Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
44


__ADS_3

"Ini dimana?" Tanya Tanaka yang kembali tersesat.



Meskipun begitu dia terus berjalan sambil mengingat-ingat jalan yang menuju ke tempat Nami berada.



"Fix, aku sudah ketularan Zoro yang buta arah!" Gumam Tanaka. "Tidak, tidak, aku tidak seperti rambut lumut itu, ini karena kastil ini saja yang terlalu besar dan banyak ruangan."



Dia terus berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya dia kembali lagi di depan pintu gerbang kastil.



"Oh, tidak! Aku benar-benar ketularan buta arah dari Zoro!" Teriak Tanaka yang tidak terima akan hal tersebut.



Dia mencoba untuk melakukannya sekali lagi sampai akhirnya dia berhenti dan melihat keluar dari jendela, Wapol dengan kedua bawahannya muncul di depan kastil.



"Mereka sudah datang!" Ujar Tanaka yang berjalan kembali menuju pintu gerbang kastil.



Akan tetapi dia kembali tersesat dan malah berada di ruangan tempat Nami dirawat yang sebelumnya menjadi tujuannya.



"Sialan, saat tidak dicari malah ketemu." Pikir Tanaka. "Kenapa kastil ini dibuat besar sih? Buat susah orang saja."



Nami melihat raut wajah Tanaka yang terlihat kesal oleh sesuatu. "Tanaka, ada apa? Kenapa kamu seperti sedang kesal dengan sesuatu?"



"Oh, tidak, hanya saja kastil ini terlalu besar, buat orang susah saja untuk mencari ruangan ini." Ungkap Tanaka.



Nami hanya menganggukkan kepalanya dan ingin kembali tidur untuk beristirahat tapi Luffy secara tiba-tiba muncul dengan tubuh yang menggigil.



"Dingin! Dingin." Ujar Luffy sambil mencari-cari pakaian khusus musim dingin di ruangan tersebut.



"Apa yang kamu cari?" Tanya Nami.



"Jaket, aku membutuhkan jaket agar tubuhku hangat." Ujar Luffy. "Kalau seperti ini aku tidak bisa menghajar mulut besar itu."



"Oh, pakai saja jaketkku." Ujar Nami.



"Tapi jaket mu sudah jelek." Tolak Luffy.



"Lebih baik ada daripada tidak ada." Ujar Nami. "Lagipula itu masih lebih baik daripada jaketmu."



Luffy menganggukkan kepalanya dan segera memakai jaketnya Nami.



"Oke! Sekarang aku bisa menghajar mulut besar itu tanpa takut kedinginan." Ujar Luffy yang segera keluar dari ruangan tersebut menuju pintu gerbang kastil.



Tanaka juga ikut berlari di belakang Luffy, tapi Nami bertanya padanya sehingga dia berhenti.



"Ada apa? Sepertinya terjadi sesuatu?" Tanya Nami.



"Hanya perkelahian kecil saja." Jawab Tanaka. "Kamu beristirahat saja agar cepat sembuh."



"Begitu ya, baiklah." Ujar Nami yang segera tidur.



Tanaka segera mengejar Luffy agar dia tidak tersesat lagi seperti sebelumnya akan tetapi dia langsung mengurungkan niatnya untuk itu.



"Lebih baik aku bersama Nami saja." Gumam Tanaka. "Nami tidak ada yang melindunginya bila saja si kuda nil itu masuk ke dalam kastil."



Tanaka segera kembali ke ruangan tempat Nami dirawat, duduk di salah satu kursi dengan santainya.



"Master! Kenapa Master tidak ikut membantu kapten Master?" Tanya Honjo.



"Ya, pergilah, aku ingin bertarung juga." Pinta Sengo. "Kamu selalu menggunakan Honjo di setiap pertarungan, sedangkan aku berada di dalam sarung terus menerus."



"Itu karena sebelumnya kamu tidak mau aku gunakan, baru-baru ini saja aku diijinkan oleh kamu." Bantah Tanaka. "Selain itu kamu itu bisa menghilangkan nyawa makhluk hidup, aku tidak mau seperti itu kalau bukan benar-benar terpaksa."



Tanaka memang tidak ingin melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa makhluk hidup seenaknya kecuali untuk bahan makanan atau ada sesuatu yang membuatnya melakukan hal tersebut.



"Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh." Tegas Tanaka. "Banyak orang yang mengatakan sekali seseorang membunuh makhluk hidup tanpa alasan yang jelas maka akan menjadi ketagihan untuk terus membunuh sampai akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin yang kejam."



