
Kapal Going Merry terus berlayar di sungai Sandora. Saat ini adalah waktunya makan siang. Luffy dan Usopp yang bermain-main dengan onigiri buatan Sanji membuat mereka dipukul dengan wajan oleh Sanji.
"Jangan main-main dengan makanan!" Ucap Sanji marah. "Kalau kalian nganggur, cuci piring atau bantu-bantu sana! Dasar, padahal aku harus mempersiapkan bekal sebelum kita melewati sungai!"
"Mau dibantu?" Tanya Ace.
"Tidak, kamu adalah tamu di kapal ini. Duduklah dan santai saja." Ucap Sanji.
Ace hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, kapal Going Merry berlabuh dipinggir sungai atas permintaan Vivi yang ingin memberikan tugas penting untuk bebek peliharaannya, Karu
"Karu, dari sini kamu harus pergi ke istana Alubarna sendirian dan berikan surat ini pada ayahku." Pinta Vivi.
"Dalam surat ini, tertulis semua rahasia Crocodile dan Baroque Works yang ku tulis berdasar informasi yang kami dapat dan aku juga memberitahukan bahwa aku sudah kembali ke Alabasta bersama teman-temanku." Jelas Vivi. "Kamu akan sendirian di padang pasir sendirian tapi kamu pasti bisa melakukannya!"
Karu pun berkoak menyanggupi tugas yang diberikan untuknya.
"Dengar, di padang pasir kamu harus pintar-pintar menghemat air minum, ya." Saran Vivi. "Baiklah, beritahu ayahku kalau negeri ini bisa diselamatkan!"
"Karu, berjuanglah!" Ucap Luffy.
Karu berkoak lalu berlari pergi dengan sangat cepat menuju ke ibukota kerajaan Alabasta, Alubarna.
"Hemat air minummu!" Teriak Vivi lalu Karu sudah tidak terlihat lagi. "Karu, aku benar-benar mengandalkan mu."
"Yosh, ayo berlayar lagi!" Perintah Luffy.
"Tidak, tunggu, aku masih belum naik!" Ucap Usopp yang panik dan segera naik ke kapal sehingga dia tidak ditinggal sendirian di tempat itu.
Ace merasa bingung saat mengetahui seorang Shichibukai ingin merebut sebuah negara atau kerajaan.
"Benar-benar lelucon yang nggak lucu!" Tegas Ace. "Mungkin ada motif lain dibalik kudeta ini."
"Motif lain?" Tanya Zoro.
"Tujuan lain yang lebih besar." Ungkap Ace.
"Ya, tujuan utama Crocodile adalah ingin mendapatkan senjata kuno, Pluton." Pikir Tanaka. "Sedangkan untuk pengambilan tahta hanyalah bagian tambahan saja."
Meskipun Tanaka tahu tentang tujuan utama Crocodile, tapi dia tidak memberitahukan hal tersebut pada yang lainnya. Dia hanya membiarkan ceritanya berjalan dengan yang seharusnya, kecuali pada bagian Ace yang mati nantinya.
Setelah berlayar beberapa jam kemudian, akhirnya kapal Going Merry sampai di tempat yang tidak jauh dari kota yang akan menjadi tujuannya, kota Yuba.
"Akhirnya kita sampai juga!" Ucap Luffy dengan semangat.
"Akhirnya kita sampai ke padang pasir! Pasti disana panas, ya?" Tanya Chopper yang melihat padang pasir yang begitu luasnya.
"Saat siang, suhunya bisa mencapai 50 derajat." Jawab Nami.
"Benarkah?!" Ucap Chopper yang terkejut karena selama ini dia hidup di pulau yang dingin.
Vivi dan Nami memakai pakaian yang menutupi semua bagian tubuhnya, kecuali tangan dan wajah sedangkan para pria memakai pakaian ala musafir pandang pasir dengan pelindung kepala yang digunakan untuk melindungi sinar matahari.
Chopper juga memakai pakaian musafir padang pasir tapi tidak memakai pelindung kepala karena dia sudah memakai topi.
"Ada apa Nami?! Dimana pakaian penarinya? Vivi juga, kenapa memakai pakaian itu?!" Tanya Sanji yang terkejut saat melihat dua perempuan itu memakai pakaian yang sangat tertutup.
