Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
29


__ADS_3

Zoro dan Tanaka memutuskan untuk berpisah saat keluar dari toko senjata tersebut.



Tanaka kembali berjalan-jalan menyusuri kota dengan dua pedang yang tergantung di pinggang kanan dan kiri.



Pedang yang membawa energi positif diletakkan di pinggang kiri dan yang pedang yang berenergi negatif di pinggang kanan.



Saat dia sedang berhenti di depan sebuah toko yang menjual makanan, Tanaka mendengarkan suara percakapan.



"Sengo, sepertinya kita mendapatkan majikan baru."



"Majikan? Aku belum menerimanya sebagai majikan aku, Honjo!"



Tanaka melihat ke kanan dan kiri untuk melihat siapa yang berbicara itu. Akan tetapi dia tidak menemukannya.



"Siapa yang bicara tadi?" Tanya Tanaka.



"Oi, oi, Sengo, sepertinya majikan kita ini bisa mendengar suara kita!" Ujar Honjo.



"Tidak mungkin, tidak mungkin manusia biasa sepertinya bisa mendengar suara kita." Bantah Sengo.



Tanaka kembali mendengar suara tersebut dan dia segera berbalik untuk melihat siapa yang berbicara itu, dia bahkan melihat kebawah karena berpikir itu adalah anak kecil.



Tapi dia tidak melihat siapa pun yang berbicara itu.



"Lihat, Sengo, dia benar-benar bisa mendengar suara kita!" Ujar Honjo.



"Tidak mungkin! Kenapa dia bisa mendengar suara kita?" Tanya Sengo.



Tanaka mula merasa ketakutan karena suara obrolan itu masih didengarnya.



"Kenapa ini? Kenapa aku mulai mendengar suara suara orang bicara tapi tidak ada wujudnya?" Gumam Tanaka.



"Hei, kamu!" Panggil Sengo. "Apa kamu benar-benar bisa mendengar suara kami berdua?"



Tanaka mulai menutup telinganya agar suara itu tidak terdengar lagi olehnya. Dia tidak tahu kalau suara itu muncul dalam pikirannya, bukan melalui telinganya.



"Master, jangan takut, kami tidak akan mencelakakan Master." Ujar Honjo dengan penuh kehormatan.



"Siapa itu? Siapa yang berbicara denganku? Tunjukan wujud kalian!" Ucap Tanaka.



"Master, kami berdua adalah pedang yang Master bawa." Jawab Honjo.



Mendengar itu membuat Tanaka langsung melihat pinggangnya. Dia langsung mengambil dua pedang itu.



"Apa kalian yang berbicara ini?" Tanya Tanaka.



"Benar, Master, saya adalah Honjo dan disebelah saya Sengo." Jawab Honjo.



Honjo adalah pedang dengan ganggang berwarna hitam dengan bilah pedang yang cukup cerah. Sedangkan Sengo bergagang putih namun berbilah hitam pekat.



Tanaka terkejut karena dia dapat mendengar pedang berbicara.



"Bagaimana bisa aku mendengar suara kalian?" Tanya Tanaka.



"Kami berdua juga tidak tahu, Master. Kami belum pernah mendapatkan majikan yang bisa mendengar suara kami berdua." Jawab Honjo.



"Hei, manusia, jangan harap kamu bisa menggunakan aku! Kalau kamu tidak ingin dibuat gila olehku" Ancam Sengo. "Aku belum mengakui kamu sebagai masterku dan belum ada yang aku akui sebagai master sejak master kami yang pertama."



"Sengo! Berkata dengan sopan! Jangan seperti itu dengan master baru kita." Pinta Honjo.



"Aku sudah katakan kalau aku belum mengakui dia sebagai master!" Ujar Sengo.



Tanaka hanya diam mendengar percakapan dua pedang itu dan kemudian mulai berbicara.



"Oke, jadi kalian sebenarnya apa? Kenapa kalian bisa berbicara seperti ini? Apakah semua pedang bisa berbicara seperti kalian berdua?" Tanya Tanaka.



Mendengar dirinya disamakan dengan pedang lainnya, membuat Sengo marah. "Jangan samakan kami dengan pedang lainnya yang hanya pedang biasa itu!"



