus membenturkan kepalanya ke dinding Red Line agar runtuh dan dia bisa kembali ke tempat asalnya mencari bajak laut yang berjanji padanya.



"Ini memang hubungan yang aneh, tapi aku sudah bersamanya selama 50 tahun. Aku tak bisa diam saja membiarkannya mati." Ungkap Crocus.



Luffy lalu tiba-tiba saja berlari sambil berteriak seperti Laboon dengan membawa tiang utama kapal di tangannya.



"Ngapain si bodoh itu berteriak meniru paus itu?" Tanya Sanji.



"Mungkin dia mau duduk di atas kepala paus itu."



"Dia mendaki seperti sedang mendaki gunung, padahal paus itu dalam posisi vertikal." Ujar Tanaka yang sweetdrop.



Saat berada di atas kepala Laboon, Luffy mencari-cari luka baru untuk dia tancapkan disana.



"Bukankah itu tiang kapal?" Tanya Zoro.



"Ya, tiang kapal kita." Ucap Sanji.



"Tiang utama, ya." Ucap Usopp yang lalu menyadari sesuatu. "Hei, jangan ngerusak kapal, dong!"



"Ketemu, itu luka baru ya." Ujar Luffy yang kemudian dia tancapkan tiang utama kapal Going Merry di luka tersebut.



"Apa yang kamu lakukan?!" Ucap mereka berempat garang.



Laboon berteriak kesakitan dan meronta-ronta karena hal tersebut, sedangkan Luffy masih bertahan di tiang kapal yang dia tancapkan tersebut.



Tanaka sendiri hanya bisa menghela nafas. "Kenapa dia harus merusak Going Merry untuk hanya ingin bertarung dengan Laboon?" Pikir Tanaka.



"Master, kapten kapal master sangat unik!" Ujar Honjo.



"Dia benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dia merusak kapal bajak lautnya sendiri." Ujar Sengo.



Tanaka kembali menghela nafas panjang.



Luffy dan Laboon pun bertarung tanpa peduli dengan kami semua. Sampai akhirnya Luffy terlempar ke dinding menara kembar.



"Luffy, apa sih yang mau kamu lakukan?!" Tanya Zoro yang marah.



"Seimbang!" Ucap Luffy yang membuat Laboon berhenti saat akan menyerangnya lagi. "Aku kuat, kan? Kamu ingin mengalahkanku, kan? Pertarungan kita masih belum berakhir! Jadi kita lanjutkan lain kali!"



"Teman-temanmu memang sudah mati, tapi kita jadi rival sekarang! Apapun yang terjadi kita harus bertarung lagi untuk menentukan siapa yang lebih kuat!" Ujar Luffy dengan tersenyum mengintimidasi.


__ADS_1


"Setelah pergi mengarungi Grand Line, kami pasti akan kembali kesini. Saat itu tiba, ayo kita bertarung lagi!" Tegas Luffy yang berjanji pada Laboon.



Mereka semua kecuali Tanaka tersenyum mendengar ucapan Luffy, sedangkan Laboon terlihat menangis.



"Kalau ingin mengatakan hal itu kenapa harus menghancurkan kapal Going Mery?" Tanya Tanaka yang memukul kepala Luffy karena kesal dengan tindakan seenaknya itu.



"Aduh! Sakit!" Teriak Luffy.



"Introspeksi diri dengan rasa sakit itu agar tidak melakukan tindakan bodoh lagi!" Tegas Tanaka.



"Baik! Maaf!" Ujar Luffy yang duduk di atas kedua lututnya.



Melihat itu, membuat semua orang kecuali Tanaka dan Luffy tertawa.



Luffy kemudian menggambar lambang bajak laut topi jerami di kepala Laboon yang penuh luka. Tentu saja gambar Luffy itu sama seperti saat dia menggambar pertama kali lambang tersebut.



"Hm, sudah bagus. Ini adalah simbol janji kita untuk bertarung lagi! Sampai kami kembali nanti, jangan menghilangkan simbol itu dengan menabrakkan kepalamu, mengerti?" Tegas Luffy.