"Habisnya, kalau di padang pasir tak pakai penutup, kulit kami bisa terbakar sinar matahari!" Ucap Vivi.
"Kenapa berakhir begini, wahai gadis-gadis penariku." Ucap Sanji sambil berguling-guling di lantai.
"Sudah siap untuk turun." Ucap Zoro yang mengabaikan Sanji.
Semua orang menganggukkan kepalanya termasuk Sanji sambil menangis kecewa.
Zoro yang akan menurunkan jangkar terhenti karena melihat sesuatu yang akan keluar dari dalam air.
"Apa itu?" Tanya Zoro.
Sekumpulan hewan yang mirip Dugong tapi berukuran kecil muncul dan mengelilingi Going Merry.
"Kura-kura?" Ucap Zoro.
"Kamu pernah lihat bentuk kura-kura atau belum, Zoro?" Pikir Tanaka yang sweetdrop.
"Bukannya anjing laut?" Ucap Luffy.
"Kung Fu Dugong!" Ucap Vivi.
"'Jika kamu ingin berlabuh disini, kalahkan aku dulu! Kalau tidak, kembali saja ke laut sana, dasar pecundang!' Begitulah katanya." Ucap Chopper yang menerjemahkan ucapan salah satu Dugong.
"Kalau dikatain pecundang, aku takkan bisa tinggal diam! Ayo maju!" Ucap Usopp yang turun dari kapal dengan cara melompat untuk melawan salah satu hewan itu.
"Tunggu, Usopp-san!" Pinta Vivi dengan cemas.
Usopp mengabaikannya dan beberapa saat kemudian dia dikalahkan dengan mudah oleh salah satu Kung Fu Dugong itu.
"Kung Fu Dugong itu kuat!" Ucap Vivi yang telat memberikan informasi.
"Yang disana sepertinya menang!" Ucap Nami saat melihat Luffy berhasil mengalahkan salah satu Kung Fu Dugong yang dilawannya.
"Menang juga nggak boleh!" Ucap Vivi yang cemas.
Dugong yang tadi dikalahkan oleh Luffy bangkit berdiri dan membungkuk padanya.
"Ada apa!" Ucap Luffy.
"Kalau kalah bertarung, mereka akan jadi murid dari pemenangnya!" Jelas Vivi.
"Prinsip seni bela diri?" Tanya Zoro yang mengangumi Kung Fu Dugong.
Dugong-dugong itu lalu menatap Luffy dengan tatapan berbinar-binar dan mengelilingi Luffy.
__ADS_1
"Jumlah muridmu bertambah!" Ucap Vivi yang terkejut.
"Baiklah, semuanya, ikuti gerakanku! Bersiap!" Ucap Luffy lalu menunjukkan beberapa gerakan yang diikuti oleh Dugong-dugong itu.
Setelah Luffy selesai melatih Dugong-dugong itu, dia ingin melanjutkan perjalanan menuju ke kota Yuba sesuai rencana yang telah dibuat oleh Vivi.
"Tunggu bentar, oi! Mau bawa mereka juga?!" Tanya Zoro saat Dugong-dugong itu berbaris dengan rapi di belakang Luffy.
"Nggak bisa gitu, Luffy!" Tolak Nami.
"Para Dugong itu tak bisa melewati padang pasir." Ungkap Vivi.
Dugong-dugong itu lalu memeluk kaki Luffy karena tidak ingin ditinggalkan oleh manusia karet itu yang sudah mereka anggap sebagai master mereka.
"Entah kenapa, rasanya seperti melakukan sesuatu yang menyedihkan." Ucap Nami yang merasa iba melihat para Dugong-dugong itu.
"Aku juga, bagaimana dong?" Tanya Vivi.
"Maaf, tapi kalian tidak bisa ikut bersama kami. Sebagai gantinya, aku akan memberikan ini." Ucap Tanaka sambil tersenyum dan menyodorkan sebuah daging pada mereka.
Dugong-dugong itu dengan cepat mendatangi tempat Tanaka berada. Dia juga memberikan beberapa onigiri untuk para Dugong-dugong itu sehingga bekal yang dibuat oleh Sanji berkurang banyak.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." Ucap Tanaka yang berjalan terlebih dahulu.
"Mereka mau mengikuti ku, kenapa tak diajak saja?" Tanya Luffy.
