Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
40


__ADS_3

"Teman-teman, suatu hari nanti aku pasti akan pergi ke desa kesatria Elbaf!" Ucap Usopp dengan penuh kebanggaan.



"Ya, oke!" Ucap Luffy.



Sementara Luffy dan Usopp menari-nari, Tanaka melihat Nami yang kelihatan lemas sambil menyenderkan tubuhnya di tiang utama kapal Going Merry.



Dia segera mendekati Nami untuk mengecek keadaannya.



Tanaka melupakan hal yang sangat penting pada Nami saat berada di little garden dan dia baru sadar saat melihat kondisi Nami yang tidak normal tersebut.



"Seharusnya aku bisa mencegah ini bila saja aku ingat." Pikir Tanaka.



"Hei, apa kamu tidak apa-apa? Kamu kelihatan tidak baik saat ini." Tanya Tanaka.



Nami menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit lelah." Ucap Nami sambil memegang keningnya sendiri. "Vivi, bisakah kamu mengawasi kompas ini?"



Nami memberikan Eternal Pose Alabasta pada Vivi. Sedangkan Tanaka memegang tangan Nami dan itu terasa sedikit lebih tinggi suhunya daripada suhu orang normal.



"Sial, ini benar-benar terjadi." Pikir Tanaka.



Sementara itu, Vivi menerima Eternal Pose itu dan menatapnya lekat, tanpa menyadari adanya keanehan pada Nami.



"Dengan begini, akhirnya kamu bisa kembali ke Alabasta, ya. Yah, itu pun kalau kita bisa sampai kesana dengan selamat." Ujar Nami yang sudah mulai merasa kesulitan untuk bernafas.



"Ya, aku pasti akan kembali! Karena yang bisa menyelamatkan kerajaan adalah aku. Aku pasti akan kembali ke Alabasta hidup-hidup." Ucap Vivi.



"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Vivi-chan." Ucap Sanji sambil membawa kue dengan nampan di tangannya. "Ada aku! Waktunya bersantai dan menikmati petit fours? Kalian berdua ingin minum kopi atau teh?"



Luffy, Usopp dan Karu yang mendengar ada makanan langsung menatap kue buatan Sanji dengan liur di bibir mereka.



"Jatah kalian di dapur!" Ucap Sanji.



Mereka bertiga lalu langsung lari ke dapur. Setelah mengambil satu kue Sanji dan memakannya.



Sedangkan Tanaka masih memantau keadaan Nami yang mulai mengeluarkan keringat banyak di keningnya.



"Nami, kamu sedang tidak baik-baik saja, beristirahatlah di kamarmu." Pinta Tanaka.



"Ya, aku lihat kamu memang tidak dalam kondisi sehat, beristirahatlah Nami." Ujar Vivi yang mulai menyadari adanya keanehan pada Nami. "Serahkan padaku untuk mengawasi rute kapalnya."



"Ya, maaf sudah ... " Ucap Nami yang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena dia langsung ambruk ke lantai kapal karena pingsan.



"Nami, hei! Nami!" Panggil Tanaka yang berusaha menyadarkan Nami.



Dia juga menyentuh kening Nami yang terasa sangat panas, menandakan Nami sedang dalam kondisi demam yang parah.



"Semuanya! Gawat!" Teriak Vivi saat melihat Nami pingsan.



Luffy dan lainnya segera menghentikan aktivitas mereka saat Vivi berteriak.



"Ada apa Vivi?" Tanya Luffy.



Sementara itu, Tanaka tanpa pikir panjang mengangkat tubuh Nami ala bridal style menuju ke kabin istirahat perempuan dengan ditemani oleh Vivi, Sanji, Usopp, Luffy dan Karu.



Zoro tidak ikut karena dia diberikan tanggung jawab untuk menjaga rute kapal tetap sesuai dengan arah jarum Eternal Pose.