"Sengo! Bisakah kamu bersikap sopan sedikit, meskipun kamu belum mengakuinya sebagai master, dia tetap pemilik kita." Ujar Honjo yang memperingati Sengo.



"Master kita ini, bisa saja membuang aku atau kamu sehingga kita kembali terpisah sangat lama sampai akhirnya kita dapat berkumpul lagi di tempat tadi." Jelas Honjo.



Sengo hanya diam tidak berbicara lagi. Honjo kemudian meminta maaf atas sikap rekannya itu pada Tanaka.



"Tidak apa-apa, aku dapat memakluminya, aku tidak akan membuang salah satu dari kalian berdua, tenang saja." Ucap Tanaka.



Tentu saja Honjo merasa lega dan Sengo masih tidak berbicara.



"Jadi bisakah jelaskan siapa kalian? Kenapa kalian bisa berbicara?" Tanya Tanaka.



Honjo mulai menjelaskan tentang asal-usul mereka berdua. Mereka diciptakan oleh penempa yang berbeda,



"Saya dibuat oleh penempa bernama Murasame sedangkan Sengo dibuat oleh penempa bernama Muramasa." Ucap Honjo.



"Meskipun kami berdua dibuat oleh dua penempa yang berbeda, tapi kami diciptakan atas permintaan master pertama kami, Kenshin Hatori." Jelas Honjo.



Mendengar Kenshin dan Hatori membuat Tanaka teringat akan ninja legendaris dari klan Iga yang selalu muncul dalam film atau cerita-cerita yang berhubungan dengan ninja.



Sedangkan Kenshin adalah nama MC dalam cerita Samurai X.



"Tapi tidak mungkin Hatori dan Kenshin yang dikatakan oleh pedang ini adalah Hatori dan Kenshin yang itu! Mereka berdua adalah karakter yang cerita berbeda" Pikir Tanaka.



"Master, tahu tentang master Kenshin?" Tanya Honjo yang terkejut.



Tanaka juga terkejut karena dia mengatakan itu dalam pikirannya, bukan dalam ucapan.



"Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang memikirkan nama itu?"



"Saya dapat mendengar suara pikiran Master." Jawab Tanaka.



"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Tanaka terkejut.



"Tidak tahu, tapi memang kami bisa mendengar suara dalam pikiran Master." Jawab Honjo.



Tanaka yang mendengar itu segera mengubah mode percakapan ke bentuk pikiran karena dia telah melihat beberapa orang yang berlalu lalang di dekatnya melihat Tanaka dengan pandangan aneh.



"Jadi apakah Master tahu tentang Master Kenshin?" Tanya Honjo.



"Aku memang tahu, tapi sepertinya itu orang yang berbeda dengan yang aku tahu, Kenshin dan Hatori itu nama pemilik dua orang yang berbeda bukan satu orang." Pikir Tanaka.



"Begitu ya ... " Ujar Hanjo yang terdengar kecewa.



"Hmmp! Dasar tidak berguna!" Ujar Sengo yang mulai berbicara lagi dan masih bersikap kasar.



Mendengar ucapan Sengo membuat Tanaka merasa sangat kesal. Dia merasa harus memberikan pelajaran pada pedang angkuh itu.



"Aku memang bisa menerima kalau kamu tidak ingin menjadikan aku Mastemu, tapi sikapmu itu lama-lama tidak bisa aku tahan lagi." Pikir Tanaka dengan nada intimidasi.



"Aku benar-benar akan membuang kamu ke tempat yang tidak mungkin dapat ditemukan lagi, kamu akan sendirian selamanya di sana kalau kamu masih tidak mengubah sikapmu itu!" Ancam Tanaka yang membuat Sengo tidak bersuara lagi.



Tentu saja Tanaka bisa melakukannya dengan mudah karena dia adalah seorang penjelajah alam semesta yang dapat pergi ke seluruh alam semesta hanya dengan satu kedipan mata saja.



Honjo segera meminta maaf atas sikap rekannya itu dan memohon untuk tidak memisahkannya dengan Sengo.



