
Tanaka dan Luffy berjalan-jalan berdampingan menuju desa Cocoyashi.
"Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ceritanya, Luffy?" Tanya Tanaka.
"Jika aku mendengarkan ceritanya, aku harus meninggalkan pulau ini tanpa Nami. Aku tidak mau!" Jawab Luffy dengan tegas.
"Sudah aku duga kamu akan menjawab seperti itu." Pikir Tanaka.
Selagi jalan-jalan itu, Tanaka dan Luffy melihat tiga manusia ikan yang juga sedang berjalan-jalan ke arah mereka berdua.
"Jadi mereka manusia ikan?" Tanya Luffy.
"Ya." Ucap Tanaka singkat.
Tanaka dan Luffy hanya berjalan melewati mereka begitu saja. Sampai kami dihentikan oleh salah satu dari mereka.
"He-Hei, tunggu kalian!" Panggil manusia ikan yang berbentuk gurita, bernama Hachi.
Tanaka dan Luffy pun menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Hachi.
"Kamu memanggilku?" Tanya Luffy.
"Siapa kalian?! Apa yang sedang kalian lakukan di pulau ini?!" Tanya Hachi.
"Memangnya ada apa?" Tanya Luffy balik.
"Ya...ya, tentu saja ada yang aneh, siapa kalian dan apa yang kalian lakukan di pulau ini?" Tanya Hachi.
"Namaku Luffy, aku sedang jalan-jalan." Ucap Luffy.
"Namaku Tanaka." Ucap Tanaka.
"Jalan-jalan?! Kalian ingin pergi kemana?!" Tanya Hachi.
"Mana kutahu!" Jawab Luffy.
Tanaka dan Luffy kembali melanjutkan langkah kami hingga akhirnya kami memasuki desa Cocoyashi.
Luffy lalu banyak berkeringat saat melihat kepala desa Cocoyashi, Gen dan banyak prajurit Marine di belakangnya.
Gen sedang berjalan menuju ke rumah Nami dan Nojiko dengan didampingi oleh perwira Marine yang wajahnya mirip seperti tikus.
"Kenapa paman itu memiliki kincir di kepalanya? Keren sekali!" Ucap Luffy dengan mata berbinar-binar sambil menatap Gen.
Tanaka hanya bisa tertawa kecil karena Luffy hanya memerhatikan hal itu bukan Marine yang berjalan dengan Gen.
Kami lalu duduk di bawah sebuah pohon sambil melihat-lihat orang berlalu lalang di desa ku.
"Kincir, ya? Bisa kubuat jurus yang bagus!" Ucap Luffy yang mendapat ide untuk teknik bertarungnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan pistol dan terjadi keributan.
"Dokter! Dokter!" Ucap seseorang yang panik membuat Tanaka dan Luffy menoleh menatap orang itu.
"Ada apa, Gen-san?!"
"Nojiko di tembak!" Ujar Gen.
"Hei Luffy, Nojiko itu bukankah kakak perempuannya Nami?" Tanya Tanaka.
"Ya, kalau tidak salah dengar memang dia kakaknya Nami." Jawab Luffy.
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Kamu dengar sendiri tadi, katanya dia ditembak oleh Marine." Tanya Tanaka.
Akan tetapi Luffy hanya diam dan menyaksikan keributan yang terjadi pada warga desa Cocoyashi.
"Siapa yang menembak?!"
"Manusia ikan?"
"Marine!" Jawab Gen yang panik.
"Marine?"
"Nojiko!" Ucap Gen saat melihat kakak perempuan Nami yang berjalan menghampiri Gen.
"Aku baik-baik saja..." Ucap Nojiko dengan bagian perutnya terluka tembak.
"Arlong bersekongkol dengan Angkatan Laut." Ungkap Gen yang membuat para penduduk menjadi terkejut.
"Apa?!"
"Tentu saja perwira Marine yang bertanggung jawab atas keamanan pulau ini adalah perwira korup yang sangat sesuai dengan wajahnya, tikus berseragam." Pikir Tanaka.
"Kalau dia tidak korup, tidak mungkin Marine akan tinggal diam membiarkan bajak laut menguasai sebuah pulau yang ditempati penduduk sipil dan mendirikan markasnya." Pikirnya lagi.