Sesampainya di depan pintu kabin istirahat perempuan, "Vivi, tolong bukakan pintu untukku!" Pinta Tanaka.



Vivi melakukan apa yang diperintahkan oleh Tanaka lalu aku membaringkan tubuh Nami di kasur dengan hati-hati, menyelimuti tubuh Nami.



"Sanji, buatkan air hangat dan bawa beberapa handuk kecil yang bersih!" Pinta Tanaka.



"Baik!" Ujar Sanji yang segera pergi ke dapur untuk membuat air hangat.



"Aku ikut bantu!" Ujar Usopp yang pergi bersama Sanji.



"Vivi, bisakah kamu mengganti pakaian Nami dengan pakaian yang lebih tebal, pakaiannya basah karena keringat yang keluar dari tubuhnya." Pinta Tanaka. "Tapi sebelum memakai pakaian, kamu harus mengelap seluruh tubuhnya dengan air hangat."



"Baik!" Ujar Vivi.



Setelah itu para pria segera keluar dari kabin tersebut, membiarkan Vivi melakukan tugasnya.



"Apa Nami baik-baik saja Tanaka?" Tanya Luffy.



Tanaka menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, aku bukan dokter, jadi tidak bisa memberikan jawaban atas hal itu." Ujar Tanaka. "Aku hanya bisa memberikan pertolongan pertama saja, selebihnya aku tidak tahu."



"Tanaka ini air hangat dan handuk kecil bersihnya." Ujar Sanji.



Tanaka menganggukkan kepalanya dan memberitahu pada Vivi tentang hal tersebut.



Vivi membuka pintu sedikit, menerima satu panci kecil dan beberapa handuk yang dibawa oleh Sanji. Dia kembali ke kabin itu dengan menutup pintunya.



Setelah semuanya selesai, Vivi keluar untuk meminta semuanya masuk ke dalam kabin itu lagi.



"Bagaimana keadaannya?" Tanya Tanaka sambil melihat Nami yang sedang berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya sampai leher dan sebuah handuk kecil basah berada di keningnya.



"Nami mengalami demam yang cukup parah." Jawab Vivi. "Dia harus ditangani oleh dokter secepatnya."



"Apa Nami-san akan mati? Apa iya, Vivi-chan?" Tanya Sanji sambil menggigit sapu tangan dan menangis.



"Mungkin penyebabnya cuaca." Ucap Vivi sambil mengompres Nami lagi. "Salah satu halangan para bajak laut memasuki Grand Line adalah penyakit yang disebabkan kacaunya cuaca." Ungkap Vivi.



"Sekuat apapun para bajak laut tak jarang dari mereka juga menjadi korban dari keganasan cuaca disini. Sekecil apapun gejala penyakitnya, bisa membuat nyawa penderitanya melayang." Jelas Vivi.



"Tidak, ini bukan karena cuaca, aku yakin ini terjadi karena bakteri yang masuk saat kita berada di little garden." Bantah Tanaka.



"Bakteri apa?" Tanya Vivi.



Tanaka hanya diam sesaat karena dia tidak bisa menjelaskan tentang itu, tapi dia yakin kalau Nami sakit dikarenakan bakteri.



Sanji menangis tersedu-sedu mendengar hal itu.



"Apa di kapal ini ada yang paham tentang medis?" Tanya Vivi.



Luffy dan Usopp lalu menunjuk Tanaka.


"Aku hanya tahu penanganan pertolongan pertama." Jawab Tanaka.


"Tapi, bukannya makan daging bikin penyakit sembuh? Iya kan, Sanji?" Tanya Luffy dengan polosnya.



"Dia bukan kamu Luffy!" Pikir Tanaka yang sweetdrop.



"Dia benar-benar bodoh!" Ujar Sengo.


__ADS_1


"Aku memang bisa memasak makanan untuk orang sakit, tapi masalah medis itu urusan petugas medis. Tak ada jaminan masakanku bisa menyembuhkan." Jelas Sanji.



