Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
41


__ADS_3

Kapal Going Merry telah menjauh dari tornado dan cuaca juga telah berubah menjadi bersalju.


Vivi sedang merawat Nami di kabin istirahat perempuan bersama dengan Karu dan Sanji.



Tanaka menjadi navigator sementara menggantikan Nami. Meskipun dia tidak paham dengan ilmu navigasi, tapi lebih baik dirinya yang menjadi navigator daripada menyerahkan pada Zoro yang buta arah atau pada Luffy.


"Apa dokternya sudah kelihatan?" Tanya Luffy pada Zoro yang berada di tempat pemantauan kapal Going Merry yang ada di pucuk tiang utama kapal.


"Memangnya bisa dilihat di laut, bodoh?!" Ucap Usopp.



"Hei, menurut kalian, apa ada manusia yang bisa berdiri di atas laut?" Tanya Zoro setelah melihat seseorang berdiri di tengah lautan menggunakan teropongnya.



"Manusia bisa berdiri di atas laut?" Tanya Luffy.



"Zoro, bicara ngelantur apa sih kamu ini?" Tuduh Usopp.



"Kalau begitu, itu apa?" Ucap Zoro sambil melihat menggunakan teropong kembali.



"Apa emangnya?" Ucap Luffy yang duduk di atas kepala domba, berusaha melihat orang yang berdiri di atas lautan



"Yang mana?" Ucap Usopp yang juga berusaha melihat seperti Luffy.



Tanaka yang tadinya berada di depan kabin serbaguna, berjalan mendekati Luffy dan Usopp dan dia juga melihat orang seperti yang Zoro katakan.



"Dia anak buahnya si kuda Nil." Pikir Tanaka. "Kalau tidak salah namanya ... "



"Yo, cuacanya dingin banget, ya?" Tanya orang itu.



"Ya, hari ini dingin banget!" Ucap Luffy.



"Ya, dingin, dingin! Hari ini sangat dingin!" Ucap Usopp.



"Benarkah?" Ucap orang itu.



"Siapa kamu?" Tanya Tanaka.



"Aku Chess."



Mereka berempat terkejut dalam keadaan diam, sedangkan Tanaka hanya menganggukkan kepalanya karena dia sudah mengetahui nama orang yang berdiri di tengah laut itu.



Tiba-tiba saja, sebuah kapal yang begitu besar muncul dari dalam air. Membuat kapal Going Merry berguncang.



"Apa itu?! Semangka, ya?" Tanya Luffy.



"Mana ada semangka sebesar itu!" Teriak Usopp.



"Jangan-jangan itu...kapal?!" Ujar Zoro.



Lalu perlahan terlihatlah wujud sebenarnya dari benda yang muncul di permukaan laut tersebut.



"Gawat! Ka-Kapal bajak laut!" Ucap Usopp.



"He-Hebat!" Ucap Luffy.



"Disaat kita terburu-buru begini..." Ucap Zoro.



Kemudian terdengar suara orang tertawa. "Kalian terkejut, ya? Ini adalah kapal penyerang raksasa bawah air, Bliking!" Ucap seseorang dengan tubuh yang sangat berisi sampai hampir membentuk bulatan sempurna dengan rahang berbentuk silinder terbuat dari pelat timah.



"Wapol si kuda!" Pikir Tanaka yang memberikan julukan sendiri untuk orang itu.



"Hei, ada apa?" Ucap Sanji yang baru saja keluar dari kabin dan melihat kapal besar. "Jadi, apa yang terjadi?"



"Kapal kita sedang diserang." Jawab Luffy.



Memang benar, kapal Going Merry saat ini sedang dikepung oleh pasukan Wapol.



"Yah, sepertinya memang begitu sih, kalau dilihat-lihat." Ucap Sanji.



"Apa kalian benar-benar bajak laut? Orang-orang aneh. Apa kalian hanya berlima? Dipikir-pikir berkali-kali, aneh sekali kalau bajak laut cuma ada lima orang." Ucap Wapol sambil memakan sebuah pisau.



"Makhluk apa dia itu? Pisaunya bahkan dimakan?" Ucap Luffy yang terkejut.



"Melihatnya saja sudah sakit!" Ucap Usopp.



"Yah, terserah. Pertama, aku ingin tanya. Kami ingin pergi ke Kerajaan Drum. Apa kalian ... Aaaaaaaaaaa~" Teriak wapol yang terbang ke langit.



Tanaka melemparnya ke langit dan yang kemudian jatuh entah dimana dengan kekuatan forcenya.



Para bawahan wapol terkejut dan panik melihat pimpinannya dilempar ke tempat yang jauh.



"Kita tidak memiliki waktu untuk ini, keselamatan Nami lebih penting!" Ujar Tanaka sambil mengeluarkan pedang Honjo. "Siapa lagi yang mau menghalangi kami?"