Sengo hanya terdiam, tidak bersuara lagi.



"Mengenai kenapa aku tidak membantu kapten aku itu, Honjo?" Ujar Tanaka. "Itu karena aku percaya kalau kaptenku itu bisa mengalahkan lawannya tanpa perlu aku ikut campur, meskipun dia bodoh dan bertindak seenaknya, Luffy itu kuat dan bisa diandalkan."



Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras.



"Suara apa itu?" Tanya Nami yang terbangun dengan terkejut.



"Hanya suara petasan banting saja, jangan khawatir, saat ini kamu harus beristirahat." Ucap Tanaka yang berjalan mendekati kasur dan mendorong tubuh Nami lagi untuk berbaring kembali.



"Petasan? Petasan banting apa? "Apa yang kamu katakan, Tanaka?" Tanya Nami. "Itu tadi suara ledakan meriam kan? Apa yang terjadi diluar sana?"



Suara ledakan yang cukup keras terdengar lagi dan itu membuat Nami ingin segera turun dari kasur untuk melihat situasi yang terjadi di luar kastil.



"Sudah, sudah, kamu cukup tidur dan beristirahat saja, jangan memaksakan dirimu, Nami." Ucap Tanaka lalu sayup-sayup mendengar suara seseorang dari luar ruangan.



'Mungkinkah itu Wapol?' Pikir Tanaka.



"Nami, apapun yang terjadi, jangan pernah keluar ruangan ini. Kamu mengerti?" Ucap Tanaka yang membuat Nami menganggukkan kepalanya.



Saat Tanaka keluar ruangan, dia melihat Wapol yang juga menatapnya begitu juga sebaliknya.


"hahaha~ Kamu pasti salah satu teman Mugiwara itu, kan?" Tanya Wapol.


"Lalu?" Jawab Tanaka dengan singkat dan tetap memasang wajah datar.



Wapol lalu memanjat tiang dan melompat ke arah Tanaka yang tidak hanya berdiam diri saja. Dia menahan si kuda nil itu melayang di udara dan kemudian mendorongnya sehingga membuatnya terbentur dinding.


__ADS_1


Dinding itu hancur sehingga Wapol masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di balik dinding tersebut.



Sementara Wapol mengeluh sakit, Tanaka berjalan dengan langkah yang santai mendekati dinding yang berlubang tersebut.



Saat akan mendekat, sebuah bola meriam ukuran medium keluar dari dinding yang berlubang itu yang otomatis, Tanaka mengeluarkan Sengo dari sarungnya dan memotong bola meriam medium itu secara vertikal.



Bola meriam medium itu terbelah dan mengenai dinding di belakang Tanaka yang tidak lain adalah ruangan tempat Nami berada.



"Sial, seharusnya aku menahannya dengan kekuatan forcenya, bukan membelahnya." Ujar Tanaka yang segera berlari menuju ke ruangan tempat Nami berada.



Sedangkan Sengo sangat gembira karena akhirnya dia bisa merasakan pertarungan lagi setelah sekian lamanya.



Wapol yang keluar dari dinding berlubang itu memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Tanaka dari belakang tapi dengan cepat Luffy menendang Wapol dengan kakinya yang memanjang hingga Wapol menabrak dinding lainnya yang juga menjadi berlubang.



"Nami kamu baik-baik saja?" Tanya Tanaka saat masuk ke dalam ruangan tersebut.



"Aku baik-baik saja, apa sebenarnya yang terjadi saat ini?" Tanya Nami.



Tanaka bernafas lega karena Nami dalam keadaan baik-baik saja. "Ada kuda nil masuk ke dalam kastil, saat ini Luffy sedang mengusirnya." Jawab Tanaka seenaknya.



"Kuda nil?" Tanya Nami bingung.



Tanaka kembali keluar dari ruangan tersebut dan melihat Luffy dan Wapol saling bertarung, meskipun Wapol lah yang menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan Luffy.



Sampai Wapol terlempar ke dinding lagi, tapi kali ini di dinding yang terbentur dengan punggungnya itu tidak hancur dan membuat lubang, tapi hanya membuat retak saja.



Tanaka melihat pakaian Nami yang hancur di beberapa bagian sampai bagian salah satu lengannya sudah tidak ada.



"Luffy, kamu merusak jaket Nami, dia akan sangat marah melihat jaketnya seperti itu." Ucap Tanaka.



"Ah, mau bagaimana lagi, itu karena dia terus menembak aku." Ucap Luffy sambil menunjuk Wapol yang masih terduduk.



"Cukup sampai disitu!" Ucap Wapol yang sudah bangkit berdiri lagi.



