
"Bukankah ini membuat kita jadi semakin mencolok?" Gumam Tanaka yang melihat kain panjang yang dipakai oleh Usopp untuk penyamaran sedang berjalan di tengah kota Nanohara.
Setelah menemukan tempat yang sepi, mereka pun menyingkirkan kain tersebut.
"Yosh, sekarang boleh keluar!" Ucap Usopp.
"Kita sudah berjalan cukup jauh." Ucap Zoro.
"Sepertinya tak ada yang mengetahuinya." Ucap Usopp.
"Kalau begitu, keajaiban, dong." Ucap Nami.
Tanaka yang mendengar itu hanya bisa tertawa pelan karena sepanjang jalan menuju ke tempat mereka saat ini, para penduduk kota menatap dengan pandangan aneh dan mereka saling berbisik untuk membicarakannya.
Pria itu melihat Vivi yang sedang melamun sambil melihat kota Nanohara yang begitu damai, tidak ada kekacauan yang terjadi sama sekali seperti yang diberitakan dalam surat kabar.
"Vivi?" Panggil Tanaka sambil menepuk bahu Vivi yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Ya, ya, ada apa?" Tanya Vivi.
"Kenapa kamu melamun?" Ucapku.
"Maaf, aku hanya merasa sedikit lega saja. Setidaknya, dari apa yang kulihat di kota ini, sepertinya semuanya baik-baik saja. Mungkin aku tak bisa merasa lega begitu saja, tapi kurasa aku akan tepat waktu." Jelas Vivi.
"Benar sekali, sepertinya kotanya damai." Ucap Nami.
"Hei, Vivi. Kita sudah di Alabasta, jadi apa rencanamu untuk menghentikan pasukan pemberontak? Apa yang harus kami lakukan? Jika menurutmu kamu datang tepat waktu, sebaiknya kamu segera bertindak." Pinta Zoro.
"I-Itu memang benar, tapi ... perjanjiannya kan hanya mengantarku sampai Alabasta." Ucap Vivi dengan sedikit ragu.
Dia ingin meminta bantuan pada kru bajak laut topi jerami tapi merasa sungkan dan mengingat perjanjian yang telah mereka lakukan hanya sebatas mengantar dirinya menuju ke Alabasta.
Nami pun segera memukul kepala Vivi.
"Dasar! Masih saja bilang begitu!" Ucap Nami yang kesal. "Kita sudah bersama-sama dalam waktu yang lama, mana mungkin kami meninggalkanmu!"
Para kru bajak laut topi jerami menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Nami.
"Ditambah lagi, aku lagi tertarik dengan Shichibukai!" Ucap Zoro.
(Note: Panglima lautan akan disebut dengan nama aslinya yakni Shichibukai untuk seterusnya.)
"Nggak perlu kamu katakan!" Ucap Nami pada Zoro lalu beralih pada Vivi. "Yang penting, jangan berpikir begitu lagi!"
"Kalian semua ... ." Ucap Vivi yang tidak bisa menahan rasa harunya.
"Dan lagi, jika negeri ini sampai dihancurkan, kami takkan bisa mendapatkan hadiah kami. Paham?" Ucap Nami dengan wajah menyeramkan.
"Jadi itu tujuan utamanya?' Pikir Tanaka yang sweatdrop.
Vivi hanya menganggukkan kepalanya dengan sedikit ketakutan melihat Nami seperti itu.
"Kalau mengerti, baguslah!" Ucap Nami.
"Pergilah ke neraka saja." Ucap Zoro.
"Zoro! Kamu jangan lupakan hutangmu padaku, ya!" Ucap Nami.
"Hutang? Bukankah sudah lunas saat aku menolong Vivi saat diserang oleh si upil sialan itu?" Tanya Zoro yang terkejut.
"Ara, aku tidak bilang seperti itu, aku hanya mengatakan kamu memiliki hutang padaku dan memintamu untuk menyelamatkan Vivi." Jawab Nami dengan tersenyum mengerikan. "Meski jadi hantu, aku akan tetap mengejar uangku!"
"Kamu...!" Ucap Zoro yang kesal tapi tidak bisa berkata-kata.
"Pastikan mengembalikan hutang 400.000 berry, ya!" Tegas Nami.
Tanaka hanya menepuk-nepuk pundak Zoro untuk tidak berdebat lagi dengan Nami soal uang ataupun harta berharga karena itu percuma.
"Semoga kamu mengambil pelajaran untuk tidak lagi berbisnis dengannya." Ujar Tanaka.
"Diam kamu!" Teriak Zoro yang marah.