"Dan lagi, untuk kebutuhan gizi, Nami dan Vivi, aku lebih perhatian 100 kali lipat dibanding pada kalian. Aku menyajikan daging segar, sayur-sayuran dan nutrisi yang seimbang untuk mereka. Sedangkan yang jelek-jelek kuberikan pada kalian." Ungkap Sanji.



"Oe!" Ucap Usopp yang marah.



"Meskipun begitu, masakanmu masih sangat lezat, Sanji." Pikir Tanaka.



"Tapi rasanya kok enak, ya?" Tanya Luffy.



"Yang jelas, selama aku jadi koki di kapal ini, takkan ada masalah dalam hal kebutuhan gizi serta nutrisi makanan." Tegas Sanji.



"Tapi, bagi seorang yang sakit, makanan yang diberikan berbeda. Apa gejalanya? Nutrisi apa yang dibutuhkannya? Mengenai itu aku tak paham." Ungkap Sanji.



"Kalau gitu, biar dia makan semua saja!" Ucap Luffy dengan santainya.



"Orang sakit mana mungkin bisa makan sebanyak itu!" Ucap Sanji yang menghela nafas.



"40 derajat? Panasnya naik lagi!" Ucap Vivi saat memeriksa termometer untuk mengecek suhu tubuh Nami.



"Di Alabasta ada dokternya, kan? Dan berapa lama lagi kita sampai disana, Vivi?" Tanya Usopp.



"Akan butuh waktu lama dan Nami bisa mati!" Jawab Tanaka. "Kita berada di lautan Grand Line yang semuanya bisa berubah-ubah tanpa terkendali, tidak seperti lautan East Blue."



"Bisa saja kita sampai di Alabasta, mingguan, bulanan atau bahkan tahunan dan pada saat itu juga Nami tidak akan bisa bertahan karena tidak mendapatkan perawatan medis dari dokter!" Tegas Tanaka.



"Apa orang sakit itu gawat?" Tanya Luffy yang kebingungan.



"Entahlah, aku nggak pernah sakit." Ucap Sanji dan Usopp bersamaan.



Tanaka hanya menghela nafas panjang.



"Kalian itu makhluk apa memangnya?!" Ucap Vivi marah. "Tentu saja gawat! Panas sampai 40 derajat itu jarang terjadi! Penyakit ini bisa saja merenggut nyawanya!"



Luffy, Usopp, Sanji dan Karu langsung heboh, membuat Tanaka kesal.



"Diamlah!" Teriak Tanaka yang membuat mereka langsung diam. "Kita harus berhenti di pulau yang ada tanda kehidupan manusia dan mencari dokter di tempat itu untuk menyembuhkan Nami!"



"Tidak." Ucap Nami yang sudah sadar dan mengambil posisi duduk di atas kasurnya.



"Nami?" Ucap Vivi yang segera membantu Nami.



"Oh, sudah sembuh!" Ucap Luffy yang gembira



"Mana mungkin?!" Ucap Usopp sambil memukul kepala Luffy.



"Di dalam laciku, ada sebuah surat kabar, kan?" Ujar Nami. "Tolong ambilkan."



Vivi mengambil surat kabar yang ada di laci tersebut dan kemudian melihat tulisan dan gambar di tajuk utama surat kabar itu



"Ti-Tidak! Tidak mungkin!" Ucap Vivi yang terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.



"Hei, ada apa?" Tanya Luffy.



"Tentang Alabasta ya, Vivi?" Tanya Sanji.



"300 ribu prajurit kerajaan membelot ke pihak pasukan pemberontak." Ucap Vivi membaca berita yang tertulis disana.




"Kalau seperti itu, pemberontakan di Alabasta akan semakin parah. Itu surat kabar tiga hari yang lalu." Ungkap Nami dengan tubuhnya yang keluar keringat lagi dan membasahi pakaian hangatnya.



