Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
34


__ADS_3

Setelah melewati perubahan cuaca yang selalu berubah-ubah di Grand Line dan tidak bisa diprediksi dengan mudahnya oleh Nami karena baru pertama kalinya dia melihat perubahan cuaca yang begitu cepat.



Tanaka dan lainnya akhirnya jatuh terkapar karena kelelahan kecuali Zoro yang sama sekali tidak membantu dan hanya tidur saja dari awal keberangkatan dari Tanjung Menara Kembar.



"Ah, nyenyak banget." Ucap Zoro yang baru saja bangun dari tidurnya. "Hei, sebagus apapun cuacanya, harusnya kalian nggak malas-malasan begitu. Kita harus berlayar dengan baik!"



"Kamu!" Pikir semuanya kecuali Zoro.



"Dasar kepala lumut sialan!" Pikir Tanaka.



"Kenapa kalian ada di kapal ini?" Ucap Zoro yang baru saja menyadari ada Vivi dan Mr. 9.



"Diam kamu, aku tidak memiliki tenaga untuk berdiri!" Jawab Mr. 9.



"Saat ini kita akan menuju kota mereka. Namanya Whisky Peak." Ucap Luffy yang memberitahu tujuan kapal Going Merry ke Zoro.



"Jangan-jangan, kita mengantar mereka? Kita bahkan tak punya hutang budi apapun sama mereka." Ucap Zoro.



"Ya, tak ada, sih." Ucap Luffy.



"Yah, aku sih nggak masalah." Ucap Zoro lalu berbicara pada Vivi dan Mr. 9. "Oh, dilihat dari wajahmu itu, kamu pasti merencanakan sesuatu yang buruk. Namamu siapa, ya?"



Zoro terlihat berusaha mengintimidasi mereka, Tanaka hanya duduk diam tidak peduli karena dia merasa sangat kelelahan.



"Na-Namaku Mr. 9." ucap Mr. 9.



"Namaku Miss Wednesday." Ucap Vivi.



"Ya, daritadi aku kepikiran, entah dimana pernah dengar nama-nama itu, ya? Aku pernah dengar nama-nama itu sebelumnya, atau mungkin saja tidak." Ucap Zoro yang membuat wajah Vivi dan Mr. 9 terlihat terkejut karena hampir saja ketahuan siapa mereka. "Yah, yang jelas..."



Zoro sudah dipukul terlebih dahulu oleh Nami sebelum menyelesaikan ucapannya.



"Beraninya kamu tidur terus dari tadi! Kamu tetap tidur meski kami sudah membangunkanmu berkali-kali." Ucap Nami dengan aura yang begitu menyeramkan.



Tanaka menganggukkan kepalanya dan ingin memukul kepala lumut itu tapi karena merasa lelah dia membiarkan Nami yang memukulinya sebagai perwakilannya.



Zoro yang dipukul oleh Nami membuat terdapat tiga benjolan di kepalanya.


"Semuanya! Jangan sampai lengah! Kita tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya! Aku baru sadar kalau lautan disini sangat berbahaya." Peringat Nami.


"Aku jadi tau kenapa lautan ini disebut Grand Line. Tak diragukan lagi, kemampuan navigasiku tak berguna disini." Ucap Nami yang merasa sedikit kecewa.



"Jujur banget, apa kita akan baik-baik saja?" Tanya Usopp.



"Kita akan baik-baik saja, pasti kita bisa melakukan sesuatu! Yang jelas..." Ucap Nami lalu menunjuk sebuah pulau. "Lihatlah, perjalanan pertama kita sudah berakhir."



Tanaka dan lainnya segera melihat sebuah pulau yang ditumbuhi oleh beberapa pohon kaktus raksasa.



"Owwww~ pulau kaktus raksasa! Hebat!" Ucap Luffy yang duduk di atas kepala domba melihat pulau tempat kota Whiskey Peak berada.



Vivi dan Mr 9 saling menatap sejenak dan kemudian mereka melompat ke atas pagar tepi kapal secara bersamaan.



Mereka berpamitan pada kru bajak laut topi jerami dan kemudian terjun ke laut berenang ke pulau Whiskey Peak tersebut.



Akan tetapi sebelum Vivi terjun ke laut, Tanaka menahannya dengan kekuatan force sehingga dia tidak bergerak. Sedangkan Mr 9 sudah terjun ke laut duluan



"Apa ini? Mengapa aku tidak bisa bergerak?" Tanya Vivi dengan panik.



