Penjelajah Alam Semesta

Penjelajah Alam Semesta
42


__ADS_3

Dalton membawa Luffy dan lainnya menuju ke rumahnya.



"Mereka bukan pasukan penjaga negeri ini?" Tanya Vivi sambil melihat para warga.



"Mereka penduduk negeri ini." Ucap Dalton lalu mempersilahkan Tanaka, Sanji dan Vivi masuk sedangkan Usopp dan Luffy berada di luar sedang bermain dengan salju. "Gunakan tempat tidur disana. Akan kuhangatkan ruangannya."



Dalton segera menghidupkan tungku perapian dan kemudian kembali ke tempat Nami berbaring.



"Boleh aku bertanya satu hal? Entah dimana, aku seperti pernah bertemu denganmu." Tanya Dalton.



"Mu-Mungkin hanya bayanganmu saja! Yang lebih penting, ceritakan mengenai penyihir itu pada kami! Barusan aku memeriksa suhu tubuh Nami, sudah mencapai 42 derajat." Ucap Vivi.



"42 derajat?!" Ucap Dalton yang terkejut.



Vivi menjelaskan tentang kondisi yang dialami oleh Nami pada Dalton dengan sangat rinci.



"Apa pun itu, kami butuh dokter! Dimana penyihir itu berada?" Tanya Sanji.



"Penyihir, ya. Saat melihat keluar jendela, terlihat beberapa gunung, kan?" Ucap Dalton.



"Ya, gunung yang sangat ting..." Ucap Sanji yang terhenti karena melihat boneka salju buatan Luffy. "Ku tendang kalian!"



Sanji pun menghancurkan boneka salju buatan Luffy dan Usopp lalu membawa mereka masuk ke dalam.



Tanaka hanya menghela nafas karena sempat-sempatnya mereka berdua bermain-main seperti itu disaat teman mereka sedang kritis.



"Gunung-gunung itu bernama Drum Rockie. Apa kalian melihat kastil yang berada di puncak gunung tertinggi?" Ucap Dalton.



Mereka semua kecuali Tanaka melihat gunung tertinggi tersebut dari jendela kamar Dalton.



"Kastil itu tak lagi memiliki raja." Ucap Dalton.



"Ada apa dengan kastil itu?" Ucap Vivi.



"Sang penyihir yang menjadi satu-satunya dokter di negeri ini yaitu Dokter Kureha tinggal disana." Ucap Dalton.



"Apa?! Seorang dokter kenapa tempat tinggalnya sejauh itu?! Kalau begitu segera panggil dia kesini! Ada pasien darurat!" Ucap Sanji.



"Kami ingin menghubunginya, tapi tak ada cara menghubunginya!" Ungkap Dalton.



"Dan dia menyebut dirinya dokter?! Dokter macam apa dia itu?!" Tanya Sanji bingung.



Dalton menjelaskan pada Sanji dan lainnya tentang dokter Kureha tersebut.



"Lalu apa yang terjadi jika ada penduduk yang sakit atau terluka?" Ucap Vivi.



"Dia akan turun dari gunung kapanpun dia suka. Lalu dia mencari pasiennya dan merawatnya dan sebagai bayarannya ia mengambil apapun dari rumah si penderita sakit." Jelas Dalton.



"Benar-benar nenek bersifat buruk, ya!" Ucap Usopp.



"Hei, dia itu seperti bajak laut saja!" Ucap Luffy.



"Tapi, bagaimana nenek itu bisa menuruni gunung?" Ucap Vivi.



Dalton menjelaskan tentang sebuah rumor yang beredar di para warga yang melihat Kureha menaiki sebuah kereta terbang melewati cahaya bulan dengan ditarik seekor makhluk aneh



"Karena itulah dia dipanggil penyihir." Tegas Dalton.



"Sudah kuduga, kan? Itu pasti manusia salju! Karena disana itu gunung bersalju! Sudah kuduga pasti ada! Penyihir dan Manusia Salju?! Kumohon, jangan pertemukan kami dengan mereka!" Ucap Usopp ketakutan.



"Dia memang seorang dokter, tapi aku sama sekali tak menyarankan kalian mendatanginya. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu turun gunung lagi." Ucap Dalton.



