
"Oke cukup, aku sudah puas, sekarang dinginkan kepala kalian berdua!" Ujar Tanaka yang mendorong mereka ke tempat yang berlawanan.
Akibat dorongan yang cukup kuat mereka sampai membuat sebuah dinding bangunan hancur.
"Kenapa kamu malah ikut-ikutan!?" Teriak Vivi yang marah.
Tanaka mengabaikannya Vivi dan melihat Zoro dan Luffy keluar dari bangunan yang telah mereka hancurkan masing-masing.
Mereka berdua marah pada Tanaka yang tiba-tiba masuk dalam pertarungan itu dan menyerang mereka berdua.
"Ada apa, Tanaka? Kenapa kamu menghajar mereka?" Tanya Nami yang baru saja tiba.
"Mereka saling bertarung, dan tidak ada cara lain untuk menghentikan mereka selain ini." Ujar Tanaka.
"Kalian ini...apa yang sedang kalian lakukan?! Tapi baguslah kalian bisa melindungi gadis itu dan ada Tanaka yang bisa menghentikan kalian! Hampir saja satu milyar berry melayang! Kalian paham?!" Ucap Nami.
"Jadi itu yang kamu khawatirkan?" Pikir Tanaka yang menghela nafas.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian menyelamatkanku?" Tanya Vivi.
Nami kemudian menjelaskan pada Vivi sedangkan Tanaka menjelaskan pada Luffy tentang apa yang terjadi dan juga indentitas warga Whiskey Peak sambil menahan mereka berdua yang ingin bertarung kembali.
"Aduh, Zoro! Katakan dari tadi, dong! Aku kira kamu menebas mereka semua karena mereka tak membuatkan makanan yang kamu suka!" Ucap Luffy.
Tanaka sudah tidak menahan mereka lagi sehingga Zoro dan Luffy bisa kembali bergerak dengan bebas.
"Jangan bandingkan aku denganmu!" Ucap Zoro garang.
Luffy tertawa. "Ayolah, jangan dipikirin lagi!"
"Kalian berdua, berisik tau!" Ucap Nami garang yang membuat Luffy dan Zoro langsung bungkam.
Nami kembali berbicara pada Vivi. "Dan begitulah ceritanya! Sebagai ganti mengantarmu, aku menginginkan uang satu milyar berry. Kamu sudah melihat kekuatan mereka, kan? Menurutku bukan tawaran yang buruk, kan?"
"Aku tak bisa! Tapi karena sudah menyelamatkanku, aku sangat berterima kasih!" Jawab Vivi.
"Kenapa?! Kamu seorang tuan putri, kan? Padahal cuma satu milyar." Ucap Nami yang bingung.
"Apa kalian tau mengenai Kerajaan Alabasta?" Tanya Vivi.
"Tidak." Ucap Nami.
"Kami baru saja tiba di Grand Line jadi mana tahu apa saja yay yang ada di lautan ini." Ungkap Tanaka.
Vivi kemudian menjelaskan tentang kerajaan Alabasta yang merupakan kampung halamannya. Dia menjelaskan secara detail kerajaan tersebut, termasuk keadaan yang terjadi pada kerajaan itu yang sedang terancam perang saudara.
"Lalu, suatu hari, aku mendengar nama sebuah organisasi, Baroque Works! Aku mengetahui kalau rakyat telah ditipu oleh organisasi ini. Tapi hanya itulah informasi yang kudapat, selebihnya sangatlah rahasia, dan aku tak bisa berbuat apapun." Jelas Vivi
"Dan saat itulah aku meminta tolong pada Igaram, seorang yang merawat ku sejak kecil." Ungkap Vivi.
"Paman dengan rambut pipa musik itu?" Tanya Luffy.
"Ya, benar sekali." Ucap Vivi. "Aku memintanya untuk mencari cara agar bisa menyusup kedalam Baroque Works. Dengan begitu, kami bisa mengetahui siapa dalang di balik kekacauan kerajaan dan apa tujuan mereka."