"Dia berbohong pada Nami delapan tahun yang lalu. Dia tidak pernah memegang janjinya!" Ujar Gen yang sangat marah.
Tanaka dapat melihat penduduk yang marah karena mengetahui apa yang sudah diperbuat Arlong pada Nami.
Luffy bangkit, lalu menghampiri Nami yang ada diantara para penduduk.
"Yo, Nami! Ada apa? Butuh bantuan?" Tanya Luffy.
Tanaka masih berada di tempat sambil melihat hal itu.
"Kamu masih disini?!" Tanya Nami lalu memegang kerah baju Luffy. "Masalah ini tidak ada hubungannya denganmu! Cepat tinggalkan pulau ini!"
Nami melempar tubuh Luffy lalu berlari pergi.
"Nami, kenapa kamu masih keras kepala." Pikir Tanaka sambil menatap Nami yang berlari pergi.
Luffy lalu kembali duduk di bawah pohon tempat dia duduk tadi.
"Kenapa dia itu?" Tanya Luffy.
"Lagi PMS mungkin." Jawab Tanaka seenaknya.
"PMS? Apa itu?" Tanya Luffy.
"Anak kecil tidak perlu tahu, hanya orang dewasa yang boleh tahu apa itu PMS." Jawab Tanaka yang seenaknya lagi.
Beberapa saat kemudian, Tanaka dan Luffy melihat penduduk desa yang marah mengambil alat-alat yang bisa digunakan untuk bertarung.
Mereka terlihat sangat bersiap untuk bertarung melawan Arlong.
"Delapan tahun yang lalu kita bersumpah tidak akan melakukan perlawanan lagi pada mereka." Ujar Gen yang memimpin pasukan desa Cocoyashi untuk memberontak pada Arlong.
"Tak peduli sekejam apa dan serendah apa yang mereka lakukan pada kita, selama Nami baik-baik saja itu tidak menjadi masalah. Itulah yang kita sebut perjuangan derita!" Jelas Gen.
"Tapi mereka memberikan jawaban seperti ini pada perjuangan kita!" Teriak Gen. "Kita tidak akan memaafkan tindakan mereka yang memanfaatkan pada gadis kecil yang berbaik hati itu."
"Mari kita lakukan perlawanan pada mereka untuk mendapatkan kebebasan!" Teriak Gen.
Para penduduk desa Cocoyashi yang sudah marah langsung tersulut semangat untuk menyerang Arlong beserta anak buahnya.
Mereka sudah tidak takut lagi akan kematian yang mungkin akan mereka dapatkan saat melawan Arlong dan bawahannya karena mereka sudah muak dengan perilaku dan sikap licik yang dilakukan oleh bajak laut manusia ikan, Arlong selama mereka berkuasa.
Pada saat Gen bersama para penduduk desa Cocoyashi bergerak menuju Arlong Park, Nami muncul dihadapan mereka.
"Tunggu, semuanya!" Teriak Nami.
"Nami!" Sahut Nojiko.
"Sebentar lagi! Tunggulah sebentar lagi! Aku akan berjuang dari awal! Aku akan mengumpulkan uang lagi! Kali ini pasti mudah! Aku sudah terbiasa! Tenang saja! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Ini lebih menyakitkan daripada saat itu! Semuanya! Aku baik-baik saja! Oleh karena itu..." Ucap Nami dengan senyum palsu.
Gen langsung memeluk Nami dan berkata, "Sudah cukup, penduduk desa tau bahwa semua ini sia-sia. Kamu telah bertarung dengan baik, demi nyawa kami. Bergabung dengan mereka pasti lebih menyakitkan bagimu. Lebih menyakitkan dari apapun juga. Kamu telah bertarung dengan baik." Ucap Gen yang menghibur Nami.
Mendengar itu membuat Nami menangis. Gen lalu melepaskan pelukannya.
"Tinggalkan pulau ini segera mungkin!" Pinta Gen.
"Gen?!" Panggil Nami yang terkejut.
"Pergilah, Nami, kamu harus pergi dari pulau ini, sudah cukup kamu berjuang dan sekarang adalah giliran kami untuk berjuang." Ungkap Nojiko.
"Tidak bisa! Aku tidak akan meninggalkan kalian!" Tolak Nami.
