
Satu Minggu telah berlalu sejak Going Merry berlayar meninggalkan pulau tempat desa Cocoyashi, kampung halaman Nami berada.
Hari demi hari berlangsung dengan damai dan tenang. Para anggota bajak laut topi jerami terus menerus melakukan aktivitas sehari-hari.
Seperti Luffy yang bertingkah konyol dan membuat orang-orang menjadi marah.
Nami yang bersantai tapi juga melakukan tugasnya sebagai navigator sehingga mereka bisa terhindar atau bersiap saat terjebak badai.
Usopp yang melakukan perawatan kapal dan juga melakukan beberapa eksperimen untuk senjata barunya.
Zoro yang terus menerus tidur, bahkan saat badai pun dia masih bisanya tidur. Saat bangun dia akan minum minuman beralkohol atau melatih tubuhnya agar bertambah kuat.
Meskipun Tanaka sudah memperingatkan untuk tidak melakukan pelatihan yang berat karena lukanya bisa terbuka lagi, tapi Zoro mengacuhkannya.
Sanji juga melakukan kebiasaan yakni menggoda Nami, mengatur persediaan makanan, memasak untuk yang lainnya, menjadi budak Nami dan menjaga pohon jeruk milik Nami yang dibawanya dari rumahnya.
Sedangkan Tanaka juga melakukan aktivitas yakni melatih tubuhnya juga karena dia merasa hanya menggunakan kekuatan force itu tidak cukup untuk melindungi dirinya.
Dia harus memiliki keahlian bela diri sehingga dia meminta Zoro ataupun Sanji untuk berlatih dengannya.
"Kalian menaikkan harga lagi?!" Ucap Nami pada seekor burung pengantar koran. "Bukankah itu terlalu mahal mematok harga segitu?! Jika kalian menaikkan harga lagi aku tak akan membelinya dari kalian!"
Burung itu hanya diam dan kemudian terbang pergi.
"Apa masalahnya membeli surat kabar sedikit mahal?" Tanya Usopp yang sedang melakukan eksperimen untuk senjata barunya.
"Tapi kita membelinya setiap hari!" Ucap Nami.
"Sekarang kamu sudah tak perlu menyimpan uang untuk membeli desamu dari Arlong, kan? Atau kamu memang terlalu terobsesi dengan uang?" Tanya Usopp.
"Kamu ini bodoh, ya? Sekarang semuanya sudah berakhir jadi aku akan mengumpulkan uang untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi bajak laut miskin yang tidak modis!" Ungkap Nami.
Tanaka yang sedang melatih tubuhnya dengan melakukan push up menghela nafas mendengar ucapan Nami.
"Dasar cewek materialistis." Pikir Tanaka.
"Ya, ya, aku tahu, sekarang jangan menganggu konsentrasi aku! Saat ini aku sedang menciptakan senjata terbaruku." Ujar Usopp yang sedang memegang sebuah botol di tangan kiri dan sebuah benda bulat seperti kelereng di tangan kanan.
"Kalau ini sampai kena mata, tidak akan ada yang bisa bertaha-"
"Ayolah, hanya satu buah jeruk saja! Kau ini pelit sekali, Sanji!" Ucap Luffy yang menabrak Usopp yang sedang memasukkan cairan ke dalam benda bulat tersebut.
Otomatis tangan yang memegang botol itu tergerak dan menumpahkan cairan yang ada di dalamnya pada wajah Usopp.
"Waaaaaa~ mataku!" Teriak Usopp yang wajah mengeluarkan asap dan berlari keliling dengan rasa kesakitan di matanya.
"Tidak boleh!" Ucap Sanji dengan tegas. "Pohon jeruk ini milik Nami, aku akan menjaganya, meskipun harus dengan nyawa."
"Bukankah pengamanan cintaku ini sangat sempurna, Nami?" Tanya Sanji dengan mata lope-lope.
"Ya, terima kasih, Sanji." Ujar Nami sambil membaca koran dengan bersantai di kursi miring.