"Benar-benar putri kerajaan yang berani, ya. Lalu? Apa kamu sudah mengetahui apa tujuan mereka?" Ucap Zoro yang dibalas anggukan oleh Vivi.
"Mendirikan sebuah negara idealis', Igaram tadi juga berkata begitu. Oh, jangan-jangan..." Ucap Nami.
Vivi menganggukkan kepalanya dan menjelaskan tentang maksud sebenarnya dari organisasi Baroque Works yang tidak lain adalah mengambil alih kerajaan Alabasta.
"Tidak, tujuan Crocodile tidak hanya itu, tapi juga ingin mengambil senjata pemusnah massal, Pluton." Pikir Tanaka.
Vivi kemudian meminta Luffy dan lainnya untuk mengantarnya kembali agar dia dapat menjelaskan semuanya pada ayahnya dan juga menghentikan ancaman perang saudara.
"Begitu, ya. Jadi begitu rupanya. Sekarang semuanya jadi jelas. Kalau ada perang saudara, maka uangnya pun tak ada, ya?" Ucap Nami.
"Astaga, ney cewek hanya memikirkan uang terus, padahal ada yang lebih penting dari hal itu." Pikir Tanaka.
"Hei!" Panggil Luffy yang membuat Vivi menatapnya.
"Siapa yang menjadi dalangnya?" Tanya Luffy yang penasaran.
"I-Identitas bosnya? Sebaiknya tak usah kamu tanyakan!" Ucap Vivi.
"Kamu sudah mengetahuinya, kan?" Tanya Luffy yang tetap memaksa.
"Tanyalah apapun, tapi jangan yang itu! Nyawa kalian juga akan terancam!" Ucap Vivi.
"Kalau begitu tidak jadi! Lagipula, mereka semua sedang mencoba mengambil alih seluruh kerajaan! Mereka pasti orang-orang yang sangat berbahaya!" Ucap Nami yang saat ini lebih mengutamakan nyawanya daripada uang.
"Tumben banget ney cewek!" Gumam Tanaka.
Dia melihat ke atas langit dan menyadari kalau ada burung pemakan bangkai yang terbang.
Tanaka segera memasuki sebuah bangunan yang tidak jauh dari tempat itu secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh mereka berempat.
"Lebih baik aku tidak terekspos oleh Intel Baroque Works seperti Sanji." Pikir Tanaka.
Vivi secara tidak sengaja dia memberitahu tahu indentitas bos dari Baroque Works. Saat sadar dia langsung menutup mulutnya karena hal itu meskipun sebenarnya sudah terlambat sedangkan Nami menjatuhkan rahangnya.
"Jadinya kamu beritahu?" Ucap Zoro.
Lalu mereka berempat melihat keatas atap bangunan dimana ada seekor burung pemakan bangkai dan seekor anjing laut.
Mereka berempat saling bertatapan sejenak dengan kedua makhluk itu sampai akhirnya kedua makhluk itu terbang pergi dengan anjing laut duduk di atas punggung burung pemakan bangkai.
"Tunggu, burung dan anjing laut itu siapa? Apa mereka akan mengatakan hal ini pada bos?" Tanya Nami marah sambil menarik kerah baju Vivi.
"Panglima lautan, katanya!" Ucap Luffy yang justru terlihat senang.
"Tak buruk juga!" Ucap Zoro yang terlihat senang juga.
"A-Aku benar-benar minta maaf, aku keceplosan!" Ucap Vivi yang merasa bersalah.
"Sudah terlambat untuk minta maaf! Kenapa kamu melibatkan kami dengan masalahmu?!" Ucap Nami lalu melepaskan kerah baju Vivi dan menangis. "Baru masuk Grand Line, sudah menjadi incaran seorang panglima lautan, itu menakutkan sekali!"
"Kita beruntung bisa langsung ketemu dia." Ucap Zoro yang senang.
"Dia seperti apa ya, orangnya?" Tanya Luffy yang tidak sabar untuk bertemu.
