
Kapal Going Merry kembali berlayar mengarungi lautan Grand Line dengan tambahan dua anggota yakni Vivi dan bebek peliharaannya, Karu.
Selama pelayaran tersebut tidak ada hal yang aneh terjadi sejak kemunculan Robin di kapal Going Merry dua hari yang lalu.
Para kru bajak laut topi jerami menjalankan harinya dengan santai seperti biasanya. Tidak ada rasa khawatir sama sekali akan kemunculan para pemburu Baroque Works secara tiba-tiba di hadapan mereka.
"Saljunya turun lagi nggak, ya?" Tanya Luffy.
"Mana mungkin ada salju dengan cuaca panas seperti ini?" Jawab Zoro dengan pertanyaan balik.
"Turun, tau! Kamu tidak tahu karena saat salju turun kamu tidur terus." Ucap Luffy lalu menatap Vivi. "Hei, saljunya turun lagi nggak, ya?"
"Bisa jadi turun lagi, tapi lautan yang pertama kita lewati memang lain daripada yang lain." Jawab Vivi dia kemudian menjelaskan tentang apa yang bisa terjadi di Grand Line.
Tapi mereka hanya mendengarkannya sesaat karena Sanji datang dengan membawa minuman.
"Hei, semuanya! Mau minum minuman istimewaku?" Ucap Sanji sambil membawa nampan dengan banyak minuman yang cukup untuk kami semua.
"Ya!" Ucap Luffy.
Luffy, Zoro, Tanaka, Usopp, dan Karu menikmati minuman yang dibuat Sanji sedangkan Vivi menatap mereka dengan wajah kesal.
"Mereka sama sekali tidak peduli?" Ucap Vivi sambil menunjuk mereka saat Nami keluar dari kabin.
Vivi masih belum terbiasa dengan situasi yang terjadi di kapal tersebut karena para kru bajak laut topi jerami benar-benar sangat santai menjalani hariannya.
Sangat berbeda dengan bebek peliharaannya yang dengan cepat beradaptasi.
"Ini, untukmu." Ucap Nami sambil menyodorkan minuman yang dibuat Sanji. "Tak apa, kan? Mereka pasti bekerja keras saat ada sesuatu yang terjadi."
"Memang benar, tapi hal itu membuatku merasa kerja kerasku jadi sia-sia." Ucap Vivi.
"Kapal ini membuatmu merasa tak perlu mengkhawatirkan apapun, kan?" Tanya Nami sambil melihat para pria yang sedang bersenang-senang.
Begitu juga dengan Vivi yang melihat bebek peliharaannya benar-benar telah beradaptasi dengan para kru bajak laut topi jerami.
"Baiklah, terus, terus, terus, terus!" Ucap Usopp saat Karu meminum banyak minuman buatan Sanji hingga akhirnya tidak sanggup minum lagi.
"Dasar bodoh, Karu!" Ucap Usopp lalu mereka berlima tertawa.
"Mungkin begitu ... Tapi aku merasa mereka memang tidak peduli sama sekali." Ujar Vivi yang masih merasa aneh dengan suasana di kapal tersebut.
"Sudah santai saja dan nikmati hidup ini dengan kegembiraan." Ujar Nami dengan tersenyum. "Dan semua kekhawatiran kamu akan hilang! begitulah kapal ini."
Vivi menatap Nami, kemudian dia mengalihkan pandangannya para pria dan Karu yang sedang bersenang-senang.
"Ya, kupikir juga seperti itu." Ujar Vivi yang berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan di kapal Going Merry.
Dia kemudian memerhatikan Luffy dan ada hal yang aneh dia rasakan pada manusia karet tersebut.
"Ini sangat aneh, untuk seorang buronan seharga 30 juta berry, dia sama sekali tak terlihat seperti orang menakutkan." Ucap Vivi.
"Yah, memang susah kalau dibayangkan, tapi dia sudah berkali-kali mengalahkan orang terkenal." Jawab Nami.
Dia kemudian menjelaskan tentang lawan-lawannya yang berhasil dikalahkan oleh Luffy, tentu saja dia melewatkan Alvida dan perwira Marine, mayor Morgan karena pada saat itu Nami belum bertemu dengan Luffy.
"Dia berhasil mengalahkan manusia ikan yang terkenal begitu kuat dan mengerikan?" Tanya Vivi yang terkejut.
Nami menganggukkan kepalanya dan dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Luffy menghajar Arlong, menghancurkan Arlong park, ruangan tempat dia menderita selama delapan tahun lamanya dan akhirnya membebaskan kampung halaman dari penjajahan Arlong.