Mendengar Honjo yang memohon-mohon seperti itu membuat Tanaka menghela nafas. Dia hanya ingin memberikan pelajaran pada Sengo atas sikapnya, tidak benar-benar akan membuangnya.



Meskipun begitu Tanaka tidak memberitahu hal itu pada Honjo agar Sengo dapat belajar dari sikap yang tidak ada sopan santunnya itu adalah sebuah kesalahan. Dengan ancaman itu, Sengo akan memperbaiki sikapnya.



Tanaka kemudian kembali berjalan sambil mengobrol dengan Honjo terkait tentang kisahnya sebelum berada di tangannya.



Sedangkan Sengo hanya diam saja dan Tanaka tidak mempersoalkan itu. Dia hanya menganggap Sengo sebagai bocah yang berumur belasan tahun, umur yang sedang masa-masa pemberontakan.



Selama jalan-jalan sambil mengobrol dengan Honjo, Tanaka tidak sadar kalau dia sudah sampai di alun-alun kota Loguetown.



Tepat di tempat eksekusi, Tanaka melihat ada orang disana yang berdiri sambil menghadap ke arah kerumunan orang yang berada di bawahnya.



"Itu pasti Luffy." Ujar Tanaka yang berjalan mendekati tempat eksekusi itu.



"Siapa Luffy?" Tanya Honjo.



"Dia kapten bajak laut topi jerami, aku krunya." Jawab Tanaka.



"Master seorang bajak laut?" Tanya Honjo.



"Ya, apa kamu tidak menyukai bajak laut?" Tanya Tanaka.



"Saya tidak ada masalah dengan bajak laut karena Master saya sebelumnya juga ada yang bajak laut, bahkan Master saya sebelumnya juga ada yang Marine, saya sudah sering berpindah-pindah dengan berbagai Master yang menjalankan profesinya berbeda-beda." Jelas Honjo.



Sesampainya di bawah tempat eksekusi, di tengah-tengah kerumunan warga Loguetown ataupun turis yang datang untuk melihat panggung eksekusi yang sangat bersejarah, Tanaka mendengarkan suara teriakan Luffy.



"Wuhooo~ jadi inikah pemandangan yang dilihat Raja Bajak Laut, dan lalu dia pun mati." Ucap Luffy di atas panggung eksekusi.



"Hei, lihat diatas tempat eksekusi itu!"



"Siapa dia?"



"22 tahun yang lalu, ya? Raja Bajak Laut mati disini!" Ucap Luffy.



"Hei! Kamu yang diatas sana! Cepat turun sekarang juga!" Ucap seorang polisi melalui pengeras suara.



"Memangnya kenapa?!" Ucap Luffy yang melihat ke bawah.



"Itu adalah bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Pemerintah Dunia! Karena itu kamu harus segera turun dari sana!" Perintah polisi itu.

__ADS_1



"Ayolah, kenapa kamu mengganggu kesenanganku ini, Paman Penjaga?" Tanya Luffy yang sedikit kesal.


"Jika kamu tidak turun aku akan menangkap mu! Aku datang!" Ucap polisi itu tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang memukulnya dengan gada besi.


"Kamu harus menunggu giliranmu, pak tua." Ucap perempuan dengan memakai jubah dan topi koboi yang lumayan besar.



"Perempuan itu, kalau tidak salah lawan pertama Luffy, siapa namanya ya?" Pikir Tanaka sambil menatap perempuan dengan wajah cantik itu.



"Master mengenalnya?" Tanya Honjo.



"Tidak juga, tapi aku tahu dia, cuma aku lupa namanya." Jawab Tanaka.



"Itu berarti kamu tidak tahu, bodoh!" Ujar Sengo secara tiba-tiba.



Tanaka hanya mengabaikan ucapan Sengo itu karena dia sudah menganggap Sengo sebagai bocah yang lagi masa-masa berontak.



"Aku mencarimu, Luffy. Sudah lama sekali, ya. Jangan bilang kau sudah lupa dengan wajahku ini." Ucap perempuan itu.



"Kecantikan macam apa itu!"



"Cantiknya!"



"Benar-benar wanita yang luar biasa."



"Dia layaknya bunga sutra!"