"Tutup mulut kalian!" Ucap Nami garang lalu berjalan pergi. "Mungkin kebersamaan kita memang singkat, maaf sudah merepotkan kalian selama ini!"
"Mau pergi kemana?" Tanya Luffy.
"Mereka belum mengetahui wajahku, aku mau bersembunyi!" Ucap Nami.
Nami tiba-tiba berhenti saat melihat burung dan anjing laut tadi. Anjing laut itu lalu menunjukkan hasil gambarnya yaitu wajah dirinya yang baru dibuat, Luffy, dan Zoro, membuatnya bertepuk tangan.
"Wah, bagus banget!" Puji Nami. "Kalau begini, kita jadi tak bisa lari kemanapun?!"
"Aku minta maaf!" Ucap Vivi.
"Dia lucu banget, ya!" Ucap Luffy.
"Lagipula dia mau melarikan diri kemana?" Tanya Zoro lalu tersenyum menyeringai. "Yang jelas, kita bertiga akan menjadi target pembunuhan Baroque Works."
"Sepertinya menyenangkan, nih!" Ucap Luffy sambil tersenyum lebar.
"Ini pasti akan menyenangkan!" Ujar Tanaka yang kembali keluar
Nami sendiri yang tidak bersemangat di pojokan dengan Vivi yang berusaha menghiburnya.
Mendengar suara Tanaka dan menyadari kalau gambar yang ditunjukkan cuma ada tiga, tidak ada gambar Tanaka.
"Kamu kemana tadi?" Tanya Nami marah.
"Aku di dalam rumah itu." tunjuk Tanaka. "Aku lihat ada pergerakan yang aneh di rumah itu sehingga aku masuk untuk mengeceknya, tenyata hanya salah lihat saja."
Nami kembali bersedih lagi di pojokan bangunan dan Vivi kembali menghiburnya.
"Jangan takut!" Ucap Igaram yang muncul didepan kami dengan berpenampilan seperti Vivi dan membawa empat boneka di kedua tangannya. "Tena...ma ma ma~ tenanglah, aku memiliki rencana!"
"Igaram, untuk apa pakaian itu?" Tanya Vivi.
"Paman, kalau pakai itu kamu jadi lucu!" Ucap Luffy.
"Tidak ada mirip-mirip nya." Ujar Tanaka.
"Putri Vivi, tolong dengarkan saya baik-baik. Saat Intel Baroque Works mengetahuinya, maka para pemburu Baroque Works pun akan segera mendatangi Anda. Dan, jika Anda sudah mengetahui rahasia bos mereka, anda sudah mengerti apa yang akan terjadi bukan?" Jelas Igaram.
"Ribuan orang akan mengejar ku." Jawab Vivi.
"Karena itulah, aku akan menyamar menjadi Anda, dan berlayar menuju Alabasta dengan keempat boneka ini." Ucap Igaram.
"Mereka ini kami?" Tanya Luffy.
"Menjadi umpan hidup, ya?" Tanya Zoro.
"Aku tidak diketahui mereka, kenapa aku juga ikut serta?" Tanya Tanaka.
Igaram pun meminta Vivi untuk pergi ke Alabasta dengan kru bajak laut topi jerami melalui jalur biasa agar tidak bertemu dengan para pemburu Baroque Works.
"Tunggu sebentar! Siapa yang bilang kami mau mengantar tuan putri kesana? Kita masih belum membuat persetujuan, tau!" Bantah Nami.
"Mengantar tuan putri? Apa maksudnya?" Ucap Luffy yang tidak mengerti.
"Kamu belum dengar, ya? Paman ini ingin kita mengantar dia kembali ke kerajaan." Jelas Zoro.
"Oh, jadi begitu? Baiklah." Ucap Luffy yang menerima dengan begitu mudahnya.
"Crocodile akan mengejar kita, tau!" Ucap Nami garang.
