Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
28


__ADS_3

Setelah mengarungi lautan selama setengah bulan lamanya, akhirnya kapal Going Merry telah tiba di pulau tempat kota Loguetown berada, kota tempat Gol D Roger lahir dan dieksekusi.



"Kota yang besar!" Ucap Luffy yang kagum dengan kota tersebut.



"Sebelum menuju Grand Line banyak bajak laut yang berlabuh di pulau ini. Kamu bisa mendapatkan apapun di kota ini!" Ucap Nami.


"Yosh, untuk petualangan hebatku nanti, aku akan membeli beberapa barang yang menarik." Ucap Usopp.


"Aku yakin disini ada banyak bahan makanan yang kuperlukan. Dan tentu saja akan banyak wanita!" Ucap Sanji yang sudah kegirangan memikirkan wanita.


"Ada sesuatu juga yang ingin ku beli." Ucap Zoro.



"Bagaimana kamu melakukannya? Kamu sudah tak memiliki uang, kan? Apa kamu memerlukan pinjaman? Boleh saja! Tapi kamu harus mengembalikan 3 kali lipat beserta bunganya, bagaimana?" Ucap Nami dan Zoro pun menyetujui hal itu.



"Yosh, aku akan melihat-lihat tempat eksekusinya! Aku ingin melihatnya! Tempat dimana Raja Bajak Laut mati!" Ucap Luffy lalu berlari pergi.



"O-Oi, kita belum memutuskan dimana tempat kita berkumpul kembali nanti!" Ucap Usopp tapi Luffy sudah tidak terlihat. "Dia memang tak bisa diharapkan."



Mereka berlima langsung pergi berpencar menuju ke tempat tujuan masing-masing meninggalkan Tanaka sendirian.



"Ini adalah kesempatanku untuk pulang, tapi pulang pun aku tidak ada uang untuk membayar uang kos." Ujar Tanaka yang menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.



Dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota tersebut karena dia berpikir sebuah ide akan muncul untuk menyelesaikan masalahnya.



Namun setelah berjalan-jalan, dia masih tidak mendapatkan jawaban yang cukup bagus untuk menyelesaikan masalahnya.



"Hanya ada satu cara untuk bisa membayar uang kos, aku harus menjual motorku satu-satunya." Gumam Tanaka yang berhenti di jalan yang penuh dengan orang berlalu lalang melewati dirinya.



Setelah memikirkan dengan sangat dalam akan ide itu, Tanaka memutuskan untuk kembali ke dunianya. Dia segera mencari sebuah jalan kecil yang ada di sela-sela bangunan dan tidak ada orang di tempat itu.



"Pergi ke wonder room!" Ujar Tanaka saat dia berada di jalan kecil, sela-sela bangunan yang ada di kota Loguetown.



Saat berada di wonder room, dia langsung pergi lagi menuju ke kamar kosnya.



Tiga tempat yang berbeda itu hanya ditempuh oleh Tanaka dengan tiga kedipan mata.



"Sepertinya hari sudah siang disini." Gumam Tanaka saat melihat tirai jendela bercahaya di pinggirannya. "Sudah berlangsung berapa hari di sini?"



Tanaka segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan melihat tenaga dari baterai ponselnya sudah habis.



Dengan cepat Tanaka mengambil charger yang berada di laci meja dan menyambungkan charger ke stopkontak dan kabel charger ke ponselnya.



"Mari kita lihat sudah berapa hari, semoga belum satu bulan, aku pergi tanggal 18 jadi sekarang ... "



Tanaka menunggu ponselnya menyala dan beberapa saat menunggu ponselnya menyala, memperlihatkan tanggal, hari dan jam pada layar ponsel itu.



"Astaga, sudah tanggal satu Mei, sudah 14 hari berlangsung di bumi!" Ujar Tanaka yang terkejut. "Ah, pasti ibu kos akan marah karena aku terlambat bayar lagi."



Merasa tidak ada cara lain lagi, dia terpaksa menjual motornya yang merupakan satu-satunya alat untuk mendapatkan uang.



Tanaka ingin segera pergi ke tempat jual motor, namun dia teringat untuk membersihkan diri terlebih dahulu.



Dia menuju ke kamar mandi, membersihkan semua kotoran yang menempel di tubuhnya.