"Kamu ini pintar, juga punya mimpi, pergilah untuk mendapatkan mimpimu." Pinta Nojiko.
Secara tiba-tiba Nami mengeluarkan pisau dan mengarahkan ke penduduk desa Cocoyashi.
"Nojiko! Semuanya! Tak akan kubiarkan!" Ucap Nami. "Hentikan! Aku tidak ingin ada yang terluka karena mereka! Kalian bisa mati!"
"Kami tau." Ucap Gen lalu memegang pisau yang dipegang Nami.
"Percuma saja! Tekad kami sudah bulat!"
"Minggir, Nami!" Ucap Gen. "Ayo semuanya! Walau tidak bisa menang, tunjukkan pada mereka tekad kita!"
Penduduk desa lalu berlari pergi untuk menyerang markas Arlong.
Nami yang terduduk menangis lalu menggunakan pisau yang tadi ia bawa untuk menusuk-nusuk tato lambang Bajak Laut Arlong yang berada di lengannya.
Luffy memegang tangan Nami untuk menghentikannya dan membuang pisau itu.
Sementara itu, Tanaka masih duduk melihat kejadian yang penuh emosional itu.
"Sial, aku harus tahan dengan situasi ini, jangan menangis!" Gumam Tanaka yang pernah menangis saat membaca manga one piece pada bagian yang terjadi saat ini.
"Apa maumu? Kamu tidak tau apa-apa! Kau tidak tau apa-apa mengenai penderitaan pulau ini selama 8 tahun!" Ucap Nami.
"Ya, aku tidak tau." Ucap Luffy dengan tenang.
__ADS_1
"Ini semua tidak ada hubungannya denganmu! Kamu sudah kusuruh untuk meninggalkan pulau ini!" Ucap Nami sambil melemparkan tanah ke Luffy.
"Ya, kamu mengusirku." Ucap Luffy yang masih dengan tenang.
"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah!" Ucap Nami tapi Luffy tidak bergerak sama sekali.
Aku hanya melihat mereka sebelumnya, tapi sekarang aku harus mengambil tindakan.
"Nami ... Apa yang kamu inginkan pada kami? katakanlah, jangan lagi ditahan atau menjadi keras kepala, katakanlah, kapten, aku, Zoro, Usopp, dan Sanji akan melakukannya apapun yang kamu inginkan itu." Jelas Tanaka.
Nami yang sudah tidak tahan lagi dengan penderitaannya yang telah dia tahan selama 8 tahun akhirnya mengucapkan kalimat yang telah di tunggu-tunggu oleh Tanaka dan Luffy.
"Luffy, Tanaka, tolong aku... Tolong bebaskan aku dari penderitaan ini!" Ucap Nami dengan berlinangan air mata.
Luffy melepaskan topi jeraminya dan kemudian memakaikan pada Nami. Perempuan itu teringat kalau topi jerami itu merupakan harta berharga bagi Luffy dan tidak pernah dia lepaskan.
"Tentu saja!" Teriak Luffy.
Lalu di depan Luffy berdirilah Zoro, Usopp dan Sanji yang sudah menunggunya.
"Ayo!" Ucap Luffy.
"Ya!" Ucap mereka bertiga.
Tanaka mendekati Nami dan mengatakan, "Tolong jaga topi jerami itu ya, Nami, itu benda yang sangat berharga bagi kapten."
"Dan obati lukamu dulu, Nami." Ucap Tanaka sambil tersenyum padanya.
Tanaka segera ingin mengejar Luffy dan lainnya yang menuju ke Arlong Park, tapi Nami memegang tangan pria itu.
"Apa kamu bisa membantu aku?" Tanya Nami.
"Eh ... Baiklah!" Jawab Tanaka
Nami lalu membawa Tanaka ke rumahnya dan aku mulai mengobati lukanya dengan sebisa yang dia lakukan.
Bagaimanapun juga Tanaka tidak terlalu paham dalam hal tindakan medis. Dia hanya bisa memberikan tindakan medis pada luka-luka kecil seperti tergores, tertusuk paku, duri dan luka kecil lainnya.
Nami menjahit sendiri lukanya itu dan Tanaka membantu menutup jahitan itu dengan perban.
"Tanaka, tadi kamu bilang kalian akan membebaskanku. Apa kamu sudah tau yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nami.