"Sudahlah Nami, wajahmu juga sudah diketahui oleh mereka, jadi mau pergi kemanapun tetap akan dikejar." Ujar Tanaka.
__ADS_1
Tapi respon Nami malah lebih marah karena tidak adanya gambar wajah Tanaka.
"Apa Crocodile itu sangat kuat?" Tanya Luffy.
"Dia adalah salah satu anggota tujuh panglima lautan. Dia bajak laut yang diakui pemerintah, dan dia tak memiliki harga buronan. Akan tetapi, harga buronan yang dulu dia miliki sebesar 80 juta berry." Ucap Igaram yang menjelaskan pada Luffy.
"80 juta?! Empat kalinya harga buronan Arlong, tau! Kami tak jadi mengantarnya!" Ucap Nami garang.
"Apa kalian akan mengantarnya?" Ucap Igaram yang mengabaikan Nami dan memilih menatap Luffy.
"Ya, sepertinya menyenangkan!" Ucap Luffy yang tertawa senang.
"Aku sangat berterima kasih pada kalian." Ucap Igaram.
Kami lalu mengantarkan Igaram ke pelabuhan.
"Baiklah, putri Vivi, saya undur diri dulu." Ucap Igaram berusaha mengubah suaranya seperti Vivi.
"Ossan, penyamaran kamu mirip banget!" Ucap Luffy.
"Darimana miripnya?!" Ucap Zoro dan Tanaka.
"Baiklah, tuan putri, berikan Eternal Pose nya pada saya." Ucap Igaram.
Vivi pun memberikan Eternal Pose nya pada Igaram.
"Eternal Pose?" Tanya Nami yang penasaran dengan alat navigasi yang baru.
"Kalian belum mengetahuinya? Bisa dibilang, itu adalah versi permanen dari Log Pose. Log Pose selalu mengarahkan kapal menuju pulau berikutnya, sedangkan Eternal Pose akan terus menyimpan medan magnet dari suatu pulau yang telah ditentukan. Dengan kata lain, akan selalu mengarah ke satu pulau. Dan Eternal Pose ini mengarah ke Alabasta." Jelas Igaram.
"Kamu akan menggunakan ini untuk kembali ke Alabasta?" Tanya Vivi.
"Putri Vivi, ambillah jalan berurutan menuju Alabasta. Saya belum pernah mencobanya, tapi jika mengikuti Log, kalian akan melalui dua atau tiga pulau." Ucap Igaram yang menatap ke arah Luffy.
"Tolong jaga tuan putri."
"Ya!" Ucap Luffy.
"Igaram..." Ucap Vivi.
"Ini akan jadi perjalanan sulit bagi anda, tapi tolong berhati-hatilah." Pinta Igaram.
"Kamu juga!" Ucap Vivi lalu berjabat tangan dengan Igaram.
Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, Igaram mulai berlayar pergi.
Sebelum Igaram pergi Tanaka berjalan mendekati kapten pengawal keluarga Kerajaan itu.
"Saat kamu merasa ada yang aneh segeralah melompat ke laut!" Bisik Tanaka.
Igaram merasa kebingungan tapi dia menganggukkan kepalanya.
"Dia sudah pergi, ya. Sampai akhir pun dia tetap jadi paman yang lucu." Ucap Luffy.
"Dia benar-benar bisa diandalkan." Ucap Vivi. "Apa yang kamu katakan pada Iga-"
Tiba-tiba saja terjadi ledakan pada kapal yang dipakai Igaram, membuat mereka semua, kecuali Tanaka terkejut melihat itu terutama Vivi.
"Tidak mungkin, mereka sudah mulai mengejar kita!" Ujar Nami.
"Dia pasti orang yang sangat hebat!" Ucap Luffy dengan tegas.
"Nami, Log nya mengarah kemana?" Tanya Zoro yang siap berlari.
"Ah, tenanglah, sudah terisi!" Jawab Nami.
"Bawa dia! Kita akan berlayar!" Ucap Zoro yang mulai berlari.