Laboon menjawabnya dengan raungan kecil dan itu membuat Luffy tersenyum nyengir dan Crocus juga tersenyum.



Sementara itu, Nami sedang duduk di kursi batu dengan meja batu juga, dia sedang membuat perencanaan pelayaran yang akan mereka lakukan selanjutnya.



Sanji sedang sibuk di dapur untuk membuat makanan, Usopp sedang sibuk memperbaiki kapal sambil marah-marah karena Luffy merusak kapal pemberian Kaya



Dia dibantu oleh Tanaka dan Zoro seperti biasanya tidur.



"Dimana mereka?" Tanya Usopp yang baru saja menyadari kalau Vivi dan Mr. 9 menghilang.



"Mereka? Oh, dua orang aneh itu? Mungkin saja mereka lari, kan? Nanti juga kita bertemu lagi dengan mereka." Jawab Tanaka.



Setelah selesai membantu Usopp memperbaiki tiang kapal, Tanaka merenggangkan kedua tangannya ke atas dan melihat Luffy.



"Benda apa ini?" Tanya Luffy sambil memungut sebuah kompas khusus untuk Grand Line, Log Pose.



Tanaka hanya diam saja tidak berniat memberitahu tentang Log Pose itu. Dia hanya berdiri di tepi kapal sambil melihat lautan yang cukup luas dengan langit yang cerah.



Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan itu berasal dari Nami.



"Sepertinya, Nami sudah menyadari keanehan yang terjadi di Grand Line." Pikir Tanaka.



Dia segera turun dari kapal dan menuju ke tempat Nami.



"Ada apa, Nami?" Tanya Tanaka saat berada di dekatnya.



"Ada apa, Nami sayang? Jika kamu sedang memikirkan makanan, makanannya sudah siap, loh!" Ucap Sanji yang muncul dengan mata lope-lope sambil membawa makanan.



"Oh, waktunya makan, ya? Aku sudah sangat lapar" Ucap Usopp.


"Ko-Kompasnya rusak! Tak mengarah kemana pun juga!" Ungkap Nami.


"Ah, benar." Ucap Sanji.



"Terus berputar tanpa henti." Ucap Usopp.



"Heh, keren juga!" Ucap Luffy yang kagum.



Crocus hanya diam sesaat sampai akhirnya dia berbicara.



"Sepertinya kalian datang kesini tanpa pengetahuan, ya. Dasar ceroboh! Kalian mau cari mati?" Tanya Crocus.



"Apa maksud ucapanmu, Crocus?" Tanya Nami



"Sudah kukatakan, insting saja takkan cukup di lautan ini. Kompas itu tidak rusak." Jawab Crocus.



"Kalau tidak rusak, berarti ada yang aneh dengan Grand Line ini." Ucap Tanaka yang melirik Nami sambil menikmati makanan yang telah dibuat oleh Sanji.



"Aneh ... jangan-jangan medan magnetnya." Ungkap Nami.



"Benar sekali. Pulau-pulau di Grand Line mengandung banyak mineral magnetik. Karena itulah di Grand Line sering terjadi ketidaknormalan. Terlebih lagi, arus laut dan angin tak stabil. Jika kamu seorang navigator, harusnya kamu tau kengerian itu." Jelas Crocus.



"Kalau tidak bisa menggunakan kompas sebagai penunjuk arah maka ... " Ujar Nami



"Jika tidak memiliki alat pengganti kompas ini maka kita tidak akan bisa berlayar kemanapun." Sahut Tanaka




"Hei, itu gawat, kan? Apa kita akan baik-baik saja?" Ucap Usopp.



"Ini nggak gawat, enak kok!" Ucap Luffy sambil memakan ikan tuna gajah yang dibuat Sanji tadi.



"Hei, kalian, bisakah diam sebentar?!" Ucap Nami marah.



"Hidung Tuna Gajah Sirip Birunya lumayan enak!" Ucap Luffy sambil terus makan.



"Kami tidak membahas tentang makanan, apa kamu tidak mendengar obrolan kami?" Pikir Tanaka yang sweetdrop.



