Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
52


__ADS_3

Sebelum langit berubah menjadi lebih malam, Luffy dan lainnya mempercepat gerak mereka untuk sampai di kota Yuba.



"Tunggu, Luffy. Apa yang diberikan kakakmu padamu?" Tanya Usopp sambil berjalan dengan bantuan tongkat karena merasa kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan sempurna.



"Aku juga tidak tau. Hanya secarik kertas." Ucap Luffy sambil melihat kertas putih tersebut.



"Coba kulihat." Ucap Sanji sambil mengambil kertas pemberian Ace dari tangan Luffy. "Ini memang hanya secarik kertas saja. Disini juga tidak ada tulisan sedikit pun."



"Apa itu?" Ucap Usopp yang kecewa.



"Aku juga tidak tau, tapi..." Ucap Luffy yang terhenti karena kertas di tangan Sanji tertiup angin ke arah Matsuge yang langsung dimakannya.



"Hei, jangan dimakan!" Ucap Luffy sambil memukul Matsuge sehingga Matsuge memuntahkan kertas itu. Luffy lalu mengambil kertas itu. "Ya ampun!"



"Luffy, mana topi mu?" Tanya Nami.



"Ini!" Ucap Luffy sambil memberikan topinya begitu saja pada Nami.



"Jika itu sangat penting buatmu jadi akan ku jahitkan dibalik pita topi mu." Saran Nami sambil menjahit kertas itu di tempat yang dikatakannya itu.



"Ide bagus. Jahit yang rapi." Ucap Luffy.



"Iya, iya. Akhirnya selesai juga." Ucap Nami setelah selesai menjahit kertas itu dibalik pita topi Luffy lalu ia memberikan topi itu kembali pada Luffy. "Ini!"



"Terima kasih! Sekarang aku tak perlu khawatir." Ucap Luffy.



"Tak ada yang tertulis disana. Memangnya itu sangat penting?" Tanya Zoro.



"Ace bilang ini penting, jadi aku harus menyimpannya." Ucap Luffy.



"Kepercayaanmu itu sama sekali tak berdasar." Ucap Sanji yang bingung.



"Memangnya kenapa? Aku tak peduli." Ucap Luffy tidak peduli.



"Luffy jaga baik-baik kertas putih itu karena benda itu sangat penting nantinya." Ujar Tanaka. "kakakmu tidak mungkin hanya memberikan kertas putih kosong begitu saja, pasti ada kegunaannya."



Luffy menganggukkan kepalanya dan Vivi kemudian memberitahu kalau kota Yuba sudah semakin dekat.



"Semuanya! Dibalik karang yang di depan itu adalah Yuba. Jadi bertahanlah sedikit lagi." Ucap Vivi.



"Ya!" Ucap Luffy dan Chopper dengan senang.



"Yuba kah?!" Ucap Luffy yang bergerak dengan gembira melewati Vivi.



"Ya, Yuba kan?!" Ucap Nami yang juga sama seperti Luffy.



"Yuba!" Ucap Chopper yang juga sama.



"Zoro, gendong aku." Ucap Usopp yang sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.



"Tidak mau!" Ucap Zoro dengan tegas.



"Gendong? Aku juga mau, Zoro!" Ucap Luffy.



"Tidak mau!" Ucap Zoro.



"Ayo kita suit" Ajak Luffy tanpa persetujuan dari Zoro. "Yang kalah dia akan digendong Zoro."



"Hei, jangan seenaknya!" Ucap Zoro yang marah.



Luffy mengabaikan keluhan Zoro yang langsung dimainkan oleh Luffy dan para pria lainnya, termasuk Zoro karena bila dia kalah, Zoro tidak perlu menggendong siapapun.



"Disana! Aku melihat cahaya!" Teriak Vivi saat kota Yuba sudah terlihat.



"Apakah itu adalah Yuba? Aku tidak dapat melihat apa-apa karena pasir ini." Tanya Luffy.



"Suara aneh apa ini?" Tanya Nami.



"Disana ada yang tidak beres." Ucap Vivi.



Mereka pun memutuskan untuk lebih mempercepat gerak mereka sampai akhirnya terlihatlah apa yang terjadi pada kota itu.



"Badai pasir? Kota Yuba sedang dilanda badai pasir!" Teriak Vivi terkejut.



"Zoro, turunkan aku." Ucap Tanaka yang kalah suit sehingga dia digendong oleh pendekar pedang itu karena Luffy.