Sanji, Vivi dan Usopp kebingungan karena mereka tidak bisa mendapatkan dokter secepatnya. Sedangkan Luffy hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.



"Kita tidak punya waktu! Kita datangi saja secara langsung ke tempat dokternya." Ujar Tanaka.



Luffy menganggukkan kepalanya dan dia berjalan mendekati Nami.



"Hei, Nami! Nami! Kamu bisa mendengarku tidak?" Panggil Luffy membangunkan Nami dengan menepuk-nepuk pipinya.



"Hei, apa yang kau lakukan?!" Ucap Usopp, Sanji dan Vivi garang sedangkan Tanaka hanya diam.



Nami kemudian perlahan membuka matanya.



"Oh, dia bangun!" Ucap Luffy. "Hei, satu-satunya cara menemui dokter, kita harus mendaki gunung! Kita harus mendakinya!"



"Jangan bercanda! Apa yang akan terjadi pada Nami nanti?!" Tanya Sanji.



"Tenanglah, dia akan ku gendong!" Jawab Luffy dengan tenangnya.



Vivi langsung tidur setuju karena tindakan Luffy yang cukup membahayakan nyawa Nami. Tapi Luffy memberikan penjelasan kalau Nami membutuhkan dokter dan untuk itu Nami harus dibawa langsung ke tempat dokter daripada menunggu.



"Itu memang benar, tapi percuma saja! Lihatlah betapa menanjaknya gunung itu!" Ucap Vivi.



"Kalau begitu apa ada cara lain untuk menyelamatkan Nami? Kita tidak bisa membuang waktu terlalu lama, nyawa Nami sedang terancam saat ini." Ucap Tanaka yang membuat Vivi dan Sanji terdiam.



"Aku harus segera sembuh...aku harus segera memenuhi janji dengan Vivi. Kuserahkan padamu, kapten!" Ucap Nami sambil mengeluarkan tangannya dari selimut.



"Aku tau kamu pasti bilang begitu! Serahkan saja padaku!" Ucap Luffy sambil menepuk tangan Nami.


"Baiklah, aku juga ikut!" Ucap Sanji dan Tanaka.


"Dengar, Luffy! Ingatlah kalau kamu jatuh meski sekali, Nami akan mati seketika!" Peringat Usopp.



"Meski hanya sekali?!" Tanya Luffy.



"Tunggu! Biar kuikat yang erat!" Ucap Vivi sambil mengikatkan kain agar Nami tidak terjatuh dari gendongan Luffy. "Sudah siap. Baiklah, aku akan menunggu kalian disini. Kalau ikut, aku hanya akan membebani."



"Aku juga!" Ucap Usopp.



"Baiklah! Ja, Nami! Pegangan yang erat, ya!" Ucap Luffy.



"Ya..." Ucap Nami.



"Jika kalian benar-benar ingin kesana, aku takkan menghentikan kalian, tapi setidaknya kalian mendakilah di sisi yang berlawanan. Kalau mengambil jalur ini, ada Lapin. Mereka kelinci karnivora yang ganas. Kalau sampai bertemu dengan kelompok mereka, nyawa kalian akan terancam." Jelas Dalton.



"Kelinci? Tapi kami sedang terburu-buru! Tak apa, kan?" Tanya Luffy meminta persetujuanku dan Sanji.



"Jalur manapun tak masalah." Ucap Tanaka.



"Ya, tinggal tendang saja!" Ucap Sanji.



"Tendang?! Jangan bodoh, kalian bisa mati!" Ucap Dalton.


__ADS_1


"Tenanglah! Baiklah, ayo berangkat, Sanji, Tanaka! Sebelum Nami mati!" Ucap Luffy lalu berlari.



Begitu juga Sanji dan Tanaka segera mengikuti lari Luffy.



Akan tetapi baru beberapa langkah Tanaka langsung memberhentikan Luffy dan Sanji dengan kekuatan forcenya. Dia teringat kalau tidak perlu mendaki gunung tersebut untuk bertemu Kureha.



"Tunggu dulu!" Pinta Tanaka.



"Ada apa Tanaka?" Tanya Luffy.



"Apa yang kamu lakukan? Kita terburu-buru! Nyawa Nami sedang terancam!" Ujar Sanji yang marah.