"Maafkan aku, meskipun aku memberitahu kamu, Vivi, kami tak bisa mempercepat kapal, jadi karena tak ingin kamu khawatir, aku tak memberitahukannya." Jelas Nami. "Kamu paham, Luffy?"



"Sepertinya gawat banget!" Ucap Luffy.



"Kalau bisa ngerti sedikit, baguslah." Ucap Nami.



"Tapi kamu harus diperiksa oleh dokter!" Ucap Usopp.



"Aku baik-baik saja, termometernya mungkin rusak. Mana ada manusia memiliki panas tubuh 40 derajat." Ujar Nami. "Mungkin karena terkena paparan sinar matahari."



"Tak perlu ke dokter, aku pasti bisa sembuh sendiri." Ucap Nami lalu berusaha bangkit berdiri dari kasur. "Untuk saat ini, kita terus saja mengarah ke Alabasta! Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."



Tanaka segera menahannya dan membuatnya berbaring di atas kasur lagi, menyelimuti tubuhnya sampai ke leher.



"Orang sakit harus banyak istirahat, agar tidak menjadi lebih parah sakitnya." Ujar Tanaka. "Masalah kita akan menuju ke Alabasta atau mencari dokter untuk kamu, itu keputusan Luffy sebagai kapten kapal ini."



Luffy hanya diam karena dia bingung dengan keputusan apa yang akan dia ambil sedangkan Vivi hanya terduduk di lantai kabin memikirkan tentang kondisi kerajaannya.



"Haaaa~"



Tanaka menghela nafas panjang karena melihat itu. Akan tetapi dengan ini Luffy akan belajar menjadi seorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar.



Nami berusaha bangkit dari tempat tidurnya lagi, tapi Tanaka berusaha mencegahnya melakukan itu.



"Biarkan aku menjalankan tugasku sebagai navigator, Tanaka!" Ujar Nami yang memohon. "Aku baik-baik saja, nanti juga sembuh."



Tanaka hanya terdiam dan tidak lagi menghalangi Nami untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan keluar kamar dan Tanaka hanya menatap kepergian Nami dengan wajah datar.



"Pembohong..." Gumam Tanaka yang segera menyusul Nami.



"Dasar! Daritadi apa saja yang kamu awasi?!" Ucap Nami saat berada di luar kabin dan berdiri di samping Zoro yang sedang duduk di pagar depan kabin serbaguna.



"Apa maksudmu? Kapalnya tetap berjalan lurus, tau!" Ucap Zoro yang tidak terima.



"Ya, harus mengarah ke sudut yang benar! Lihatlah kompasnya baik-baik!" Pinta Nami sambil melihat jarum kompas yang dipegang oleh Zoro.



Tanaka sudah berada di samping Nami untuk mengawasi perempuan itu karena bisa kapan saja dia kembali pingsan.



"Tak usah dilihat pun, aku tinggal mengikuti arah awan besar itu." Ucap Zoro sambil menunjuk sebuah awan.



"Dia juga bodoh! Bagaimana mungkin kalian mempercayai navigasi pada orang yang hanya mengikuti awan daripada kompas!" Ujar Sengo.



Tanaka tidak bisa membantah karena memang seperti itulah Zoro yang memiliki kelemahan buta arah.



"Awan itu bisa bergerak dan berubah bentuk, tau!" Ucap Nami lalu memegang kepalanya. "Aduh, tidak, kepalaku mau pecah."



"Karena itulah serahkan padaku, kamu cukup beristirahat agar sembuh!" Ucap Zoro.



"Aku datang kesini karena aku tak bisa menyerahkannya padamu." Ucap Nami lalu terdiam sebentar. "Tekanan udaranya berubah."



"Udara? Daritadi cuacanya cerah-cerah saja." Ucap Zoro kebingungan sambil melihat langit.

__ADS_1



"Tak perlu berkomentar, panggil yang lain!" Pinta Nami.