Setelah selesai dia segera memakai pakaian kasualnya, menggunakan parfum, memakai tas selempang kecil untuk dijadikan sebagai wadah dompet, ponsel, dan surat-surat motor karena dia akan menjual motornya itu.



"Baiklah, semua sudah, mari berangkat." Ujar Tanaka yang membuka pintu kamar kosnya dan pada saat itu ibu kos sudah berada di depan kamar kosnya.



"Eh ... Selamat siang Bu Narti." Sapa Tanaka dengan sopan.



"Tidak perlu basa-basi, ini sudah bulan Mei, katamu akan bayar sebelum akhir bulan kemarin, tapi ternyata tidak." Ujar Bu Narti dengan sedikit marah.



Tanaka hanya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.



"Aku sudah tunggu-tunggu kamu tidak muncul juga, tidak balik ke kos berhari-hari, aku pikir kamu kabur, tapi motormu ada, jadi aku pikir kamu terjadi sesuatu padamu, pergi kemana saja kamu, mas Tanaka?" Tanya Bu Narti.



Tanaka merasa bingung, dia tidak ingin berbohong tapi juga merasa sulit untuk menjelaskannya.



Dia sudah menganggap Bu Narti adalah orang tuanya karena perempuan yang sudah berumur 60 an itu selalu baik dengan orang-orang yang menyewa kosnya.



Beberapa kali, Bu Narti memberikan makanan atau cemilan untuk Tanaka dan yang lainnya.



Meskipun Bu Narti untuk masalah uang kos sangat ketat, tapi dia masih memberikan waktu untuk bisa membayar uang kos karena dia tahu bagaimana kondisi keuangan penyewa kosnya.



"Itu, anu, saya sedang cari uang untuk bayar kos selama beberapa hari ini, jadi saya tidak balik ke kos karena itu, Bu Narti." Jawab Tanaka yang merasa bersalah karena berbohong.



"Kamu tidak melakukan pekerjaan yang melanggar hukum kan?" Tanya Bu Narti.



Tanaka menggelengkan kepalanya meskipun dia melakukan tindakan melanggar hukum di dunia one piece dengan menjadi bajak laut, tapi di bumi dia tidak melakukan pelanggaran hukum sama sekali.



Apa yang ditanyakan oleh Bu Narti itu adalah hukum di bumi, lebih tepatnya hukum yang berlaku di Indonesia.



"Baiklah, jadi mana uang kosnya?" Tanya Bu Narti.



"Ini saya baru mau ambil di bank." Jawab Tanaka.



Bu Narti menganggukkan kepalanya, percaya dengan perkataan Tanaka.



Dia kemudian pergi meninggalkan Tanaka menuju ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat kos.



Setelah Bu Narti pergi dan tidak terlihat lagi, Tanaka akhirnya bernafas lega.



Orang yang menyewa kamar tepat di depan kamar kos Tanaka keluar.



"Bang, ibu kos sudah sejak tanggal 25 terus kesini, tanyain bang Tan, pagi siang, sore, terus datang untuk melihat apa bang Tan sudah kembali apa belum." Jelas orang itu.



"Benarkah?" Tanya Tanaka.



Orang itu menganggukkan kepalanya, "ibu kos selama datang kesini tidak mengeluh tentang uang kos, tapi beliau khawatir karena bang Tan tidak balik-balik kos selama 14 hari." Ungkap orang itu.



Tanaka yang mendengar itu menjadi merasa sangat bersalah.



"Ya, terima kasih infonya, aku pergi dulu." Pamit Tanaka pada orang itu.



Pria paruh baya itu segera pergi ke showroom motor untuk menjual motornya.



Meskipun sudah mengunjungi beberapa showroom motor, dia belum menemukan harga yang cocok untuk menjual motornya.



Semua showroom yang dia datangi memberikan harga dibawah 10 juta, padahal motornya buatan tahun 2015 dan sekarang tahun 2023 jadi harga jual masih bisa dapat di atas 10 juta.



"Ini adalah showroom terakhir, bila masih dibawah 10 juta, terpaksa aku lepaskan." Ujar Tanaka.



Dia segera memasuki showroom motor itu, bertemu dengan penanggung jawab showroom itu, melakukan negosiasi harga dan akhirnya dia berhasil melepaskan motornya dengan harga 12,5 juta, meskipun harga jual paling tinggi untuk motornya 15 juta.