"Kita tak bisa pergi kemana pun kalau bawa kelompok besar, dasar bodoh! Dasar! Kalau Tanaka tak membujuk mereka, kita bakal kesulitan, tau!" Ucap Nami.
"Ya, mereka selalu bilang, 'kami akan mengikutimu!' Kalau tak diberi daging mereka benar-benar mengikuti kita, tau!" Ucap Chopper.
"Ya ampun, karena ulahmu, bekal makanan kita jadi berkurang!" Ucap Sanji yang kesal.
"Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi." Ucap Tanaka yang mencoba untuk menenangkan suasana.
"Dia selalu buat masalah, ya." Tanya Ace.
"Memang!" Ucap Sanji dan yang lainnya kecuali Luffy, Tanaka dan Chopper.
"Sampai jumpa, ya!" Ucap Luffy sambil melambaikan tangannya pada Dugong-dugong itu yang dibalas oleh mereka sambil makan daging ataupun memegang onigiri.
Mereka berjalan di padang pasir yang cukup panas karena tidak ada awan yang menghalangi sinar matahari ataupun tempat teduh.
Setelah beberapa saat berjalan di padang pasir dengan cuaca panas itu mereka berhenti berjalan saat melihat sebuah kota yang hancur dan hanya terdapat puing-puing bangunan saja.
"Tempat apa ini?" Tanya Sanji yang kebingungan.
"Apa ini kota Yuba?" Tanya Luffy yang juga sama.
"Bukan, ini adalah Erumalu. Kota yang dijuluki sebagai Kota Hijau." Ungkap Vivi.
"Kota Hijau?" Tanya Luffy yang tidak percaya karena yang ada hanya pasir yang menutupi puing-puing bangunan.
Tidak ada sesuatu seperti pohon ataupun rumput hijau di tempat tersebut.
"Melihat bagaimana kondisinya saat ini sudah jelas. Apa yang telah dilakukan organisasi Baroque Works pada negeri ini...apa yang akan dialami oleh para penduduk Alabasta..." Ucap Vivi yang sedih.
Mereka berjalan memasuki kota Erumalu lebih dalam sambil melihat kanan dan kiri.
"Wuah, nggak ada apa-apa disini!" Ucap Luffy.
"Benar sekali, sekarang seperti kota hantu, tapi dulunya kota ini adalah sebuah kota berkembang yang penuh dengan tumbuhan hijau!" Ungkap Vivi yang masih mengingat bagaimana bentuk kota tersebut.
"Tempat ini, ya?" Ucap Zoro yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vivi berdasarkan apa yang terjadi pada kota itu saat ini.
Vivi pun menjelaskan tentang kondisi kota tersebut yang mana kota itu jarang turun hujan, tapi masih bisa bertahan dan menjadi kota hijau karena mereka memiliki sebuah penampungan besar untuk air hujan saat turun di kota tersebut.
"Tapi, selama tiga tahun terakhir, tak pernah sekalipun turun hujan di semua bagian negeri ini." Ungkap Vivi yang sedih.
"Selama tiga tahun?!" Ucap Sanji terkejut karena satu tahun saja tidak turun hujan di tempat yang sinar matahari bersinar dengan cerahnya tidak akan bisa bertahan dalam satu bulan tanpa air.
"Tapi, meski tak ada hujan turun, masih ada sungai yang barusan kita lewati, kan?" Tanya Zoro.
"Benar sekali, bukannya mereka bisa membuat saluran air dari sungai besar itu?" Tanya Usopp.
Vivi menjelaskan kalau Alabasta meskipun jarang turun hujan, tapi itu tidak terlalu lama seperti yang terjadi pada saat ini. Bahkan dalam sepengetahuannya, tidak pernah sekalipun Alabasta selama beribu-ribu tahun mengalami hal seperti saat ini.
"Tapi, ada satu tempat dimana hujan turun lebih sering dari biasanya. Tempat itu adalah ibukota kerajaan, Alubarna. Kota tempat istana raja berada." Ungkap Vivi. "Orang-orang menyebutnya keajaiban raja tapi sebenarnya bukan."
Vivi kemudian menceritakan tentang ditemukannya Dance Powder di kota pelabuhan Nanohara.
"Dance Powder?!" Ucap Nami.
"Kamu tau tentang itu?" Tanya Luffy.
"Ya, dikenal sebagai Bubuk Pemanggil Hujan." Ucap Nami.
