
Sebenarnya alasan Tanaka pergi ke kabin istirahat agar dia bisa kembali ke Bumi. Dia sudah lama meninggalkan Bumi yang membuatnya merindukan planet itu.
"Lebih baik aku mandi dulu disini dan kemudian berganti pakaian di wonder room." Pikir Tanaka.
Tanpa basa-basi, Tanaka segera menuju kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya, meletakkan dua pedangnya di gantungan yang ada dalam kamar mandi bersama dengan pakaiannya.
Dia selalu menutupi dua pedang itu dengan pakaiannya saat mandi karena bagaimanapun juga dua pedang itu memiliki jiwa sehingga memiliki empat indera, yakni penglihatan, peraba, pendengaran dan perasa.
Tidak ada indera perasa dan mereka juga tidak bisa bergerak sendiri.
Tanaka membasahi seluruh tubuhnya yang sedikit berotot akibat latihan yang dia lakukan setiap ada waktu dengan air hangat yang keluar dari kran shower.
Proses pembersihan tersebut hanya berlangsung lima menit dan dia langsung pergi ke wonder room pada saat itu juga dengan kondisi telanjang.
Tentu saja dua Honjo dan Sengo juga dibawanya ke tempat tersebut, tapi masih dalam keadaan dibaluti dengan pakaian kotornya.
Tanaka berani bertelanjang di wonder room karena hanya dia yang bisa masuk ke tempat itu, meskipun orang lain juga bisa masuk tapi atas ijinnya sebagai pemilik tempat itu saat ini.
"Pakai pakaian apa ya, kali ini?" Gumam Tanaka sambil memilih pakaian yang akan dia gunakan dalam lemari pakaian.
"Aku pilih ini saja." Gumam Tanaka.
Dia memilih sebuah kaos abu-abu dengan sablon tulisan I can do it! terpampang jelas di bagian depan sedangkan bagian belakang polos.
Celana kargo pendek selutut hitam dan sebuah jaket hoodie untuk membaluti kaosnya itu.
Setelah berpakaian, dia mengeluarkan Honjo dan Sengo dari balutan pakaian kotornya.
"Kalian akan aku tinggal disini." Ujar Tanaka. "Aku tidak bisa membawa kalian ke tempat yang akan aku datangi karena bisa-bisa aku ditangkap polisi karena membawa kalian berdua."
"Tempat apa ini, master?" Tanya Honjo.
"Hei, dimana ini? Aku merasa aneh dengan tempat ini!" Ujar Sengo.
Mereka berdua baru pertama kalinya dibawa oleh Tanaka ke wonder room sehingga mereka terkejut saat melihat ruangan tersebut.
"Ini wonder room, sebuah tempat khusus bagi aku sebagai penjelajah alam semesta." Ungkap Tanaka. "Di tempat inilah aku bisa pergi ke berbagai alam semesta."
Setelah mengatakan itu, dia berpamitan pada Sengo dan Honjo untuk kembali ke kota asalnya di Bumi.
"Bumi, Indonesia, kota Yogyakarta, tempat yang sepi!" Ujar Tanaka yang menyebutkan lokasi secara spesifik.
Dia tidak bisa kembali lagi ke kosnya karena tidak lagi tinggal disana.
Setelah menyebutkan lokasi secara spesifik, Tanaka langsung berpindah tempat hanya dalam satu kedipan mata.
"Dimana ini?" Tanya Tanaka saat melihat tempat dia muncul setelah melakukan perpindahan dalam satu kedipan mata.
Dia berada di tempat yang sepi, sunyi, gelap karena sudah malam dan tidak ada bangunan yang bisa ditinggali oleh manusia hidup.
"Tempat sepi sih tempat sepi, tapi gak di kuburan juga!" Gumam Tanaka.
Dia segera berjalan dengan cepat tapi juga hati-hati sambil diterangi cahaya senter dari ponsel pintarnya yang dia telah hidupkan.
"Jangan sampai ada yang melihat aku disini." Ujar Tanaka. "Bila ada yang melihat, aku akan dicurigai sebagai maling mayat atau melakukan pesugihan di kuburan."
Setelah keluar dengan aman tanpa diketahui oleh orang-orang, Tanaka segera membuka aplikasi peta untuk melihat lokasinya saat itu juga.
"Tempat ini jauh dari kota!" Ujar Tanaka saat melihat dirinya di salah satu desa di panggang, gunung kidul.