Vivi, Usopp dan Dalton juga segera menghampiri mereka berempat.



"Ada apa? Kenapa kalian berhenti?" Tanya Vivi



"Ya, cepat bawa Nami ke dokter yang ada di kastil itu." Ujar Usopp.



Mengabaikan Vivi dan Usopp, Tanaka menatap Luffy. "Kapten apa kamu percaya denganku?" Tanya Tanaka.



Luffy merasa bingung dan Sanji terus menerus marah pada Tanaka yang mengulur waktu.



"Luffy apa kamu percaya sama aku apa tidak?" Tanya Tanaka yang mengabaikan Sanji.



"Ya, aku percaya padamu!" Jawab Luffy dengan tegas.



"Dalton apa desa tetangga jauh dari tempat ini?" Tanya Tanaka.



"Tidak, hanya setengah jam dari sini dengan kereta salju, kenapa?" Tanya Dalton.



"Luffy, kita akan pergi ke desa tetangga untuk menyelamatkan Nami!" Ujar Tanaka.



Sanji yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung mendekati Tanaka dan menarik kerah pakaiannya.



"Apa maksudnya kita harus ke desa tetangga? Bukankah dokternya ada di kastil disana?" Tanya Sanji.



"Kita tidak perlu kesana untuk menemukan dokter karena dokter akan turun menuju ke desa tetangga." Ujar Tanaka.



Mendengar itu membuat mereka semua terkejut.



"Bagaimana bisa kamu tahu kalau dokter akan mendatangi desa itu?" Tanya Usopp.



"Vivi, bukankah aku pernah mengatakan padamu kalau aku kadangkala bisa melihat masa depan?" Tanya Tanaka.



Vivi menganggukkan kepalanya karena pada saat itu Tanaka memberitahu padanya tentang penyamarannya yang sudah terungkap tapi Vivi tidak mempercayainya.



" ... akibatnya aku kehilangan Igaram ... Tunggu dulu, Tanaka, apa mungkin ... " Ujar Vivi yang sadar akan sesuatu.



"Ya, aku baru saja mendapatkan penglihatan dan penglihatan itu tentang dokter Kureha yang mendatangi desa tetangga." Jelas Tanaka.



Mendengar hal itu membuat Usopp dan Sanji terkejut sedangkan Luffy hanya terdiam karena tidak paham akan pembicaraan tersebut, begitu juga dengan Dalton.



"Luffy, kita harus pergi ke desa tetangga secepatnya!" Pinta Vivi.



"Vivi kamu juga?" Tanya Sanji.



"Percayalah sama Tanaka! Kita tidak punya waktu! Kita harus pergi ke desa tetangga sebelum dokter itu kembali lagi ke kastil." Ujar Vivi.




Meskipun Dalton tidak paham akan apa yang mereka bicarakan, tapi karena sudah diminta seperti itu, dia segera menyiapkan kereta salju.



Dengan cepat kereta salju sudah siap, akan tetapi kereta salju itu hanya bisa muat lima orang yang seharusnya tujuh orang. Nami harus dibaringkan sehingga memakan tempat dua orang.



"Aku dan Usopp akan menyusul nanti kalian bisa pergi duluan." Ujar Vivi.



Mereka bertiga menganggukkan kepalanya dan Dalton segera mengemudikan kereta salju tersebut yang ditarik oleh dua hewan yang mirip seperti kambing.



Seperti yang dikatakan oleh Dalton, desa tetangga bisa ditempuh hanya setengah jam saja.



Sesampainya di sana Dalton segera bertanya pada seseorang warga tentang dokter Kureha dan warga itu memberitahu kalau dokter Kureha sedang berada di bar untuk mengobati pasien seorang anak kecil.



Tanpa pikir panjang mereka langsung pergi ke bar tersebut dengan Nami di gendong oleh Luffy.



Pada saat mereka masuk ke bar, seekor rusa sedang menyeruduk kepala seorang bocah.



"Penanganan medis yang cukup ekstrim?" Pikir Tanaka.



"Apa dia seorang dokter?" Tanya Sanji.



"Lihat, Sanji ada rusa, Ayo kita tangkap untuk dijadikan makanan!" Ujar Luffy yang sudah lupa dengan tujuan awal mereka datang ke tempat itu.