"Pemanggil Hujan?" Ucap Chopper.
Nami menjelaskan tentang bubuk pemanggil hujan itu pada yang lainnya kalau bubuk tersebut dibuat oleh peneliti dari sebuah negara yang sangat jarang turun hujannya.
"Dengan membuat asap berkabut lalu mengarahkannya ke langit, maka hujan pun akan turun. Itulah Dance Powder." Ungkap Nami.
"Ah, aku ngerti! Maksudmu bubuk misterius itu, ya! Tadi aku sempat memakannya, rasanya nggak enak banget!" Ucap Luffy yang menjulurkan lidahnya karena mengingat rasa Dance Powder.
Akan tetapi tidak ada yang percaya dengan ucapan Luffy, mereka hanya menganggap Luffy memakan sesuatu yang aneh bukan bubuk pemanggil hujan itu.
"Apa-apaan kalian ini? Kalian pasti menganggap aku berbohong, kan? Hei!" Ucap Luffy yang marah.
"Tidak, aku percaya padamu kapten." Ujar Tanaka yang tersenyum.
Luffy merasa senang sehingga dia tertawa.
"Tunggu, bukankah itu jalan keluar yang sempurna bagi negeri ini?" Tanya Usopp.
__ADS_1
Nami pun menjelaskan tentang dampak yang terjadi pada penggunaan Dance Powder tersebut bahwa hal itu akan merugikan negara tetangga karena hujan yang seharusnya turun di tempatnya tidak jadi.
"Dance Powder menciptakan hujan buatan yang terbentuk dari proses memperbesar awan yang belum matang, dan awan yang belum matang itu akan menghisap air hujan dari awan yang sudah siap menurunkan hujan sehingga bisa menurunkan hujan. Karena itulah..." Jelas Nami.
"Ah, aku mengerti! Jadi awan itu mencuri hujan dari awan yang sudah siap menurunkan hujan di negeri lain." Ucap Usopp.
Akibat hujan yang seharusnya turun menjadi tidak turun itu membuat negara menyerang negara yang memakai Dance Powder tersebut sehingga timbullah perang yang seharusnya tidak terjadi.
"Sejak saat itulah Pemerintah Dunia melakukan pelarangan untuk membuat atau memiliki Dance Powder." Tegas Nami.
"Bubuk yang mampu membawa kebahagiaan sekaligus bencana, ya." Ucap Tanaka.
Vivi kembali menjelaskan tentang peristiwa Dance Powder tersebut yang mana mengakibatkan kerajaan Alabasta mengalami fenomena cuaca yang begitu aneh.
"Tak turunnya hujan di wilayah mana pun kecuali kota dimana raja berada." Jelas Vivi.
"Tunggu Vivi, itu artinya ayahmu jahat!" Ucap Luffy yang marah.
"Baka, dia itu dijebak, tau! Ayah Vivi takkan melakukan perbuatan sejahat itu! Takkan pernah, takkan pernah!" Ucap Sanji sambil memukul kepala Luffy dengan kakinya terus menerus.
"Tentu saja, ayahku tak terlibat dengan tindakan itu, tapi di saat yang sama, sejumlah besar Dance Powder ditemukan di dalam istana." Ungkap Vivi.
"Mereka bahkan menyusup di dalam istana, ya?" Tanya Zoro.
Pada saat itu mereka telah tiba di sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah jalan yang cukup lebar tapi jalan tersebut ditutupi dengan pasir seperti yang terjadi pada puing-puing bangunan di sekitarnya.
"Jalan apa ini, Vivi?" Tanya Sanji.
"Ini bukan jalan." Bantah Vivi yang melihat ke arah tempat itu dengan perasaan sedih.
"Kalian tadi mengatakan kenapa kota ini tidak saluran air yang menghubungkan kota ini dengan sungai Sandora kan?" Tanya Vivi.
Zoro dan Usopp menganggukkan kepalanya.
"Inilah saluran air yang dulunya digunakan untuk menyalurkan air dari sungai Sandora." Ungkap Vivi.
Mereka semua terkejut mendengar itu kecuali Luffy dan Tanaka. Luffy karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan sedangkan Tanaka tahu siapa yang menghancurkan saluran air tersebut.
"Seseorang telah menghancurkan kanal ini, dengan tak adanya kanal ini, Kota Hijau pun tak lagi memiliki air." Ucap Vivi. "Para penduduk terus berdoa dan menunggu, namun hujan tak kunjung datang juga."