"Tanaka, Zoro, persiapkan kapal, aku akan bangunkan Usopp dan Sanji." Perintah Luffy yang juga sudah berlari.
"Baik, kapten!" Jawab Tanaka dan Zoro.
"Vivi, kita harus pergi!" Ucap Nami lalu melihat Vivi yang menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah membuat Nami langsung memeluk dan menutup matanya.
Nami berusaha menenangkannya Vivi dengan menyakinkan Vivi.
"Tenanglah, kami pasti akan mengantarmu!" Ucap Nami. "Percayalah pada kami! Kami pasti akan mengalahkan mereka!"
Nami dan Vivi berlari ke tempat kapal Going Merry berlabuh. Saat sudah berada didekat kapal, Vivi berhenti berlari.
"Karu tidak ada!" Ucap Vivi yang teringat bebek peliharaannya.
"Karu?" Tanya Nami.
"Kita tidak ada waktu untuk mencarinya!" Ucap Nami.
"Tapi, aku tak bisa meninggalkannya disini!" Tegas Vivi.
"Hei, ada apa?" Ucap Zoro.
"Dia bilang hewan peliharaan tak ada! Dia tak datang meski sudah dipanggil!" Jawab Nami.
"Maksudnya dia?" Tanya Tanaka sambil menunjuk bebek yang ada disebelahnya.
"Disana rupanya!" Teriak Vivi dan Nami marah
"Dia tadi mengikuti kami." Ucap Zoro.
Nami segera naik keatas kapal begitu juga dengan Vivi.
Beberapa saat kemudian, Luffy datang dengan menyeret Sanji dan Usopp. Sanji ditarik kakinya dan Usopp ditarik hidungnya.
Tanaka yang melihat itu merasa kasihan dengan mereka berdua yang tidak tahu apapun tiba-tiba diperlakukan seperti itu oleh Luffy.
"Kalau kita berputar arah, kita akan menemukan kanal! Jika kita melewatinya, kita bisa pergi ke laut dengan cepat!" Ungkap Vivi.
"Baiklah, ayo berangkat!" Ucap Luffy.
"Hei." Ucap Zoro membuat Vivi menoleh menatapnya.
"Ya, tuan pendekar pedang?" Jawab Vivi.
"Berapa banyak orang yang akan mengejar kita?" Tanya Zoro.
"Entahlah. Mungkin ada sekitar 2.000 orang di Baroque Works, dan kudengar mereka menjadikan beberapa pulau terdekat sebagai markas." Jelas Vivi.
"Mungkinkah mereka mengirimkan 1.000 orang?!" Tanya Nami.
"Hei, kapalnya bergerak!" Ucap Usopp yang baru saja bangun.
"Bangun juga, ya." Ucap Nami kesal.
"Tunggu, kita menginap dulu satu malam!" Ucap Sanji.
"Benar sekali!" Ucap Usopp.
"Kota ini luar biasa, dan gadis-gadisnya cantik!" Ucap Sanji.
Sanji dan Usopp terus protes karena mereka tidak ingin pergi dari Whiskey Peak.
"Mereka itu tak tau apapun, beraninya kebanyakan ngomong." Ujar Zoro. "Siapapun bisa jelaskan pada mereka!"
Nami tersenyum dan langsung memberikan sebuah pukulan di kepala mereka berdua sebagai penjelasannya.
Tanaka hanya bisa menghela nafas melihat Usopp dan Sanji yang kembali pingsan karena dipukul oleh Nami.
"Sudah kulakukan." Ucap Nami.
"Cepat banget." Sahut Zoro.
"Karena merepotkan, aku pukul saja." Ucap Nami dengan tersenyum.
Kapal Going Merry terus berlayar di sungai yang menuju ke laut dan kabut juga semakin tebal.
"Seharusnya sebentar lagi kita akan meninggalkan pulau." Ucap Vivi.
"Keren, ada kabutnya!" Ucap Luffy.
"Sebentar lagi pagi, ya." Ucap Nami.