Zoro pun menurunkan Tanaka dan kemudian mereka menunggu sampai badai pasir berhenti dengan jarak yang agak jauh agar tidak terkena badai pasir itu.



Setelah badai pasir itu berhenti, mereka kembali mendekat lagi dan melihat pemandangan mengerikan terjadi di kota Yuba.



"Tidak mungkin." Ucap Vivi yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.



"Mengerikan. Ini tidak ada bedanya dengan kota Erumalu!" Ucap Zoro.



"Air!" Ucap Luffy yang menjulurkan lidahnya.



"Bukankah kota ini adalah kota oasis, Vivi?" Tanya Sanji.



"Pasirnya semakin tinggi. Oasis pun ikut tertimbun." Jawab Vivi.

__ADS_1



Beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara seseorang yang sedang menggali. Tanpa pikir panjang mereka segera menghampiri asal suara itu.



"Apa kalian pengembara? Kalian pasti kelelahan karena telah melewati gurun. Maaf, kota ini sudah mulai mengering. Tapi kalian bebas beristirahat disini. Banyak tempat penginapan disini. Karena penginapan adalah kebanggaan kota ini." Ucap seorang pria tua dengan pakaian compang-camping sambil terus menggali.



"Anu...kami kesini karena ada berita kalau pasukan pemberontak ada disini." Ucap Vivi sambil menutupi sebagian wajahnya.



"Pasukan pemberontak?! Apa tujuan kalian?! Brengsek! Jangan-jangan kalian kesini ingin bergabung dengan pasukan pemberontak, ya?" Ucap pria tua itu yang marah sambil melemparkan segala benda ke arah Luffy dan lainnya yang akhirnya benda itu mengenai kepala Matsuge.



"Jika kalian mencari anak bodoh itu, dia sudah pergi dari sini!" Tegas pria tua itu.



"Apa katamu?!" Ucap Luffy terkejut.



"Mustahil." Ucap Vivi yang juga tidak percaya dengan apa yang didengarnya.



"Badai pasir yang kalian lihat tadi bukanlah yang pertama kalinya terjadi disini. Sudah tiga tahun kota ini tidak turun hujan, dan badai pasir pun terus berdatangan kesini." Ungkap pria tua itu.



"Sedikit demi sedikit oasis yang disini mulai menghilang, seperti yang kalian lihat sekarang ini. Persediaan makanan disini pun mulai menipis, itulah sebabnya pasukan pemberontak itu pergi dari sini. Kalau tidak salah, pasukan pemberontak pindah ke Katorea." Jelas Toto.



"Katorea?!" Ucap Vivi terkejut.



"Itu dimana, Vivi?! Apa Katorea itu jauh?" Tanya Luffy yang panik.



"Kota yang tidak jauh dari Nanohana." Jawab Vivi.



Chopper juga memberitahu kalau di tempat itulah dia tersesat dan bertemu dengan Matsuge.



"Ketika kamu menyelamatkanku. Matsuge bilang dia mengantarkan barang-barang milik pasukan pemberontak." Ujar Chopper yang menerjemahkan ucapan Matsuge.



Matsuge pun dihajar Luffy, Usopp dan Sanji. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" Ucap Luffy, Usopp dan Sanji.



"Kenapa kita harus jauh-jauh kesini?!" Tanya Zoro.



Tanaka hanya diam karena dia sudah tahu kalau markas pemberontak memang sudah pindah, tapi dia tidak tahu nama kota yang menjadi markas baru pemberontak.



"Vivi? Barusan kamu bilang Vivi?" Tanya pria tua itu.



"Oe, Ossan! Vivi bukanlah seorang putri!" Ujar Luffy yang panik.



"Kamu malah mengatakannya, bodoh!" Ucap Zoro sambil memukul kepala Luffy.



"Kamu putri Vivi? Benarkah itu? Kamu masih hidup? Syukurlah! Ini aku! Apa kamu ingat? Kalau tidak itu wajar, karena aku telah kurus." Ucap pria tua itu sambil memegang kedua pundaknya Vivi.



"Ah! Tidak mungkin! Paman Toto?" Jawab Vivi yang terkejut.



"Benar!" Ucap Toto.




"Paman Toto?" Tanya Luffy.


"Aku sangat percaya pada Yang Mulia. Beliau bukanlah tipe orang yang akan menghancurkan kerajaan. Benar kan?!" Ucap Toto lalu menangis dan jatuh ke atas pasir.