Dia langsung kembali lagi ke wonder room untuk berpindah di tempat yang tidak terlalu jauh dari kota.
Akan tetapi pada saat dia akan kembali ke kota Yogyakarta, dia kepikiran sesuatu.
"Kenapa aku harus ke kota asalku? Aku bisa pergi ke kota lain di luar negeri." Pikir Tanaka.
Tanpa pikir panjang, Tanaka segera pergi menuju kota yang berada luar negeri, kota yang selalu ingin dia datangi saat masih remaja.
"Gang kecil di Akihabara, Tokyo, jepang." Ujar Tanaka yang dalam satu kedipan mata langsung berada di sebuah gang kecil yang diapit dua bangunan tinggi.
Tanaka melihat langit juga sudah malam seperti kota Yogyakarta saat dia datang ke kota tersebut.
"Apa aku sudah di Akihabara?" Tanya Tanaka pada dirinya sendiri.
Dia melihat sekitarnya yang hanya ada jalan satu jalan yakni di depan, sedangkan di belakangnya hanya ada jalan buntu.
Dengan langkah perlahan tapi pasti, dia keluar dari gang kecil tersebut yang mana dari gang itu dia sudah melihat banyak orang-orang berlalu lalang dan cahaya-cahaya lampu neon yang yang sangat terang.
"Ini bukan di Malioboro kan?" Gumam Tanaka.
Saat sudah berada di mulut gang kecil itu, dia dapat memastikan kalau dirinya tidak sedang berada di Malioboro, tapi benar-benar Akihabara yang dikenal sebagai area suci bagi pecinta anime, manga, Idol jepang dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan otaku.
"Aku benar-benar berada di kota ini!" Pikir Tanaka dengan tersenyum gembira.
Dia pun tanpa buang-buang waktu berjalan-jalan menyusuri berbagai area di Akihabara tersebut dan pada saat itu Tanaka menyadari kalau dia dapat mengerti apa yang diucapkan oleh orang-orang yang ada di Akihabara tersebut.
"Apa ini? Bagaimana mungkin mereka berbicara bahasa Indonesia? Bahkan tulisan di setiap toko, spanduk, atau pamfletnya menggunakan bahasa Indonesia." Pikir Tanaka.
Dia berjalan-jalan tanpa arah menyusuri area Akihabara sambil memikirkan hal tersebut.
"Mungkinkah ini efek dari seorang penjelajah alam semesta yang bahasa ataupun tulisan berbeda langsung diubah menjadi bahasa dan tulisan yang diketahui oleh penjelajah alam semesta itu sendiri?" Gumam Tanaka.
Pada saat dia sedang memikirkan tersebut sambil menundukkan kepalanya tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang perempuan yang sedang berhenti dan mengobrol dengan beberapa kenalannya.
"Ah, maaf, maaf, aku minta maaf!" Ujar Tanaka yang segera langsung meminta maaf.
"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati saat berjalan di tempat yang ramai seperti ini." Ujar perempuan itu.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan dia kembali berjalan sambil memikirkan hal tadi.
"Aku bisa melakukan interaksi pada perempuan tadi." Gumam Tanaka. "Tunggu dulu, aku baru sadar kalau aku juga bisa berinteraksi dengan Luffy dan lainnya."
Tanaka baru menyadari hal itu karena dia mendengar Luffy dan lainnya menggunakan bahasa Indonesia sehingga Tanaka tidak menyadari hal tersebut.
Dia berhenti di depan sebuah mini market. Tanaka sebenarnya ingin masuk, membeli minuman yang manis untuk mengisi tenaga yang sudah terkuras akibat terlalu banyak pikiran.
Akan tetapi, dia tidak memiliki uang jepang dan juga bahkan dia masuk ke negara itu secara ilegal tanpa ada paspor. Bila saja ada polisi yang mencurigainya dan menanyakan paspornya tentu saja, Tanaka tidak bisa menunjukkan hal tersebut dan berakhir di tangkap dengan tuduhan pendatang ilegal.
"Apa aku balik saja ke dunia one piece?" Pikir Tanaka.
Pikiran itu segera dia singkirkan karena dia ingin masih menjelajahi tempat suci tersebut lebih lama lagi.
Dia kembali berjalan-jalan dan kali ini dia memasuki beberapa toko yang menjual produk-produk otaku. Dia hanya bisa melihat-lihat tidak membeli ataupun menyentuhnya karena takut saat dia sentuh, benda itu akan rusak dan Tanaka harus membelinya.
