Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
35


__ADS_3

Sengo masih berpikir untuk menerima ajakan taruhan dari Tanaka atau tidak. Dia merasa sedikit curiga karena merasa Tanaka sangat percaya diri.



"Bagaimana mungkin, sebuah pedang terhebat seperti Sengo takut menerima ajakan taruhan." Provokasi Tanaka. "Kamu tidak akan rugi apapun, malah aku yang rugi besar dalam taruhan ini, bila aku gagal dan tubuhku kamu kuasai maka itu sangat menguntungkan kamu kan?"



Setelah beberapa saat, Sengo memutuskan untuk menerima ajakan taruhan tersebut dan Tanaka tersenyum seringai.



"Baiklah, kalau kamu berhasil, kamu bebas mengunakan tubuhku sebebas mungkin, tapi kalau kamu gagal, aku akan menggunakan kamu dengan bebas dan kamu harus menerimanya!" Tegas Tanaka.



"Ya! Aku pasti yang memenangkan taruhan ini, tubuhmu akan menjadi milikku!" Jawab Sengo.



"Ya, ya, semoga berhasil dan kamu sudah berjanji, saksinya Honjo." Ujar Tanaka. "Jangan protes apapun atau tidak menempati janji yang kita buat ini!"



"Tidak akan! Karena aku yang akan menang!" Ujar Sengo.



Tanaka hanya tersenyum dan dia segera mengambil pedang Sengo. "Aku akan memulainya, Honjo kamu akan menjadi saksi atas taruhan ini."



Tanaka segera mengeluarkan pedang Sengo dari sarungnya secara perlahan-lahan. Rasa tidak menyenangkan yang penuh dengan rasa negatif terasa oleh Tanaka.



Akan tetapi dia telah berlatih untuk menguatkan mentalnya karena seorang kesatria Jedi harus memiliki kekuatan mental yang kuat dan kebijaksanaan tinggi agar tidak dikuasai oleh force yang berakibat pada masuknya ke dark side.



Tanaka berhasil mengeluarkan seluruh pedang Sengo dari sarungnya dan Sengo tidak berhasil menguasai tubuh Tanaka.



"Hahaha, aku berhasil, kamu gagal menguasai tubuhku!" Ujar Tanaka. "Kamu akan membiarkan aku menggunakan kamu dengan bebas!"



Sengo terkejut dan tidak bisa menerima kalau dia kalah.



"Tidak mungkin, kenapa aku tidak bisa menguasai tubuhmu?" Tanya Sengo. Bagaimana mungkin, energi negatif padaku tidak mempengaruhi kamu?



"Master, kamu hebat!" Ujar Honjo yang gembira."ini pertama kalinya energi negatif tidak terpengaruh oleh orang yang mengeluarkan Sengo dari sarungnya, hanya master pertama yang bisa melakukannya."



Tanaka hanya tersenyum, tapi Sengo masih merasa kebingungan dan tidak bisa menerimanya.



"Hei! Cepat katakan padaku, kenapa kamu tidak terpengaruh energi negatif yang aku keluarkan?" Tanya Sengo.



" Itu karena penerimaan diri." Jawab Tanaka.



"Apa maksudnya? Jelaskan padaku!" Pinta Sengo.



Honjo juga merasa penasaran sehingga dia hanya diam untuk mendengarkan penjelasan Tanaka tentang penerimaan diri tersebut.



"Aku menerimanya semua yang ada dalam diriku, bila saja aku mengandalkan mentalitas yang aku miliki untuk melawan energi negatif, maka ada kemungkinan aku akan kalah dan kamu berhasil menguasai tubuhku." Jelas Tanaka.



"Oleh karena itu aku menggunakan kebijaksanaan aku dengan menerima energi negatif kamu, tidak melawannya karena bagaimanapun makhluk hidup itu memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan, kebaikan dan keburukan." Ungkap Tanaka.



"Jangan hanya menerima satu sisi saja karena itu hanya membuat seseorang tidak akan menemukan kebenaran yang ada dalam dirinya sendiri, setiap orang merasa mengetahui tentang dirinya sendiri, padahal tidak selama dia hanya memilih satu sisi saja." Jelas Tanaka.


