
Setelah berlari cukup jauh dari kota Ido, Tanaka dan lainnya mulai berjalan dengan santai.
"Nee, Vivi, bisa ceritakan soal pasukan pemberontak?" Tanya Nami.
Vivi menganggukkan kepalanya dan mulai bercerita tentang awal peristiwa yang terjadi 11 tahun yang lalu, disaat dirinya bertemu dan menjadi temannya pemimpin pemberontak saat ini.
Tanaka yang berada di dekat Matsuge mau tidak mau mendengarkan cerita dari Vivi tersebut sambil melihat ke arah depan yang mana Luffy, Sanji dan Usopp sedang kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Hei, serahkan air itu!" Ucap Usopp yang mengejar Luffy untuk merebut kantong minuman di tangan Luffy.
"Tidak mau." Ucap Luffy sambil berlari.
Secara tiba-tiba muncul sesuatu seperti capit dari dalam pasir, tidak jauh dari tempat Luffy dan Usopp yang sedang berebutan kantong air berukuran kecil.
"Apa itu?" Ucap Luffy lalu menghampiri benda itu. "Ini apa, ya?"
Tepat saat Luffy menyentuh capit itu dengan sebatang kayu pada saat itu juga dari dalam pasir keluar kalajengking raksasa dengan Luffy diatasnya.
"Besar sekali!!" Teriak Usopp yang terkejut dan panik.
"Besar!" Ucap Luffy dengan penuh semangat.
Luffy, Zoro, Sanji dan Chopper langsung menghajar kalajengking itu habis-habisan sedangkan Tanaka, Ace dan Usopp hanya diam melihat mereka bertarung.
"Nee, ceritakan padaku seluruhnya!" Ucap Nami yang mengabaikan pertarungan tersebut.
"Baiklah, leader Kohza adalah anak yang penuh keberanian, tidak takut dengan apapun yang dia hadapi." Ungkap Vivi yang melanjutkan kembali ceritanya atas permintaan Nami. "Tapi, hal itulah yang membuatku sangat khawatir."
"Sebenarnya, Kohza temanmu itu adalah anak yang baik. Tapi, apa hubungannya itu dengan pasukan pemberontak?" Tanya Nami.
"Coba pikirkan, tujuan kita adalah Yuba, markas pasukan pemberontak berada. Dan nama leader mereka adalah Kohza." Jawab Vivi. "Dia adalah orang yang ku ceritakan tadi."
Tanaka yang tadinya diam ikut dalam pembicaraan tersebut.
"Temanmu itu, Kohza, karakternya yang pemberani itu sangat bagus, tapi dengan karakternya itu dia sepertinya tidak mengunakan otaknya dengan benar." Ucap Tanaka dengan wajah datar. "Tipikal anak muda yang penuh semangat dengan idealismenya sampai tidak bisa melihat dengan benar akan sebuah kebenaran yang terjadi di depan matanya."
"Jangan berkata buruk tentangnya, Tanaka!" Ucap Nami yang memperingatkan.
"Aku tidak berkata buruk, Nami." Bantah Tanaka. "Hanya saja, jika dia menggunakan otaknya dengan benar, dia seharusnya melakukan seperti Vivi yang mencari tau terlebih dahulu.""
"Bukannya langsung membentuk pasukan pemberontak dan bersiap untuk menyerang kerajaan!" Tegas Tanaka. "Jika memang ayah Vivi orang yang jahat, maka pria yang bernama Kohza itu saat masih kecil pasti sudah dibunuh saat itu juga karena memukul putri kerajaan!"
"Nami! Vivi!" Panggil Sanji sambil berlari mendekati mereka bertiga. "Maukah kalian mencicipinya?"
Sanji membawa sebuah capit kalajengking, berisi banyak daging yang telah dibakar oleh Ace.
"Rasa udang gurun ini sangat enak!" Ujar Luffy sambil memakan daging kalajengking.
"Ini bukan udang! Ini kalajengking!" Ucap Usopp yang memukul kepala Luffy dari belakang.