Lebih dari tiga jam, Tanaka berjalan-jalan di Akihabara sampai akhirnya dia merasa puas karena kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke dunia one piece.
Dia mencari tempat yang sepi agar bisa kembali ke wonder room dan pergi ke dunia one piece.
"Pergi ke wonder room." Ujar Tanaka saat sudah menemukan tempat sepi.
Tanpa membuang waktu lagi, Tanaka mengambil Honjo dan Sengo untuk digantung pada pinggang kanan dan kirinya.
"Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah bosan berada di tempat ini!" Ngeluh Sengo yang diabaikan oleh Tanaka.
"Apa kita akan kembali ke dunia itu, Master?" Tanya Honjo.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan dia kembali ke dunia one piece, tepatnya di kabin istirahat pria kapal Going Merry.
Sesampainya di tempat itu, dia segera keluar, berjalan menuju ke atas dek.
__ADS_1
Suasana di kapal Going Merry sangat sepi, tidak ada lagi suara Nami ataupun Usopp.
"Kemana mereka?" Tanya Tanaka yang tidak melihat dua orang pengecut itu di kapal Going Merry. "Mereka berdua minta aku tinggal, tapi mereka berdua malah meninggalkan kapal."
Dia memutuskan untuk turun kapal dan menyusuri hutan purbakala tersebut. Pada saat turun dari kapal, Tanaka melihat dua pohon yang patahnya tidak alami.
"Oh! Apakah Nami dan Usopp dibawa salah satu manusia raksasa itu?" Pikir Tanaka.
"Raksasa? Apa di hutan tempat tinggal manusia raksasa, Master?" Tanya Hanjo.
"Tidak, hanya ada dua saja, namanya aku lupa, tapi mereka datang ke pulau ini karena mereka sedang bertarung untuk menentukan siapa yang terkuat." Jelas Tanaka. "Dan pertarungan itu sudah berlangsung lebih dari 100 tahun lamanya dan belum ada yang menang sampai sekarang."
Pria itu semakin masuk ke dalam hutan dan semakin banyak hewan liar yang dia temui dan menyerangnya. Tentu saja, Tanaka membuat mereka pingsan ataupun melempar mereka ke tempat yang jauh.
Dia benar-benar tidak ada keinginan untuk membunuh makhluk hidup yang bukan untuk dijadikan makanan olehnya.
"Tempat ini benar-benar sangat bahaya! Kalau saja aku tidak memiliki kekuatan force, aku tidak akan berani berjalan-jalan di hutan seperti ini." Gumam Tanaka.
Beberapa saat kemudian, Tanaka menemukan sebuah bangunan aneh yang seharusnya tidak ada di hutan liar seperti little garden.
Bangunan itu juga terlihat seperti di bangun dengan lilin. "Bukankah ini bangunan milik agen Baroque Works yang memiliki kemampuan buah iblis yang bisa mengendalikan lilin?"
Dia mendekati bangunan tersebut, mengetuk pintu sebelum masuk. "Spada! Apa ada orang di dalam?" Panggil Tanaka.
"Siapa?" Tanya orang di dalam bangunan lilin tersebut.
Tanaka merasa familiar dengan suara yang ada di dalam bangunan lilin tersebut.
"Apa itu Sanji?" Gumam Tanaka yang membuka pintu bangunan lilin tersebut dan melihat Sanji sedang bersantai sambil meminum secangkir teh dengan hidangan cemilan di atas meja.
"Oh, ternyata Tanaka, aku pikir pemilik bangunan aneh ini." Ujar Sanji.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" Tanya Tanaka yang berjalan mendekati Sanji dan duduk di kursi yang juga terbuat dari lilin.
"Hanya bersantai, silahkan diminum tehnya, ini sangat enak." Ucap Sanji yang sudah seperti pemilik bangunan tersebut.
Tanaka menuangkan teh yang ada di teko ke cangkir dan kemudian meminumnya.
"Memang sangat enak, rasa lelahku langsung hilang dengan cepat." Ujar Tanaka yang meminumnya sekali lagi dan kemudian meletakkannya di atas meja.
Tanaka bertanya pada Sanji tentang bangunan aneh yang mereka berdua tempati saat ini.
"Aku tidak tahu, aku hanya menemukan bangunan ini saat berburu binatang." Jelas Sanji. "Saat masuk, tidak ada orang tapi ada minuman dan makanan ini."