"Tidak semuanya, tapi aku tau kamu tidak mungkin membunuh Usopp dan aku tau senyuman yang kamu berikan selama bersama kami itu senyuman yang tulus." Jelas Tanaka yang masih memberikan balutan perban pada lengan Nami.
"Karena itu aku tau pasti ada sesuatu yang menahan mu untuk tidak bisa bergabung bersama kami, meskipun kamu ingin tetap berlayar bersama kami di laut." Jelas Tanaka yang sudah selesai membaluti perbannya.
"Sepertinya ini pertama kalinya kamu bicara sepanjang ini." Ucap Nami.
"Benarkah? Aku memang orang yang tidak banyak bicara. Tapi apa aku separah itu?" Tanya Tanaka.
Nami mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaanku.
"Aku juga tidak tau kenapa aku seperti ini. Mungkin karena sudah lama aku sudah hidup sendiri sehingga aku banyak diamnya." Ungkap Tanaka.
"Baiklah, Ayo kita pergi ke tempat Arlong! Pengobatan lukamu juga sudah selesai" ajak Tanaka.
Nami mengangguk, mereka berdua pun berlari bersama menuju Arlong Park.
Saat Nami dan Tanaka sudah sampai di tempat Arlong, mereka melihat Arlong sudah membuat Sanji dan Zoro terluka parah.
Tanaka tidak melihat keberadaan Luffy yang berarti dia sedang berada di dasar laut.
"Arlong!" Teriak Nami.
"Kak Nami! Abang Tanaka!" Panggil Johnny dan Yosaku.
"Yo, Nami. Aku baru saja ingin membinasakan beberapa bajak laut. Ada perlu apa?" Tanya Arlong.
"Membunuhmu..." Ucap Nami dengan marah.
"Membunuhku?" Tanya Arlong lalu tertawa. "Kamu ini tidak pernah mengerti juga, ya? Sudah berapa kali kamu mencoba membunuhku selama 8 tahun ini?.
"Kamu telah mencoba membunuhku dengan racun, serangan sembunyi-sembunyi, tapi kamu tidak mampu membunuhku? Kamu harus ingat kalau manusia biasa sepertimu tidak akan pernah bisa membunuhku!" Tegas Arlong
"Sekarang dengarlah! Aku tak bisa membunuhmu, tapi kamu tak akan bisa lari dariku. Nami, kamu akan tetap menjadi bagian dari kelompok kami selamanya. Tapi seperti yang kamu tau, aku seorang yang mempunyai sifat baik." Ucap Arlong dengan tersenyum yang menunjukkan taring hiunya.
"Jika memang mungkin, kamu bebas memilih posisi di kelompok kami. Jadi, bagaimana? Aku akan membunuh semua orang disini kecuali kamu." Ungkap Arlong.
Tapi jika kamu dengan senang hati kembali pada Bajak Laut Arlong dan terus menggambarkan aku peta, aku tidak akan membunuh para penduduk desa Cocoyashi ini." Tawar Arlong.
"Tapi aku tetap tidak bisa membiarkan bocah ini hidup. Mereka sudah berbuat terlalu jauh. Sekarang kamu tinggal memihak pada siapa. Kamu bisa memilih memihak padaku dan menyelamatkan seluruh penduduk desa, atau berpihak pada orang lemah ini dan mencoba melawanku dengan seluruh anak buahku." Tawar Arlong lagi.
"Tapi jika kau ingin berpihak pada orang semacam ini, sudah jelas itu akan menjadi sebuah bencana untukmu. Nami, apa kau temanku? Atau teman dari mereka?" Ancam Arlong.
Nami menjadi kebingungan untuk memilih karena dia masih menganggap Arlong sebagai makhluk yang kuat dan tidak terkalahkan.
Dia merasa sangat hebat karena berada di east blue yang merupakan wilayah paling lemah dari tiga wilayah lainnya.
Padahal saat di Grand Line, Arlong tidak ada apa-apanya. Dia hanyalah cecunguk bagi orang-orang kuat yang ada di Grand Line.
"Nami bukan temanmu! Sudah cukup penderitaannya selama 8 tahun ini! Kami pasti akan membebaskannya!" Teriak Tanaka sambil berdiri di depan Nami.