Vivi pun membungkukkan tubuhnya sehingga membentuk sudut siku-siku. Dia sangat berterima kasih pada kru bajak laut topi jerami karena masih mau membantunya.
"Kamu tidak perlu merendahkan tubuhmu seperti itu." Ucap Tanaka sambil tersenyum. "Kami melakukannya karena kami ingin melakukannya tanpa ada paksaan, kecuali ya Nami."
Nami tidak terima dengan perkataan Tanaka sehingga dia ingin menghajar pria itu yang berhasil menghindar.
Setelah itu, mereka semua membahas rencana selanjutnya. Vivi menjelaskan rencana untuk pergi ke sebuah tempat bernama Oasis.
"Tempat itu adalah markasnya pemberontak, aku ingin bertemu dengan mereka terlebih dahulu untuk meminta mereka membatalkan pemberontakan." Jelas Vivi.
"Apa itu akan didengarkan oleh mereka?" Tanya Usopp. "Kamu itu seorang anggota keluarga kerajaan yang merupakan musuh mereka."
"Pasti, aku kenal dekat dengan pemimpin mereka jadi aku akan bertemu langsung dengan dia." Ungkap Vivi.
Setelah itu Vivi menjelaskan rencana selanjutnya untuk langsung pergi ke ibukota kerajaan, Alubarna. Dia akan menemui ayahnya untuk menjelaskan kalau semua kekacauan yang terjadi di Alabasta dibuat oleh Crocodile.
Setelah mendengar rencana para kru bajak laut topi jerami menganggukkan kepalanya.
"Tapi sebelum itu, kita perlu membeli stok perbekalan dan juga pakaian yang tidak cukup mencolok." Ujar Vivi.
Tugas itupun hanya bisa dilakukan oleh Sanji, Tanaka dan Chopper karena merekalah yang belum diketahui wajahnya oleh agen Baroque Works.
Vivi segera menulis daftar barang yang mereka butuhkan. Nami juga meminta untuk dibelikan parfum yang langsung disetujui oleh Sanji.
Sedangkan saat Zoro dan Usopp yang ingin dibelikan sesuatu, Sanji langsung menolaknya.
"Biarkan Sanji dan Chopper yang membeli barangnya, aku akan berjalan-jalan sebentar sambil mengumpulkan informasi." Ujar Tanaka yang langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
Meskipun Nami dan Vivi memanggilnya, Tanaka hanya mengabaikannya, dia terus berjalan.
Tanaka berjalan dengan santainya dan dia bertanya pada salah satu orang tentang restoran yang cukup terkenal di kota tersebut.
Orang itu pun langsung memberikan arah tempat restoran tersebut. Tanaka mengikuti arahan dari orang tersebut dan dengan waktu singkat dia berhasil menemukan restoran tersebut.
"Fuhh~ seperti aku tidak tertular penyakit Zoro, buta arah." Gumam Tanaka dengan perasaan lega.
Dia memasuki restoran tersebut dan melihat ada sedikit keramaian di satu tempat. Tanpa pikir panjang, dia segera berjalan mendekati keramaian tersebut, terus berjalan untuk berada posisi paling depan keramaian tersebut.
Saat berada di posisi paling depan, dia melihat seorang pria yang tidak memakai baju, memiliki tato swastika dengan wajah berkumis panjang seperti bulan sabit di punggungnya, pada lengan kirinya ada tato bertuliskan ASCE dengan huruf S nya di silang, memakai topi fedora dan bercelana pendek.
Tanaka tersenyum melihat orang yang sedang tertidur dengan posisi wajah di atas piring dan tangan kanannya masih memegang sendok. Tepat di samping kanan dan kirinya ada tumpukan piring bekas makanan yang dia makan.
Pria itu dengan santainya duduk di samping kanan orang tersebut dan memesan minuman non alkohol.
"Pak, aku pesan 1 minuman paling enak di tempat ini tapi bukan alkohol dan 10 porsi daging." Ucap Tanaka.
__ADS_1
"Tuan, jangan dekat-dekat dengannya, dia kemungkinan mati karena keracunan stroberi padang pasir." Ujar pemilik restoran.
"Stroberi padang pasir? Apa itu?" Tanya Tanaka.
Pemilik restoran itu menjelaskan tentang stroberi padang pasir tersebut yang ternyata adalah sebuah hewan laba-laba yang bentuk tubuhnya mirip seperti stroberi sehingga bila tidak jeli atau tidak tahu, akan membuat orang yang memakannya keracunan tanpa ada penawar racun dari binatang itu.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya tapi dia tidak peduli dan meminta pemilik restoran itu untuk menyiapkan pesanannya.