"Syukurlah kita berhasil melarikan diri dari para pengejar." Ucap seseorang membuat Tanaka menoleh ke belakang menatap seorang perempuan dewasa yang memakai pakaian minimalis dan memakai topi koboi.
"Nico Robin!" Pikir Tanaka.
Robin tersenyum pada Tanaka yang dibalas dengan senyuman juga sambil terus menatapnya.
"Benar sekali, ya!" Ucap Nami yang tidak sadar akan keberadaan Robin.
"Kita harus hati-hati supaya kapalnya tak menabrak bebatuan!" Ucap Robin.
"Serahkan saja padaku!" Ucap Nami lalu kemudian menyadari sesuatu. "Tunggu, yang bicara tadi kamu, Luffy?"
"Bukan!" Jawab Luffy.
"Kapal yang bagus." Ucap Robin.
Mereka terkejut saat melihat Robin sedangkan Tanaka menghela nafas. "Telat sekali kalian sadarnya!"
"Siapa kamu?!" Tanya Zoro.
__ADS_1
"Ka-Kau...!" Ucap Vivi.
"Tadi aku menemui Mr. 8, Miss Wednesday." Ucap Robin dengan masih tersenyum tapi kali ini dengan sedikit intimidasi.
"Kamu sudah membunuh Igaram!?" Tanya Vivi.
"Siapa yang peduli! Apa yang kamu lakukan di kapal kami?! Siapa kamu?" Ucap Luffy sambil menunjuk Robin.
"Apa yang kau lakukan disini, Miss All Sunday?!" Teriak Vivi.
"Miss All Sunday?! Kali ini berapa nomor partnernya?" Tanya Nami.
"Dia partner dari Mr. 0, partner bos!" Jawab Vivi.
"Bo...?! Partner Crocodile?!" Tanya Nami kaget.
"Apa dia orang jahat?" Tanya Luffy dengan santainya.
"Yang mengetahui identitas dari bos hanya dia. Kami menemukan identitasnya karena memata-matainya!" Ucap Vivi.
"Lebih tepatnya, aku membiarkan kalian memata-mataiku." Sahut Robin.
"Oh, jadi dia orang baik, ya?" Tanya Luffy dengan tenangnya.
"Aku sudah tau itu! Dan yang mengatakan kalau kami mengetahui identitasnya adalah kamu, bukan?" Ucap Vivi.
"Benar sekali." Ucap Robin.
"Jadi orang jahat, ya!" Ucap Luffy.
"Kau itu, diam dulu, dong!" Ucap Zoro.
Vivi dan Robin terus berbicara satu sama lainnya sampai Sanji menodongkan pistol ke kepala Robin, Usopp dengan ketapel nya, Zoro bersiap dengan pedangnya dan Nami dengan tongkatnya.
Tanaka hanya tetap memasang wajah datar tanpa berniat mengeluarkan Honjo ataupun Sengo dari sarung pedangnya.
"Hei Sanji, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan?" Tanya Usopp.
"Tidak, aku tak begitu yakin. Aku hanya merasakan kalau Miss Wednesday kesayanganku sedang dalam bahaya." Jawab Sanji.
"Hati-hati kalian berdua, dia pemakan buah iblis." Peringat Tanaka pada Sanji dan Usopp.
Baru saja diperingatkan Sanji dan Usopp sudah jatuh ke lantai kapal bagian bawah.
Robin melihat Tanaka lagi yang tersenyum penuh arti dan perempuan itu merasa sedikit bingung karena tidak mengerti arti dibalik senyuman Tanaka.
"Kenapa kamu senyam-senyum seperti itu?" Tanya Sengo. "Apa kamu sudah seperti playboy bodoh itu?"
"Master juga menyukainya?" Tanya Hanjo.
"Kenapa kamu terus menanyakan hal seperti itu?" Tanya Tanaka dalam pikirannya. "Aku tidak menyukainya tapi juga tidak membencinya, bagaimanapun dia akan menjadi keluarga bajak laut topi jerami jadi aku hanya menyambutnya dengan ramah tamah, meski belum sekarang."