Lalu tiba-tiba saja ada lumba-lumba yang muncul dari dalam air.
"Hei, semuanya, lihatlah! Ada lumba-lumba!" Ucap Sanji.
"Wuah, imutnya!" Ucap Nami.
Lumba-lumba mendekati kapal Going Merry. Saat semakin dekat ukuran lumba-lumba itu berubah, semakin dekat lagi, ukurannya menjadi bertambah besar dan saat melewati atas kapal Going Merry itu ternyata ukurannya sangat besar.
"Besar banget!!" Ucap kami semua.
"Kabur!" Ucap Luffy.
"Ayo!" Ucap Sanji.
"Ya!" Ucap Usopp.
Mereka berlima segera berhamburan pergi.
"Kalian ..." Ucap Vivi terpaku menatap mereka semua.
"Seperti itulah mereka." Ucap Nami
"Yosh, kita naiki gelombang lautnya!" Ucap Luffy saat melihat gelombang laut akibat hentakan lumba-lumba yang kembali menyelam setelah melompat.
Dengan memanfaatkan gelombang laut tersebut, kapal berlayar lebih cepat.
"Nami, kapalnya diarahkan kemana?" Tanya Luffy.
"Tunggu sebentar, biar aku periksa." Ucap Nami sambil melihat Log Pose yang melingkar di tangan kanannya seperti sebuah jam tangan.
"Ke arah kiri, kecepatan penuh!" Ucap Nami.
"Yosha!!" Ucap mereka semua.
Lalu tak terasa, sudah waktunya makan siang. Mereka semua segera makan bersama di meja makan yang berada di kabin serbaguna.
"Kenapa surat kabar paginya baru sampai saat jam makan siang begini?" Tanya Nami sambil membaca koran.
"Mau bagaimana lagi, karena kita ini berada di Grand Line. Masih mendapatkan surat kabar, itu saja sudah cukup beruntung." Jawab Vivi.
"Benar juga." Ucap Nami lalu ekspresinya tiba-tiba saja berubah.
"Apa ada yang menarik?" Tanya Vivi.
"Ah, tidak, tak ada kok." Ucap Nami yang berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
"Begitu." Ucap Vivi yang menerima begitu saja.
"Itu pasti berita tentang Alabasta." Pikir Tanaka sambil menyantap mie goreng seafood.
"Masakan Sanji memang sangat enak, tidak kalah dengan masakan koki papan atas yang biasanya bekerja di restoran Michelin bintang tiga ke atas." Pikir Tanaka.
"Kalau aku bawa beberapa buku resep makanan yang ada di Bumi, apa Sanji bisa membuatnya dengan bahan yang ada di dunia ini?" Pikir Tanaka yang telah selesai menyantap makan siangnya.
Setelah selesai makan Tanaka segera menuju ke tempat pencucian untuk membersihkan alat makan yang dia pakai.
Saat selesai dengan bersih-bersih tersebut, dia segera keluar untuk mulai berlatih.
Dia ingin melakukan sesuatu yang baru, mengkombinasikan kekuatan force dengan Hanjo dan Sengo.
__ADS_1
Tanaka memilih berlatih di buritan kapal yang berada tepat di belakang kabin serbaguna.
"Baiklah Honjo, Sengo aku akan melakukan sesuatu pada kalian dengan kekuatan yang aku miliki." Ujar Tanaka. "Tolong jangan berisik karena itu akan membuyarkan konsentrasi aku."
Dia hanya sendirian sehingga dia berbicara secara normal dengan Sengo dan Honjo.
"Baik, Master." Jawab Honjo.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Sengo.
Tanaka mengabaikannya dan mulai berdiri dalam sikap sempurna sambil memejamkan matanya.
Dia mengalirkan kekuatan force ke kedua pedangnya sehingga membuat kedua pedang itu bergetar.
Secara perlahan-lahan, Tanaka berusaha mengeluarkan kedua pedang itu dengan kekuatan forcenya dan membuat mereka melayang-layang di sekelilingnya.
"Hei! Apa yang kamu pada kami?" Tanya Sengo yang terkejut saat dirinya secara perlahan-lahan keluar dari sarungnya.
"Sengo! Diam! Kamu bisa mengacaukan konsentrasi Master!" Peringat Honjo.
Setelah beberapa saat, kedua pedang itu berhasil keluar secara utuh dari sarungnya dan kemudian melayang-layang di sekeliling Tanaka.