Crocus memberitahu tahu pada Nami tentang alat yang digunakan sebagai penunjuk arah di Grand Line.



"Untuk mengarungi Grand Line kalian harus memiliki Log Pose." Ucap Crocus.



"Log Pose? Aku belum pernah mendengarnya." Ucap Nami.



Crocus menjelaskan tentang Log Pose pada Nami.



"Apa itu kompas yang berbentuk aneh?" Tanya Luffy.



"Ya, bentuknya memang tak biasa dan memang sangat sulit untuk menemukannya di luar Grand Line karena itu benda berharga bagi orang yang berlayar di Grand Line." Jawab Crocus.



"Apa yang seperti ini?" Ucap Luffy sambil menyodorkan sebuah Log Pose.



"Ya, seperti itu. Tanpa Log Pose itu, mustahil kalian bisa mengarungi Grand Line." Tegas Crocus.



"Begitu rupanya, tapi tunggu sebentar. Luffy?" Panggil Nami.



Luffy lalu menatap Nami.



"Kenapa kamu bisa memilikinya?!" Tanya Nami sambil meninju wajah Luffy.



"Benda ini dijatuhkan oleh dua orang aneh itu di kapal kita." Jawab Luffy yang terduduk di atas tempat berbatuan.



"Mereka menjatuhkannya?" Tanya Nami.



"Ya, aku tidak mencurinya, lalu kenapa aku dipukul?" Tanya Luffy.



"Terbawa suasana." Ucap Nami.



"Terbawa suasana? Begitu ya" Ucap Luffy dengan santainya dan tidak mempermasalahkan lagi.



Nami lalu mengambil Log Pose dari tangan Luffy.



"Jadi ini Log Pose? Kenapa polos seperti ini? Tak ada tanda arahnya seperti kompas pada umumnya." Tanya Nami.



"Pulau-pulau di Grand Line memiliki medan magnet yang mengitarinya. Dengan kata lain, log pose itu akan merekam medan magnet antara dua pulau yang saling tarik menarik." Ujar Crocus.



"Dengan itu kalian bisa menemukan rute ke pulau selanjutnya. Karena kalian tak tau lokasi pulau di lautan ini, maka yang bisa kalian andalkan hanyalah medan magnet yang terekam dalam Log Pose." Ungkap Crocus.



Crocus menjelaskan tentang cara kerja Log Pose itu pada Nami karena dia sebagai navigator sedangkan lainnya hanya fokus makan.



"Pertama, kalian bisa memilih salah satu dari tujuh medan magnet yang dihasilkan oleh Reverse Mountain. Tapi pulau apapun yang akan kalian awali, medan magnetnya akan saling tarik menarik dan akhirnya menyatu pada satu jalur yang menuju ke tujuan akhir yang sama, yakni Raftel, nama pulau terakhir dan menjadi titik terakhir dari Grand Line." Jelas Crocus.



"Keberadaan pulau tersebut sudah dipastikan oleh Raja Bajak Laut dan krunya yang merupakan bajak laut pertama menginjakkan kakinya di pulau pulau legenda itu." Ucap Crocus.



"Raftel..." Ucap Nami.



"Jadi kamu pasti tahu tentang apa yang ada di Raftel itu dan tentang abad kekosongan?!" Pikir Tanaka.



"Master, kalau dia tahu, tanyakan aja padanya apa yang yang ada di pulau itu?" Ujar Honjo.



Tanaka menggelengkan kepalanya. "Ketidaktahuan dalam petulangan itu lebih menyenangkan dan seru daripada sudah mengetahuinya sebelum berpetualang dimulai."



"Lalu, One Piece nya pasti ada disana, ya?" Ucap Usopp.



"Entahlah ... Itu hanya bagian dari teori, tapi belum ada seorang pun yang sampai kesana selain raja bajak laut dan para krunya." Jawab Crocus.



"Kalau itu, takkan tau sebelum dicoba!" Ucap Luffy penuh keyakinan.

__ADS_1



Luffy ternyata sudah menghabiskan ikan tuna gajah yang dibuat oleh Sanji.