"Kerja bagus Tanaka." Puji Sanji yang sudah bersiap untuk bertarung.



"Apa kita akan bertarung?" Tanya Luffy dengan ekspresi gembira.



"A-aku kesatria laut terhebat, Usopp! Menyerah lah sebelum aku menghabisi kalian semua." Ujar Usopp dengan kakinya gemetaran tapi tubuh atasnya bersikap angkuh.



Zoro yang berada di tempat pemantauan kapal juga bersiap bertarung. Dia sudah mengeluarkan sedikit pedang dari sarungnya.



Akan tetapi para bawahan Wapol lebih memilih menyelamatkan pemimpinnya karena tidak bisa berenang.



Mereka langsung pergi menuju ke tempat arah dimana Tanaka melempar kuda Nil itu.



"Sebenarnya siapa mereka itu?" Tanya Luffy.



"Hanya sekumpulan orang idiot." Jawab Tanaka seenaknya. "Sekarang tujuan utama kita adalah menemukan pulau dan dokter untuk menyelamatkan Nami."



Kapal Going Merry kembali berlayar dan hari pun sudah sore, tapi demam Nami belum juga turun.



Tanaka, Usopp dan Zoro berada di luar untuk menemukan pulau dan juga agar kapal tidak melenceng dari jalur jarum eternal pose yang mengarah ke Alabasta.



Sedangkan Luffy, Sanji, Vivi dan Karu merawat Nami.

__ADS_1



"Apa kalian yakin dia tak sedang lapar? Kalau dia lapar, kasih 100 porsi daging padanya! Makan daging bisa menyembuhkan sakit!" Ucap Luffy yang polos.



"Itu kamu bukan Nami!" Ucap Sanji.



"Ayo cepat sembuh dong..." Ucap Luffy sambil membuat wajahnya menjadi aneh. "Kalau diguyur air, apa demamnya akan turun?"



"Dasar bodoh?!" Ucap Vivi yang memukul Luffy sedangkan Sanji menendang Luffy.



"Ini gawat! Matahari hampir terbenam, Vivi-chan!" Ucap Sanji.



"Ya, kamu benar. Ayo segera kita turunkan jangkarnya di suatu tempat. Kita tak bisa berlayar di malam hari tanpa bantuan Nami." Ucap Vivi.



"Benar sekali." Ucap Sanji.



Luffy keluar dari kabin untuk memberitahu tahu tentang itu. Kapal Going Merry pun berhenti di tengah laut.



Mereka semua memutuskan untuk tidur di kamar perempuan kecuali Sanji yang bertugas mengawasi kapal.



Saat tengah malam, Nami terbangun dan melihat semua orang kecuali Sanji sedang tertidur di kabin istirahat perempuan tersebut.



"Apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya Tanaka yang duduk sambil menyenderkan punggungnya ke dinding kabin.



Dia terbangun karena Honjo memberitahu tentang Nami yang terbangun dari tidurnya.



Nami terkejut dan hanya menganggukkan kepalanya.



Tanaka mendekati Nami dan menyentuh keningnya. Dia merasa demamnya sudah agak turun dari sebelumnya.



"Mereka semua ... " Ujar Nami yang melihat Vivi, Usopp, Zoro, Luffy dan Karu sedang tertidur.



"Mereka semua terus menerus bergantian merawat kamu tanpa henti, termasuk Sanji yang sedang berada di tempat pemantauan untuk mengawasi kapal saat ini." Jelas Tanaka.



Nami terdiam dan merasa tersentuh hatinya atas perlakuan teman-temannya itu.



"Aku sudah merepotkan kalian semua." Ujar Nami yang merasa bersalah.



"Tidak ada yang merasa direpotkan, kamu adalah keluarga kami, jadi tentu saja kami akan merawat kamu bila sakit." Ungkap Tanaka. "Sekarang lebih baik kamu beristirahat lagi dan kami pasti akan menemukan dokter untuk menyembuhkan mu."



Tanaka membaringkan lagi Nami di kasurnya, menyelimuti tubuhnya sampai ke leher dan mengganti kompres di keningnya.



"Terima kasih." Ujar Nami yang kemudian menutup matanya untuk kembali tidur.



Besoknya, kapal Going Merry kembali berlayar dan Tanaka masih menjadi navigator sementara sedangkan yang lainnya merawat Nami secara bergantian.



Cuaca terlihat sangat cerah dan tidak ada keanehan tapi udaranya terasa sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya.



Tidak lama kemudian, Sanji berteriak. "Pulaunya sudah kelihatan!"