Tanaka mendekati Vivi dan berbisik padanya, tempat di dekat telinga kanan Vivi sehingga terlihat kalau Tanaka sedang mencium pipi kanan Vivi.



"Tanaka, apa yang kamu lakukan!? Menjauh dari Miss Wednesday!" Teriak Sanji yang marah.



Tanaka mengabaikannya dan berkata pada Vivi.



"Berhati-hatilah, putri Vivi Nafertari, penyamaran yang kamu lakukan dengan kapten pengawal keluarga Kerajaan Alabasta, Igaram, sudah diketahui oleh pimpinan Baroque Works." Bisik Tanaka yang kemudian melihat wajah Vivi terkejut dicampur kebingungan.



Tanaka hanya tersenyum dan kemudian mendorongnya sehingga Vivi jatuh ke laut.



Saat muncul di permukaan, dia melihat ke atas, melihat Tanaka yang melambaikan tangannya sebelum akhirnya Vivi berenang mengikuti Mr 9 menuju pulau kaktus raksasa itu.



"Master! Kenapa Master memberitahu hal itu padanya?" Tanya Honjo.



"Aku hanya ingin melihat wajahnya yang terkejut dan kebingungan karena itu sangat lucu melihatnya seperti itu." Jawab Tanaka dalam pikirannya.



" ... Master, apa Master menyukainya?" Tanya Honjo.



"Hmmm~ tidak tahu juga, tapi dia merupakan karakter perempuan dalam one piece yang aku sukai saat masih remaja dan bisa melihatnya secara langsung seperti ini membuat aku ingin menggodanya." Jelas Tanaka dalam pikirannya sambil tersenyum.



Honjo hanya terdiam dan Sengo tiba-tiba bersuara. "Kalaupun kamu menyukainya tapi kamu harus sadar diri dengan penampilanmu, umurmu dan juga status sosialmu, tempatnya berada lebih tinggi dari kamu!"



"Cerewet! Aku juga tahu, aku juga tidak mungkin mengincar perempuan yang umurnya terpaut 13 tahun dari aku." Tegas Tanaka dalam pikirannya. "Selain itu, gini-gini aku juga tidak jelek amat, kalau aku rapikan brewok ku ini, aku mungkin sedikit tampan dan maskulin."



"Pffft ... Jangan bercanda, kamu itu jelek, aku yakin itu." Ujar Sengo.



Sementara Tanaka sedang berbicara dengan kedua pedangnya, Sanji datang menghampiri Tanaka.



"Tanaka! Apa yang kamu lakukan pada Miss Wednesday tadi?" Tanya Sanji yang memegang pundak kiri Tanaka sambil merokok dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan kesal.



"Ya, apa yang kamu bisikan padanya tadi?" Tanya Nami yang juga penasaran.



"Tidak ada hal yang istimewa, aku hanya memberitahu kalau kita akan bertemu lagi dengannya dalam waktu cepat." Jawab Tanaka yang kemudian memberitahu kalau kapal sudah semakin dekat dengan pulau kaktus raksasa itu.



"Lihat disana ada kanal!" Ujar Tanaka sambil menunjuk ke arah kanal tersebut.



"Apa kita akan benar-benar akan berlabuh di pulau ini?" Tanya Usopp yang ketakutan karena melihat kabut yang cukup tebal menyelimuti pulau tersebut. "Mungkin aja ada hantu atau monster mengerikan hidup di pulau itu."



"Mungkin saja, kita berada di Grand Line saat ini yang semuanya bisa terjadi." Ujar Sanji.



"Benarkah! Kalau gitu kita bisa kembali dan menuju ke pulau lainnya." Ucap Luffy dengan begitu mudahnya.



Nami segera memberitahu kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan karena Log Pose harus merekam medan magnet di pulau tersebut sebelum melanjutkan perjalanan lagi.



"Waktunya perekaman bisa berbeda-beda, bisa dalam detik, menit, jam, hari, Minggu, bulan atau lebih parahnya lagi tahunan, kita tidak akan bisa pergi kemanapun selama proses perekaman Log Posenya berjalan." Jelas Nami.



"Jadi maksudmu, kita harus tetap berada di pulau ini meskipun ada monster menyeramkan menyerang kita?" Tanya Usopp.



"Begitulah." Jawab Nami singkat.



"Itu kalau yang digunakan Log Posenya milik Crocus, tapi yang kita gunakan Log Posenya milik Mr 9 dan Vivi yang tentu saja medan magnet di pulau ini sudah terekam semuanya dan bisa pergi ke pulau selanjutnya dengan cepat." Pikir Tanaka.