"Geh, tubuhnya kuat juga, ya?" Tanya Luffy terkejut.



"Lihatlah!" Ucap Wapol yang menunjuk sebuah ruangan yang ada dibelakangnya. "Yang jelas disana itu gudang senjata! Dan yang pegang kuncinya hanya aku!"



"Tentu saja ada bermacam-macam senjata disana. Saat kumakan semuanya tubuhku akan mengaktifkan Baku Baku Shock dan kalian akan menyaksikan senjata manusia yang mengerikan!" Ujar Wapol dengan tertawa keras.



Tanaka menutup telinganya karena tidak ingin mendengar suara tawa yang bisa membuat telinga berdarah.



Wapol mengeluarkan kunci ruangan senjata tersebut. "Baiklah, persiapkan diri kalian! Pintunya akan kubuka! Eh? Apa yang terjadi?"



Wapol terkejut kuncinya secara tiba-tiba terlepas dari tangannya dan melayang ke tempat Tanaka berada.




"Sialan, apa yang kamu lakukan?" Tanya Wapol. "Tidak, masih belum!"



"Ah, dia kabur! Tunggu!" Ucap Luffy yang juga ikut berlari mengejar Wapol.



Saat mereka berdua pergi, Tanaka berjalan menuju ke ruangan tempat Nami berada.



"Apa sudah selesai?" Tanya Nami.



Tanaka menggelengkan kepalanya. "Belum, kuda nil nya ternyata memiliki tubuh yang cukup kuat, kapten sedang mengurusnya." Jawab Tanaka seenaknya.



Nami menganggukkan kepalanya dan pada saat itu dia tertuju pada kunci yang sedang dipegang oleh Tanaka.



"Tanaka, kunci itu? Kunci apa yang kamu pegang?" Tanya Nami yang terlihat bersemangat.



Tanaka melihat kunci yang dia pegang dan pada saat itu dia terbesit sebuah ide untuk mengerjai perempuan gila uang dan harta karun itu.



"Oh, ini, kalau tidak salah dengar sih kunci tempat harta berharga kastil ini disimpan." Ujar Tanaka.



"Harta berharga!" Ujar Nami yang matanya sudah berubah menjadi mata uang berry.



"Tanaka, berikan padaku kuncinya, kita akan bagi dua harta itu, kamu 5% aku 95%." Ujar Nami.



Tanaka yang mendengarnya merasa tidak percaya dengan rasio pembagian yang tidak masuk akal tersebut.



"Ini, ambillah, hartanya untuk kamu semua, aku tidak terlalu tertarik dengan harta." Ujar Tanaka yang melempar kunci tersebut pada Nami.



"Deal, kamu sudah mengatakannya." Ujar Nami dengan senang hati. "Aku tidak akan memberikan apapun padamu, meskipun kamu berubah pikiran."



Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian memberitahu lokasinya yang tidak lain adalah ruang gudang senjata.



Tanpa pikir panjang, Nami segera pergi menuju lokasi tersebut sedangkan Tanaka mengikutinya dari belakang sambil menahan tawa.



Sesampainya di depan ruang gudang senjata, Nami membuka pintu yang terkunci itu dengan kunci yang diberikan oleh Tanaka.



"Harta! Harta, harta berharga! Semuanya akan menjadi milikku! Hahaha~" ujar Nami dengan tawa gembira.



Akan tetapi tawa gembiranya itu berubah menjadi tawa kebingungan karena Nami tidak melihat harta berharga, hanya senjata dimana-mana dalam ruangan tersebut.



"Hahahaha~" tawa Tanaka yang lepas dan tidak bisa ditahan lagi.



"Kamu! Kamu, menipu aku!" Teriak Nami yang marah.



"Loh, kok nipu? Aku tidak mengatakan kalau ruangan ini ruang harta, tapi katanya ruang ini ruang harta." Ngeles Tanaka. "Tapi ternyata salah, ruangan ini hanyalah gudang senjata."

__ADS_1



Beberapa saat kemudian, suara Sanji terdengar dan mereka berdua melihat Sanji yang bergerak seperti kadal dan itu sedikit mengerikan.



"Nami!! Baguslah, kamu baik-baik saja!" Ucap Sanji sambil merangkak mendekati Nami.



Perempuan itu lalu merendahkan tubuhnya



"Apa yang terjadi padamu, Sanji?" Tanya Nami dengan nada khawatir. "Kenapa kamu merangkak seperti itu?"



"Nami sayang, kamu begitu mengkhawatirkan ku, ya?" Tanya Sanji dengan mata lope-lope. "Jika aku mendapatkan pelukan, aku akan merasa lebih baik."