Tanaka menganggukkan kepalanya dan berpikir kalau pemilik bangunan ini sedang bertarung dengan Luffy dan lainnya.
Beberapa saat kemudian, suara teleponnya dunia one piece, denden mushi atau telepon siput berbunyi.
Suara tersebut berasal di dalam kotak dan Sanji segera mengambil kotak tersebut, membukanya dan melihat denden mushi yang sedang berbunyi.
"Bagaimana mungkin makhluk hidup bisa dijadikan sebagai alat komunikasi seperti ponsel?" Pikir Tanaka.
Sanji menerima panggilan tersebut. "Disini restoran keparat, apa Anda ingin memesan tempat?" Tanya Sanji dengan ekspresi wajah datar.
Tanaka hanya tertawa pelan melihat perilaku Sanji tersebut.
"Jangan bercanda bodoh! Kenapa kamu belum memberikan laporan padaku?" Ujar orang yang menelpon tersebut.
Tanaka melihat ekspresi dari siput telpon tersebut yang sama seperti ekspresi dari penelpon.
"Laporan?" Tanya Sanji. "Ah, ya, dengan siapa ini?"
"Ini aku Mr 0." Jawab Mr 0 yang tidak lain adalah Crocodile, pemimpin organisasi Baroque Works.
Sanji dan Crocodile melakukan percakapan sedangkan Tanaka dengan santainya meminum teh dan memakan hidangan cemilan yang ada di atas meja.
"Bagus? Bagus ... saat ini unluckies sedang menuju ke tempatmu untuk membawakan bukti atas misimu dan juga barang kiriman." Ujar Crocodile.
"Unluckies? Kiriman?" Tanya Sanji.
Pada saat itu juga Tanaka menyadari adanya dua makhluk sedang berdiri di jendela. Dua makhluk itu adalah burung hantu dan anjing laut.
Mereka berdua adalah anggota Baroque Works yang bertugas sebagai Intel dan juga sebagai konfirmasi misi dijalankan oleh Baroque Works gagal atau berhasil.
Anjing laut segera menyerang Tanaka dengan sarung tangan yang memiliki bagian runcing dan burung hantu menyerang Sanji yang masih sedang menelpon dengan Crocodile.
Tanaka berhasil menghindari serangan anjing laut itu dan memukul kepala anjing laut itu dengan Honjo yang masih di sarungnya dan membuat anjing laut itu pingsan.
Sedangkan Sanji berhasil menendang burung hantu itu dan membuatnya pingsan.
"Hei ada apa?" Tanya Crocodile.
"Oh, tidak apa-apa hanya masalah kecil, ternyata si topi jerami brengsek itu masih hidup dan aku sudah membunuhnya lagi."
"Masih hidup katamu?" Tanya Crocodile. "Bukankah kamu mengatakan sudah menjalankan perintahku?
"Ya begitulah, aku sudah menghabisi dia sebelumnya, tapi ternyata topi jerami ini tidak mudah menyerah." Jawab Sanji.
"Jadi kamu sudah memberikan laporan yang palsu padaku?" Tanya Crocodile.
"Kalau kamu anggap seperti itu, tidak masalah, tapi yang pasti aku sudah menghabisinya, jadi tidak perlu kirim orang lagi." Jawab Sanji.
Crocodile kemudian memberikan perintah untuk segera kembali ke Alabasta.
Sanji menutup telponnya itu dan Tanaka bertanya, "Apa itu benar-benar Crocodile?"
"Mungkin, aku tidak tahu pasti, tapi di mengaku sebagai Mr 0." Jawab Sanji.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan bangunan yang sudah porak poranda tersebut untuk bertemu dengan yang lainnya.
Sebelum meninggalkan bangunan itu, Tanaka mengambil Eternal Pose yang dibawa oleh anjing laut dan burung pemakan bangkai itu.
Tanaka dan Sanji tidak membutuhkan waktu lama untuk bertemu dengan Luffy dan lainnya.
"Nami! Vivi! Dan orang-orang bodoh!" Panggil Sanji yang baru saja muncul bersama dengan Tanaka.
"Yo, Sanji! Tanaka" Ucap Luffy.
"Kalian baik-baik saja, kan?!" Tanya Sanji.
"Kurang ajar, saat kita tak membutuhkannya, kalian berdua malah muncul tanpa rasa bersalah!" Ucap Usopp.