Para kru bajak laut topi jerami kecuali Tanaka terkejut melihat Robin yang menggunakan kekuatan buah iblis. Akan tetapi mereka tidak tahu kekuatan apa yang digunakan oleh Robin.
"Kalau dilihat baik-baik, kamu benar-benar seorang nona yang cantik!" Ucap Sanji dengan mata lope-lope.
"Sudahlah, jangan terburu-buru. Aku masih belum mendapat perintah apapun. Tak ada alasan untuk bertarung." Ucap Robin yang mengalihkan pandangannya ke Luffy.
"Jadi kamulah sang kapten topi jerami yang dikabarkan itu. Monkey D. Luffy?" Tanya Robin sambil merebut topi jerami Luffy dengan kekuatan iblisnya Hana Hana.
Buah iblis itu memungkinkan penggunanya untuk mereplikasi dan menumbuhkan potongan-potongan tubuh mereka dari permukaan benda atau makhluk hidup apa pun.
Jadi Robin menumbuhkan tangan kecilnya di kepala Luffy yang kemudian menjalar satu demi satu menuju ke arahnya.
"Kembalikan topiku! Kamu ingin mencari mati ya!?" Teriak Luffy dengan marah. "Aku tahu kamu adalah musuh, cepat pergi!"
Tanaka yang sudah berada di samping kanan Robin, bersandar dengan pinggangnya di pagar kapal, merebut topi jerami Luffy dari tangan Robin yang membuat dia dan lainnya terkejut dengan keberadaan Tanaka disitu.
Padahal dia hanya berjalan biasa tapi mereka tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada pembicaraan.
"Tidak sopan mengambil barang milik orang lain tanpa ijin." Ucap Tanaka dengan tersenyum lalu melempar topi jerami itu ke Luffy.
"Terima kasih, Tanaka!" Ucap Luffy sambil tersenyum senang dan memakai topi jeraminya.
"Dan jika kamu ingin mengatakan tentang kami yang mengantar Vivi, kami tidak peduli tentang itu, kami tetap akan mengantarnya." Ujar Tanaka. "Kapten kami sudah memutuskan hal itu."
"Tapi saat ini kalian sedang tidak beruntung, nama pulau yang akan kalian tuju adalah Little Garden. Meski kami tak melakukan apapun pada kalian, kalian akan dihabisi sebelum sampai di Alabasta." Ucap Robin.
"Aku tak peduli!" Ucap Luffy.
"Kurang ajar, bodoh!" Ucap Usopp yang bersembunyi di balik tiang utama kapal.
"Kamu ini bocah, apa?" Tanya Zoro.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak membantu kami, seperti misalnya bergabung dengan kami daripada dengan buaya pasir itu?" Ajak Tanaka yang membuat Robin kembali terkejut.
Tapi Robin dengan cepat mengubah ekspresi terkejutnya menjadi seperti biasa, memberikan senyuman misterius.
"Membiarkan kelompok kalian dihabisi, bukankah itu tindakan yang bodoh?" Ucap Robin lalu melemparkan sebuah Eternal Pose pada Vivi.
"Eternal Pose?" Ucap Vivi kaget.
Robin menjelaskan kalau Eternal Pose akan langsung menuju Alabasta dengan titik lokasinya sebuah pulau tak diketahui dan tak berpenghuni dekat Alabasta.
"Anggota kami tak ada yang mengetahui jalur itu, jadi mereka takkan mengejar kalian." Saran Robin.
Mereka semua kecuali Tanaka dan Luffy terkejut dengan tindakan Robin yang memberikan bantuan padahal dia adalah partner langsung bos Baroque Works.
Zoro merasa curiga dengan bantuan yang diberikan oleh Robin.
Robin menatap Tanaka dengan tersenyum. "Aku sudah membantu seperti yang kamu inginkan, bukan?"