"Aku tak bisa makan lagi!" Ucap Luffy yang kekenyangan dan jatuh di atas cangkang kalajengking.
"Kalian semua! Berhenti melakukan hal bodoh!" Ucap Nami garang. "Matsuge, jalan!"
"Kenapa dia marah-marah?" Tanya Luffy.
"Tidak tau." Ucap Usopp, Zoro dan Chopper.
Setelah cukup lama berjalan, mereka memutuskan untuk beristirahat di tempat yang banyak batu besarnya dan makan lagi untuk mengisi perut kami yang kelaparan.
Berjalan di padang pasir memang menguras banyak energi. Padahal sebelumnya mereka telah makan daging kalajengking sampai kenyang tapi dengan cepat rasa lapar kembali menyerang mereka.
"Kami ingin makan lagi!" Ucap Usopp.
"Tambah!" Ucap Luffy.
"Aku mau tambah!" Ucap Usopp.
"Tambah!" Ucap Luffy.
Wajah mereka berdua pun ditendang oleh Sanji.
"Kalian berdua itu sudah makan terlalu banyak!" Ucap Sanji marah.
Luffy pun mengambil makanan milik Zoro secara terang-terangan dan langsung memakannya.
"Oe, Luffy! Teme! Jangan mengambil makananku!" Ucap Zoro yang kesal.
"Salah sendiri kamu lengah." Ucap Luffy dengan santainya.
"Kenapa setiap waktu makan selalu saja begini?" Tanya Vivi.
"Jangan pedulikan mereka." Ucap Nami sambil makan.
Tanaka hanya sibuk memakan makanannya sendiri tanpa berniat ikut bergabung dalam pembicaraan. Tapi secara tiba-tiba Luffy mencoba untuk mencuri makanannya.
"Tidak segampang itu Ferguso." Ujar Tanaka yang langsung memukul punggung tangan Luffy dengan sangat keras.
"Lihat, Ace sudah selesai makan terus membersihkan piring dan garpunya." Ucap Vivi.
Zoro dan Luffy kemudian bertengkar yang mana pendekar pedang itu menarik mulut Luffy ke kanan dan kiri sehingga mulutnya terbuka sangat lebar.
"Kenapa adiknya bisa sebodoh itu?" Tanya Nami yang menghela nafas. "
Tapi, dengan sikap baiknya itu, kamu pasti tak menyangka kalau Ace memiliki nilai buronan tinggi." Ungkap Nami.
"Ace memiliki nilai buronan?" Tanya Vivi terkejut.
Mereka berdua membicarakan tentang Ace dan juga tentang Kurohige yang sedang dicari oleh pria api itu.
"Karena Ace mencarinya begitu serius, pasti Kurohige itu adalah orang yang berbahaya?" Tanya Vivi.
__ADS_1
"Kurohige adalah pembunuh teman sendiri dan juga pengkhianat. Kemana pun dia berada, dia pasti akan mencarinya!" Tegas Nami.
Tanaka yang mendengar percakapan dua gadis itu tanpa sadar membuat garpu yang ada di tangan kanannya patah.
"Master!" Panggil Honjo.
"Hoooh~ aku merasakan adanya kemarahan dengan niat membunuh pada dirimu." Ujar Sengo yang merasa senang. "Apa kamu akan membunuh orang yang bernama Kurohige itu?"
Tanaka hanya diam dan mencoba untuk menenangkan dirinya dengan metode nafas 4 detik. Tarik kemudian tahan 4 detik dan keluarkan secara perlahan-lahan selama 4 detik. Lakukan secara berulang-ulang sampai perasaan sudah kembali normal.
Setelah selesai makan dan istirahat yang cukup, Nami mematikan api unggun yang mereka gunakan untuk memasak.
"Baiklah, ayo berangkat. Kalian..." Ucap Nami yang terhenti saat melihat perkelahian Luffy dan Zoro.
"Sudah kubilang, kembalikan!" Ucap Zoro.
"Tidak, itu milikku!" Ucap Luffy.