Para lelaki yang ada di sekeliling perempuan itu terpesona dengan kecantikan yang dimilikinya.



"Aku rasa tak pernah bertemu orang sepertimu. Siapa kamu?" Tanya Luffy.



"Aku tak akan pernah melupakannya. Kamu adalah laki-laki pertama yang berani memukulku." Ucap perempuan itu yang terdengar seperti calon masokis.



"Aku memukulmu?" Tanya Luffy.



"Saat itu, kekuatan pukulanmu...itu benar-benar menyakitkan. Menurut kalian, siapakah wanita tercantik di lautan ini?" Tanya perempuan cantik itu.



"Oke, fix! Perempuan itu memang masokis!" Pikir Tanaka.



"Tentu saja kamu, nona!!" Ucap semua orang.



"Dia memang cantik tapi masih kalah cantik sama Hancock dan putri kerajaan manusia ikan. Kalau disandingkan mungkin dia tidak ada apa-apanya." Pikir Tanaka yang membayangkan Hancock dan putri kerajaan manusia ikan.



"Ya, memang aku! Tak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak bertekuk lutut pada kecantikanku. Dan aku juga suka dengan laki-laki kuat. Seharusnya kamu jadi milikku, Luffy." Jelas perempuan itu.



"Diam kamu! Tidak mau! Siapa kamu?!" Ucap Luffy yang mulai kesal.



"Kamu masih belum mengingatnya juga?!" Tanya perempuan itu.



Lalu beberapa polisi datang mengepung perempuan itu dan juga panggung eksekusi.



"Polisi! Hei kamu wanita yang di sana, ikut dengan kami! Kamu secara terang-terangan memukul polisi, kamu ditangkap!" Tegas inspektur polisi.



"Dan kamu yang di sana, segera turun dari tempat eksekusi!" Perintah inspektur polisi.



"Oh, siapa yang ingin kalian tangkap?" Ucap perempuan itu.



"Tentu saja kamu!" Ucap inspektur polisi.



"Lakukan saja jika itu memang yang kalian inginkan." Ucap perempuan cantik itu.



"I-Inspektur, aku tak bisa melakukannya, dia terlalu cantik!" Ucap salah seorang polisi.



"Memangnya kenapa kalau dia cantik? Tangkap dia!" Ucap inspektur polisi yang juga tergoda dengan pesona perempuan itu, tapi masih berusaha untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai polisi.



"Dia seperti mimpi indahku!"



"Syukurlah kalau begitu!"



Secara tiba-tiba pancuran air yang ada di alun-alun meledak dan puing dari air mancur itu terbang ke arah perempuan cantik itu.



"Pecahannya akan mengenainya!"



Tapi pecahan itu justru tidak mengenai perempuan cantik itu.



"Apa yang terjadi?"



"Pecahan tamannya tergelincir oleh tubuhnya!"



"Apa yang barusan terjadi?!" Tanya Luffy.



'Ini akan semakin menarik.' Pikir Tanaka sambil tersenyum menyeringai.



"Bukankah itu berbahaya sekali, sayang?" Tanya perempuan cantik itu pada seorang yang memakai jubah dengan tudung kepala, tapi terlihat sedikit ada warna merah tepat di hidungnya.




"Alvida? Memangnya dimana Alvida?" Tanya Luffy yang mencari-cari Alvida yang dalam ingatan Luffy adalah wanita gendut dan berjerawat di pipinya.



"Aku ada disini, dasar bocah buta!" Ucap perempuan cantik itu yang tidak lain adalah Alvida dengan kesal.



"Jangan bercanda, kamu sama sekali tak mirip dengannya." Ucap Luffy yang bingung.



Tanaka tertawa melihat komedi yang dilakukan oleh Luffy itu sama Alvida.



"Aku bisa menjadi seperti sekarang karena memakan buah iblis. Nama buah itu adalah buah iblis Sube Sube. Saat ada sebuah serangan mengenaiku, tubuh ini tak akan terluka atau tergores sedikit pun." Jelas Alvida yang membuka jubahnya sehingga menampilkan sebagian besar kulitnya bagian depan atas tubuhnya.



Hanya bagian dadanya yang dia tutupi dengan pakaian bikini.