Tanaka menghela nafas lega. Dia telah berpikir akan membawa Nami ke Bumi untuk menjalani perawatan medis kalau saja tidak bertemu pulau pada hari itu juga.




"Hei, Luffy! Asal kamu tau ya, kita ini tak sedang berpetualang! Kita berlabuh untuk mencari dokter! Setelah Nami sembuh, kita langsung berlayar lagi!" Ucap Sanji tapi diabaikan oleh Luffy. "Hei, hei, Luffy!"



"Salju itu menarik ya, putih, putih!" Ucap Luffy.



"Percuma, dia nggak denger." Ucap Sanji yang menyerah.



"Tu-Tu-Tunggu sebentar, apa ini akan baik-baik saja? Jika disana ada salju, jangan-jangan ada monster salju juga? Dan lagi, kita tak yakin ada manusia atau tidak disana!" Ucap Usopp yang terlihat ketakutan. "Gawat, penyakit kronis yang tak bisa berlabuh di pulau kambuh!"



Kapal Going Merry memasuki kanal yang terhubung dengan laut dan dengan itu juga mereka melihat pulau yang diselimuti salju dan juga ada gunung yang menjulang tinggi dengan bentuk seperti drum.



"Saljunya sebanyak ini? Aku seneng banget!" Ucap Luffy.



"Ini benar-benar hebat! Gunung apa itu?" Ucap Sanji.



"Hei Luffy, apa kau tak kedinginan memakai baju seperti itu?" Tanya Usopp yang menggigil kedinginan meskipun dia sudah memakai pakaian hangat.



"Suhunya minus 10 derajat! Beruang pun memasuki masa hibernasinya!" Ucap Vivi.



Luffy terdiam sesaat untuk memproses ucapan mereka dan keadaan sekitar.



"Dingin banget!" Ucap Luffy sambil memeluk dirinya sendiri.



"Lama banget!" Ucap Usopp dan Sanji garang.



Tanaka tertawa melihat komedi tersebut. Dia segera berjalan memasuki kabin istirahat pria, mengambil jaket dan sarung tangan untuk diberikan pada Luffy.



"Ini, pakailah!" Ujar Tanaka yang memberikan pakaian hangat dan sarung tangan hangat.



Luffy dengan cepat memakai pakaian musim dingin. "Sekarang terasa hangat."



"Itu air terjun lelehan salju. Kita mungkin bisa berlabuh di sekitar sini." Ucap Vivi sambil menunjuk ke tempat tersebut.



"Lalu, siapa yang mau pergi mencari dokter? Tidak, sepertinya cari orang biasa dulu." Ucap Zoro.



"Aku mau pergi!" Ucap Luffy sambil mengacungkan tangannya.



"Aku juga!" Ucap Sanji dan Tanaka.



Beberapa saat kemudian, teriakan peringatan terdengar oleh mereka.



"Cukup sampai disitu, bajak laut!"



Mereka melihat banyak penduduk yang menodongkan senjata ke arah mereka.



"Hei, aku menemukan orangnya!" Ucap Luffy.



"Tapi, sepertinya mereka tak ramah." Ucap Usopp.


__ADS_1


"Perhatian, bajak laut! Segera tinggalkan tempat ini! Sekarang juga!" Ucap seorang yang menjadi pemimpin para warga itu.



"Kami kesini untuk mencari dokter!" Ucap Luffy.



"Ada yang sakit di kapal kami!" Ucap Vivi.



"Kami takkan tertipu oleh tipu daya kalian, dasar bajak laut licik!"



"Ini adalah pulau kami! Kami tak mengizinkan bajak laut masuk!"



"Jadi segera angkat jangkar kalian dan pergilah! Kalau tidak, kulubangi kapal kalian!"



Para warga tetap mengusir Luffy dan lainnya meskipun mereka mengatakan yang sebenarnya.



"Mereka benar-benar membenci kita. Padahal baru bertemu." Ucap Sanji.



"Jangan banyak bicara!" Ucap salah satu penduduk yang menembak menggunakan pistol pada Sanji.


Untung saja Sanji bisa menghindarinya sebelum terkena kakinya.


"Mereka menembak!" Ucap Usopp.



"Berani juga kau melakukannya, ya? Kurang ajar!" Ucap Sanji lalu akan menyerang orang yang tadi menembaknya.



"Hentikan, Sanji-san!" Ucap Vivi yang berusaha menghentikan Sanji.



Orang itu lalu menembak kami lagi dan itu mengarah ke Vivi yang membelakangi para penduduk tersebut.



"Vivi Awas!" Teriak Usopp.



Sebelum peluru itu mengenai Vivi ataupun Sanji, Tanaka segera menghentikan peluru itu dengan kekuatan forcenya dan menjatuhkan peluru itu ke lantai kapal sehingga peluru itu tidak melukai mereka.