"Hei kalian, keluarlah! Kerja!" Ucap Zoro memanggil yang lain.



"Ada apa?" Ucap Luffy.



"Ada apa? Kalau kamu yang nyuruh, jadi pengen malas-malasan, ya!" Ucap Sanji.



Zoro mengabaikan keluhan Sanji tersebut dan memberikan perintahnya pada Luffy dan lainnya.



"Apa yang terjadi Nami? Gelombang lautnya tenang dan cuacanya cerah." Ucap Sanji.



Nami pun memberitahu pada Sanji dan lainnya tentang apa yang akan mereka hadapi di depan.



"Ada angin besar...yang mengarah ke kapal kita...mungkin, sih." Ucap Nami.



Luffy lalu tiba-tiba saja menyentuh kening Nami. "Panas! Kau panas banget! Masuklah kedalam dan kita cari dokter!" Perintah Luffy.



"Jangan bicara seenaknya! Suhu tubuhku ya memang seperti ini! Jangan bodoh dan cepat bawa talinya!" Perintah Nami.



"Nami, aku tau kamu melakukan ini demi Vivi, tapi jika kamu terlalu memaksakan dirimu..." Ucap Sanji.



"Sudah kubilang aku baik-baik saja kan!" Ucap Nami marah.



Mereka pun melaksanakan perintah Nami.Setelah kapal digerakkan sesuai perintah Nami, Tanaka yang tadinya diam pun angkat bicara karena tidak bisa membiarkan keegoisan Nami yang akan membahayakan nyawanya sendiri.



"Sampai kapan kamu akan berbohong!" Ucap Tanaka membuat mereka semua menatapnya. "Demammu itu bukanlah demam biasa! Kita harus segera membawamu ke dokter!"



"Sudah kubilang aku baik-baik saja!" Bantah Nami.



"Tidak! Kamu tidak baik-baik saja!" Bantah Tanaka. "Kamu harus beristirahat dan mendapatkan perawatan medis dari dokter!"



Akan tetapi Nami tetap mempertahankan keegoisannya tersebut dan membuat Tanaka semakin kesal. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya.



"Jika memang kematian yang kamu inginkan, aku akan memberikanmu kematian itu sekarang juga!" Ucap Tanaka dengan tatapan tajam, wajah datar dan nada bicara yang dingin.



Dia juga mengeluarkan sedikit Honjo dari sarungnya. Tanaka memilih Honjo daripada Sengo karena pedang itu tidak bisa membunuh makhluk hidup.



Dia hanya memberikan gertakan pada Nami agar tidak egois lagi, tidak serius dengan ucapannya itu. Bila dia serius, Tanaka tidak akan menggunakan Honjo tapi Sengo.



Nami bergidik ketakutan saat melihat Tanaka seperti itu dan membuatnya bergerak sedikit menjauh dari Tanaka.



"Apa kamu sudah gila, Tanaka!" Teriak Sanji yang segera berlari menuju ke tempat Tanaka.



Zoro segera memegang tangan Tanaka yang memegang pedang Honjo. Beberapa saat kemudian Sanji juga menahan tangan pria itu.



"Apa yang kamu pikirkan?!" Ucap Zoro.



"Aku akan membunuhmu kalau kamu menyakiti Nami!" Ujar Sanji.



"Lepaskan!!" Ucap Tanaka yang kemudian menggunakan kekuatan forcenya, melemparkan tubuh mereka berdua.



"Semuanya dengarkan, aku ada permintaan!" Ucap Vivi yang baru saja keluar dari kabin, membuat Tanaka menghentikan aksinya dan memasukkan kembali Honjo ke sarungnya.



Tanaka melihat Nami yang terlihat ketakutan dan itu membuatnya menghela nafas panjang.



"Sepertinya aku sudah terlalu kelewatan?" Pikir Tanaka. "Aku akan minta maaf padanya nanti."