"Apa? Kenapa kamu marah, Usopp?" Tanya Tanaka. "Seharusnya aku yang marah karena kamu dan Nami tiba-tiba saja tidak ada di kapal, meninggalkan aku sendirian! Padahal kalian berdua yang meminta aku untuk berada di kapal bersama kalian berdua."
"Aku dan Usopp telah memanggil-manggil kamu berkali-kali, saat broggy muncul dan membawa kami bersamanya, tapi kamu tidak muncul-muncul." Jelas Nami.
"Benarkah? Mungkin saat itu aku benar-benar tidur sangat nyenyak sampai tidak mendengar suara kalian." Ngeles Tanaka.
Sementara itu, Sanji bertanya saat melihat Broggy dan Dorry "Siapa mereka itu?! Apa kamu yang bernama Mr. 3?"
"Kenapa kamu tau Mr.3?" Tanya Nami.
"Nami kamu sangat cantik!" Puji Sanji dengan mata lope-lope saat melihat Nami yang hanya menggunakan atasan BH karena bajunya yang terbakar akibat pertarungan yang berlangsung beberapa saat yang lalu.
Sanji lalu mengatupkan tangannya di depan dada. "Kau benar-benar menggairahkan!" Tegas Sanji yang ingin pingsan.
"Mau dihajar?" Tanya Nami sambil mengepalkan tangannya didepan wajah Sanji.
"Tenanglah, Nami sayang. Kalau begitu terus kau bisa kena flu! Nih, pakailah." Ucap Sanji sambil melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Nami.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Nami.
"Dan tadi, aku berbicara dengan Mr. 0 melalui Den Den Mushi!" Ungkap Sanji yang membuat semua orang terkejut, kecuali Tanaka, Doryy dan Borgy.
"Kamu berbicara dengan bos?!" Ucap Vivi
"Ya, aku menemukan suatu markas di tengah hutan. Dia beranggapan kalau aku Mr. 3, jadi aku memberitahunya sudah menghabisi kalian." Ucap Sanji.
"Jadi, dia sudah beranggapan kalau kami mati?" Ucap Vivi.
"Akhirnya kita terbebas dari pengejaran, namun kita malah tak bisa pergi kemana-mana!" Ungkap Usopp.
"Tak bisa pergi kemana-mana? Apa kita masih punya urusan lain di pulau ini? Padahal aku sudah mendapatkan benda ini." Ucap Tanaka sambil menunjukkan Eternal Pose yang diambilnya dari dua agen Intel Baroque Works tersebut.
Mereka semua menjatuhkan rahangnya, kecuali Sanji, dan dua manusia raksasa itu.
"Ada apa?" Tanya Tanaka yang tidak tau apa-apa.
"Itu Eternal Pose menuju Alabasta!" Ucap Luffy dengan gembiranya.
"Yatta!!" Ucap Usopp yang bersorak senang.
"Kita bisa berlayar lagi!" Ucap Luffy yang juga bersorak senang.
"Yatta, kerja bagus Tanaka!" Ucap Nami.
"Terima kasih, Tanaka!" Ucap Vivi lalu memeluk Tanaka. "Tadi aku sempat khawatir!"
"Sialan kamu Tanaka! Aku iri! Aku benar-benar iri!" Ucap Sanji yang kesal.
"Yosh, semuanya. Ayo kita pesta senbei!" Ucap Luffy.
"Gawat nih, Luffy! Kalau hanya tiga buah, kita nggak bisa berpesta!" Ucap Usopp yang membuat Luffy terkejut.
"Bukan waktunya untuk itu, kan? Ayo kita berangkat, kapten! Kita tak punya waktu untuk bersantai!" Pinta Nami.
"Benar juga! Hei, kamu!" Ucap Sanji yang tertuju pada Zoro. "Kuharap kamu tak melupakan lomba berburunya, ya?"
"Ya, kalau itu aku yang menang! Aku menangkap badak segede ini!" Ucap Zoro sambil menunjukkan ukuran badak yang ditangkapnya.
"Badak? Itu bisa dimakan tidak?" Tanya Sanji.
"Tentu saja!" Ucap Zoro.
Setelah mereka semua berpamitan pada kedua raksasa itu, mereka berjalan menuju tempat Going Merry berlabuh.
Sesampainya di sana, Zoro dan Sanji membawa binatang yang mereka buru. Zoro mendapatkan badak purba dan Sanji mendapatkan T-rex.
"Tak usah ribut, kan? Habisnya dua-duanya sepertinya enak!" Ucap Luffy.