Meskipun begitu, Tanaka hanya diam tidak memberitahu hal itu pada Nami yang mungkin tidak menyadari hal tersebut.



"Kalau gitu kita berlabuh saja di sini." Perintah Luffy sambil tersenyum nyengir. "Kita harus berlabuh di pulau ini, jangan katakan tidak!"



Nami, Sanji, Zoro dan Tanaka setuju dengan hal tersebut sedangkan Usopp masih merasa ketakutan.



"Hei dengarkan aku dong, aku punya firasat yang buruk tentang ini." Ujar Usopp.



"Jangan menjadi pengecut seperti itu, bukankah kamu ingin menjadi kesatria laut terhebat di dunia, seorang kesatria laut tidak pernah melarikan diri terhadap apapun yang dihadapinya." Ujar Tanaka.


__ADS_1


Usopp menutup matanya untuk menekan rasa takutnya setelah mendengar ucapan Tanaka.



"Aku akan menjadi kesatria laut terhebat di dunia, aku tidak takut akan apapun, kalian semua bisa berlindung di belakangku!" Teriak Usopp yang penuh semangat meskipun dia terlihat masih merasa ketakutan.



Tanaka hanya tertawa pelan dan kemudian memberikan peringatan pada semuanya saat kapal sudah memasuki kanal.



"Semuanya harus waspada, jangan lengah, kita tidak tahu apapun yang ada di pulau ini!" Ujar Tanaka meskipun dia sebenarnya sudah tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya tapi tidak memberitahu pada mereka.



Orang-orang yang hidup di pulau kaktus raksasa, telah menyadari keberadaan kapal Going Merry.



Mereka kemudian memberitahu ke yang lainnya sehingga mereka mulai menyambut kedatangan bajak laut topi jerami di kota mereka, Whiskey Peak.



Kota yang dibuat dan dihuni oleh anggota organisasi Baroque Works untuk menipu dan menjarah para bajak laut yang baru datang ke Grand Line.



"Selamat datang di Grand Line!"



"Selamat datang di kota kami!"



"Kota penuh sambutan, Whisky Peak!"



"Monsternya malah menyambut kita!" Teriak Usopp.



"Bukan monster, mereka manusia!" Bantah Tanaka.



"Ada apa ini?" Ucap Sanji.



"Tuan Bajak Laut, selamat datang!"



"Hidup pahlawan lautan!"



"Oh, ada banyak gadis cantiknya!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.



"Mungkin bajak laut itu memang pahlawan lautan." Ucap Usopp.



Tanaka hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas karena melihat betapa percaya dan terlenanya kru bajak laut topi jerami akan penyambutan palsu tersebut.



Setelah kapal Going Merry berlabuh kapal, Luffy dan lainnya turun dari kapal dan mereka langsung disambut oleh seorang pria dengan rambut bergulung-gulung.



"Selamat dat..." Ucap pimpinan di kota tersebut yang kemudian ia berdeham. "Ma ma ma~ selamat datang. Namaku Igarappoi, aku adalah Walikota di Whisky Peak."



"Kenapa dia memakai nama yang hampir sama dengan nama aslinya?" Pikir Tanaka.



Orang yang memperkenalkan diri sebagai Igarappoi itu sebenarnya adalah kapten pengawal keluarga Kerajaan Alabasta.



Dia ikut melakukan penyamaran di organisasi Baroque karena ingin melindungi Vivi.



"Oh, aku Luffy, salam kenal. "Ucap Luffy. Paman, kamu terlalu berlebihan mengkeriting rambutmu."



"Ini adalah kota dimana minuman dan musik berkembang pesat, Whisky Peak. Keramahan adalah senjata utama kami dan kebanggaan kami adalah minuman yang seindah lautan." Ungkap Igaram.



"Sambil mendengarkan cerita petualangan kalian kami akan mengadakan pesta sambutan untuk kalian!" Igaram kembali berdeham. "Ma ma ma~ bersediakah kalian?" Tanya Igaram.



"Dengan senang hati!" Ucap Luffy, Usopp dan Sanji yang tidak curiga sama sekali, mereka menari-nari sambil saling merangkul.



Tanaka hanya bisa menghela nafas melihat hal itu.



"Hei, ngomong-ngomong. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai Log nya terisi?" Tanya Nami.