Tanaka hanya diam meskipun dia sedikit merasa marah atas apa yang dilakukan oleh Crocodile dan organisasinya, Baroque Works yang telah membuat banyak orang menderita hanya karena keegoisan dan keserakahannya.



"Pasukan pemberontak itu memang bodoh! Si bodoh itu...memangnya kenapa kalau tidak ada hujan selama tiga tahun? Aku masih sangat percaya dengan Yang Mulia Raja. Banyak orang yang tak percaya dia lagi." Ungkap Toto.



"Aku sudah sering...aku sudah sering menghentikannya, tapi dia tak pernah mendengarkan aku. Dia tak mau menghentikan pemberontakan! Kekuatan mereka juga terbatas. Mereka ingin mengakhirinya dengan satu kali perang. Dia sangat keras kepala. Dia sudah siap mati. Kumohon, tuan putri Vivi! Tolong hentikan si bodoh itu!" Pinta Toto yang masih menangis dan duduk di atas pasir.



"Paman Toto, jangan khawatir." Ucap Vivi. "Pemberontakan pasti akan ku hentikan!"



"Tuan putri Vivi..." Ucap Toto. "Terima kasih."



Aku mengangkat kepalaku dengan tatapan penuh amarah yang membuat udara di sekelilingnya menjadi seperti sebuah badai kecil.



"Master!" Panggil Honjo.



"Hoooo~ amarahmu semakin kuat, bagus, aku suka, hahahaha~" ujar Sengo yang tertawa senang dengan apa yang terjadi pada Tanaka.



"Tanaka?" Panggil Nami yang ketakutan.



"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Zoro yang merasa terancam dengan aura yang dikeluarkan Tanaka.



Usopp dan Chopper menggigil ketakutan, Sanji berdiri di depan Nami untuk melindunginya, sedangkan Luffy hanya diam melihat Tanaka.



Tanaka mencoba untuk menenangkan dirinya dan kemudian menatap satu persatu ke rekannya itu.



"Haaaa~ sepertinya aku sudah kelelahan, maaf ... " Ujar Tanaka yang memutuskan untuk berjalan menjauh sambil menenangkan pikirannya.



Dia melirik kebelakang dimana Vivi sedang berbicara dengan Toto lagi dan kembali meneruskan langkahnya.



Setelah agak jauh dari mereka, Tanaka duduk di sebuah bangunan seperti tower yang sebagian tower itu sudah tertimbun pasir.



Dia menikmati dinginnya semilir angin malam sambil menatap rembulan yang menerangi langit malam.



"Kenapa kamu menahan amarahmu? Seharusnya kamu lepaskan saja, mengamuk sampai rasa amarahmu menghilang." Ucap Sengo.



"Diamlah!" Pinta Tanaka yang kesal.



Dia kembali menghela nafas karena teringat akan tindakannya tadi yang terbawa emosi.



"Sepertinya aku menjadi sangat terikat emosi dengan dunia ini." Gumam Tanaka yang menghela nafas lagi.

__ADS_1



"Tanaka!" Panggil seseorang di bawah tower.



Pria itu segera melihat kebawah kalau yang memanggil itu adalah Vivi. Tanpa basa-basi, Tanaka segera melompat ke bawah begitu saja.



"Kenapa kamu disini, Vivi?" Tanya Tanaka.



"Aku khawatir jika membiarkanmu berjalan sendirian." Ujar Vivi.


"Hei, bukankah itu seharusnya terbalik?" Tanya Tanaka.


Vivi pun tertawa dan Tanaka kemudian ikut tertawa.



"Mau temani aku jalan-jalan?" Tanya Vivi setelah berhenti tertawa.



Tanaka terdiam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya, meskipun tidak ada hal yang bisa dilihat di kota Yuba selain pasir yang menimbun setiap bangunan yang ada di kota tersebut.



"Tanaka ... kenapa kamu tadi terlihat marah?" Tanya Vivi.



"Aku hanya terlalu terbawa emosi." Jawab Tanaka yang terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan. "Kohza, temanmu itu meninggalkan orang tuanya begitu saja di tempat seperti ini, itu sungguh keterlaluan."



"Dia juga bodoh karena tidak bisa menggunakan otaknya dengan baik. Dia menganggap apa yang dilakukannya benar padahal dia salah!" Tegas Tanaka.



"Aku juga sedih dengan keadaan di negeri ini, terutama melihat paman Toto yang terus menggali untuk mendapatkan air seperti tadi." Ujar Tanaka.