Tanaka segera melakukan proses penandatanganan berkas jual beli motor, menyerahkan surat-surat motor setelah uang jual motornya sudah masuk ke dalam rekening banknya.



Setelah urusannya selesai di showroom itu, dia langsung balik ke kosnya, namun sebelumnya dia pergi ke bank untuk menjadikan sisa uangnya setelah diambil untuk membayar kos sebagai deposito dengan jangka tempo satu bulan.



Tanaka merasa menyimpan uang di bank, lama-lama akan habis untuk membayar administrasi rekeningnya setiap bulan, makanya dia menyimpan uangnya dalam bentuk deposito.



"Aku juga akan banyak menghabiskan waktu di dunia one piece dan juga mungkin di dunia lainnya." Pikir Tanaka yang sedang dalam perjalanan menuju ke kosnya dengan ojek online.



"Sepertinya, aku juga tidak perlu ngekos lagi karena ada wonder room yang bisa aku jadikan tempat tinggal." Pikirnya lagi.



Sesampainya di kos, Tanaka segera menuju ke kediaman ibu kos untuk membayar uang kosnya yang belum dia bayar untuk 3 bulan.



"Ini akan menjadi uang kos terakhir saya, karena saya akan pergi ke jepang untuk bekerja, Bu Narti." Ujar Tanaka yang duduk di kursi teras rumah ibu kosnya.



Tanaka berbohong tentang bekerja di Jepang karena dia tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal tentang kondisi dirinya yang telah menjadi penjelajah alam semesta.


__ADS_1


"Baiklah, aku terima uang kos ini, kamu hati-hati di sana, jaga kesehatanmu dan beradaptasi dengan lingkungan disana agar kamu tidak mendapatkan masalah, bagaimanapun itu negara asing yang berbeda, budaya, sosial dan lingkungannya dengan Indonesia." Jelas Bu Narti.



"Kapan kamu akan berangkat?" Tanya bu Narti.



"Besok saya sudah berangkat." Jawab Tanaka yang sudah memperhitungkan waktu di bumi dengan waktu di dunia one piece.



Meskipun sebenarnya dia bisa berangkat hari itu juga, namun itu akan membuat Bu Narti curiga karena hari sudah hampir malam dan dia belum packing.



Jadi jawaban besok hari adalah jawaban yang masih masuk akal dan tidak menimbulkan kecurigaan.



"Barang-barang kamu?" Tanya Bu Narti lagi.



"Ada yang saya bawa dan saya jual?" Ungkap Tanaka.



"Ya, lagipula barang yang kamu miliki tidak banyak." Jawab Bu Narti.



Barang yang ada di kos Tanaka memang tidak banyak. Barangnya cuma satu lemari, cermin, kipas angin, dan satu meja belajar beserta kursinya. Sedangkan untuk kasur milik Bu Narti, sebagai fasilitas kos.



"Baiklah, saya pamit dulu, mau packing dulu." Pamit Tanaka.



"Ya, tidak perlu buru-buru, kamu boleh tinggal di kos sampai hari keberangkatanmu tiba." Ucap Bu Narti.



Tanaka menganggukkan kepalanya dan kembali ke kamar kosnya dengan jalan kaki.



Sesampainya di kamar kosnya, dia segera packing barang-barang yang perlu dia bawa seperti lemari pakaian, cermin dan meja belajar.



Intinya dia membawa semua barang-barangnya ke wonder room.



Setelah memindahkan semua barangnya, dia pergi ke Warmindo untuk menikmati makanan populer di warung makan itu, mie instan dan gorengan.



Tanaka sudah sangat lama tidak memakan dua jenis makanan itu sehingga dia sudah tidak tahan untuk menikmatinya lagi.



Setelah menyantap dua bungkus mie instan dan beberapa gorengan, dia kembali ke kamar kosnya dan tentu saja dengan jalan kaki karena motornya sudah dijual.



Jalan kaki pulang pergi itu membuat dia merasa sangat lelah, sehingga saat berada di kamar kosnya dia langsung mengunci pintu kamarnya, mematikan lampu dan langsung berbaring di atas kasur untuk tidur.



Keesokkan harinya, saat waktu masih berada di pukul 5 pagi, Tanaka segera bangun dan mandi pagi sebelum dia kembali ke dunia one piece.



"Ha~ aku mungkin akan merindukan kamar ini!" Ujar Tanaka yang sedikit sedih karena harus berpisah dengan kamar kosnya yang telah menjadi saksi bisu suka dukanya yang menjalani kehidupan yang cukup keras akan dunia.