"Bukankah kalian sedikit berlebihan?" Ucap Tanaka sambil menatap orang yang menembak tadi dengan tatapan tajam.


Orang yang menembak itu merasa takut dan membuatnya bersembunyi di belakang warga lainnya.



"Kalian...!" Ucap Luffy yang marah lalu akan menyerang orang-orang itu tapi dihentikan oleh Vivi.



"Luffy diam lah sebentar, jangan membuat masalah tambah kacau lagi!" Tegas Tanaka.



Luffy langsung terdiam dan Tanaka menatap ke arah para penduduk desa dengan tatapan intimidasi.



"Dan kalian semua jangan ada yang melepaskan tembakan lagi ke arah kami atau aku tidak akan segan-segan untuk melakukan pembelaan diri." Ujar Tanaka sambil mengeluarkan Sengo dan Honjo dari sarungnya dengan menggunakan kekuatan force.



Dua pedang itu melayang di kanan dan kiri Tanaka dengan ujung bilah mengarah ke para warga yang terkejut dan merasa takut pada Tanaka.



"Tunggu dulu! Perkelahian takkan menyelesaikan masalah!" Ucap Vivi lalu ia berlutut. "Kalau begitu, kami takkan berlabuh! Tapi bisakah kalian memanggilkan dokter? Teman kami sedang menderita sakit demam parah. Tolong bantulah dia! Kumohon!"


Vivi lalu menundukkan kepalanya dan bersujud.


"Vivi!" Ucap Luffy.



"Kamu tak pantas menjadi kapten, Luffy. Tak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan! Jika kamu sampai berkelahi, apa yang akan terjadi pada Nami?" Ucap Vivi.



"Ya, maaf, aku yang salah. Tolong panggilkan dokter! Kumohon selamatkanlah teman kami!" Ucap Luffy lalu ikut bersujud.



Mereka terdiam sesaat sebelum akhirnya pemimpin para warga itu angkat bicara.



"Akan kuantar kalian ke desa. Ikuti aku." Ucap Dalton.



"Tuh, kan? Mereka bisa mengerti." Ucap Vivi.



"Ya, kamu hebat sekali." Ucap Luffy.



Tanaka menghela nafas lega dan memasukkan lagi kedua pedangnya ke sarungnya masing-masing.



"Tanaka, kamu sangat hebat!" Puji Usopp. "Bagaimana caramu melakukan hal seperti itu!"



Tanaka tidak menjawab apapun dan berjalan menuju ke kabin untuk membawa Nami ke desa yang ada di pulau itu.



Mereka semua pun mengikuti pemimpin desa dengan pengawalan ketat dari para penduduk.



Sementara itu Zoro dan Karu tetap berada di kapal karena bertugas menjaga kapal.



Pemimpin desa itu memperkenalkan dirinya pada Luffy dan lainnya. Lalu dia memberitahu hal yang membuat Luffy dan lainnya terkejut, kecuali Tanaka dan Nami yang sedang tertidur.



"Asal kalian tau, satu-satunya dokter yang kami miliki adalah seorang penyihir." Ucap Dalton.



"Benar-benar negeri yang tak bisa dimengerti. Dan sebenarnya negeri apa ini? Tanya Sanji.



"Negeri ini masih belum memiliki nama." Ucap Dalton.



"Negeri tanpa nama? Kerajaan seperti itu ada, ya?" Tanya Vivi.



"Ah, ada beruang!" Ucap Usopp yang berteriak. "Semuanya, cepat pura-pura mati!"



Usopp pun berpura-pura mati.



"Itu Beruang Pendaki. Dia tidak berbahaya. Tapi jangan sampai lupa memberikan salam." Ucap Dalton.



Mereka pun memberikan salam pada beruang itu sambil melanjutkan langkah, meninggalkan Usopp yang masih berpura-pura mati.



Setelah berjalan sedikit jauh dari tempat berlabuhnya kapal, akhirnya mereka sampai di desa.



"Ini adalah desa kami, Big Horn." Ucap pemimpin itu.



"Ada banyak hewan aneh disini, ya." Ucap Luffy.



"Negeri yang benar-benar luar biasa." Ucap Usopp.



"Nami, kita sudah sampai di desa mereka. Kita berada di sebuah desa!" Ucap Sanji.



Dalton kemudian membubarkan para warga desa dan meminta mereka untuk kembali bekerja seperti biasanya.



Akan tetapi warga desa masih curiga dengan Luffy dan lainnya. Dalton memberikan pernyataan kalau bajak laut topi jerami dapat dipercaya dan tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya dan warga desa Big Horn.


__ADS_1


Setelah diyakinkan oleh Dalton, para warga desa langsung membubarkan diri mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat ditinggalkan.


__ADS_2