"Kebaikan dan keburukan harus diterima sehingga dengan itu makhluk hidup akan menjadi makhluk hidup seutuhnya, tidak setengah-setengah, itulah yang dinamakan penerimaan diri." Tegas Tanaka.


Sengo dan Honjo terdiam sambil memikirkan ucapan Tanaka. "Kebaikan dan keburukan harus diterima bukan dihilangkan salah satunya." Ucap mereka berdua.


Tanaka tersenyum dan kembali berbicara, "Ini seperti kamu dan Honjo, energi positif dan energi negatif, master pertama kalian berdua mungkin memiliki kebijaksanaan yang tinggi sehingga dia ingin dibuatkan pedang dengan dua energi yang saling berlawanan sebagai bentuk visualisasi makhluk hidup."


Setelah beberapa saat terdiam sunyi sambil melihat Zoro yang masih bertarung dan kali ini sedang bertarung dengan Miss Monday yang memiliki otot binaraga, Tanaka mengingatkan tentang taruhannya pada Sengo.



"Karena aku menang, jadi kamu tidak ada masalah aku menggunakan kamu dengan bebas!" Ucap Tanaka.


__ADS_1


"Ukhhh ... Aku tidak menyangka akan jatuh dalam jebakannya." Ujar Sengo yang marah pada dirinya sendiri.



"Sudahlah Sengo, terima saja, kamu sudah kalah, kamu harus menjalankan taruhan tersebut karena sudah berjanji." Ujar Honjo.



"Sialan! Oke, aku akan membiarkan kamu menggunakan aku tapi bukan berarti aku mengakui kamu sebagai masterku." Ujar Sengo yang akhirnya mengalah.



"Hahaha, tidak masalah, aku juga tidak ingin kalian menganggap aku sebagai Master kalian berdua, aku ingin kalian menganggap aku sebagai rekan atau teman atau keluarga kalian berdua." Ungkap Tanaka.



"Baik, Master!" Jawab Honjo dengan gembira.



"Hmpp! Siapa yang mau jadi teman atau keluargamu!" Ujar Sengo yang mendengus.



"Dasar pedang tsundere!" Sahut Tanaka.



"Siapa yang tsundere!" Teriak Sengo yang marah.



Tanaka merasakan kemarahan tersebut karena pedang yang dia pegang bergetar.



Hal itu membuat Honjo dan Tanaka tertawa. Dia memasukkan kembali pedang Sengo kembali ke sarungnya dan menggantungkan lagi di pinggang kanannya.



"Master, ada orang yang ingin menyerang, Master dibelakang." Peringat Honjo.



Tanaka segera berbalik dan melihat seorang perempuan yang dia ingat ingin memberikan minuman beralkohol padanya saat jamuan pesta sedang berlangsung.



"Matilah kamu!" Teriak perempuan itu yang melepaskan tembakan ke arah Tanaka.



Dengan cepat Tanaka menggunakan kekuatan forcenya untuk menahan peluru meriam kecil dan mengembalikannya tepat di pundak kanan perempuan itu yang membuatnya terdorong ke belakang dan terjatuh dari atap bangunan tersebut.




"Kamu terlalu naif! Bila kamu tidak membunuhnya musuhmu saat ada kesempatan, itu akan membuat kamu lebih repot lagi di masa depan." Saran Sengo.



Tanaka hanya terdiam dan kembali menyaksikan pertarungan Zoro dengan Miss Monday yang sudah mencapai klimaksnya.



"Oi, Zoro! Kamu tidak boleh bertindak kasar pada perempuan!" Teriak Tanaka.



"Berisik! Kenapa kamu masih disini? Bukankah aku meminta kamu membangunkan Luffy dan lainnya." Ucap Zoro yang kesal.


Meskipun Tanaka sudah berteriak, para anggota Baroque Works mengabaikan Tanaka dan hanya fokus pada Zoro. Hal itu karena mereka harus mengalahkan Zoro terlebih dahulu karena dia orang terkuat dari kelompok bajak laut topi jerami.


Saat Zoro sudah menyelesaikan pertarungannya, Tanaka menghampiri Zoro yang sedang minum minuman beralkohol.



"Sepertinya kamu merasa senang?" Tanya Tanaka.