"Baiklah, makanku sudah selesai, kita siap-siap saja!" Perintah Luffy.



"Kamu menghabiskannya sendirian?!" Ucap Sanji yang terkejut dan marah karena makanan yang dibuatnya sudah habis oleh Luffy sendiri.



"Wuah, bahkan tulangnya dimakan!" Ucap Usopp yang terkejut melihat piring yang bersih tanpa ada yang tersisa.



"Log Pose, ya? Ini benda yang penting. Ini adalah kunci perjalanan kita." Ucap Nami sambil menatap Log Pose ditangannya.



"Manusia karet kurang ajar! Padahal aku ingin Nami yang memakannya sampai kenyang!" Ucap Sanji sambil menendang Luffy.



Tanaka segera menarik pundak Nami hingga ia jatuh terduduk sehingga Log Pose yang di tangannya tidak rusak terkena tubuh Luffy yang terbang karena tendangan Sanji.



Nami yang masih sedikit syok kemudian menoleh pada Tanaka.



"Log Pose nya tidak rusakkan?" Tanya Tanaka.



Nami menatap Log Pose di tangannya lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.



"Baguslah, kita akan repot jika Log Pose nya rusak." Ujar Tanaka dengan lega, meskipun kalau Log Pose itu rusak juga, Crocus bisa memberikan cadangan Log Posenya.



Nami lalu bangkit berdiri dan menendang Sanji juga Luffy karena hampir saja merusak Log Pose nya.



"Dinginkan kepala kalian berdua di laut sana!" Teriak Nami yang marah pada Sanji dan Luffy.



Meskipun Sanji ditendang ke laut oleh Nami tapi dia masih sempatnya merasa senang dan lope-lope keluar dari tubuhnya.



"Dia masokis!" Pikir Tanaka.



"Master, teman-teman master sangat unik semua." Ujar Honjo.



"Bukan unik, hanya sekumpulan orang bodoh." Ujar Sengo.



Sanji kembali lagi ke tanjung menara kembar dengan membawa Luffy karena dia tidak bisa berenang.



Selain kehadiran dua orang itu, ada juga Vivi dan Mr 9 yang berenang ke Tanjung Menara Kembar karena tempat persembunyiannya telah dibom oleh seekor burung dan seekor yang mirip seperti berang-berang yang menaikinya.



Tentu saja Sanji yang seorang playboy langsung meninggalkan Luffy dan menolong Vivi dengan bergaya seorang gentleman.



"Ulurkan tangan Anda, Miss Wednesday." Ujar Sanji dengan elegan.



"Oh, ya, terima kasih." Ujar Vivi.



Sanji merangkul Vivi dan berjalan meninggalkan Mr 9 dan Luffy begitu saja.



"Tunggu!" Panggil Mr 9.



Vivi dan Mr 9 meminta pertolongan kru bajak laut topi jerami untuk mengantarkan mereka ke Whisky Peak.



"Whisky Peak? Nama yang aneh." Ucap Luffy.



"Apa itu?" Ucap Nami.



"Itu adalah kota kami, tuan." Ucap Mr. 9.



"Apa yang terjadi pada kapal kalian?" Tanya Nami.



"Tenggelam." Jawab Vivi.



"Bukankah itu permintaan yang sulit, Mr. 9? Setelah kamu mencoba membunuh paus itu!" Ucap Nami.



"Kalian ini sebenarnya siapa?" Tanya Usopp.



"Aku raja." Jawab Mr. 9 yang mendapatkan cubitan di pipinya oleh Nami.



"Pembohong." Ucap Nami yang kesal.



"Kami tak bisa mengatakannya." Ucap Vivi.



"Tapi kami ingin kembali ke kota kami. Sebenarnya kami tak ingin merahasiakannya, tapi..." Ucap Mr. 9 yang bingung untuk menjelaskannya.



"Karena cara kerja organisasi kami pun juga misteri." Ucap Vivi.



"Kami tak bisa memberitahu kalian tentang itu." Ucap Mr. 9.