"Bisakah kalian berdua berhenti?!" Ucap Nami sambil memukul kepala Zoro dan Luffy yang membuat mereka berhenti berkelahi. "Kalian cepat kemas-kemas! Kita akan segera berangkat ke Yuba!"
Pada saat itu Tanaka melihat sebuah daging yang melayang karena dipancing keatas oleh seseorang.
"Ke-Keren! Keren loh!" Ucap Luffy yang kagum melihat itu.
"Oh, tidak! Kita ketahuan!"
"Cepat, nii-chan!"
"Daging itu bisa bicara!" Ucap Luffy.
"Apa? Luffy, memangnya ada apa?" Tanya Nami yang kebingungan.
"Daging! Daging itu kabur! Tunggu aku, daging!" Ucap Luffy yang berlari mengejar daging tadi.
"Luffy!" Panggil Nami tapi hanya diabaikan oleh Luffy yang bersemangat mengejar daging.
Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara tembakan. Mereka semua, kecuali Tanaka segera pergi ke tempat itu suara itu berada.
Tanaka merasa perjalanan akan ditunda beberapa jam sehingga dia memanfaatkan untuk beristirahat lebih banyak lagi dengan tidur.
Saat hari sudah sore Tanaka membuka matanya dan kemudian bangkit untuk mencari Luffy dan lainnya.
"Mereka tidak melupakan aku kan?" Pikir Tanaka sambil melompati sebuah batu bulat yang setengahnya keluar dari pasir.
Tanaka melihat Luffy dan lainnya telah berada di luar area batu-batu tersebut, sehingga dia langsung pergi menuju ke tempat mereka dengan melompati satu persatu batu-batu bulat yang setengahnya tenggelam di dalam pasir.
"Tanaka, kamu kemana saja?" Tanya Nami.
"Maaf, aku ketiduran di tempat kita beristirahat tadi." Jawab Tanaka dengan santainya. "Jadi apa yang terjadi?"
"Oh, tenyata ada kejadian seperti itu saat aku tidur." Ujar Tanaka yang kembali menguap.
"Kamu benar-benar pergi, Ace?" Tanya Chopper.
"Eh? Kamu akan pergi Ace?" Tanya Tanaka yang terkejut.
"Ya. Kurohige tidak ada di Alabasta. Jadi aku tak punya alasan disini lagi." Jawab Ace.
"Begitu, ya." Ucap Luffy.
"Terus kamu mau pergi kemana?" Tanya Sanji.
"Scorpion bilang ada orang barat yang melihatnya. Jadi aku akan kesana. Luffy." Ucap Ace sambil melemparkan sebuah kertas putih pada Luffy. "Bawalah itu selalu."
"Kenapa? Inikan hanya kertas." Tanya Luffy.
"Kertas itulah yang akan mempertemukan kita kembali. Kamu tidak mau?" Tanya Ace.
"Tidak, aku mau." Jawab Luffy.
"Memiliki adik bodoh sepertimu membuat seorang kakak khawatir. Mungkin dia sangat merepotkan kalian. Aku titip dia ya." Ucap Ace sambil membungkuk pada kru bajak laut topi jerami dan Vivi.
"Luffy, pertemuan kita berikutnya adalah sebagai bajak laut." Tegas Ace.
"Ya!" Ucap Luffy.
"Teruslah menjadi kuat." Pinta Ace.
"Tanaka, aku masih belum menyerah tentang pembicaraan kita saat itu." Ujar Ace.
Tanaka tersenyum, "Terserah! Hasilnya akan tetap sama." Jawab Tanaka.
Pada saat itu terdengar suara teriakan sehingga mereka semua kecuali Ace menatap ke arah tempat dimana ada tiga orang dengan dua diantaranya anak kecil yang menunggangi burung unta dan seorang pria dewasa berjalan kaki.
Pada saat itu Ace telah menghilang dari tempat itu.
"Dia sudah pergi ya?" Tanya Zoro.