Setelah beberapa saat penanganan medis pada bocah itu sudah selesai dan dokter Kureha mulai melakukan penghitungan biaya yang mana biaya mencapai 50% dari biaya pendapatan bar tersebut.



Tentu saja orang-orang langsung protes dan menuduh kalau dokter Kureha sedang menipu mereka dengan menyatakan kalau anak tersebut sebenarnya tidak mengalami sakit ataupun luka sama sekali.



"Apa dia benar-benar seorang dokter? Bukan perampok kan?" Tanya Sanji.



"Daging, daging, daging, aku ingin makan daging rusa." Ujar Luffy dengan air berliur di mulutnya.



Tanaka langsung memukul kepalanya agar sadar dengan tujuan awal, yakni menyelamatkan Nami.



Dokter Kureha ingin pergi karena urusannya sudah selesai, tapi dia berhenti saat melihat Dalton.



"Yo, Dalton, sedang apa kamu kesini?" Tanya dokter Kureha.



"Dokter, aku memiliki pasien darurat yang harus diperiksa." Ujar Dalton sambil memperlihatkan Nami yang sedang di gedong oleh Luffy.



Dokter Kureha langsung mendekati Nami dan memeriksanya.



"Aku tidak bisa melakukannya disini, serahkan dia padaku, akan aku rawat di tempatku." Ujar Kureha dengan sedikit serius.



"Oke, Ayo pergi!" Ujar Luffy.



"Tidak, kereta luncur yang aku pakai hanya cukup dua orang, serahkan dia padaku, kalian bisa menunggu disini atau mendaki gunung untuk bisa berada di kediamanku." Jelas dokter Kureha.



Sanji menolak karena dia tidak bisa menyerahkan Nami pada orang asing begitu saja, tapi Tanaka meyakinkan Sanji Nami akan baik-baik saja dengan dokter Kureha.



"Chopper bawa kereta luncur kesini!" Ujar dokter Kureha yang memanggil rusa yang memakai topi di kepalanya.



Chopper segera pergi meninggalkan bar itu dan dengan cepat membawa kereta luncur di depan bar.



Luffy meletakkan Nami di kereta luncur itu, dokter Kureha naik ke kereta itu dan langsung pergi menuju ke kastil.

__ADS_1



"Ayo kita juga harus pergi ke kastil." Ujar Tanaka.



"Ya!" Sahut Sanji dan Luffy.



Mereka bertiga langsung pergi pergi ke gunung tertinggi tempat kastil berada dengan arahan dari Dalton.


Tanaka, Luffy dan Sanji terus mendaki gunung yang saljunya menumpuk sehingga membuat mereka sedikit susah untuk berlari ataupun berjalan.


"Rasanya jadi sedikit lebih dingin, ya. Anginnya juga makin kencang." Ucap Luffy.



"Lalu kenapa kamu masih memakai celana pendek begitu? Melihatnya saja sudah ngeri sendiri!" Ucap Sanji.



"Ini sudah jadi polisiku!" Tegas Luffy.



"Polisi apa maksudmu? Yang benar itu policy!" Ucap Sanji yang membetulkan kata Luffy.



"Ya, itu!" Ucap Luffy. "Oh iya, apa kamu tau? Orang-orang di negeri salju nggak pernah tidur, tau!"



"Kenapa begitu?" Tanya Sanji.



"Habisnya kalau mereka tertidur mereka akan mati!" Ucap Luffy.



"Jangan bodoh! Yang begituan mana ada?!" Ucap Sanji.



"Beneran, loh! Dulu ada yang memberitahukannya padaku!" Ucap Luffy.



"Pasti Usopp, kan?" Tanya Sanji yang langsung menebak informannya Luffy.



Secara tiba-tiba seekor binatang bernama Lapin berukuran kecil menyerang mereka bertiga, tapi dengan mudah mereka menghindarinya sambil terus mendaki.



"Bukan! Aku mendengarnya di bar kampung halamanku!" Bantah Luffy.



Lapin menyerang lagi yang hanya mereka hindari tanpa ada untuk melawan balik. Saat ada pohon yang tumbang, kami langsung melompatinya.