Tanaka hanya diam tidak memberitahu tentang organsiasi Baroque Works pada Luffy dan lainnya karena dia akan menjadi kesulitan sendiri bila memberitahu hal itu dan mendapatkan pertanyaan bagaimana dia bisa tahu.



"Nanti juga mereka tahu sendiri" Pikir Tanaka.



"Dengan segala kerendahan hati, kami mohon pada kalian." Ucap Vivi yang bersujud memohon.



"Kami pasti akan membalas budi kalian." Ucap Mr. 9 yang juga melakukan hal sama.



"Jangan percaya. Apapun yang mereka katakan, mereka itu orang-orang yang tak bisa dipercaya." Peringat Crocus.



Dia melihat Nami yang tersenyum seringai. Hal itu membuat Tanaka menghela nafas. "Apa lagi yang dilakukan wanita licik itu." Pikir Tanaka.



"Kalian ingin ikut kami? tapi Log Pose milik kalian rusak, jadi bagaimana? Apa kalian ingin tetap bersama kami?" Ujar Nami yang berbohong.



"A-apa? Kalian merusaknya!?" Teriak Mr 9 yang bangkit dari sujudnya.



"Jadi tidak ada bedanya kalian dengan kami! Kalian juga tersesat!" Teriak Vivi yang melakukan hal sama.



"Tapi boong, Log Posenya baik-baik saja." Ujar Nami sambil tertawa pelan.



"Oi, jangan mengambil peran aku!" Ujar Usopp.



Mereka berdua kembali bersujud memohon di depan Nami.



"Sialan, cewek ini penipu!" Pikir Vivi dan Mr 9.



Tanaka menggelengkan kepalanya dan kemudian menatap Luffy. "Bagaimana ini, kapten?"



"Boleh saja kalau mau ikut." Jawab Luffy yang begitu saja menerima. "Kamu bilang mau ke Whisky Peak? Ayo kita pergi kesana."



"Hey, yang benar saja? Kita akan mengantarkan orang-orang yang mencurigakan?" Tanya Usopp.



"Memangnya kenapa? Jangan mikirin hal kecil begitu." Jawab Luffy.



"Tapi untuk memilih jalurnya, hanya bisa dilakukan disini." Peringat Crocus.



"Kalau kami tak suka jalur itu, cukup memutar balik dan lakukan sekali lagi." Ucap Luffy dengan tertawa nyengir.



"Begitu, ya." Ucap Crocus.



Tanaka melihat Vivi dan Mr 9 yang memberikan gelagat aneh dan mencurigakan. Meskipun begitu dia membiarkan hal tersebut karena Luffy sudah memberikan perintahnya sebagai kapten kapal.



"Baiklah, kita berangkat sekarang? Aku sudah membuat janji sama paus itu. Waktunya berlayar." Ucap Luffy.



"Kau ini siapa?" Ucap Vivi.



"Aku?" Ucap Luffy sambil menoleh menatap Vivi. "Aku orang yang akan jadi Raja Bajak Laut!"



Kami terus menunggu Log Pose terisi penuh hingga tak terasa matahari mulai terbenam.



"Harusnya sekarang sudah bisa. Log Posenya pasti sudah merekam pulau selanjutnya. Apa jarumnya mengarah sama dengan yang di peta?" Tanya Crocus.



"Ya, mengarah ke Whisky Peak." Jawab Nami.



"Sampai jumpa, Paman bunga!" Ucap Luffy.



"Ya, selamat jalan!" Ucap Crocus.



"Sampai jumpa, aku berangkat, paus! Tunggu kami!" Ucap Luffy yang mendapatkan raungan yang cukup keras dari Laboon tapi raungan kali ini berbeda dengan raungan sebelumnya yang penuh kesedihan.



Raungan Laboon berisi kegembiraan dan harapan yang baru untuk menunggu Luffy dan lainnya.



"Ke Whisky Peak kecepatan penuh!" Teriak Luffy.



"Ya!" Ucap kami semua.

__ADS_1


Kami pun berlayar menuju Whisky Peak.


__ADS_2