"Selamat tinggal, semoga kamu mendapatkan penghuni yang lebih baik dari aku." Ujar Tanaka yang langsung pergi meninggalkan kamar itu menuju ke wonder room.



Sebelumnya Tanaka sudah mengirim pesan pada ibu kosnya yang berpamitan dan memberitahu kalau dia telah meninggalkan kunci kosnya di pintu kamar.



Saat berada di wonder room yang menjadi tempat tinggalnya, Tanaka segera pergi kembali ke dunia one piece untuk berpetualang lagi.



Posisi kedatangannya dia setel di kapal Going Merry.



"Sekarang aku bisa berpetualang dengan bebas, tidak ada lagi hal yang menahan aku untuk berpetualang." Ujar Tanaka yang merasa senang.



Dia segera turun dari Going Merry untuk kembali berjalan-jalan seperti sebelumnya. Tapi sekarang dia dapat berjalan-jalan dengan perasaan gembira.



Selama jalan-jalan itu Tanaka menyaksikan kemeriahan yang ada di kota tersebut. Dia beberapa kali berhenti untuk melihat beberapa barang jualan yang dipamerkan di etalase depan toko.



"Hmmm~ bukankah itu Zoro?" Ujar Tanaka yang melihat Zoro dari belakangnya.



Dia dapat dengan mudah dikenali karena hanya Zoro yang hanya memakai pakaian penutup perut atau haramaki.



Tanaka segera berlari mengejar Zoro dan memanggilnya.



"Zoro, tunggu." Panggil Tanaka.



Zoro berhenti, berbalik dan melihat Tanaka yang sedang berlari ke arahnya.



"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Tanaka saat berada di dekatnya.




"Kalau gitu aku ikut ya, mungkin aku bisa mendapatkan pedang juga untuk senjataku." Jawab Tanaka.



"Kamu bisa pakai pedang?" Tanya Zoro yang sedikit penasaran.



"Tidak, tapi daripada menggunakan tangan kosong setiap melawan musuh, lebih baik ada senjata yang bisa digunakan, lagipula kamu bisa mengajari aku nantinya." Jelas Tanaka.



Zoro tidak berkata apapun lagi, dia segera berbalik dan melanjutkan jalannya. Tanaka segera mengikuti pendekar pedang itu dan berjalan di sampingnya sambil melihat-lihat toko yang ada di kanan kiri.



Setelah berjalan lumayan lama, akhirnya mereka berdua menemukan toko yang menjual pedang. Zoro segera masuk ke dalam toko itu dengan diikuti oleh Tanaka di belakangnya.



"Aku ingin membeli pedang." Ucap Zoro yang membuat penjual itu terbangun dari tidurnya.


"Ya ya ya, selamat datang! Ada yang bisa aku bantu? Semuanya tersedia di toko kami dari senjata kuno sampai senjata modern ... Semuanya berkualitas terbaik, aku jamin itu." Ucap penjual itu dengan sopan dan menggosok-gosok telapak tangannya.


Tanaka segera melihat-lihat senjata yang dijual di toko itu sedangkan Zoro berjalan mendekati meja counter yang dibelakangnya ada pemilik toko senjata yang dikunjungi mereka berdua.



"Aku hanya memiliki 100 ribu berry. Berikan aku dua katana." Ucap Zoro singkat sambil meletakkan sejumlah uang di atas meja counter.



"Dua katana hanya dengan 100 ribu berry? Hanya dengan 50 ribu berry kamu akan mendapatkan pedang jelek." Ucap penjual itu yang berbicara dengan nada tidak senang.



"Sialan, cuma orang miskin, membuang-buang waktu saja." Pikir penjual itu.



"Pedang apapun tak masalah. Aku sekarang tak memiliki banyak uang." Ucap Zoro.



Saat memerhatikan penampilan Zoro lebih teliti lagi, dia melihat pedang yang tergantung di pinggang kiri Zoro.



"O-Oi! Tu-Tunggu! Bo-Bolehkah aku melihatnya?" Ucap penjual itu saat melihat pedang Wado Ichimonji yang ada di pinggang Zoro.



"Kenapa kamu gemetaran begitu?" Ucap Zoro.



"Ah, ayolah!" Ucap penjual itu yang memohon.