"Tanaka..." Ucap Nami.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan pria biasa sepertimu? Kamu juga teman mereka? Kalau begitu aku akan menghabisi mu juga." Ancam Arlong.
Tanaka tersenyum menyeringai mendengar itu. Dia segera menggunakan kekuatan forcenya untuk mengangkat Arlong, melayang di udara.
"Apa ini? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Arlong yang panik karena dia melayang.
Dengan sangat mudah, Tanaka melemparnya ke dinding bangunan Arlong park sehingga membuat dinding bangunan itu menjadi berlubang.
"Jangan meremehkan ku!" Tegas Tanaka.
Tanaka melihat sebuah air mancur dari luar dinding yang mengarah ke lautan, tempat Luffy sedang di tolong oleh Nojiko.
Sanji dan Zoro juga berusaha untuk bangkit berdiri.
"Sanji, kamu bantu Luffy! Zoro, kamu diam saja!" Perintah Tanaka.
Sanji pun mengangguk dan menyelam ke laut untuk menghancurkan batu yang menahan kaki Luffy.
"Bagaimana aku bisa diam?!" Ucap Zoro yang tidak terima.
Pria itu lalu mengangkat tubuh Zoro dengan kekuatan forcenya dan melemparkannya langit dan jatuh di tempat para penduduk berada.
"Tangkap dia!" Ucap Tanaka yang membuat mereka dengan sigap menangkap tubuh Zoro.
"Sialan kamu, Tanaka! Apa kamu ingin membunuhku!?" Protes Zoro dengan kemarahan.
Tanaka hanya mengabaikan protes yang dilakukan Zoro.
"Bila ada Dokter diantara kalian, tolong obati Zoro! Lukanya terbuka lagi, dia harus segera diobati! Biar Arlong aku yang hadapi!" Ujar Tanaka yang mulai masuk ke dalam area Arlong park.
"Kamu benar-benar membuatku marah!" Ucap Arlong yang muncul dari lubang dinding tersebut.
Dia langsung bergerak cepat untuk menyerang Tanaka, akan tetapi serangan berhasil di gagalkan karena Tanaka mendorongnya ke belakang sehingga di tersungkur ke lantai.
"Sial, apa yang kamu lakukan sebenarnya!?" Tanya Arlong dengan sangat marah.
"R.A.H.A.S.I.A" ujar Tanaka yang mengucapkan huruf satu demi satu.
"Jangan becanda denganku!" Ujar Arlong yang sangat marah dan kembali menyerang Tanaka.
Pria itu sudah siap menggunakan kekuatan forcenya lagi, akan tetapi dia tidak menduga kalau Arlong akan mengubah jalurnya sehingga dia menyerang dari samping kanan.
Meskipun Tanaka menyadari hal itu, tapi karena dia tidak memiliki refleks yang bagus seperti seorang beladiri, dia tidak bisa menghindari serangan sebuah pukulan tepat di wajah Tanaka yang cukup keras sampai membuatnya terlempar ke sebuah tiang bangunan dan membuat tiang itu retak yang cukup parah.
"Uhuk!"
Akibat benturan yang mengenai punggungnya itu, Tanaka terbatuk-batuk dengan mengeluarkan darah.
"Sial, ini sangat sakit!" Pikir Tanaka.
Arlong berjalan dengan perlahan menghampiri Tanaka dengan tatapan mata yang sangat mengintimidasi.
"Aku akan menyingkirkan mu terlebih dahulu!" Tegas Arlong.
Akan tetapi, saat hampir sampai, sebuah telur ditembakkan ke arah Arlong.
"Tanaka, aku datang untuk menyelamatkanmu!" Teriak Usopp.
"Abang Usopp! Apa dia baik-baik saja?!" Tanya Yosaku yang mencari-cari keberadaan Usopp.
"Betapa beraninya dia! Dia muncul dengan hebat!" Ujar Johnny yang juga melakukan hal yang sama seperti Yosaku.
"Ayo kita bertarung sampai akhir!" Ucap Usopp dari jauh, tepat di sebuah lubang kecil di dinding yang berada di samping para penduduk.
"Ternyata di sana?!" Ucap penduduk desa.
"Usopp!" Panggil Nami.