"Sayang sekali, tapi harus kukatakan bahwa aku tak akan bisa menjadi lebih cantik daripada ini. Yang terlihat sekali perubahannya padaku adalah bintik-bintik di tubuhku telah menghilang." Ucap Alvida dengan menampilkan pesonanya yang membuat para pria langsung berperilaku seperti Sanji.



"Tidak, itu sama sekali tak merubah apa yang kupikirkan." Bantah Luffy.



"Aku telah terlahir kembali. Dan aku bergabung dengan laki-laki ini." Ucap Alvida.



Buggy dan anak buahnya lalu melepaskan jubah bertudung mereka.



"Pembalasan dendamku akan segera terlaksana! Monkey D. Luffy, saat kamu melemparkan ku waktu itu, aku sudah memutuskan untuk melakukan pembalasan dendam!" Teriak Buggy.



"Tapi untuk melakukan itu aku harus memiliki partner yang senasib denganku. Itu benar-benar petualangan yang mengharukan! Untuk orang berhati lemah sepertiku, ditertawakan, diperlakukan buruk dan diintimidasi." Ujar Buggy yang mengingat lagi petualangannya saat hanya memiliki kepala, kaki dan tangan di berbagai tempat.



"Itulah petualangan mengharukan dari Buggy kecil! Tapi Buggy yang sekarang...kenapa kamu tak berkata apapun?!" Tanya Buggy.



"Apa? Apalagi sekarang? Boggy? Tidak, Buggie? Tidak, tapi Buhii. Oh ya! Buffoon, ya?" Ucap Luffy yang berusaha mengingat nama Buggy.



"Hahaha~" tawa Tanaka yang lepas karena tidak bisa tahan lagi melihat komedi yang dilakukan Luffy.



"Apa kapten master orang yang sebodoh itu?" Tanya Honjo.



"Bisa dikatakan seperti itu, tapi menurutku dia hanya pemuda yang polos." Pikir Tanaka.



"Buffoon, katamu?! Jangan bercanda! Kamu tetap menjengkelkan seperti biasanya!" Ucap Buggy marah.



"Dia Buggy si Badut!"



"Ba-Bajak Laut!"



"Ada Bajak Laut Buggy!"



"Lari, selamatkan diri kalian!"



"Panggil Marine!"



Para penduduk panik dan berlari pergi untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.



"Penduduk kota yang baik! Jangan lari melihatku! Kali ini aku akan menunjukkan teror yang sebenarnya dan kalian harus menjadi saksinya." Ucap Buggy membuat beberapa orang tetap tinggal karena ada beberapa yang penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.



"Aku ingat, kamu Buggy, ya!" Ucap Luffy yang baru mengingat nama Buggy.



"Lama sekali kau mengingatnya?!" Ucap Buggy yang kesal.



"Lihat, kelakuannya cukup menghiburkan, Honjo?" Pikir Tanaka sambil tertawa.



"Hmmm~ saya tidak merasa seperti itu, Master." Jawab Honjo.



"Menghibur apanya? Dia hanya orang bodoh!" Ujar Sengo yang secara tiba-tiba ikut obrolan.



"Eh, ada pedang manja rupanya, aku pikir sudah pergi entah kemana karena tidak bersuara-suara." Pikir Tanaka yang ingin menggoda Sengo.



"Siapa yang pedang manja!? Dan bagaimana aku bisa pergi? Kamu masih menggantung aku di pinggang kanan mu." Ujar Sengo yang marah.



Tanaka hanya tersenyum dan kembali melihat Luffy yang sudah dipasung kepalanya oleh Cabaji.



"Ada apa ini?" Ucap Luffy yang terkunci kepala dan kedua tangannya.



"Lama tak jumpa, Manusia Karet. Apakah Roronoa Zoro baik-baik saja?" Tanya Cabaji.



Tanaka melihat langit yang sudah agak gelap, menunjukkan sebuah badai akan datang.



"Sepertinya, sudah saatnya aku pergi dari tempat ini?" Pikir Tanaka.



"Pergi? Bagaimana dengan kapten anda, Master?" Tanya Honjo.