"Sejak insiden Dance Powder itulah, ketidakpercayaan pada raja terus meningkat." Tegas Vivi dengan raut wajah sedih.
"Semuanya berjalan sesuai rencana Crocodile, ya?" Pikir Zoro.
Vivi menjelaskan bahwa dengan tidak adanya hujan yang turun dengan rentang waktu cukup lama, ditambah dengan terjadinya perang saudara.
"Orang-orang yang kelelahan meninggalkan kota dan mencari oasis lain untuk mendapatkan air. Lalu Kota Hijau pun menjadi kering." Ungkap Vivi dengan raut wajah sedih.
Tiba-tiba angin menjadi lebih kencang dari sebelumnya.
"Apa itu suara seseorang?" Ucap Nami.
"Pasukan pemberontak?" Ucap Vivi.
"Jangan-jangan Baroque Works sedang mengikuti kita!" Ucap Usopp.
Mereka semua bersikap waspada kecuali Tanaka dan Ace.
Ace memberitahu pada yang lainnya kalau itu hanyalah suara angin yang melewati puing-puing bangunan.
"Suaranya datang dari segala penjuru! Bagaimana ini? Hei, kakak Luffy!" Ucap Usopp yang tertuju pada Ace.
"Tak berbahaya. Ini hanyalah hembusan angin yang melewati kota dan menggema di bangunan kota." Ungkap Ace.
"Kotanya...kota Erumalu seperti sedang menangis." Ucap Vivi.
Setelah angin yang berhembus kencang dan munculnya sebuah tornado kecil yang membuat mereka harus bertahan agar tidak terbawa badai pasir itu.
Nami melihat sesosok orang dengan jubah terkoyak-koyak sedang berbaring di atas tumpukan pasir.
"Di kota ini masih ada orang?" Tanya Vivi.
"Tidak, itu bukan orang tapi ... " Gumam Tanaka.
Luffy yang telah berlari duluan langsung berhenti karena dia melihat kalau itu hanyalah tubuh manusia yang sudah menjadi tengkorak dengan kepalanya berlubang besar.
"Apa salah ayahku? Apa salah penduduk di kota ini? Mereka terlahir di padang pasir, sejak kecil hidup mereka sulit dan harus berjuang melawan alam, namun ia menghancurkannya. Kenapa dia tega melakukan hal seperti itu?!" Ucap Vivi yang terduduk di atas pasir dan kemudian memeluk kepala tengkorak tersebut.
"Saat itu, sebagai seorang salah satu Shichibukai, dia berpura-pura menjadi pahlawan bagi penduduk! Tak ada yang tau kalau dia telah menipu seluruh penduduk di negeri ini! Aku takkan bisa memaafkannya!" Tegas Vivi yang menangis dan juga marah.
Luffy lalu memukul bangunan tua yang tidak jauh dari tempat itu, membuat bangunan itu roboh sebagai pelampiasan kemarahan.
"Dasar, kekanak-kanakan banget!" Ucap Zoro.
Tanaka segera menggali lubang di pasir agar mayat yang sudah menjadi tengkorak itu bisa dikubur dengan layak.
Setelah itu, Vivi menancapkan sebuah penanda disana.
"Vivi! Ayo kita lanjutkan perjalanan! Aku mulai kesal!" Ucap Luffy yang marah.
"Ayo kita pergi ke Yuba!" Ucap Nami.
"Disana tempat pasukan pemberontak berada, kan?" Tanya Zoro.
"Ya, aku akan membujuk pemimpin mereka untuk menghentikan pemberontakan." Jelas Vivi.
"Membujuk?" Tanya Zoro yang kebingungan.
"Seluruh bencana di Alabasta adalah ulah dari Crocodile! Aku akan mengatakan yang sebenarnya dan menghentikannya melakukan tindakan yang sia-sia!" Ucap Vivi.
Tanaka ingin mengatakan sesuatu tentang rencana Vivi tersebut, tapi dia mengurungkan niatnya untuk hal itu karena dia telah berjanji pada dirinya untuk tidak mengubah jalan cerita one piece kecuali tentang kematian Ace.
Mereka pub melanjutkan perjalanan menuju Yuba seperti dalam cerita one piece.
__ADS_1