"Wawawaaw~ apa yang terjadi? Kenapa aku melayang-layang seperti ini?" Tanya Sengo yang bingung.
Sementara itu Honjo juga kebingungan tapi dia masih diam karena tidak ingin menganggu konsentrasi Masternya itu.
Selama lebih dari lima belas menit, Tanaka berhasil membuat Sengo dan Honjo melayang-layang di sekelilingnya dan kemudian dia kembalikan lagi ke sarungnya.
"Fuahhhh! Sepertinya batas yang bisa aku lakukan saat ini hanya sampai 15 menit." Gumam Tanaka yang merasa kelelahan dan mengeluarkan keringat banyak di sekujur tubuhnya sehingga membuat pakaiannya sedikit basah.
"Wowww, itu sangat hebat! Bagaimana caranya kamu melakukan itu?" Tanya Vivi.
Tanaka segera berbalik karena suara Vivi tersebut.
Putri itu segera berjalan mendekati Tanaka.
"Tuan, tolong beritahu aku, bagaimana caranya kamu melakukan hal seperti itu?" Tanya Vivi dengan formal namun bersemangat.
"Tanaka, kamu bisa memanggil aku dengan itu, tidak perlu formal." Jawab Tanaka. "Saat ini kamu sudah menjadi anggota, teman, keluarga kami, bajak laut topi jerami, jadi tidak perlu bersikap formal seperti itu pada kami."
Vivi terdiam sejenak dan kemudian dia menganggukkan kepalanya. Tanaka hanya tersenyum dan kemudian dia menjelaskan tentang apa yang dia lakukan tadi.
"Kekuatan force? Apa itu semacam kekuatan dari buah iblis? Kamu memakan buah iblis?" Tanya Vivi.
Tanaka menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak memakan buah iblis seperti Luffy." Jawab Tanaka. "Lagipula, force itu bukan dari buah iblis, tapi force itu adalah medan energi yang diciptakan oleh semua makhluk hidup. Itu mengelilingi kita dan menembus kita, itu mengikat galaksi bersama-sama."
Vivi tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan oleh Tanaka, tapi dia mengetahui satu hal yakni kekuatan yang digunakan oleh Tanaka itu juga bisa dirinya lakukan karena force berasal dari makhluk hidup.
"Apa aku juga bisa menggunakan force?" Tanya Vivi.
"Itu tergantung dari kamu bisa merasakan force atau tidak, meskipun semua makhluk hidup memiliki force tapi untuk bisa menggunakannya, orang itu harus bisa merasakan force." Jelas Tanaka.
Vivi semakin tidak mengerti dan Tanaka menyudahinya karena semakin dia jelaskan, akan semakin membuat Vivi kebingungan akibat konsep forcenya tidak dikenal di dunia one piece.
Selain itu, Tanaka juga tidak terlalu mengerti tentang force karena dia hanya melihat force itu dalam film Star Wars.
Dia bisa menggunakan kekuatan force juga karena efek dari dirinya sebagai penjelajah alam semesta yang bisa memiliki satu kekuatan yang diinginkannya dengan bebas.
Tanaka yang mendengar itu sudah tahu apa yang ingin dikatakan Vivi.
"Kamu ingin tahu bagaimana aku bisa tahu tentang itu dan juga indentitas aslimu?" Tanya Tanaka to the poin tanpa menunggu Vivi yang bertanya.
Vivi menganggukkan kepalanya dan melihat Tanaka berjalan mendekati tepi pagar kapal.
"Kalau aku bilang kekuatan force ini bisa juga dipakai untuk melihat masa depan, apa kamu akan percaya?" Tanya Tanaka.
"Itu ... " Jawab Vivi yang kebingungan antara percaya atau tidak.
"Kamu pasti tidak percaya, tapi memang seperti itulah yang terjadi, kadang kala aku bisa melihat apa yang terjadi di masa depan karena kekuatan force ini." Jelas Tanaka. "Penglihatan masa depan itu muncul bisa muncul kapan saja, saat seperti ini, saat tidur, dan saat kapanpun dan situasi apapun itu."
"Jadi kamu tidak bisa mengendalikannya?" Tanya Vivi.
Tanaka menganggukkan kepalanya, meskipun kekuatan force memang bisa melakukan hal seperti itu, tapi dia tidak bisa melakukannya.
Dia bisa tahu tentang apa yang terjadi pada semua karakter one piece, termasuk Vivi karena dia telah menonton animenya atau melihat manganya.