"Hmpp! Dasar pengecut! Kapten kamu sedang ada masalah, kamu malah cari aman!" Ujar Sengo.



"Tanpa aku, dia bisa melindungi dirinya sendiri, meskipun bertingkah seperti itu, Luffy itu sangat kuat dan dia akan menjadi raja bajak laut." Jelas Tanaka yang berjalan menuju ke dermaga.

__ADS_1



"Dia? Raja bajak laut!? Itu mustahil!" Bantah Sengo tapi Tanaka mengabaikannya karena hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga meladeni Sengo yang berperilaku seperti bocah manja.



Tanaka harus sedikit bersusah payah melewati beberapa penduduk kota ataupun turis yang masih berkumpul di alun-alun karena ingin melihat pertunjukan yang dibuat oleh Buggy.



"Yosh, kerja bagus, Cabaji!" Ucap Buggy yang sudah berdiri diatas tempat eksekusi.



"Lihatlah! Jutaan penduduk dunia! Sebuah eksekusi publik akan segera dimulai! Monkey D. Luffy, kamu tak akan bisa lari dari tempat eksekusi mu." Ujar Buggy dengan penuh kebanggaan dan semangat.



"Eksekusi! Ini pertama kalinya bagiku melihat acara eksekusi! Siapa yang dieksekusi?" Tanya Luffy.



"Yang dieksekusi itu kamu!" Teriak Buggy kesal.



"Apa!? Jangan bercanda!" Teriak Luffy kaget.



"Kamu sendiri yang selalu bercanda!" Ucap Buggy yang kesal.



"Seharusnya kamu merasa terhormat, Mugiwara! Kamu akan mati di tempat eksekusi Raja Bajak Laut!" Ujar Buggy yang tertawa kencang.



"Bajak Laut Monkey D. Luffy, aku akan mendakwa kamu atas kejahatan menertawakan kesialanku dan telah membuatku marah. Kamu dihukum mati! Tembakkan senjata kalian!" Ucap Buggy yang memberikan perintah pada krunya menembakkan pistol mereka ke langit.



Suara tembakan terdengar bersahutan karena hal yang dilakukan oleh kru bajak laut Buggy.



Sementara itu, Tanaka akhirnya bisa keluar dari kerumunan dan dia langsung bertemu dengan Usopp dan Sanji yang sedang membawa ikan besar di pundak mereka berdua, Nami yang membawa sekantong berisi pakaian dan Zoro yang hanya membawa tiga pedangnya.



"Oh kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian, kita harus pergi dari sini secepatnya, sepertinya akan ada badai yang cukup dashyat datang ke kota ini, bukankah begitu Nami?" Tanya Tanaka.



"Benar, kita harus pergi dari kota ini secepatnya, sebelum badai datang!" Tegas Nami. "Tapi bagaimana kamu tahu Tanaka?apa kamu tahu tentang meteorologi?"



"Tidak, aku hanya merasa ada yang aneh saja pada langit di atas sana." Ujar Tanaka sambil menunjuk ke arah langit yang sudah gelap dan mengeluarkan suara-suara menakutkan.



Usopp yang mendengar itu segera ingin pergi, tapi Sanji dan Zoro ingin menemukan Luffy terlebih dahulu.



"Ah, kalau Luffy, dia sedang berada di sana." Tunjuk Tanaka ke arah panggung eksekusi.



Mereka berempat segera melihat ke arah eksekusi, melihat Buggy dan seseorang yang sedang dipasung tangan dan kepalanya.



"Bukankah itu si Buggy?" Tanya Zoro. "Apa yang dilakukannya?"



"Aku tidak melihat Luffy di panggung eksekusi, dimana dia?" Tanya Sanji.



"Sepertinya, Buggy akan mengeksekusi seseorang." Ujar Nami.



"Siapa yang orang malang yang dipasung itu?" Tanya Usopp.



"Orang malang yang akan dieksekusi Buggy itu kapten kita, Luffy." Jawab Tanaka yang membuat mereka berempat terkejut.



"Makanya aku ingin segera mencari kalian berdua, Zoro, Sanji untuk membebaskan kapten kita itu." Ujar Tanaka.