"Yah sudahlah, tak apa, lagipula aku sekarang sedang senang!" Ucap Luffy dengan cepatnya menyerah.
Sementara itu Zoro yang sedang bersantai, melihat Nami yang sangat pandai memanfaatkan orang untuk kepentingannya.
"Dunia sekarang ini memang sedang kacau, ya. Banyak terjadi perang, kudeta pada kerajaan..." Ucap Nami sambil membaca koran lalu sebuah kertas terjatuh dari koran.
"Selebaran?" Ucap Luffy yang melihat kertas itu, begitu juga dengan yang lainnya, kecuali Tanaka karena sudah tahu apa isi dari selebaran itu sehingga dia melanjutkan pelatihan tubuhnya.
"Apaaaaaaa!?" Teriak Luffy dan lainnya, kecuali Tanaka.
Kertas yang dilihat oleh mereka adalah kertas buronan Luffy dengan harga kepalanya 30 juta berry.
Mereka semua pun terkejut. Luffy lalu tertawa.
"Sekarang kita penjahat buronan!" Ucap Luffy dengan bangganya.
"Hidup atau mati, 30 juta berry?!" Ucap Usopp yang sudah dapat melihat meskipun matanya masih merah dan mengeluarkan air mata.
"Tertulis, 30 juta berry!" Ucap Luffy lalu tertawa.
"Lihatlah, aku pasti terkenal di dunia, aku jadi orang terkenal!" Ucap Usopp saat menyadari sesuatu pada selebaran buronan tersebut.
"Apa?! Mereka memanjang foto Hidung Panjang dan tak memanjang fotoku?! Ada dimana?! Aku tak melihat ada wajahmu di manapun!" Tanya Sanji sambil mencari-cari.
"Ini!" Ucap Usopp sambil menunjuk fotonya yang ada di pojok bawah.
"Hanya gambar kepala belakangmu, tak perlu dibanggakan." Ucap Sanji yang kesal.
"Jangan murung begitu! Kamu akan mendapatkan fotonya tanpa harus jadi kapten jika kamu bisa berguna!" Ucap Usopp dengan bangga dan sombong.
"Yang benar?!" Ucap Sanji yang senang.
__ADS_1
"Berjuanglah!" Ucap Usopp dengan tertawa bangga.
Tanaka menghela nafas, menatap Sanji yang sudah menjadi korban penipuan dari Usopp.
"Kalian semua, ayo kita pergi ke Grand Line!" Teriak Luffy.
Sanji dan Usopp pun bersorak dengan penuh semangat.
"Kalian ini, masih saja tak mengerti betapa buruknya situasi saat ini! Nyawa kita sedang dipertaruhkan disini! Tak ada waktu untuk lengah dan bersantai-santai di East Blue ini." Jelas Nami.
"Ayo, ayo, ayo pergi ke Grand Line!!!" Ucap Luffy, Usopp dan Sanji yang menari dan menyanyi.
"Kalian bisa dengarkan aku apa tidak!?" Ujar Nami yang marah.
Sementara itu Zoro yang sedang bersantai sambil berbaring hanya tersenyum seringai. Dia berpikir dengan harga buronan 30 juta berry itu akan membuat lawan yang akan mereka hadapi akan jauh lebih kuat.
Tidak lama kemudian, kapal Going berpapasan dengan sebuah kapal Marine.
"Apakah ada bajak laut yang menyerang kapal itu? Kapal itu terlihat rusak." Tanya Luffy yang melihat keadaan kapal itu.
"Buruk sekali, ada Marine yang membawa kapal rusak berlayar di lautan." Ucap Usopp.
Tanaka yang yang juga ikut melihat hanya diam saja. Pada saat kapal itu berpapasan, dia merasa melihat wajah yang sangat familiar dari kapal Marine itu.
Kapal Marine yang telah dilewati oleh Going Merry langsung berbalik dan mengejar kapal bajak laut topi jerami dengan sangat cepat.
"Ini bukan kapal rusak! Apa mata kalian sudah buta?! Apa kalian sudah lupa betapa mengerikannya Tinju Besi Fullbody?!" Teriak Fullbody yang mendengarkan obrolan Luffy dan Usopp.