Lapin itu terus menyerang hingga akhirnya Sanji kesal dan menendang Lapin itu.



"Siapa sih dia itu?" Tanya Sanji.



"Binatang bernama lapin, bukankah Dalton sudah memberitahu tentang binatang itu?" Jawab Tanaka.



"Salju disini dalam sekali, ya." Ucap Luffy.



Lalu di depan kami berdiri banyak Lapin berukuran besar. Lapin berukuran kecil yang baru saja ditendang oleh Sanji berdiri di samping lapin besar dengan pipi yang terluka dan mengeluarkan air mata.



Lapin kecil itu seperti anak kecil yang menangis dan mengadu pada orang tuanya setelah dipukul.



"Mau apa mereka?" Tanya Sanji.



"Mereka berwarna putih dan bertubuh besar, pasti beruang kutub! Tak salah lagi!" Ucap Luffy.



"Bukan, lapin, itu nama binatang itu." Bantah Tanaka.



"Dia melompat?!" Ucap Sanji saat melihat salah satu Lapin melompat dan akan menyerang mereka bertiga.



Mereka pun menghindari serangannya.



"Ini bohong, kan? Kenapa dia bisa bergerak seperti itu? Dia gorila, ya." Ucap Sanji.



"Bukan, dia beruang kutub!" Ucap Luffy.



"Astaga sudah berapa kali aku memberitahu pada kalian, kalau mereka itu lapin!" Ujar Tanaka yang marah.



"Tapi, sebanyak ini?!" Ucap Sanji.



Tanaka hanya menatap datar sekumpulan Lapin yang ada di depannya.



"Kita harus pergi ke kastil secepatnya, Nami menunggu kita! Minggirlah kalian, dasar kelinci sialan!"



"Ah terserah kalianlah mau panggil apa mereka, capek aku memberitahu kalian." Gumam Tanaka.



"Mereka datang!" Ucap Luffy yang melihat seekor lapin melompat untuk menyerang mereka.



"Ya!" Ucap Sanji yang bersiap di posisi bertarung, begitu juga dengan Tanaka dan Luffy.



Tanaka mengeluarkan Honjo dari sarungnya karena dia tidak ingin membunuh makhluk itu.



Sanji menendang Lapin yang menyerang itu tapi, "Sial! Di tengah salju begini, tendanganku tak begitu berpengaruh!" Ucap Sanji.



Mereka kemudian diserang secara bersamaan oleh Lapin itu.



Tentu saja, meskipun kondisi lingkungan yang sangat merugikan mereka bertiga dan menguntungkan para lapin karena tempat itu adalah habitat mereka, Tanaka, Luffy dan Sanji masih bisa memberikan perlawanan yang seimbang, bahkan mungkin lebih kuat dari para lapin itu.



Mereka terus berlari untuk menghindari para Lapin itu daripada melawan mereka agar bisa bisa mencapai puncak gunung lebih cepat.



"Mereka datang?" Ucap Luffy.



"Tidak, tak ada." Ucap Sanji saat melihat tidak ada lagi Lapin yang mengejar.



"Baiklah, sepertinya kita berhasil lari." Ucap Luffy.



"Tidak, masih belum." Ucap Sanji.



Kami lalu melihat sekumpulan Lapin itu sudah berada di atas bukit di depan kami.



"Hebat!" Ucap Luffy.



Sekumpulan Lapin itu lalu melompat-lompat.



"Sedang apa mereka? Apa mereka lapar karena kita buat kesal?" Tanya Luffy.



"Tidak, tunggu sebentar. Jangan-jangan...mereka!" Ucap Sanji yang merasakan hal yang buruk akan terjadi. "Mereka benar-benar melakukannya! Ini bohong, kan?"



"Hei Sanji, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Luffy.



"Kita harus lari!" Tegas Tanaka



"Eh, lari? Lari kemana?" Tanya Luffy.



"Kemana pun tak masalah! Ke tempat yang lebih tinggi! Longsornya! Longsornya mendekat!" Teriak Sanji.



Mereka pun berlari untuk menghindari longsor salju yang dibuat oleh para lapin tersebut.



"Kelinci-kelinci sialan itu takkan ku maafkan, sial!" Teriak Sanji.

__ADS_1


__ADS_2