Dia segera meminta Nami dan Usopp untuk kembali ke kapal dan mempersiapkan keberangkatan sedangkan Zoro, Sanji dan dirinya akan menyelamatkan Luffy.



Sementara itu di panggung eksekusi, Luffy berusaha melepaskan pasungnya itu dengan berbagai upaya yang bisa dia lakukan, salah satunya menggigit kayu yang dijadikan alat pasungnya.


"Lepaskan aku, kurang ajar! Tolong aku, tolong aku! Ah, tidak!!!" Ucap Luffy.


Buggy sudah siap dengan pedang ditangannya untuk memenggal kepala Luffy.



"Maafkan aku, aku tak akan melakukannya lagi. Ampunilah aku." Ucap Luffy yang sudah pasrah.



"Aku tak akan mengampuni mu, bodoh!" Ucap Buggy yang tersenyum senang.



"Ini adalah balasan yang harus kamu terima karena menjadikan kami sebagai musuhmu." Ucap Cabaji.



"Jadi ini adalah akhir dari pencarian yang kulakukan selama ini." Ucap Alvida.



"Dan apakah kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" Tanya Buggy. "Kita pun juga memiliki banyak penonton disini. Baiklah, sepertinya kamu sudah tak bisa berkata apa-apa lagi karena kamu memang akan mati!" Ungkap Buggy.



"Aku akan menjadi Raja Bajak Laut!" Teriak Luffy.



"Raja Bajak Laut, katanya?!"



"Berkata seperti itu di tempat seperti ini..."



"Kata-kata macam apa itu..."



"Sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini, bukan? Bocah karet sialan." Ucap Buggy.



"Eksekusi ini...akan dibatalkan!"


Zoro, Sanji dan Tanaka berdiri di belakang kerumunan warga kota maupun turis.


"Zoro! Sanji! Tanaka!" Ucap Luffy yang senang saat melihat mereka bertiga.



"Kamu ini benar-benar ceroboh! Bukankah bercandaan mu ini sudah keterlaluan, Luffy?" Tanya Zoro.


"Jika kita sedang dalam pertunjukkan, sekarang giliranku untuk tampil." Ujar Sanji dengan berpose cool sambil menyalakan rokoknya. "Sepertinya kita mendapatkan tamu para bajak laut masa lalu, ya?"


"Pe-Pemburu Bajak Laut, Roronoa Zoro!"



"Luffy, sudah puas merasakan bagaimana raja bajak laut dieksekusi saat itu?" Tanya Tanaka.



Warga kota dan turis langsung membuka jalan sehingga mereka dapat melihat kru bajak laut Buggy yang membuat membentuk setengah lingkaran di depan panggung eksekusi.



"Sanji! Zoro! Tanaka! Selamatkan aku!" Ucap Luffy sambil tersenyum, tidak ada takutnya sama sekali dengan kondisinya itu.



"Hanya itu yang ingin kamu katakan, Zoro? Tapi kau sudah terlambat!" Ucap Buggy lalu mengangkat tinggi-tinggi pedangnya untuk memenggal kepala Luffy.



"Hancurkan tempat eksekusi itu!" Ucap Sanji sambil berlari bersama Zoro dan Tanaka untuk menghancurkan tempat eksekusi tapi mereka ditahan oleh anak buah Buggy.



"Honjo, bisakah aku menggunakan kamu?" Pikir Tanaka.



"Silahkan Master, pergunakan aku semau Anda, tapi saya tidak bisa membunuh lawan master, hanya bisa melukai." Jawab Honjo.



Tanaka bingung mendengar itu.



"Apa maksudnya?" Tanya Tanaka sambil berlari dan mengeluarkan Honjo dari sarungnya sedangkan Sengo tidak disentuh sama sekali oleh Tanaka karena Sengo belum mengijinkan dirinya untuk dipakai oleh Tanaka.



"Saya diciptakan dengan bilah yang tumpul tapi terlihat secara kasat mata sangat tajam seperti pedang pada umumnya, jadi saya tidak bisa membunuh makhluk hidup apapun itu, hanya bisa melukai agar lawan master tidak bisa bergerak lagi." Jelas Honjo.



Tanaka merasa senang mendengar itu karena dia memang tidak ada keinginan untuk menjadi seorang pembunuh.