"Dengar, Nami! Aku telah mengalahkan salah satu pemimpin mereka! Salah satu pemimpinnya! Salah satu pemimpinnya! Orang yang mukanya seperti ini. Manusia ikan itu sudah jadi remahan roti!" Ucap Usopp sambil menirukan wajah manusia ikan itu.
"Kamu mengalahkan Choo?!" Ucap Arlong terkejut dan tidak percaya.
"Lihatlah sekarang! Dengan kedatanganku, pertarungan ini akan semakin cepat selesai! Inilah bagian akhirnya!" Ucap Usopp dengan angkuhnya.
Tanaka tersenyum menatap Usopp yang penuh kesombongan di setiap katanya selian kebohongan.
Tanaka berusaha untuk bangkit berdiri.
__ADS_1
"Hei, Arlong! Lihatlah ini!" Ucap Usopp yang memberikan tanda yang cukup memprovokasi orang menjadi sangat marah.
Arlong melihat sejenak dan kemudian mengabaikan Usopp.
Usopp lalu bersiap untuk menyerang Arlong dengan sebuah senjata berupa jepretan karet.
Apa yang dilakukan Usopp hanyalah ingin mengalihkan perhatiannya pada Tanaka sehingga pria itu akan dapat menyerangnya.
"Berani sekali kamu menantang ku. Sepertinya kau ingin mati terlebih dahulu, pria lemah." Ucap Arlong yang benar-benar mengabaikan Usopp.
"Ayo! Sekarang Tanaka!" Teriak Usopp yang serangannya gagal.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?!" Ucap Nami.
"Lihatlah di sana!" Tunjuk Johnny.
"Ah, si gurita kurang ajar itu berdiri lagi!" Ucap Yosaku yang menyadari Hachi yang bangkit berdiri. "Dan apa yang dia lakukan?"
"Sial, kupikir gelang karet itu akan mengarah padaku!" Ucap Hachi.
"Apa?!" Ucap penduduk desa.
"Lihatlah, targetku adalah dia!" Ucap Usopp yang berbohong.
"Tapi tadi kau meneriakkan Arlong, siapa sebenarnya targetmu?" Tanya Nami.
"Ah, itu gadis kecil yang tadi berjalan-jalan bersama topi jerami! Apa yang dia lakukan disini?! Ah, itu tidak penting! Aku akan menghabisi semua teman Zoro yang ada di dalam air!" Ucap Hachi lalu menyelam ke dalam air.
"Gawat!" Pikirku.
"Jangan khawatir, kalian semua akan mendapat giliran untuk mati." Ancam Arlong.
"Aku tidak akan mati." Ucap Tanaka berusaha menyerang Arlong dengan menendangnya di perut tapi tidak berhasil.
Kaki Tanaka yang tadi menendang perut Arlong ditangkapnya dan kemudian dengan tumpuan kaki itu, Tanaka di banting-banting ke lantai dengan sangat keras berulang kali.
"Tanaka!" Teriak Nami.
"Abang Tanaka!" Teriak Yosaku dan Johnny.
"Gawat,Tanaka bisa mati! Aku harus melakukan sesuatu." Ujar Usopp yang panik melihat Tanaka dibanting banting berulang kali.
"Argggghh~" Teriak Tanaka yang merasa sakit di seluruh tubuhnya karena dibanting terus menerus oleh Arlong.
Setelah merasa puas membanting Arlong melempar Tanaka ke laut. Dia berpikir Tanaka adalah pengguna buah iblis sehingga dia akan mati tenggelam.
"Gawat Abang Tanaka akan mati tenggelam!" Ujar Yosaku yang juga berpikiran kalau Tanaka adalah pengguna buah iblis.
"Kita harus menolongnya!" Ujar Johhny yang ingin menceburkan diri ke laut tapi dia tidak berani bergerak karena ada Arlong.
Sementara itu, Tanaka yang tenggelam merasa sangat sakit di seluruh tubuhnya.
Meskipun begitu rasa sakit itu tidak berlangsung lama karena efek samping dari seorang penjelajah yang mana tubuhnya akan kembali seperti semula.
Tulang-tulang yang retak akibat bantingan yang dilakukan oleh Arlong telah berhasil kembali seperti semula.
Tanaka melihat Hachi yang akan menyerang Sanji yang tidak menyadari keberadaan Hachi di belakangnya.