"Aku sudah memperingatkan kamu, jangan salahkan aku bila kamu mati karena terkena racunnya juga." Ujar pemilik restoran itu segera menyuruh pegawainya untuk menyiapkan pesanan Tanaka.
"Pak, dia tidak mati, dia hanya sedang tidur saja." Ungkap Tanaka.
"Tidur?" Ujar pemilik restoran yang bingung, begitu juga dengan orang-orang di restoran.
Beberapa saat kemudian secara tiba-tiba, orang yang tidur tersebut bangun dan mengambil nafas sebanyak mungkin.
Hal itu tentu saja membuat semua orang yang ada dalam restoran itu, kecuali Tanaka terkejut.
"Fuahhhh~ sepertinya aku tertidur." Ujar orang itu.
"Kamu benar-benar tidur?" Teriak semua orang kecuali Tanaka.
"Apaan sih? Kenapa kalian ribut sekali?" Tanya orang itu yang melanjutkannya makanannya.
"Itu karena kami sedang mengkhawatirkan kamu!" Teriak semua orang kecuali Tanaka.
Pria itu hanya tertawa pelan dan pesanannya juga sudah datang sehingga dia meminum minuman yang berasa manis dan ada rasa buahnya tapi Tanaka tidak tahu buah apa itu.
Orang itu menatap sejenak pada Tanaka sebelum dia melanjutkan makannya.
"Kira-kira, apa yang dilakukan oleh seorang Hiken no Ace di tempat seperti ini. Tidak mungkin kan karena kamu tidak memiliki pekerjaan." Tanya Tanaka lalu melirik Ace yang menghentikan makannya dan menoleh menatap Tanaka lagi.
"Aku tidak menyangka ada yang mengenaliku di kota ini. Apa kamu Pemburu Bajak Laut?" Tanya Ace.
"Sayangnya bukan, aku adalah bajak laut yang sedang berjalan-jalan sambil mencari kaptenku." Jawab Tanaka.
"Jadi kamu ingin mendapatkan informasi disini?" Tanya Ace.
"Tidak, aku merasa kaptenku akan datang kesini karena dia adalah orang yang suka sekali makan." Jawab Tanaka yang meminum kembali minuman manis rasa buah tersebut.
"Kaptenmu itu mirip seseorang yang kukenal." Ucap Ace lalu tiba-tiba saja dia jatuh tertidur, semua orang marah.
Beberapa saat kemudian Ace kembali bangun.
"Waduh. Aku ketiduran." Ucap Ace lalu melanjutkan makannya.
"Lain kali jangan tidur seperti itu saat sedang makan atau mengobrol dengan orang lain, kamu bisa membuat orang kesal." Ujar Tanaka yang kembali meminum minumannya.
"Tapi aku lihat kamu tidak merasa kesal?" Tanya Ace.
"Itu karena kaptenku juga sama anehnya seperti kamu." Jawab Tanaka.
Ace hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menyantap makanannya sampai habis.
"Kenyang banget! Oh iya, paman." Panggil Ace setelah menghabiskan makanannya.
"Ada apa?" Tanya pemilik restoran.
Ace menanyakan tentang bajak laut yang memakai topi jerami sambil menunjukkan poster buronan bajak laut tersebut pada pemilik restoran tersebut.
"Berani juga kamu makan di tempat umum seperti ini, Komandan Divisi Kedua Bajak Laut Shirohige, Portgas D. Ace." Ucap orang yang menginterupsi itu.
Tanaka tidak perlu berbalik untuk melihat orang yang menginterupsi itu karena dia sudah tahu dengan hanya mendengarkan suaranya.
"Shi-Shirohige?! Bajak Laut Shirohige?!" Ucap pemilik restoran yang terkejut.
"Anak muda bodoh ini salah satu anggota Bajak Laut Shirohige?!"
"Kalau dipikir-pikir, lambang di punggungnya itu sepertinya tidak asing lagi!"
"Itu adalah lambang Bajak Laut Shirohige! Apa yang dia lakukan disini?"
Orang-orang yang ada di restoran itu menjadi ribut membicarakan tentang Ace dan mereka juga langsung menjaga jarak.
"Ada urusan apa bajak laut besar sepertimu datang ke negeri ini?" Tanya orang yang menginterupsi itu.
"Aku sedang mencari adikku!" Ucap Ace sambil berbalik menghadap orang itu.
Orang itu berjalan mendekati Ace dan pada saat itu dia melihat Tanaka.
"Kamu ternyata juga disini, pria brewok!?" Panggil Smoker.