"Pak tua yang aneh." Ucap Zoro sambil memberikan pedangnya.



Penjual itu begitu terkejut melihat pedang milik Zoro, ia bahkan kesulitan untuk bernafas. Setelah menormalkan ekspresinya, ia kembali bicara.



"Ehem, ini benar-benar pedang yang sudah tua. Bagaimana kalau kamu menjualnya padaku dengan harga 200.000 berry? Jadi uangmu nanti akan bertambah menjadi 300.000 berry dan kau boleh membeli tiga pedang dengan harga 100.000 berry!" Ucap penjual itu.



Tanaka mendengarkan itu dan segera menghampiri Zoro.



"Ada apa?" Tanya Tanaka.



"Penjual ini tiba-tiba mau membeli pedangku seharga 200 ribu berry." Jawab Zoro.



Tanaka melihat dengan intens ke penjual itu yang mulai mengeluarkan keringat karena ketakutan kalau Tanaka tahu pedang Wado Ichimonji dan dia sedang menipu Zoro.



"Yosh! Ba-Bagaimana kalau 250.000 berry? 300.000 berry? 500.000 berry?" Ucap penjual itu yang terus menerus memberikan tawaran harga.



"Aku tak peduli dengan uang yang kau tawarkan pada pedang itu." Ucap Zoro dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu, 650.000 berry! Aku mengerti kamu seorang bisnisman! Aku akan membelinya dengan harga 800.000 berry!" Ucap penjual itu yang memberikan harga semakin tinggi.


"Pfff ... "



Tanaka tertawa kecil mendengar penawaran yang dilakukan penjual itu.



Secara tiba-tiba pintu toko terbuka dan seorang perempuan cantik, berkacamata, berambut pendek sebahu, langsing, dan ada pedang yang tergantung di pinggang kirinya masuk sambil berlari.



"Bukankah dia anak buah dari si perokok berat itu, namanya siapa ya? aku lupa." Pikir Tanaka.



"Aku ingin mengambil pedang Shigure milikku, apa sudah selesai?" Ucap perempuan itu.



"Oh, syukurlah! Kamu baik-baik saja! Sebelumnya, ada seseorang yang telah mengacau di Markas Angkatan Laut! Dan kamu tiba-tiba menghilang! Aku sangat khawatir!" Ujar perempuan itu.


__ADS_1


Tanaka melirik Zoro untuk memberitahu indentitas dari perempuan itu, namun Zoro mengabaikan lirikan Tanaka.



"Tapi aku senang kamu baik-baik saja! Itu artinya kamu sudah menolak niat baik orang lain dan melarikan diri dari pekerjaanmu." Ucap perempuan itu sambil memberikan uang pada Zoro.



"Uang ini, kukembalikan padamu." Ucap perempuan itu. "Aku tak mau menerima uang dari orang yang suka menolak kebaikan dari orang lain. Lihatlah, aku sudah membeli kacamata baru."



Perempuan itu lalu memakai kacamatanya dan melihat Tanaka.



"Oh, ada teman kamu ternyata, perkenalkan, aku sersan mayor Marine dari pangkalan Marine Loguetown, Tashigi." Ujar Tashigi yang memperkenalkan dirinya.



"Tanaka Syahputra, warga sipil yang sedang berpetualang." Ujar Tanaka.



"Oh ya, Kamu, aku belum tahu nama ... " Tashigi melihat pedang milik Zoro yang dipegang oleh penjual.



"Pedang itu, jangan-jangan Wado Ichimonji?!" Ucap Tashigi lalu mengambil pedang itu untuk melihatnya secara detail.



"Wado ... " Ujar Zoro yang bingung.



"Oh itu ... Itu hanya sekadar nama pedang ini saja ... Pedang ini sama sekali tidak terkenal." Ujar penjual itu yang panik.



Tanaka tertawa kecil melihat penjual itu yang panik karena Tashigi.



"Apanya yang tidak terkenal, Ini Wado Ichimonji, kan? Benar-benar sentuhan akhir yang menarik. Ini memang salah satu dari 21 Pedang Terhebat." Ungkap Tashigi.



Dia meletakkan pedang itu di atas meja counter, lalu mengeluarkan buku catatannya dengan tangan kirinya.



"Lihatlah! Lihatlah informasinya! Pedang ini bahkan berharga lebih dari 20 juta berry! Tapi kenapa orang sepertimu bisa memiliki Meitou sehebat ini?" Tanya Tashigi.