"Log? Lupakan sejenak masalah itu. Istirahatlah setelah melalui perjalanan panjang." Ucap Igaram. "Baiklah, semuanya! Siapkan pestanya! Dan hibur para petualang ini dengan lagu!"



Dengan demikian, pesta pun diadakan seperti yang Igaram tadi katakan. Banyak makanan dan minuman yang disajikan, juga ada musik untuk memeriahkan pesta.




Usopp menceritakan kebohongannya, Nami dan Zoro yang mengikuti lomba minum sake, Luffy yang asik dengan makanan dan Sanji yang dikelilingi perempuan.



"Tuan, minumlah ini. Aku memberikan sake terbaik dari yang terbaik ini untuk tuan tampan sepertimu." Ucap seseorang perempuan yang tidak kukenal sambil menyodorkan segelas minuman padaku.



Aku hanya menatap orang itu dengan ekspresi wajah datar.



"Dia tidak bisa minum." Ucap Nami sambil menatap perempuan itu dengan pandangan tidak suka.



Lalu perempuan itu pergi, tidak memaksa lagi karena tidak ingin mengacaukan rencana mereka, mungkin.



Tanaka menatap Nami. "Kamu kelihatannya sangat mabuk? Sudah berapa gelas kamu minum?" Tanya Tanaka.



"Hanya beberapa gelas saja, aku memiliki toleransi alkohol yang cukup bisa bersaing dengan seorang peminum kelas berat seperti Zoro." Ujar Nami.



Tanaka melihat Zoro yang sudah tertidur akibat mabuk.



"Tidak ada kata-kata terima kasih?" Ucap Nami sambil ingin meminum alkohol yang masih tersisa di gelasnya.



Akan tetapi Tanaka segera menghentikannya. "Kamu sudah banyak minum, berhentilah demi kesehatanmu." Pinta Tanaka.



Tapi Nami menolaknya dan tetap meminum alkohol tersebut sampai habis yang kemudian di langsung tertidur di pundak Tanaka.



"Dasar keras kepala, bukankah aku sudah bilang kamu sudah sangat mabuk, tapi masih juga meminumnya." Ujar Tanaka. "Lagipula apa sih enaknya minuman yang terasa pahit dan membakar tenggorokan itu?"



Tanaka melihat Nami yang tertidur pulas dengan pipi kemerahan akibat efek alkohol yang membuat tubuhnya terasa panas.



Dia tersenyum tipis dan mengelus rambutnya sebentar. Setelah itu melanjutkan makannya, menghabiskan beberapa daging.



Selagi dia makan, dia melihat Sanji, Luffy, dan Usopp sudah tertidur. Sedangkan Zoro juga tertidur tapi itu hanyalah sebuah kepura-puraan.



"Apa Master menyukainya juga?" Tanya Honjo.



"Cih! Apa kamu akan menjadi seperti playboy bodoh itu? Aku tidak sudi kamu menyentuhku dengan tangan kotor itu bila kamu seperti dia!" Ujar Sengo.



Tanaka menghela nafas karena tuduhan dari Honjo dan Sengo.



"Aku hanya menganggap Nami sebagai saudara perempuanku yang perlu aku jaga dan lindungi, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan melihat perempuan yang umurnya terpaut 10 tahun dariku untuk menjalin hubungan romantis." Jelas Tanaka dalam pikirannya.



Setelah selesai dengan makanannya, Tanaka memutuskan untuk memejamkan mataku dan berpura-pura tidur karena dengan itu para anggota Baroque Works tidak akan bisa menjalankan rencananya.



"Akhirnya, orang terakhir tertidur juga. Bermimpi lah yang indah wahai para petualang." Ucap Igaram.



Tidak lama kemudian, Honjo memberitahu tentang pergerakan dari Zoro yang bangun dari tidurnya dan pergi keluar dengan cukup santai.



Tanaka segera membuka matanya dan melihat Nami masih tertidur dengan pulas di pundaknya.



Dia memutuskan untuk memindahkan Nami ke sofa dengan menyingkirkan Usopp dari sofa tersebut sebelum meletakkan Nami disana.



Setelah meletakkan Nami di sofa, Tanaka melihat rekan-rekannya itu yang benar-benar tertidur pulas.



"Mereka ini benar-benar tidak curiga sama sekali." Ujar Tanaka.



"Teman-teman Master benar-benar sangat polos dan sangat santai, kecuali pendekar pedang itu." Ujar Honjo.



"Mereka bukan polos, tapi hanya orang bodoh." Ujar Sengo.