"Ya, kita akan bertemu lagi, pasti!" Ujar Luffy dengan tersenyum.
Tanaka hanya diam mendengar itu karena pertemuan selanjutnya akan menjadi pertemuan terakhir bagi Luffy untuk selamanya.
"Aku tidak akan membiarkan pertemuan selanjutnya menjadi pertemuan terakhir bagi dua saudara ini." Pikir Tanaka.
Esok harinya, Luffy dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Yuba.
Akan tetapi dalam perjalanan menuju kota tersebut, Luffy mulai bertingkah aneh lagi.
__ADS_1
Dia mengalami halusinasi karena kelelahan akibat cuaca yang cukup panas di padang pasir.
"Tunggu! Crocodile!" Teriak Luffy yang kemudian berlari tanpa arah.
"Apa?" Tanya Vivi yang terkejut saat mendengar nama Crocodile.
Dia berpikir kalau Crocodile muncul di tempat itu, tapi itu hanyalah halusinasi Luffy.
"Apa yang dia teriakan?" Tanya Nami.
"Dia pasti telah memakan kaktus yang sama lagi." Ucap Usopp yang kelelahan.
"Bisa tidak dia sekali saja tidak bertingkah aneh?" Tanya Nami. "Chopper!"
"Dia sedang tidur disana." Jawab Zoro.
"Kalau begitu ya sudah, Zoro, Tanaka, urus dia!" Perintah Nami.
"Tidak, cukup Zoro saja yang mengurus kapten." Ujar Tanaka yang akan menguras banyak energi bila mengurus Luffy dalam keadaan seperti itu.
"Kenapa harus aku?!" Tanya Zoro.
"Kamu wakil kaptennya!" Jawab Tanaka dengan santainya.
"Kamu mau ku tagih hutangmu sekarang juga?" Ancam Nami.
"Aku tak kan menuruti perintahmu jika hutangku nanti sudah lunas! Dan kenapa juga aku menjadi wakil kapten?" Ucap Zoro kesal sambil menarik Chopper.
"Kuserahkan dia pada kalian, ya!" Ucap Nami.
Setelah Zoro dan Chopper tidak terlihat lagi, Nami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan semuanya setuju kecuali Vivi.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan mereka?" Tanya Vivi.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir." Jawab Nami dengan santainya.
"Mereka bisa mengikuti jejak yang kita tinggalkan, Vivi." Sahut Sanji.
Meskipun begitu, Vivi merasa khawatir tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena yang lainnya telah sepakat untuk melanjutkan perjalanan, meninggalkan mereka bertiga.
"Tenang, saja, kalaupun mereka tersesat, kita akan tetap berkumpul lagi." Ujar Tanaka. "Chopper memiliki penciuman yang tajam seperti anjing, dia akan mengikuti aroma parfum Nami."
Vivi hanya menganggukkan kepalanya, tapi hal itu tetap tidak membuatnya menghilangkan rasa khawatir terhadap Zoro, Luffy dan Chopper.
Saat matahari sudah mencapai puncaknya, Tanaka dan lainnya beristirahat di sebuah reruntuhan yang ada di atas bukit padang pasir.
Nami mengelus Matsuge yang membuatnya merasa senang, Usopp berbaring di atas tanah berpasir, Sanji menyenderkan punggungnya di dinding reruntuhan sambil merokok, Tanaka juga melakukan hal sama seperti Sanji tapi tidak dengan rokoknya.
Sedangkan Vivi masih melihat ke arah tempat mereka lalui sebelumnya. Dia benar-benar merasa khawatir akan keadaan tiga orang tersebut yang belum kembali juga.
"Vivi, tenang saja mereka pasti dapat mengejar kita." Ujar Nami yang mencoba untuk menenangkan Vivi. "Kita berada di atas bukit, jadi bisa terlihat dengan jelas meskipun dari jauh sekalipun."
Meskipun Nami berkata seperti itu tetap tidak membuat Vivi menghilangkan rasa khawatirnya.