"Sebagai orang yang menumpang di kapal ini, aku memang tak berhak meminta, tapi kampung halamanku saat ini sedang kacau balau, jadi aku harus segera kembali! Kita tak boleh membuang-buang waktu! Jadi aku ingin kapal ini mengarah langsung ke Alabasta dengan kecepatan penuh!"



Tanaka dan lainnya hanya terdiam mendengarkan ucapan Vivi tersebut dan hanya Nami yang berbicara.



"Tentu saja, bukankah kami sudah berjanji?" Ucap Nami yang sudah tidak ketakutan lagi tapi sedikit lebih menjauh dari Tanaka.



"Kalau begitu, ayo kita cari pulau yang ada dokternya! Ayo kita segera sembuhkan Nami dan setelah itu pergi ke Alabasta! Bukankah seperti itu kecepatan tertingginya?" Tanya Vivi.



Luffy dan lainnya langsung tersenyum mendengar itu dan Tanaka hanya menggelengkan kepalanya.



"Seharusnya itu yang kamu ucapkan terlebih dahulu, hampir saja kamu membuat mereka salah paham." Pikir Tanaka.



"Benar sekali, tidak ada yang lebih cepat daripada kapal ini!" Ucap Luffy yang tersenyum nyengir.



"Apa kamu yakin? Sebagai seorang putri, harusnya kau lebih mengkhawatirkan jutaan pendudukmu." Tanya Usopp.



"Benar sekali, karena itulah kita harus segera menyembuhkan Nami!" Tegas Vivi.



"Kamu sungguh baik, Vivi! Aku jadi makin jatuh hati, nih!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.



"Pidato yang bagus." Ucap Zoro.



"Terima kasih..." Ucap Nami yang tidak kuat lagi berdiri.



Tanaka yang berada di dekatnya segera menahan tubuh Nami dengan merangkulnya. Vivi juga melakukan hal yang sama pada bagian kiri.



"Tanaka, kamu tadi terlihat menakutkan." Ucap Nami. "Apa kamu serius melakukannya tadi?"



"Maaf, aku hanya menggertak saja tadi." Ungkap Tanaka. "Aku hanya tidak suka kamu mengabaikan dirimu sendiri demi orang lain, sedangkan dirimu saat ini tidak dalam kondisi yang bagus."



"Terima kasih, Tanaka." Ucap Nami lalu ia tertidur.



"Vivi bawa Nami ke kasurnya, biarkan dia beristirahat." Pinta Tanaka.



Vivi menganggukkan kepalanya dan saat akan pergi ke kabin istirahat perempuan dia mendengar Luffy berteriak.



"Wuaaaah! Apa itu!" Teriak Luffy sambil menunjuk sebuah pusaran angin yang cukup besar.



"Itu tornado!" Jawab Sanji.



"Besarnya!" Teriak Usopp.



"Arahnya di tempat kita semula tadi." Ujar Sanji.



"Kalau saja kita tidak menyingkir dari tempat itu karena perintah Nami ... " Ucap Usopp.



"Kita akan mendapatkan masalah!" Ujar Luffy yang menyelesaikan ucapan Usopp.



Vivi yang melihat tornado itu hanya bisa terdiam dan kemudian melihat Nami.



"Hebat, belum ada navigator yang bisa memprediksi adanya kemunculan tornado di Grand Line." Ujar Vivi yang masih terkejut. "Tapi dia, tidak hanya memprediksi cuaca berdasarkan teori tapi juga tubuhnya bisa merasakan perubahan cuaca, aku belum pernah melihat ada navigator sehebat ini."



"Begitulah kehebatan navigator kami, tolong bawa dia ke kamarnya dan jaga dia, serahkan navigasi padaku." Ujar Tanaka. "akan aku pastikan kita akan menemukan pulau dan mendapatkan dokter untuk merawatnya."

__ADS_1



Vivi menganggukkan kepalanya dan dia membawa Nami ke kabin istirahat perempuan.


__ADS_2