__ADS_1



Tanaka hanya menganggukkan kepalanya, tapi tidak setuju dengan ucapan Sengo.



"Mereka tidak bodoh, hanya polos saja, ini pertama kalinya mereka berada di Grand Line jadi belum menyadari betapa kerasnya hidup di Grand Line." Jelas Tanaka. "Tapi, Sengo, kamu mulai banyak bicara ya akhir-akhir ini?"



Sengo hanya mendengus sebagai responnya.



Tanaka segera keluar dari ruangan tersebut dan berjalan mengendap-endap agar dia tidak ketahuan oleh para anggota Baroque Works.



Setelah berjalan-jalan dengan mengendap-endap, Tanaka menemukan Igaram, Mr. 9, Miss Monday dan Vivi yang saling berbicara.



Tanaka segera bersembunyi di atas bangunan yang tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat.



Mereka berempat sedang membicarakan tentang Luffy dan Igaram menunjukkan poster buronan Luffy yang seharga 30 juta berry.



Mr 9, Vivi dan Miss Monday terkejut melihat harga yang tertera di poster buronan Luffy tersebut.



"Kita harus cepat bereskan mereka dulu, kuras semua harta yang mereka miliki, ikat mereka, dan serahkan pada pemerintah dalam kondisi hidup karena dengan itu imbalannya akan lebih banyak." Jelas Igaram. "Pemerintah lebih suka mengesekusi bajak laut di hadapan publik dan setelah itu kita baru melaporkan pada bos."



Selagi Igaram sedang menjelaskan rencananya Zoro muncul dan menginterupsi percakapan empat orang tersebut.



"Mr 8, Miss Monday, dua orang dari bajak laut itu menghilang." Teriak seorang anggota Baroque Works saat memeriksa bangunan tempat Luffy dan lainnya tertidur pulas.



Zoro sedikit bingung saat mendengar ada dua orang yang hilang, tapi dia mengabaikannya. Dia kembali berbicara pada mereka termasuk tentang nama organisasi mereka, yakni Baroque Works.



Tentu saja Igaram dan anggota Baroque Works lainnya terkejut karena Zoro tahu tentang itu.



"Tentu saja aku tahu, saat aku masih menjadi pemburu bajak laut, salah satu dari kalian datang padaku untuk mengajak aku bergabung dan tentu saja aku menolaknya." Ungkap Zoro.



Zoro kemudian berbicara tentang sistem kerja yang ada dalam Baroque Works yang setiap anggotanya hanya saling memanggil dengan nama kode, tidak tahu nama asli.



Begitu juga dengan pimpinan mereka yang tidak diketahui nama dan tempat tinggalnya oleh para anggota Baroque Works kecuali anggota yang memiliki peringkat tertinggi dalam organisasi tersebut.



"Anggota-anggota Baroque Works hanya menjalankan perintah pemimpinnya tanpa ada penolakan dan bertanya." Ujar Zoro. "Upss! Apa ini sebuah rahasia?"



Igaram segera memberikan perintah pada semuanya untuk membunuh Zoro karena banyak mengetahui organisasi Baroque Works.



Akan tetapi Zoro menghilang sesaat dan kemudian muncul di tengah-tengah mereka dengan senyuman seringai.



"Apa kita bisa mulai?" Tanya Zoro.



"Sialan, jangan meremehkan kami!"



Para anggota Baroque Works menodongkan senjata apinya ke arah Zoro dan kemudian menembakkan senjata tersebut. Namun peluru dari senjata itu saling mengenai anggota Baroque Works sedangkan Zoro kembali menghilang.



"Sial, dia pendekar pedang." Ujar Igaram.



"Aku ingin tanya, apa satu peti mati saja sudah cukup?" Tanya Zoro yang muncul secara tiba-tiba di belakang Igaram sambil meletakkan bilah pedangnya di leher Igaram.



"Dia ada disini, bunuh dia!"



Para anggota Baroque Works segera berlari mendekati Zoro dan Igaram dan kemudian menyodorkan senjata api mereka masing-masing ke tempat mereka berdua.



"Tunggu! Jangan tembak kesini!" Ucap Igaram yang panik dan kemudian mengeluarkan saksofon yang entah dimana dia simpan dalam tubuhnya dan kemudian meniup saksofon tersebut yang sudah dimodifikasi menjadi senjata api.



Tanaka melihat pertarungan Zoro dengan anggota Baroque Works tersebut dari salah satu atap bangunan dengan ekspresi gembira.