"Oh, kamu Paman Marine yang waktu itu! Apa kapal Paman diserang oleh monster laut atau bajak laut? Apa Paman ingin kami tolong?" Tanya Luffy.
"Jangan bercanda! Pertemuanku denganmu untuk mengakhiri keberuntungan mu! Monkey D. Luffy! Kamu ditahan!" Ucap Fullbody sambil menunjukkan poster buronan Luffy.
"Ah, fotoku bagus, kan?" Tanya Luffy dengan polosnya.
"Dan yang dibelakang itu kepalaku!" Ucap Usopp dengan bangga.
Tanaka tertawa mendengar obrolan komedi tersebut.
"Tertulis, hidup atau mati. Bidik kapal mereka!" Ucap Fullbody yang kesal.
"Mengganggu sekali. Ada apa?" Tanya Nami.
"Mereka membidik kita! Ini buruk!" Ucap Usopp panik.
"Yang seperti itu serahkan saja padaku! Aku akan memantulkannya!" Ucap Luffy dengan penuh semangat.
"Luffy, biarkan aku yang mengurusnya." Ucap Zoro.
"Benar, benar! Kamu mundurlah kesini!" Ucap Usopp sambil menarik Luffy.
"Kenapa?" Tanya Luffy.
"Jika kamu sampai membuat masalah, bisa tamat kita!" Ucap Usopp.
Prajurit Marine melepaskan tembakan meriam ke kapal Going Merry, tapi Zoro dengan mudah memotong peluru meriam menjadi dua agar tidak mengenai kapal bajak laut topi jerami.
"Hebat!" Ucap Luffy.
"Itu tidak mungkin!" Ucap Fullbody.
"Jangan mengganggu orang yang sedang menikmati tidurnya." Ucap Zoro.
"Amunisi kita masih banyak, cepat tembak!" Ucap Fullbody tapi meriamnya tidak bisa menembakkan peluru.
"Itu gawat, kan?" Ucap Luffy.
"Bukankah itu gawat?" Ucap Usopp.
Lalu meriam itu pun meledak dengan sendirinya.
"Lihatlah, ada retakan di meriam itu." Ucap Luffy.
"Ya, itu benar-benar gawat." Ucap Usopp.
"Bocah kurang ajar! Jangan mempermainkan kekuatan Mantan Letnan Marine! Kalau begitu aku akan menghadapimu dengan tinjuku! Semuanya, ikuti aku!" Ucap Fullbody lalu melompat naik keatas kapal Going Merry bersama anak buahnya.
"Kepalamu akan jadi milikku!"
Fullbody memukul wajah Luffy tapi manusia karet itu memanjangkan kepalanya kebelakang dan kemudian dikembalikan seperti semula sehingga kepalanya mengenai kepala Fullbody.
Sedangkan Sanji menendang anak buah Fullbody kembali ke kapal Marine.
"Kalian benar-benar memiliki nyali membuat masalah disaat aku memasak. Apa kalian meremehkan aku?" Tanya Sanji dengan tatapan mata intimidasi.
__ADS_1
Fullbody terkejut dengan kehadiran Sanji. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?!" Tanya Fullbody yang ketakutan.
Anak buah Fullbody langsung melompat dari kapal mereka sendiri ke laut untuk berenang melarikan diri. Sedangkan Fullbody juga langsung melakukan hal sama, melompat ke kapalnya dan kemudian melompat ke laut pergi bersama anak buahnya.
"Apa? Sudah selesai, ya?" Tanya Luffy.
"Dia hanya bermulut besar!" Ucap Usopp yang mulai sombong lagi.
"Dia tetap saja bodoh seperti biasanya." Ucap Sanji.
"Ayolah kalian, tenanglah sedikit! Dasar, aku tak bisa bersantai dan membaca surat kabar!" Ucap Nami.
"Tuan putri, Nami, aku telah selesai menyiapkan makanan untukmu!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.
"Oh, aku lapar! Bawakan aku makanannya! Makan! Makan!" Ucap Luffy yang senang.