Pada saat itu, Nami muncul dan bergabung dengan mereka berdua. Tidak hanya Nami saja, Luffy dan lainnya juga muncul sehingga semuanya berada di atap kabin serbaguna
Mereka saling mengobrol tentang berbagai hal termasuk cerita kebohongan Usopp.
Selain itu Vivi juga memberitahu pada semua orang tentang apa yang dia lihat pada Tanaka saat pria itu melayangkan kedua pedangnya mengelilinginya.
Hari telah melewati satu Minggu dan akhirnya, kapal Going Merry telah mendekati pulau kedua yang akan dikunjungi oleh kru bajak laut topi jerami di Grand Line.
"Tak salah lagi! Pulau itu dan pulau kaktus saling tarik menarik. Pemberhentian kita selanjutnya adalah pulau itu!" Ucap Nami sambil menunjuk pulau yang ada di depan.
"Jadi itu, ya? Pulau kedua kita di Grand Line!" Ucap Luffy dengan penuh semangat.
Dengan cepat kapal Going Mery telah memasuki kanal di pulau yang bernama Little Garden.
"Jadi ini Little Garden, ya?" Tanya Luffy.
"Darimana 'little' nya?" Tanya Zoro bingung.
"Tempat ini tak cocok dengan nama manisnya." Ucap Nami.
"Ini seperti pulau yang tak dikenal dan berhutan lebat." Ucap Usopp yang terlihat ketakutan.
"Kita harus berhati-hati. Aku masih terpikir dengan apa yang dikatakan Miss All Sunday." Ucap Vivi.
"Ma-ma-maksudmu bisa jadi akan keluar monster?" Tanya Usopp.
"Entahlah." Ucap Luffy dengan santainya.
"Kita lanjutkan perjalanan saja dan tak usah berlabuh disini!" Pinta Usopp.
"Tapi, Log nya tak bisa terisi secepat itu." Jawab Nami.
Kapal Going Merry terus menyusuri kanal pulau little garden lebih dalam.
"Lihatlah tanaman disana." Ucap Nami sambil menunjuk sebuah tanaman. "Aku bahkan belum pernah melihat tanaman seperti itu di buku jurnal."
Tiba-tiba ada suara burung yang begitu nyaring dan terdengar menyeramkan. Membuat Nami dan Usopp ketakutan.
__ADS_1
"Kawai~" Ucap Sanji dengan wajah tersipu merah.
"Aku, ya?" Tanya Usopp dengan percaya diri.
"Jelas Nami lah!" Ucap Sanji marah.
"Apa yang barusan itu?" Tanya Nami.
"Tenanglah, hanya burung, tempat ini hanyalah hutan, tenanglah." Ucap Sanji lalu melihat Usopp dan Nami yang ketakutan lagi. "Ada apa?"
Saat seekor burung akan menyerang Sanji, untung saja Sanji bisa menghindar dengan cepat.
"Apa yang kamu lakukan, dasar burung sialan?!" Teriak Sanji.
"Kadal, ya? Rasanya enak nggak, ya?" Tanya Luffy.
"Bagaimana mungkin kadal bisa terbang?" Pikir Tanaka yang sweetdrop atas ucapan Luffy.
Kemudian terdengar suara yang aneh lagi.
"Suara apa itu? Apa suara itu biasa bagi sebuah hutan normal?" Tanya Nami.
"Suaranya seperti suara letusan gunung berapi!" Jawab Usopp yang panik.
Lalu dari hutan keluarlah seekor harimau.
"Harimau?" Ucap Nami.
"Besar banget!" Ucap Usopp.
Mereka berdua langsung mundur karena ketakutan. Tapi Harimau itu tiba-tiba saja ambruk dan mati.
"Apa?! Apa yang terjadi?! Ini aneh! Ini benar-benar aneh! Kenapa harimau yang dikenal raja hutan sampai berdarah begitu?!" Tanya Nami.
"Ah, sudah diputuskan aku tidak akan turun dari kapal ini!" Ucap Usopp yang berusaha untuk tenang.
"Kita tunggu saja di kapal sampai Log nya penuh, lalu pergi ke Alabasta!" Ucap Nami yang ketakutan.
"Benar!" Ucap Usopp.
"Lebih baik kita segera tinggalkan saja pulau ini!" Ucap Nami.
"Ya!" Ucap Usopp.
"Ki-Kita harus segera pergi ke Alabasta, kan?" Ucap Nami.
"Yosh!" Ucap Zoro sambil menurunkan jangkar untuk melabuhkan kapal.