"Seandainya ada popcorn atau kacang dan minuman bersoda, akan lebih nyaman melihat pertarungan ini."



Tanaka segera bergerak saat melihat Zoro berlari dan kemudian bersembunyi di sebuah bangunan yang ada disana.



Dia segera mendekati tempat Zoro yang sedang bersembunyi dari anggota Baroque Works yang mengejarnya.



Kemunculan Tanaka membuat Zoro terkejut. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Zoro.



"Mencari tahu apa yang terjadi di tempat ini dan secara kebetulan aku melihat kamu, apa kamu butuh bantuan?" Tanya Tanaka.



"Tidak, aku bisa mengurus mereka sendiri, lebih baik kamu bangunkan yang lainnya." Pinta Zoro.



"Baiklah, aku per-"



"Ketemu!" Teriak seorang anggota Baroque Works yang menodongkan pistolnya pada Zoro. "Matilah kamu!"



Zoro berhasil menghindari peluru yang ditembakkan padanya, lalu menghabisi mereka semua.



"Cepat pergi!" Pinta Zoro lalu berlari meninggalkan Tanaka sendirian.



Pria paruh baya itu hanya tersenyum dan kemudian memutuskan untuk naik ke atas atap bangunan yang tidak akan membuatnya terlibat pertarungan tersebut.



Dia menonton pertarungan Zoro sambil menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil. "Ini tempat yang bagus, aku bisa melihat Zoro yang dikeroyok oleh para anggota Baroque Works."



Tanaka benar-benar menginginkan popcorn atau kacang dan minuman bersoda selagi dia menonton pertarungan tersebut.



"Apa aku kembali untuk mengambil beberapa makanan agar lebih asyik menontonnya?" Pikir Tanaka.



"Kenapa Master tidak membantu teman master itu?" Tanya Honjo.



"Tidak perlu, dia kuat, orang-orang itu tidak akan bisa mengalahkan Zoro." Ujar Tanaka.



"Argghh, aku ingin bertarung dan memotong mereka, hei berikan aku padanya kalau kamu tidak ingin bertarung." Pinta Sengo.



Tanaka merasa bingung dengan Sengo yang seperti itu. Honjo kemudian menjelaskan kalau Sengo diciptakan memang untuk bertarung dan membunuh lawan dari penggunaan.



Berbeda dengan Honjo yang diciptakan untuk hanya sebagai perlindungan diri, tidak bisa memotong dan membunuh lawan dari penggunanya.



"Apa kamu benar-benar ingin bertarung?" Tanya Tanaka.



"Ya, berikan aku padanya!" Ujar Sengo.



Honjo segera melarang Tanaka melakukan itu. "Master jangan memberikan Sengo pada teman anda itu."



"Diam kamu Honjo!" Teriak Sengo. "Hei, cepat berikan aku padanya kalau kamu tidak ingin bertarung!"



Tanaka terkejut dan dia mengabaikan Sengo. "Kenapa Honjo?"



"Sengo akan menguasai penggunanya bila penggunanya memiliki mentalitas yang lemah, Sengo akan menjadikan penggunanya itu sebagai avatarnya untuk terus menerus bertarung tanpa henti sampai penggunanya itu mati." Jelas Honjo.



"Wow~ kamu pedang yang sangat menakutkan, Sengo!" Ujar Tanaka dengan sedikit ketakutan dan penasaran.



"Apa kamu akan menguasai tubuhku bila aku mengeluarkan kamu dari sarung?" Tanya Tanaka.



"Tentu saja, aku tidak sudi berada dibawah perintah dari orang yang lemah mentalitasnya, hanya master yang berhak menggunakan aku!" Ungkap Sengo.



Tanaka tersenyum seringai, "apa kamu ingin bertaruh denganku?" Tanya Tanaka. "Kalau aku berhasil dikuasai kamu, gunakan tubuh aku ini sesuka kamu, tapi kalau kamu gagal, biarkan aku menggunakan kamu."



Sengo terdiam karena memikirkan taruhan yang diucapkan oleh Tanaka. Sementara itu Honjo panik karena dia tidak ingin Masternya saat ini dikuasai oleh Sengo seperti master sebelumnya setelah master pertamanya mati.



"Master, jangan!" Peringat Honjo yang panik.

__ADS_1



"Bagaimana? Apa kamu berani bertaruh denganku, Sengo?" Tanya Tanaka yang mengabaikan peringatan Honjo.


__ADS_2