Setelah selesai makan, kami semua pun berkumpul di atas kabin serbaguna.
"Kita akhirnya berada di dekat Grand Line. Sepertinya jalan satu-satunya hanya dengan melewati Reverse Mountain ini." Ucap Nami sambil menunjuk letak Reverse Mountain yang ada di peta.
"Merepotkan. Tak bisakah kita langsung lurus saja?" Tanya Zoro.
"Percuma saja. Pria tua itu mengatakan padaku, tidak ada yang berani melewati area itu." Ucap Sanji.
"Kenapa?!" Tanya Usopp.
"Karena itu berbahaya." Ucap Sanji.
"Memangnya ada apa!" Ucap Usopp.
"Aku tak tau itu!" Ucap Sanji kesal.
"Alasannya adalah..." Ucap Nami.
"Monster laut, tempat yang memisahkan lautan grand Line dengan empat lautan merupakan tempat habitatnya monster laut berada." Pikir Tanaka.
"Jalur yang paling aman memang menggunakan jalur reverse mountain, tapi bila saja kita punya batu laut seperti kapal Marine, itu akan lebih mudah untuk memasuki area itu." Pikir Tanaka.
"Yosh! aku mengerti, ayo kita berlayar lurus saja!" Pinta Luffy dengan polosnya.
"Apa kamu mendengarkan ku?" Tanya Nami kesal.
"Tapi sepertinya menarik! Ditambah lagi, aku merasa lebih baik langsung lurus saja!" Ucap Luffy dengan santainya.
"Berbicara denganmu bisa membuatku gila." Ucap Nami yang frustasi.
Tanaka juga menganggukkan kepalanya, setuju dengan Nami.
"Oh ya, sebelum itu ayo kita berlabuh di pulau dan mencari daging! Daging! Daging!" Ucap Luffy.
Nami lalu menunjuk suatu pulau yang ada di peta dan pulau itu memang dekat dengan reverse mountain.
"Ada kota terkenal di pulau ini, namanya Loguetown." Ucap Nami.
"Loguetown? Apakah tempat itu terkenal dengan dagingnya?" Tanya Luffy yang hanya memikirkan daging.
"Tempat itu dikenal juga sebagai kota awal mula. Kurasa aku pernah mendengarnya." Jawab Zoro.
"Itu adalah kota dimana Raja Bajak Laut Gold Roger dilahirkan dan dieksekusi." Ungkap Nami.
"Kota tempat Raja Bajak Laut mati." Ucap Luffy dengan penuh semangat.
"Ingin pergi kesana?" Tanya Nami.
"Ya, aku ingin melihatnya! Aku ingin melihat kota asal orang yang telah mendapatkan One Piece. Tempat dia terlahir dan mati!" Ujar Luffy dengan semangat.
Tanaka berpikir untuk kembali ke dunianya saat berlabuh di kota tersebut. Dia merasa khawatir dengan waktu yang berjalan di dunianya.
"Aku juga harus mendapatkan uang untuk bayar kos." Pikir Tanaka yang teringat akan uang kosnya.
Dia sudah beberapa hari tidak ngojol karena keasikan berpetualang di dunia one piece sehingga tidak ada tambahan akan uang yang dimilikinya saat ini.
"Apa koin emas bisa aku jual di sana?" Pikir Tanaka.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Keningmu sampai berkerut seperti itu." Tanya Nami sambil menunjuk keningku.
Aku memegang keningku sendiri lalu kembali berwajah datar seperti biasa.
"Hmmm, Nami apa kamu memiliki harta Karun yang terbuat dari emas atau perak?" Tanya Tanaka.
Nami menggelengkan kepalanya, "Aku sudah meninggalkan semua harta karun di desa Cocoyashi, kenapa? Apa kamu membutuhkan uang? Aku bisa meminjamnya, tapi bunganya akan tiga kali lipat"
Mendengar itu membuat Tanaka harus berpikir ulang untuk bertransaksi sesuatu yang berhubungan dengan uang atau benda berharga sama Nami
__ADS_1