"Yo, kapten Smoker." Sapa Tanaka dengan santai sambil meminum pesanannya. "Apa kamu juga ingin makan dan minum di tempat ini? Aku sarankan pesan minuman yang sama dengan aku pesan, rasanya sangat enak."
Ace menatap Tanaka dan Smoker lalu bertanya, "Kamu mengenalnya?" Pada Tanaka.
"Kami bertemu di Loguetown." Jawab Tanaka.
"Jadi, apa yang kamu inginkan dariku?" Ucap Ace pada Smoker.
"Menyerah lah baik-baik, itu juga berlaku untukmu, pria brewok." Pinta Smoker dengan tegas.
Tentu saja permintaan Smoker itu di tolak oleh dua orang bajak laut tersebut.
"Yah, itu wajar." Ucap Smoker dengan tenang. "Kalau begitu bisa kamu katakan dimana kapten mu sekarang?" Tanya Smoker.
"Sayang sekali, aku juga sedang mencarinya." Ucap Tanaka dengan santainya.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Smoker merasa tidak ada perlu dibicarakan lagi sehingga dia langsung menggunakan kemampuan buah iblis nya untuk menangkap Ace dan Tanaka.
Dia mengubah tangan kanannya menjadi asap untuk menyerang dia bajak laut itu. Akan tetapi Luffy tiba-tiba saja muncul dan menabrak Smoker dan Ace hingga dinding restoran rusak.
"Tempat makan, akhirnya ketemu juga! Aku jadi bisa makan, lapar banget!" Ucap Luffy dengan tidak sabaran.
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, Luffy." Ucap Tanaka yang segera memberikan 10 porsi daging yang telah di pesannya pada Luffy.
"Oh, Tanaka kamu disini juga, terima kasih!" Ucap Luffy yang kemudian ia makan 10 porsi daging itu dengan lahap.
Selagi Luffy menghabiskan semua makanannya, pemilik restoran mengingatkan Luffy untuk segera pergi demi keselamatannya.
"Muanapa?" Tanya Luffy sambil makan daging sehingga mulutnya penuh.
"Orang yang barusan kamu hempaskan itu, apa kamu tau siapa mereka?!" Tanya pemilik restoran.
"Menghempaskan? Siapa yang menghempaskan, Tanaka?" Tanya Luffy yang sudah menelan daging tersebut dan bersiap untuk memakan daging selanjutnya.
"Kamu!" Ucap pemilik restoran yang kesal lalu menunjukkan lubang di dinding restoran akibat perbuatan Luffy.
__ADS_1
"Lubang apa itu?" Tanya Luffy yang bingung tapi masih menyantap daging di mulutnya.
"Maafkan perbuatan kaptenku." Ucap Tanaka sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Lalu orang-orang yang ada di restoran langsung menjaga jarak lebih jauh dari sebelumnya meskipun masih berada di dalam restoran karena melihat kedatangan Ace dan Smoker dari lubang yang dibuat Luffy.
"Mugiwara!" Panggil Smoker yang kemudian berdiri di hadapan Luffy yang masih saja makan. "Aku mencari mu, Mugiwara! Kamu memang datang ke Alabasta rupanya!"
Luffy tetap saja makan tanpa menjawab ucapan Smoker. Dia melihat ke arah Tanaka, meminta pria itu untuk memberitahu padanya tentang Smoker.
"Berhentilah makan! Dan lihat aku!" Ucap Smoker marah.
"Dia kapten Marine Smoker yang kamu lawan di kota Loguetown." Ujar Tanaka.
Luffy terlihat sedang mengingat siapa Smoker. Ia lalu memuncratkan makanannya ke wajah Smoker.
"Ah! Kamu si asap itu! Kenapa kamu ada disini?" Tanya Luffy terkejut.
"Kurang ajar." Ucap Smoker.
"Tunggu dulu!" Ucap Luffy lalu memakan semua makanan sekaligus. "Terima kasih atas makanannya!"
Luffy segera melarikan diri dengan mulut yang penuh, begitu juga dengan Tanaka yang memberikan beberapa lembar uang sebagai pembayaran pesanan di atas meja.
"Tunggu!" Ucap Smoker yang mengejar dua bajak laut itu.
Tepat di depan Luffy dan Tanaka yang berlari, ada sersan mayor Marine Tashigi yang sedang berjalan dengan santainya sambil membawa barang di kedua tangannya.
"Tashigi!" Panggil Smoker.
"Ada apa, Kapten Smoker? Anda perlu handuk? Panas sekali ya, kerajaan ini." Ucap Tashigi.