"Aku harus menahan Hachi!" Pikir Tanaka yang kemudian dia arahkan tangannya ke Hachi.
Akan tetapi karena dia berada di dalam laut, itu membuat dirinya kesusahan untuk berkosentrasi karena oksigen semakin berkurang di paru-parunya.
Nojiko segera berenang di belakang Sanji untuk menghalau serangan Hachi tersebut.
Secara tiba-tiba Hachi yang tadinya akan menyerang, tubuhnya mengeluarkan darah. Sanji tidak membuang kesempatan itu, dia segera menendang bagian lantai yang menahan kaki Luffy.
"Syukurlah, semua bisa selamat."pikir Tanaka yang segera berenang ke permukaan.
"Aku kembali!!" Teriak Luffy yang membuat semua orang bersorak senang.
"Bocah karet kurang ajar itu..." Ucap Arlong.
Luffy segera memanjangkan tangannya ke pundak Arlong dan kemudian dengan tarikan itu dia melancarkan serangannya.
"Gomu gomu bell" ujar Luffy yang membenturkan kepalanya ke kepala Arlong dengan sangat keras.
Tidak berhenti disitu saja, dia juga menendangnya dengan sangat keras dan kemudian memukul Arlong terus menerus yang membuat manusia hiu gergaji itu terjatuh.
"Yosh!" Ucap Luffy.
"Apa kamu tadi melakukan sesuatu?" Ucap Arlong.
"Tidak berpengaruh!!" Ucap Johnny dan Yosaku terkejut.
"Ya, itu tadi hanya pemanasan saja." Ucap Luffy lalu meregangkan tubuhnya.
"Untuk seorang bocah kurang ajar sepertimu, pukulanmu lumayan juga.Tapi yang pasti akan lebih menyenangkan kalau kamu mati di dasar laut tadi." Ucap Arlong sambil duduk dengan puing bangunan di belakangnya.
"Tidak, aku senang mereka bisa menyelamatkanku." Ucap Luffy sambil melakukan peregangan agar tubuhnya semakin lentur, tidak kaku.
"Apa kamu tidak mengerti kemarahanku? Kemarahan saat melihat saudara-saudaraku dihabisi oleh sampah seperti kalian. Kamu terlalu cepat menyadari bahwa kamu harus mati tanpa bertarung." Ucap Arlong.
"Apa abang Luffy akan baik-baik saja? Semua serangan sengitnya belum ada yang berhasil sama sekali." Ucap Yosaku yang khawatir.
"Yang lebih penting, kita harus menolong abang Tanaka yang tenggelam di laut." Ujar Johnny yang panik.
"Dia akan baik-baik saja. Aku percaya padanya." Ucap Tanaka yang telah menampakkan kakinya di daratan lagi dan berdiri di samping Nami dengan pakaian yang basah.
"Eh? Abang Tanaka! Bagaimana bisa kamu berada disini? Kamu tidak tenggelam di laut?" Tanya Johnny yang terkejut dengan kehadiran Tanaka.
"Kenapa aku tenggelam? Aku bisa berenang." Jawab Tanaka dengan santainya sambil memeras beberapa pakaiannya yang sangat basah.
"Bagaimana dengan lukamu, Tanaka?" Tanya Nami.
"Aku baik-baik saja." Ucap Tanaka, lalu menoleh menatap Zoro yang masih diobati oleh dokter. "Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur." Ucap dokter itu yang sedang memperban luka Zoro.
Tanaka menghela nafas lega mendengarnya. Dia sebelumnya merasa khawatir pada Zoro yang tidak mendapatkan penanganan medis secara benar sehingga luka yang disebabkan oleh Mihawk dapat terbuka kapan saja.
"Tapi kenapa kamu bisa berenang? Bukankah kamu memakan buah iblis?" Tanya Nami yang penasaran.
Yosaku dan Johnny juga merasa penasaran dengan hal itu.
"Siapa yang bilang aku makan buah iblis? Aku tidak makan buah iblis." Jawab Tanaka.
"Apa!?" Ujar Yosaku dan Johnny terkejut karena mereka telah salah sangka.
"Lalu, kemampuan aneh yang selalu kamu lakukan itu? Bagaimana caranya kamu bisa melakukannya tanpa memakan buah iblis?" Tanya Nami.