"Ya, tapi aku inginnya kamu bergabung dengan kita, bagaimana kapten?" Tanya Tanaka.
"Mengenai itu, aku menolak, aku tidak ingin dia bergabung dengan kita!" Ucap Luffy lalu mengambil Eternal Pose dari tangan Vivi dan menghancurkan.
Tanaka hanya tersenyum dan Nami pun menendang wajah Luffy.
"Kapten kapal ini, sangat lucu." Ujar Robin pada Tanaka.
"Ya, begitulah kamu tidak akan menyesal kalau bergabung dengan kita." Jawab Tanaka.
"Tapi aku sudah ditolaknya." Sahut Robin.
"Nanti juga dia berubah pikiran, kaptenku itu orang polos jadi suka berubah-ubah tindakannya, selama kamu bisa membuatnya sesuatu yang menarik dia akan menerima kamu." Jelas Tanaka.
Sementara itu Luffy diceramahi oleh Nami atas tindakannya itu. Akan tetapi Luffy tidak peduli.
"Yang menentukan arah kapal ini mau kemana, bukanlah kamu tapi aku!!" Ucap Luffy pada Robin.
"Begitu, sayang sekali." Ucap Robin dengan masih tersenyum.
Nami hanya menghela nafasnya, merasa pusing akan tindakan Luffy. Tapi meskipun begitu dia hanya bisa menerimanya karena Luffy memang kapten bajak laut topi jerami.
"Dia sudah meledakkan kapal Paman pipa musik itu, aku membencinya!" Tegas Luffy.
Robin berpamitan dan melompat dari kapal, menaiki kendaraannya yang berupa kura-kura raksasa.
Mereka semua kecuali Tanaka terkejut dengan hewan yang dinaiki oleh Robin.
"Hei, jangan lupa ucapan aku tadi!" Teriak Tanaka.
Saat Robin sudah pergi Vivi langsung jatuh berlutut. Dia merasa tidak bertenaga karena merasa bingung dengan tindakan Robin.
"Kalau begitu, tak ada gunanya dipikirkan, bukan? Lagipula orang seperti itu sudah ada di kapal kita." Ucap Nami yang ditujukan pada Luffy.
"Hei, jelasin situasinya, dong! Aku sama sekali tak mengerti!" Ucap Usopp.
"Oh, Miss Wednesday! Jangan-jangan kamu ingin bergabung bersama kami?" Ucap Sanji dengan mata lope-lope seperti biasanya.
"Hei, sudah kubilang jelas...wuah, ada unta yang naik!" Ucap Usopp. "Hei, bagaimana nih?"
Vivi memikirkan keberadaan dirinya di kapal tersebut setelah kemunculan Robin. Dia merasa keberadaannya akan membawa masalah untuk para kru kapal Going Merry.
Nami yang mendengar itu segera memberikan kata semangat.
"Lagipula mereka sudah tahu wajah kami, bila kamu memikirkan menyulitkan kami seharusnya kamu sudah memikirkan sejak awal bukan sekarang." Ujar Nami yang menekan kening Vivi.
"Maaf!" Ucap Vivi.
"Sudah pagi, waktunya makan!" Teriak Luffy.
"Apa sudah waktunya makan?" Tanya Sanji.
"Jelaskan apa yang terjadi!" Ucap Usopp.
Nami pun menjelaskan apa yang terjadi sementara Tanaka menghampiri Luffy yang duduk di tempat favoritnya, kepala domba.
"Jaga baik topi jerami mu itu, jangan sampai diambil orang lain dengan mudahnya seperti tadi." Saran Tanaka sambil menyenderkan pinggangnya di tepi pagar kapal.
"Ya, terima kasih sudah mengambilkannya untukku." Ucap Luffy.
"Aku tau itu adalah barang yang berharga makanya aku langsung mengambilnya dan mengembalikannya padamu." Ucap Tanaka.
Luffy hanya tertawa sebagai responnya.
__ADS_1
Kapal Going Merry terus berlayar menuju ke pulau selanjutnya, little Garden.