Sanji yang langsung main nyosor aja. Tapi Nami dengan cepat menghentikan Sanji dengan menekan kepalanya ke lantai kastil yang penuh salju.



Tanaka tertawa lagi karena komedi yang sedang dilakukan oleh Nami dan Sanji.



Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan yang tidak lama kemudian disusul teriakan Wapol.



'Sudah selesai ya?' Pikir Tanaka yan berjalan keluar kastil setelah diberitahu arahnya oleh Sanji dalam posisi telungkup di atas salju.



Saat berada di luar kastil yang membuat Tanaka merasa gembira dalam hatinya karena dia tidak tersesat seperti Zoro lagi, Tanaka melihat Zoro dan Usopp yang berdiri di belakang rambut lumut itu dengan gemetaran.



"Yo, Zoro, Usopp." Panggil Tanaka.



Tidak hanya ada mereka berdua, tapi ada juga Dalton bersama dengan beberapa warga yang membawa senjata api.


Belum juga Zoro ngomong, terdengar suara teriakan Luffy, yang membuat semua orang melihat ke atas.



"Hah? Luffy?" Ujar Zoro.



"Ah, Zoro, Usopp!" Ucap Luffy yang sedang terjun bebas.



Manusia karet itu pun menabrak Zoro dan Usopp, lalu dia keluar dari salju dan tertawa.



"Apa yang kamu lakukan?!" Ucap Zoro garang.



"Kukira siapa, kalian, ya?" Ucap Luffy lalu tertawa lagi. "Pakaian yang Zoro pakai berbeda, jadi kukira kalian teman mereka. Kalian naik keatas juga, ya. Usopp, bukankah kau nggak mau naik?"



"Jangan bodoh! Aku itu laki-laki yang akan menaklukkan apapun yang ada di depan. Tapi gunung ini benar-benar jadi petualangan besar!" Ucap Usopp yang jelas adalah kebohongan.



"Kami naik dengan kereta gantung, Luffy. Apa Nami baik-baik saja?" Tanya Vivi.



"Ya, Nami sudah baik-baik saja." Jawab Luffy.



"Ah, baguslah." Ucap Vivi yang merasa lega.



"Lalu, apa yang kamu lakukan di puncak sana?" Tanya Zoro.



"Aku tadi sedang menghajar raja negeri ini!" Jawab Luffy dengan santainya.



"Jadi seseorang yang terhempas tadi Wapol? Kamu mengalahkannya?" Tanya Dalton tidak percaya.



"Ya, bener banget." Jawab Luffy dengan bangga.



"Lalu, dua orang anak buahnya?" Ucap Dalton.



"Rusa itu sudah mengalahkannya." Ucap Luffy yang menunjuk ketempat Chopper sedang bersembunyi di balik pohon, tapi posisinya Chopper salah.



"Mereka berdua dikalahkan rusa itu?!" Tanya Dalton yang tidak percaya.



Dalton tiba-tiba saja langsung bersujud dihadapan Chopper yang masih dalam posisi salah.



"Terima kasih, negeri Drum pasti akan terlahir kembali." Ucap Dalton sambil menitikkan air matanya.



"Oh iya, Usopp! Dengerin! Aku berhasil mendapatkan teman baru kita!" Ucap Luffy yang membuat Usopp berhenti menyombongkan diri sendiri dan menatap Luffy.



"Apa?" Tanya Usopp.



"Apa rusa itu akan menjadi teman baru kita, kapten?" Tanya Tanaka.



Luffy menganggukkan kepalanya dan pada saat itu terjadi keributan saat para penduduk melihat Chopper.



"Ma-Makhluk aneh apa itu?"



"Ru-rusa? Bukan!"



"Itu mo-mo-monster."



"Hei, hentikan!" Ucap Dalton.



"Ah, itu monster!" Ucap Usopp membuat Chopper langsung berlari memasuki hutan.



Luffy pun memukul kepala Usopp.



"Jangan panggil dia monster! Teman baru yang kutemukan itu dia, tau!" Ucap Luffy garang.



"Apa? Jadi itu?!" Ucap Usopp.



"Dia jadi syok dan kabur, tuh!" Ucap Luffy lalu ikut berlari mengejar Chopper. "Tunggu, monster!"



"Hei!" Ucap mereka semua karena Luffy melarang memanggil Chopper dengan panggilan monster tapi orangnya sendiri malah memanggilnya seperti itu.


__ADS_1


Tanaka hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah seenaknya Luffy.


__ADS_2