"Tangkap dua orang itu, dia Mugiwara dan partnernya!"teriak Smoker.
Tashigi segera melempar handuknya dan bersiap menyerang dua bajak laut itu.
Luffy dengan cepat melompat ke atas bangunan sedangkan Tanaka masih berlari berhadapan dengan Tashigi.
"Maaf ... " Ujar Tanaka.
Dia mendorong wanita itu ke samping sehingga membentur dinding bangunan dan Tanaka dengan mudahnya melewatinya.
"Apa yang kamu lakukan, Tashigi!?" Teriak Smoker yang marah.
"Maafkan aku kapten!" Ujar Tashigi yang bangkit dan ikut mengejar bersama Smoker.
Aku dan Luffy terus saja berlari dari kejaran Smoker dan Tashigi. Pengejaran tersebut terbagi menjadi dua, Smoker mengejar Luffy di atas bangunan dan Tashigi yang entah dari mana dan kapan mengejar Tanaka bersama dengan pasukan Marine.
"Berhenti!" Teriak Tashigi.
"Siapa juga yang mau berhenti? Apa dia bodoh?" Pikir Tanaka.
"Hei, kenapa kamu tidak melawannya, dia pengguna pedang, aku ingin bertarung dengannya." Ujar Sengo.
"Tidak! Dia orang yang cukup penting bagi Zoro, aku tidak ingin menyakitinya." Ujar Tanaka.
"Cih, dasar merepotkan!" Ngeluh Sengo yang kesal.
Luffy yang berada di atas bangunan secara tiba-tiba terjatuh jatuh karena adanya celah antar bangunan. Tanaka segera berlari menuju ke tempat Luffy yang jatuh tersebut.
"Kapten jangan diam saja, cepat lari sebelum pria asap itu menangkap kita dengan asapnya yang aneh itu." Ujar Tanaka yang segera membantu Luffy bangkit dan berlari lagi.
"Kesini! Jangan biarkan mereka kabur!"
"Tunggu, Mugiwara dan partnernya!"
"Yo, Zoro!" Ucap Luffy saat melihat Zoro dan yang lain. "Oh, jadi kalian ada disana, ya?"
"Dasar bodoh, urus mereka dulu!" Teriak Zoro marah karena Luffy berlari menuju ke arahnya.
Zoro dan yang lainnya kemudian ikut melarikan diri.
"Semua anggota Mugiwara sudah ketemu, mereka disana!"
"Sedang apa kalian?! Ayo kembali!" Ucap Luffy sambil terus berlari.
"Hei, kamu itu!" Ucap mereka semua.
Tanaka hanya tertawa saja, dia merasa senang dalam kondisi seperti itu.
"Tunggu!"
"Jangan biarkan mereka kabur!"
"Kalian minggir lah!"
"Kapten!"
"Mugiwara milikku!" Tegas Smoker.
"Dia mendekat! Hati-hati dengan asapnya!" Teriak Luffy yang memperingatkan anggotanya.
Smoker lalu menggunakan kekuatan buah iblisnya. "Kamu takkan bisa kabur!" Ucap Smoker.
Tiba-tiba saja, ada api yang menahan serangan Smoker.
"Kamu rupanya?" Ucap Smoker yang kesal karena diganggu.
"Menyerah saja. Kamu memang asap, tapi aku ini api. Kalau kekuatanmu dan kekuatanku berbenturan, pertarungannya takkan ada habisnya." Jelas Ace sambil tersenyum.
Luffy terkejut melihat Ace sedangkan anggotanya, kecuali Tanaka merasa kebingungan dengan kehadiran Ace yang membantu mereka.
"Ace?!" Teriak Luffy.
"Kamu sama sekali tak berubah ya, Luffy." Ucap Ace.
"Ace?! Kamu Ace, kan? Kamu memakan buah iblis, ya?" Tanya Luffy.
"Ya! Ini buah iblis Mera Mera!" Jawab Ace. "Yang jelas, kalau begini kita tak bisa mengobrol! Akan kususul nanti, kalian pergilah duluan! Aku akan menghentikan mereka! Pergilah!"
"Ayo pergi!" Ucap Luffy lalu berlari yang diikuti oleh seluruh anggota bajak lautnya.
Nami dan Vivi bertanya pada Luffy tentang Ace yang membantu mereka melarikan diri dari kejaran Marine.
"Dia itu kakakku!" Jawab Luffy dengan santainya sambil tersenyum senang karena bisa bertemu dengan Ace yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Kakak?!" Ucap mereka terkejut semua kecuali Tanaka.