"Kamu! Kamu benar-benar tidak mendengarkan aku? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membangunkan Luffy dan lainnya, Tanaka." Ujar Zoro.



"Hehe, aku lupa, tapi apa kamu bersenang-senang, Zoro?" Tanya Tanaka.



Zoro menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah mencoba dua pedang baru ini dan hasilnya sangat memuaskan."



"Begitukah, tapi sepertinya ada yang aneh di bawah sana?" Ujar Tanaka yang berjalan di tepi atap, melihat ke bawah.



Zoro juga ikut sambil membawa minuman alkoholnya dan duduk di tepi atap.



'Itu kalau tidak salah Mr. 5 dan Miss Valentine.' Pikir Tanaka.

__ADS_1



Mr 5 berpenampilan seperti musisi reggae dengan rambut gimbalnya yang pendek dan Miss Valentine seperti seorang putri bangsawan yang manja.



Selain kehadiran anggota baru Baroque Works di Whiskey Peak, Tanaka juga melihat Luffy yang tertidur dengan perut buncitnya itu.



"Kenapa Luffy tidur disitu?" Tanya Tanaka.



"Sepertinya dia tidur sambil jalan dan berakhir di tempat yang salah." Jawab Zoro.



"Kalian sedang main-main, ya?" Tanya Mr. 5 pada anggota Baroque Works di Whiskey Peak.



Miss Valentine lalu tertawa.



"Apa memang sejauh ini perbedaan pangkat kita?" Tanya Miss Valentine.



"Apa kalian sedang menertawakan kami?" Tanya Igaram.



"Memang iya." Jawab Mr. 5.



Miss Valentine lalu tertawa lagi. "Tentu saja, kami disini untuk melaksanakan misi." Ucap Miss Valentine.



"Baguslah, jika kalian ingin membantu kami, orang itu bukanlah tandingan kami!" Ucap Mr. 9.



"Benar sekali. Tolong kalahkan pendekar pedang itu!" Pinta Vivi.



"Hentikan lelucon membosankan kalian itu, siapa bilang misi kami membantu kalian?" Tanya Mr. 5.



"Kami sudah jauh-jauh datang ke ujung awal Grand Line, menurut kalian hanya untuk membantu?" Tanya Miss Valentine lalu tertawa.



"Apa? Lalu apa misi kalian?" Ucap Mr. 9.



"Kalian masih belum sadar? Disini ada seseorang yang cukup membahayakan sehingga bos harus mengutus kami." Ujar Miss Valentine sambil tertawa.



"Inilah yang dikatakan bos, 'mereka sudah mengetahui rahasia kita.' Tentu saja kami sendiri tak tau apa rahasia itu, tapi prinsip organisasi kita adalah 'misteri.' Siapapun identitas kalian, aturannya tak boleh sampai terlanggar." Ungkap Mr 5.



"Jika seseorang sampai mengetahui rahasia bos, tentu saja ia harus mati!" Tegas Mr. 5.



"Jadi, kami pun dengan hati-hati menyelidiki siapa yang mengetahui rahasianya." Ucap Miss Valentine lalu tertawa lagi. "Dan kami pun menemukan orang penting dari suatu kerajaan menyusup di organisasi Baroque Works."



"Suatu kerajaan? Tu-Tunggu sebentar! Meski aku memakai mahkota, aku ini bukanlah raja atau semacamnya! Ini bagian dari hobiku saja!" Ucap Mr. 9.



"Bukan dirimu!" Ucap Miss Valentine.



"Pendosa yang saat ini menghilang dari Kerajaan Alabasta." Ucap Mr. 5.



Igaram pun menembak Mr. 5 dan Miss Valentine.



"Takkan kubiarkan kalian menyentuh putri! Atas nama Kapten Pasukan pengawal Alabasta!" Ucap Igaram.



"Igaram!" Teriak Vivi.



Tembakan Igaram sama sekali tidak berpengaruh pada Mr. 5 dan Miss Valentine.

__ADS_1



"Kapten Pasukan pengawal Kerajaan Alabasta, Igaram. Dan Putri Nefertari Vivi. Atas nama bos Baroque Works kami akan menghabisi kalian." Ucap Mr. 5.


__ADS_2