Tanaka menghela nafas panjang dan bertanya berapa jauh lagi untuk sampai ke kota Yuba?
"Karena kita sudah berada di reruntuhan, maka kita bisa sampai di kota Yuba saat malam hari." Jawab Vivi.
"Ohh~ ini reruntuhan?" Tanya Sanji.
Vivi menganggukkan kepalanya dan kemudian dia menceritakan sejarah sebelum kerajaan Alabasta ada secara singkat.
"Reruntuhan seperti ini akan banyak ditemukan dan terkadang ada beberapa yang masih menjadi misteri." Ungkap Vivi.
"Ohh~ jadi seiring waktu kerajaan Alabasta pun muncul menjadi kerajaan yang menyatukan semuanya." Ujar Sanji dengan santainya. "Kisah yang cukup mengagumkan, kerajaan yang makmur ditakdirkan untuk musnah ... Bisa dikatakan cukup romantis!"
Nami langsung memperingati Sanji atas ucapannya itu yang membuat playboy itu langsung menutup mulutnya dan meminta maaf pada Vivi atas ucapannya itu.
"Tidak apa-apa." Ujar Vivi yang kemudian dia menceritakan kegundahan yang dirasakannya saat ini.
Nami, Usopp dan Nami mendengarkan curhatan Vivi tersebut sedangkan Tanaka hanya menghela nafas panjang sekali lagi.
"Vivi, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang begitu sulit seperti itu." Ujar Tanaka. "Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah melakukan apa yang menjadi tujuanmu saat ini, setelah itu baru dipikirkan lagi."
"Sekarang aku tanya, apa tujuan kamu saat ini?" Tanya Tanaka
"Apa tujuanku saat ini?" Tanya Vivi yang terdiam sejenak untuk berpikir. "Mengalahkan Crocodile yang membawa kehancuran di tempat ini."
Tanaka tersenyum, "Nah gitu tahu." Ujar Tanaka. "Vivi, tidak usah terburu-buru, selesaikan satu demi satu masalah yang sedang terjadi di tempat ini, bila tidak mampu jangan sungkan untuk meminta bantuan pada orang yang kamu percayai karena tidak ada makhluk hidup yang bisa menyelesaikan masalah hanya sendirian saja."
Vivi menganggukkan kepalanya dan secara tiba-tiba Usopp bangkit dari berbaringnya.
"Ayo berangkat! Aku sudah tidak bisa lagi menahan lebih lama lagi kekuatanku yang sedang membara ini." Ujar Usopp dengan penuh percaya diri.
Akan tetapi, "Pembohong!" Ujar Sanji yang melihat kaki Usopp yang gemetaran karena energinya belum terkumpul kembali.
"Diamlah! Mereka akan berhenti dalam beberapa saat." Ujar Usopp yang marah. "Akan aku tunjukkan seberapa beraninya Usopp yang gagah itu!"
"Aku tidak akan jatuh dengan mudahnya!" Tegas Usopp.
Sanji pun berjongkok di belakang Usopp dan memukul persendian kaki hidung panjang itu yang membuat dia langsung jatuh lemas.
Tanaka tertawa melihat komedi yang sedang berlangsung tersebut.
Nami pun telah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang disetujui oleh semua orang kecuali Vivi.
"Bagaimana dengan Luffy dan lainnya?" Tanya Vivi yang kembali khawatir pada mereka bertiga.
"Tidak perlu cemas." Ujar Nami. "Bukankah Luffy sudah bertekad untuk menghajar Crocodile? Bila dia sudah bertekad seperti itu tidak ada yang bisa menghentikannya, bukankah kamu sudah tahu itu."
Vivi menganggukkan kepalanya dan mereka semua pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kota Yuba.
Pada saat sore hari, yang mana matahari hampir tenggelam di ufuk barat, Luffy, Zoro dan Chopper dapat kembali berkumpul lagi dengan mereka.
__ADS_1
Hal itu karena Chopper berhasil mendapatkan aroma parfum Nami dengan penciumannya yang tidak kalah dengan penciumannya anjing.