"Hei kamu! Dasar perempuan cerewet! kamu telah mengatakan semuanya! Kamu menghancurkan bisnisku!" Ucap penjual itu yang marah.



Tashigi yang merasa bingung langsung meminta maaf. "Aku hanya takjub melihat pedang sebagus ini untuk pertama kalinya."



"Nih pedang Shigure milik kamu, kamu mau ambil pedang ini kan? aku sudah selesai membersihkan dan menggosoknya." Ujar penjual itu sambil melempar pedang milik Tashigi. "Aku bingung kenapa pedang terkenal itu bisa berada di tangan kamu."



Tashigi yang kaget dan gak siap menerima pedangnya langsung terjatuh ke belakang dan menjatuhkan pedang yang tergantung di dinding maupun yang diberdirikan di lantai.



Alhasil dia mendapatkan semprotan kemarahan dari penjual itu.



"Hei, pak, kau bermaksud untuk menipu kami kan?" Ucap Tanaka yang menatap dengan intimidasi.



"Itu..."



"Aku minta maaf." Ucap Tashigi yang sudah berdiri dan merendahkan tubuhnya sehingga membentuk siku-siku.



"Haaa~ Dasar gadis yang aneh. Pedang ini memang salah satu dari Meitou yang terkenal. Seorang amatiran sepertimu tak pantas membawanya. Kamu bisa mencari pedang seharga 50.000 berry di tempat penyimpanan ku itu. Cepat cari yang kau butuhkan dan pergi dari tokoku!" Ucap penjual itu dengan marah.



"Kenapa dia jadi marah seperti itu?" Ucap Zoro lalu melihat-lihat pedang di tempat penyimpanan.



Tanaka mengabaikan percakapan diantara Zoro dan Tashigi dan lebih fokus mencari pedang yang yang menurutnya menarik. Meskipun dia tidak mendapatkannya juga tidak menjadi masalah karena dia hanya ingin memiliki senjata untuk melawan musuhnya daripada melawan dengan tangan kosong.



Selain itu, dia juga tidak ingin terlalu bergantung pada kekuatan force.



"Seorang master Jedi juga tidak terlalu bergantung pada kekuatan force, tapi pada keahlian beladiri menggunakan lightsaber." Pikir Tanaka.



Saat melihat-lihat, Tanaka menemukan dua pedang yang ada di dalam keranjang. Tanaka mengambil dua pedang itu.



Ada perasaan aneh saat menggenggam kedua pedang itu. Pedang yang ada di tangan kanan, Tanaka merasakan suasana nyaman dan tenang seakan-akan pedang itu bukan untuk diciptakan untuk melukai mahluk hidup.



Sedangkan hal yang berbeda terjadi pada tangan kiri. Dia merasakan hal yang tidak nyaman, penuh dengan kebencian dan kemarahan.



"Pedang apa ini? Kenapa aku bisa merasakan hal yang berbeda." Pikir Tanaka.



Tanaka memutuskan untuk mengambil dua pedang itu karena sangat menarik.



Pada saat dia kembali ke counter dengan dua pedang itu, dia melihat Zoro sudah mendapatkan pedangnya.



Tashigi yang telah ensiklopedia hidup mengeluarkan catatannya lagi.



"Sandai Kitetsu adalah pendahulu dari Nidai Kitetsu yang merupakan salah satu dari Pedang Terhebat. Dan Shodai Kitetsu adalah salah satu dari Legenda Pedang Berlevel Tinggi. Paman, apa benar kamu akan menjualnya dengan harga 50.000 berry?" Tanya Tashigi yang bingung.



Penjual itu hanya terdiam dengan mengeluarkan keringat karena dia tidak ingat telah menaruh pedang itu di keranjang pedang seharga 50 ribu berry.



"Itu hebat sekali! Itu adalah salah satu dari pedang berlevel tinggi! Jadi kamu harus mengambilnya! Seharusnya itu berharga 1 juta berry! Itu penawaran yang luar biasa!" Ucap Tashigi.



"Tidak mungkin! Aku tidak menjualnya!" Ucap penjual itu yang panik.



"Benar, kan? Anda sendiri yang mengatakan pedang itu berharga 50.000 berry. Aku juga berpikiran begitu!" Ucap Tashigi.