"Sanji, buatin bekal!" Ucap Luffy.
"Bekal?" Ucap Sanji.
"Ya, untuk mengisi ulang energi! Bekal bajak laut dengan banyak daging dan tak ada sayuran! Aku mencium bau petualangan!" Ucap Luffy dengan semangat.
"Tu-Tunggu sebentar, kamu mau kemana?" Tanya Nami pada Luffy.
"Berpetualang! Mau ikut? Berpetualang, berpetualang!" Ucap Luffy sambil menyengir lebar. "Sanji, buatin bekal!"
Nami hanya bisa menangis karena tidak bisa lagi menghentikan Luffy yang sudah begitu semangatnya.
"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Sanji yang berjalan menuju dapur.
Vivi meminta ijin pada Luffy untuk ikut dan Luffy memperbolehkannya. Akan tetapi Nami berusaha mencegah Vivi agar tidak pergi juga.
"Kalau hanya duduk disini, mungkin aku justru akan memikirkan yang tidak-tidak. Aku mau menjernihkan pikiranku sampai Log nya terisi." Jelas Vivi.
"Jangan! Kalau Luffy mungkin tak masalah, tak bagimu, disana terlalu berbahaya!" Cegah Nami.
"Tenanglah, selama ada Karu." Ucap Vivi.
Bebek besar itu langsung terkejut, menjatuhkan rahangnya karena namanya disebut sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kalau begitu, akan kubuatkan juga bekal cinta untuk Vivi." Ucap Sanji.
"Bisakah kau buatkan minuman untuk Karu?" Ucap Vivi.
"Tentu saja, serahkan saja padaku!" Ucap Sanji kembali masuk ke dapur.
Dalam waktu cepat, Sanji sudah membuat bekal untuk Luffy, Vivi dan Karu.
"Dua bekal bajak laut dan minuman spesial untuk Karu, semuanya sudah siap." Ucap Sanji yang memasukkan dua bekal di dalam tas dan minuman Karu digantungkan di leher bebek besar itu dengan sebuah sedotan agar lebih mudah diminumnya.
"Baiklah, kami berangkat, ya." Ucap Vivi yang turun dari kapal dan langsung menaiki Karu. "Kami akan segera kembali!"
"Yosh, ayo maju!" Ucap Luffy yang sudah turun dari kapal sejak dan langsung memimpin jalan.
Usopp dan Nami memuji keberanian Vivi yang masuk ke hutan bersama Luffy.
Tidak lama Luffy, Karu dan Vivi pergi memasuki hutan little garden, Zoro juga memutuskan untuk pergi menyusuri hutan sendirian.
Nami dan Usopp terkejut mendengar itu, mereka berdua berusaha menahan Zoro tapi diabaikan olehnya.
"Hei, Zoro tunggu!" Panggil Sanji.
Zoro berhenti dan hanya menoleh ke belakang, melihat Sanji.
"Kita kekurangan stok makanan, kalau menemukan binatang yang tolong bawa kesini." Pinta Sanji.
Zoro menganggukkan kepalanya dan mengatakan hal yang membuat Sanji langsung terprovokasi.
"Maksudmu, kamu bisa membawa binatang yang lebih besar dari yang bisa aku tangkap?" Tanya Sanji dengan intimidasi.
"Tentu saja!" Ujar Zoro yang tidak takut dengan intimidasi Sanji.
"Kalau begitu kita duel berburu!" Ujar Sanji yang langsung turun dari kapal dengan melompat.
Mereka berdua langsung berjalan memasuki hutan dengan jalur yang berbeda.
Nami dan Usopp hanya bisa berkecil hati karena tiga orang terkuat di kelompok itu telah pergi.
Tanaka yang melihat dua orang itu langsung memiliki ide untuk mengerjai mereka.
"Oke, aku jug-" Ucapan Tanaka langsung terpotong karena Nami dan Usopp berteriak.
"Tidak! Jangan kamu juga! Tinggallah di kapal bersama kami!" Ucap Usopp dan Nami yang memohon sambil menangis.
Tanaka tertawa melihat itu. Dia memang tidak ada niatan untuk meninggalkan kapal karena tidak hal yang menarik baginya di Little Garden.
"Oke, Oke, aku tinggal di kapal." Ujar Tanaka yang berhenti tertawa. "Aku akan berada di dalam kabin istirahat, aku mau tidur, panggil saja kalau ada bahaya yang datang."
__ADS_1
Tanaka segera berjalan memasuki kabin istirahat yang berada di bawah dek kapal tepat di bawah tiang.