"Itu karena kekuatan force." Jawab Tanaka. "Untuk lebih jelasnya lagi, aku akan beritahu setelah masalah disini selesai."
"Ayo maju Luffy, aku selalu mendukungmu dari belakang!" Ucap Usopp.
Suara Usopp membuat Tanaka dan Nami menoleh menatapnya.
"Kenapa harus dari belakang? Dan jaraknya juga cukup jauh" Tanya Nami yang sweetdrop.
Tanaka menghela nafas melihat kepengecutan Usopp, dia kembali menatap pertarungan Luffy.
"Apa perbedaan terbesar antara kau dan aku?" Tanya Arlong.
"Hidung." Ucap Luffy. "Atau rahang?"
"Bagaimana mungkin dia sempat bercanda seperti itu?" Tanya Yosaku.
"Tidak ... dia terlihat sedang serius." Ucap Johnny.
"Selaput jari!" Ucap Luffy yang benar-benar membuat Arlong marah.
"Bukan bodoh! Tapi spesies kita!" Ucap Arlong yang lalu menyerang Luffy dengan gigitannya terus menerus.
Luffy terus berusaha menghindari gigitan Arlong sampai akhirnya dia berhasil mencekik Luffy dan menahan tubuh Luffy di tiang.
Arlong yang akan menggigit Luffy lagi tapi Luffy berhasil hindari dengan memanjangkan lehernya ke samping sehingga Arlong justru menggigit pilar.
"Kamu benar, manusia karet dengan manusia ikan, spesies mana yang akan memenangkan pertarungan ini?" Tanya Tanaka. "Bila manusia ikan yang menang, tamat sudah bagi pulau ini dan seluruh wilayah East Blue"
"Dasar bodoh, dia melukai dirinya sendiri! Sekarang giginya pasti akan patah." Ucap Usopp.
Arlong lalu menggigit pilar hingga pilar itu hancur, membuat Usopp, Johnny dan Yosaku menjatuhkan rahang mereka melihat hal itu.
Luffy diam-diam merangkak menjauh dari Arlong untuk memberikan jarak.
"Apa kamu melihatnya? Itu tadi adalah salah satu kekuatan utama manusia ikan. Surga telah mendiskriminasi kalian wahai manusia! Menciptakan makhluk lemah sepertimu untuk berlutut pada manusia ikan." Ujar Arlong dengan angkuhnya.
"Manusia hanyalah makhluk rendahan. Kita sudah dalam tingkatan berbeda saat pertama kali dilahirkan. Akan ku tunjukkan padamu, perbedaan yang sesungguhnya antara kau dan aku." Jelas Arlong.
"Kamu salah Arlong! Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangannya yang berbeda-beda." Teriak Tanaka. "Dan aku tahu kekurangan yang kamu miliki sekarang ini!"
"Kekurangan? Hahaha, jangan bercanda denganku, makhluk rendahan!" Ujar Arlong yang masih bersikap angkuh. "Kalau memang aku memiliki kekurangan, apa kekurangan yang aku miliki?"
"Kamu sudah menunjukkan kekuranganmu itu sendiri dan kamu tidak menyadarinya, dasar bodoh!" Jawab Tanaka.
Mendengar Tanaka yang bermain-main padanya membuat Arlong menjadi marah dan ingin menyerang Tanaka.
Tapi hal itu dicegah oleh Luffy yang memanjangkan tangannya sehingga membuat wajah Arlong terpukul sampai membuatnya terlempar dan tersungkur ke lantai.
"Lawanmu itu aku!" Ujar Luffy dengan tegas. "Dan aku tidak perlu menghancurkan batu dengan gigitan, tanganku sudah cukup untuk melakukannya."
Tanaka tersenyum kecil saat Luffy menghancurkan sebuah batu dengan pukulannya.
"Biar aku beritahu kekuranganmu, Arlong." Ujar Tanaka.
__ADS_1
"Kekuranganmu itu adalah terlalu sombong dan terlalu meremehkan makhluk yang tidak satu spesies denganmu, kamu seperti katak dalam sumur yang menganggap dunia ini kecil, sekecil ukuran sumur yang dilihat oleh katak dari dalam sumur." Jelas Tanaka.