"Tidak, bukan begitu." Ucap penjual itu yang bingung untuk menjelaskannya.



"Pedang Terkutuk, ya." Ucap Zoro.



"Kamu mengetahuinya?" Tanya penjual itu.



"Tidak, tapi aku bisa merasakannya." Ucap Zoro sambil melihat pedang Shodai Kitetsu yang telah dikeluarkan dari sarungnya.



"Shodai Kitetsu dan sejenisnya adalah pedang-pedang yang luar biasa. Tapi semuanya merupakan pedang terkutuk. Pendekar pedang yang menggunakan Kitetsu sebagai senjata mengalami kematian yang misterius. Kamu tak akan menemukan Pendekar Pedang masa kini yang menggunakan Kitetsu. Karena orang yang menggunakan pedang itu akan mati! Aku tak ingin menjualnya karena pedang itu terkutuk." Ungkap penjual itu.



"Ah, aku minta maaf! Aku tak tau pedang itu memiliki sejarah yang mengerikan! Seharusnya aku tak ikut campur!" Ucap Tashigi sambil membungkukkan badannya.



"Aku menyukainya! Aku ingin pedang ini!" Ucap Zoro yang tersenyum.



"Jangan bodoh! Jika aku menjualnya padamu dan kamu mati, itu sama halnya aku yang membunuhmu!" Ucap penjual itu yang panik.



"Yang bodoh itu adalah kamu! Jual saja pedang itu!" Ucap istri dari penjual itu yang muncul dan memukuli kepala penjual itu dari belakang.


"Bagaimana kalau begini? Keberuntunganku dan pedang yang terkutuk ini, mari kita coba mana yang lebih kuat!" Ucap Zoro dengan tersenyum seringai.


Zoro melemparkan pedang itu keatas dan mengulurkan tangannya dibawah pedang itu. Jika pedang itu mengenai tangannya, maka tangannya akan langsung putus.



Akan tetapi hasilnya, pedang itu tidak mengenai tangan Zoro.



"Aku akan mengambilnya." Tegas Zoro.



"Oi, maukah kamu mencarikan satu lagi untukku?" Pinta Zoro pada Tashigi.



"Ah, baik!" Ucap Tashigi.



"Tu-Tunggu!" Ucap penjual itu lalu menunjukkan sebuah pedang pada Zoro.



"Sarungnya yang terbuat dari pahatan pernis merah. Pedang ini adalah pedang yang bagian tepinya terurai dengan gagang dibawahnya. Salah satu dari 50 Pedang Level Tinggi, Yubashiri! Ini mungkin bukan pedang mahal, tapi inilah pedang terbaik yang kumiliki!"



"Aku tak bisa membelinya. Sudah kubilang, kan? Aku tak memiliki uang." Ucap Zoro.



"Tidak, lupakan masalah uang. Dan tentu saja aku tak akan mempermasalahkan uang untuk Kitetsu itu. Maaf aku sempat menipumu sebelumnya." Ujar penjual itu dengan sangat tulus dan menyesal.



"Sudah lama sekali sejak aku bertemu dengan seorang pendekar pedang sejati. Ada yang mengatakan bahwa pedang itu sendiri yang akan mencari tuannya. Aku mendoakan kamu selalu mendapat keberuntungan." Ucap penjual itu.



"Paman, lalu bagaimana dengan pedang ini?" Tanya Tanaka sambil menunjukkan dua pedang aneh tersebut. "Aku merasa ada yang aneh pada kedua pedang ini."



"Itu hanya pedang biasa, tidak bernama, kamu dapat membelinya dengan harga 50 ribu berry untuk keduanya." Ujar penjual itu dengan tenang, tidak heboh seperti saat Zoro menemukan pedang terkutuk.



"Eh?" Ujar Tanaka yang bingung.



Padahal dia berharap penjual itu akan heboh dengan dua pedang yang dia pegang saat ini.



Dia memang merasa ada yang aneh pada dua pedang itu karena memiliki sesuatu yang saling berkebalikan seperti positif dan negatif, cahaya dan kegelapan, kehidupan dan kematian.



Bahkan Tashigi yang merupakan ensiklopedia berjalan juga tidak tahu apapun tentang dua pedang tersebut.

__ADS_1



Meskipun begitu Tanaka tetap mengambil dua pedang itu karena dia merasakan hal yang menarik.


__ADS_2