"Cobalah untuk menghentikan ku! Kapten mu ini akan berakhir ditanganku!" Ucap Buggy yang sudah menggerakkan tangannya untuk memenggal kepala Luffy.



Mereka bertiga mendapatkan perlawanan yang sengit dari kru bajak laut Buggy sehingga tidak bisa mendekati panggung eksekusi.



"Sialan!" Teriak Sanji yang panik. "Seandainya aku bisa menendang jatuh panggung itu" pikir Sanji.



"Turunlah dan lawan aku, sialan!" Teriak Zoro sambil menebas beberapa kru bajak laut Buggy. "Seandainya aku bisa menebas panggung itu ... " Pikir Zoro.



Sementara itu, Tanaka bertarung dengan menggunakan kekuatan force dan Honjo di tangan kanannya.



Pelatihan tubuh selama perjalanan menuju ke kota Loguetown telah membuat tubuhnya tidak sekaku sebelum dia melatih tubuhnya.



Meskipun dia hanya mengayunkan Honjo secara sembarangan, tapi itu cukup berhasil membuat para kru bajak laut Buggy berjatuhan dengan kesakitan sampai tidak bisa berdiri lagi.



"Kapan petir nya datang? Apa ini akan berbeda dengan ceritanya?" Tanya Tanaka.



Pada saat itu Luffy tersenyum dan memanggil nama krunya satu persatu.



"Zoro! Sanji! Usopp! Nami! Tanaka! Maaf. Aku akan mati." Ucap Luffy dengan senyuman lebar.



"Jangan bilang seperti itu, bodoh!" Teriak Sanji yang panik.



Tanaka yang melihat langit langsung merasa lega. "Akhirnya datang juga! Kenapa lama sekali!"



Saat Buggy akan memenggal kepala Luffy, tiba-tiba saja petir menyambar yang menghancurkan tempat eksekusi dan membuat Buggy menjadi gosong.



Sedangkan Luffy baik-baik saja karena dia adalah Manusia Karet.



Setelah petir yang menyambar dengan kekuatan dashyat di panggung eksekusi, hujan pun turun dengan sangat lebat.



"Aku masih hidup, ya! Aku baik-baik saja! Ah, syukurlah kalah begitu. Kukira aku akan mati disana." Ucap Luffy sambil memakaikan kembali topi jerami yang sebelumnya terbang dan jatuh ke puing panggung eksekusi.



"Syukurlah kamu selamat, kapten." Ucap Tanaka yang menghampiri Luffy setelah membuat para kru bajak laut Buggy tidak bisa bergerak lagi.



Tanaka dan Luffy lalu menghampiri Zoro dan Sanji yang sedang membicarakan sesuatu.



Tiba-tiba saja ada banyak Marine yang berdatangan seperti sekumpulan lebah yang keluar dari sarangnya karena ada yang menganggu mereka.



"Kepung alun-alun segera! Jangan biarkan para bajak laut kabur!" Teriak komandan yang memimpin para prajurit Marine itu.



"Mereka disini?!" Ucap Sanji.



"Hebat! Pertempuran besar, ya! Hebat! Benar-benar hebat!" Ucap Luffy.



"Luffy!" Panggil Zoro yang memegang kerah baju Luffy.



"Oh, Zoro!" Ucap Luffy.


"


Jangan hanya berdiri disini saja! Kita harus segera pergi!" Ucap Zoro.


"Jika kita tak segera kembali ke kapal, kita tak akan bisa meninggalkan pulau ini! Jika begitu kita tak akan bisa pergi ke Grand Line!" Jelas Sanji.



"Apa?! Kalau begitu kita harus pergi sekarang!" Ucap Luffy.



Kami berempat berlari pergi dengan posisi Luffy berada di depan Sanji di kanan, Zoro disebaliknya, dan Tanaka berada di belakang mereka bertiga.



Posisi mereka entah bagaimana membentuk diamond.


Mereka berempat terus saja menghajar Marine yang menghalangi mereka sambil terus berlari.


__ADS_1


"Ayo kita pergi ke Grand Line!" Teriak Luffy.


__ADS_2