"Kau diam saja!!" Ucap Zoro dan Sanji bersamaan.
Zoro dan Sanji terus saja berdebat sampai Nami menyelesaikan perdebatan mereka dengan memukul kepala mereka berdua.
Nami meminta memotong beberapa bagian untuk dijadikan stok makanan, sisanya ditinggalkan begitu aja.
Sanji dengan patuh melakukan apa yang dikatakan oleh Nami sedangkan Zoro masih mencari dukungan kalau dia yang menang.
"Hei, Tanaka! Dilihat darimana pun aku yang menang, kan?" Tanya Zoro.
Tanaka hanya mengangkat kedua pundaknya dan memberikan ekspresi wajah datar yang menjelaskan kalau dia tidak tertarik.
"Sialan!" Ucap Zoro yang kesal lalu beralih pada Usopp. "Hei, Usopp! Aku yang menang, kan?"
"Aku nggak tertarik." Ucap Usopp.
"Tak bisakah dianggap seimbang?" Ucap Vivi.
"Dalam lomba tak ada kata seimbang!" Tegas Zoro.
"Cepat lakukan!" Ucap Nami garang.
"Baik!" Ucap Zoro.
Setelah memotong beberapa bagian dari dua hewan liar buruan itu, Sanji membawa daging dua hewan purba itu ke tempat penyimpanan.
Tanaka juga membantunya karena dia tidak ada kerjaan.
Sedangkan Zoro mengangkat jangkar lalu kapal Going Merry mulai berlayar untuk keluar dari kanal.
Saat akan keluar dari sungai, mereka melihat Dorry dan Broggy yang seperti akan mengantar kepergian kami.
"Percayalah pada kami, terus berlayar lurus ke depan! Apapun yang terjadi, tetaplah maju ke depan!" Pinta Broggy.
"Baiklah!" Ucap Luffy dengan mudahnya.
Zoro dan Usopp kebingungan dengan pernyataan dua raksasa itu.
"Ini salam perpisahan kita!" Ucap Broggy.
"Suatu hari nanti semoga kita berjumpa lagi!" Ucap Dorry.
"Pasti." Ucap Broggy.
Kapal Going Merry telah memasuki lautan dan pada saat itu secara tiba-tiba muncul seekor monster laut berbentuk ikan mas raksasa.
"Ada sesuatu yang muncul!" Tanya Usopp.
"Apa itu? Ikan mas?" Tanya Luffy kesenangan.
"I-Ikan mas raksasa? Se-Sepertinya pernah dengar!" Ucap Usopp.
"Cepat pegang kemudinya! Cepatlah, kita bisa dimakan! Usopp, cepatlah!" Ucap Nami.
"Ta-Tak bisa! Maju terus kedepan, iya kan, Luffy?" Ucap Usopp.
"Ya, tentu saja!" Ucap Luffy.
"Jangan bodoh! Ini tak seperti saat kita menemui Laboon!" Ucap Nami.
"Aku sudah tau. Tenang, dong. Nih, kukasih senbei terakhir!" Ucap Luffy lalu melemparkan kue beras pada Nami.
"Nggak butuh!" Ucap Nami lalu menangkap kue beras itu dengan tangannya. "Jika kita tak mengubah arah kapal, kita akan..."
"Nami, menyerah lah kali ini!" Pinta Zoro.
"Kita akan tetap lurus ke depan! Seperti perintah kapten!" Tegas Tanaka.
Nami hanya bisa menggigit kue beras sambil menangis. Kapal mulai memasuki mulut ikan itu.
"Luffy, kita bisa mempercayai mereka, kan?" Tanya Sanji.
"Ya!" Tegas Luffy.
"Kamu gila? Apa kita benar-benar akan mengarah lurus ke monster itu?" Tanya Vivi.
"Tidak, sudah terlambat!" Ucap Nami.
Setelah kapal sudah berada didalam mulut ikan, ikan itu menutup mulutnya. Kami tetap berlayar lurus ke depan.
"Maju ke depan, ke depan!" Ucap Usopp sambil menangis.
"Bicara apa kau ini? Kita sudah dimakan tau!" Ucap Nami garang.
"Maju, maju, maju!" Ucap Luffy.
Lalu tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat ikan mas itu berlubang sehingga kapal Going Merry bisa keluar dari dalam ikan mas itu, terus berlayar melanjutkan perjalanan.
__ADS_1