Dia sejak lahir tidak mengetahui siapa ibu dan ayahnya karena sejak bayi sudah berada di panti asuhan. Pengurus panti asuhan pun tidak tahu menahu siapa orang tuanya karena dirinya sudah dibuang begitu saja di depan pintu pagar panti asuhan.



Sehingga saat melihat ada seorang anak yang meninggalkan orangtuanya di tempat yang tidak layak hanya karena ingin menjalankan idealismenya, itu membuat dia sangat marah pada anak tersebut.



Selain itu melihat secara langsung penderitaan yang dialami oleh penduduk kerajaan Alabasta atas tindakan Crocodile dengan organisasinya, Baroque Works menjadi seperti minyak tanah yang dituangkan ke sebuah api kecil sehingga api kecil itu menjadi besar dan membara.



Udara di sekeliling mereka berdua berubah menjadi seperti badai kecil lagi seperti sebelumnya karena amarah Tanaka muncul kembali.



Tiba-tiba saja tangan Tanaka digenggam oleh Vivi yang membuat pria itu terkejut.



Tanaka melihat Vivi yang menatap dirinya dengan raut wajah cemas.



"Maaf, aku terbawa emosi lagi." Ujar Tanaka yang kembali menenangkan dirinya.



"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Vivi.



"Ya, aku baik-baik saja, ayo kembali, yang lain pasti khawatir." Ucap Tanaka sambil tersenyum.



Mereka berdua lalu kembali untuk bergabung bersama yang lain di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Toto untuk menjadi tempat peristirahatan mereka.



"Yosh! Hari ini kalian bekerja dengan bagus. Ayo kita beristirahat kemudian besok kita akan menghajar seorang bajak laut! Selamat malam." Ucap Usopp lalu berbaring di kasurnya dan tidur tapi Zoro kemudian melemparinya bantal.



"Kamu sudah tidur seharian!" Ucap Zoro.



"Bodoh! Jangan bandingkan aku dengan monster sepertimu!" Ucap Usopp lalu balas melempari Zoro dengan bantal.



"Kurang ajar." Ucap Zoro yang marah.



Usopp lalu melempari Chopper dengan bantal juga.



"Selain itu, hari ini kamu hanya bermalas-malasan kan, Hidung Biru!" Ucap Usopp.



"Itu bukan kemauanku, aku tidak tahan dengan panas." Ucap Chopper yang menarik kerah baju Usopp dengan marah.



"Sanji-san, itu kan tempatku." Ucap Vivi yang bingung.



"Ya, kurasa kamu akan kesulitan tidur jika sendirian." Ucap Sanji yang berbaring di kasur Vivi.



Sanji pun dilempari bantal juga oleh Usopp dan Chopper tertawa di punggung pria hidung panjang itu.



"Baiklah, kalau begitu. Siapa diantara kalian yang ingin menantang ku?" Tanya Sanji yang kesal.



Lalu terjadilah perang bantal diantara mereka. Tanaka hanya berbaring di kasurnya sambil memperhatikan mereka.



"Ini waktunya tidur, apa kalian tidak mengerti?!" Ucap Nami yang kesal yang juga terkena bantal.



"Kalian!" Teriak Nami yang marah dan melempar secara asal yang tenyata bantal itu mengarah ke tempat Tanaka.



Pria itu segera menghentikan bantal itu di udara dan Nami meminta maaf.



"Tidak masa-"



Belum juga Tanaka menyelesaikan perkataannya dia terkena bantal nyasar.



"Sialan! Siapa yang melempar bantal ke arahku!" Ujar Tanaka yang akhirnya ikut perang bantal.



Mereka semua pun melakukan perang bantal sampai akhirnya merasa cukup lelah dan memutuskan untuk tidur.



Beberapa saat kemudian, Tanaka mendengarkan suara pintu yang terbuka dan melihat Toto sedang membawa Luffy yang tertidur.



Dia membaringkan Luffy di tempat tidur yang kosong dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.



"Terima kasih dan maaf sudah merepotkan paman Toto." Ujar Tanaka sebelum Toto keluar.



"Tidak masalah, beristirahatlah, selamat malam." Ujar Toto.


__ADS_1


"Ya, anda juga harus beristirahat, jangan terlalu memaksakan diri, selamat malam." Ujar Tanaka yang kembali memejamkan matanya untuk tidur.


__ADS_2