PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 10 Tegal Kurusetra


__ADS_3


Dalam cerita wayang, Kurusetra merupakan tempat pertempuran antarsaudara sepupu. Yakni, antara Pandawa dan Kurawa, sama-sama keturunan Abiyasa, yang dibantu para sekutu masing-masing. Mereka berperang memperebutkan kekuasaan atas Astina dan Indraprastha.


Kurusetra menjadi saksi bisu begitu bengisnya perang yang terjadi di tempat itu. Setiap jengkal tanah bergelimpang kwanda (jasad) pasukan dan senapati dari kedua pihak. Bau anyir menyengat di mana-mana sehingga suasana siang pun terasa menggidikkan. Peperangan itu tidak menyisakan sedikit pun sisi kemanusiaan. Kebencian di antara mereka begitu memuncak.


Tersebutlah ketika itu, wadyabala Pandawa dan Kurawa sudah siap untuk berperang.  Dengan barisan yang sudah siap sedia, mereka mulai mengadakan pertempuran.


Kurawa mengambil tempat di sebelah timur Tegal Kurusetra. Sebuah tempat yang berupa tanah lapang yang dalam bahasa jawa disebut ‘ara ara’. Para kurawa sudah mempersiapkan senjata dan mengambil barisan di tepi tegal Kurusetra bagian timur. Sedangkan Pandawa juga sudah mempersiapkan pasukannya di tepi tegal Kurusetra bagian barat,


Pada perang yang merupakan permulaan dari perang suci Bharatayuda tersebut, Nampak barisan Pandawa dan sekutunya dipimpinoleh Raden Werkudara atau Bratasena atau Bima. Kesatriya yang berbadan tinggi besar yang merupakan anak kedua dari para Pandawa. Sedangkan Kurawa dipimpin oleh Dursasana, penegak Kurawa yang berbadab tinggi besar dan gemar tertawa. Apapun baginya bisa jadi sebuah lelucon. Dia merupakan salah satu kesatriya Kurawa dari kasatriyan Banjarjumput atau Banjarjunut.


Pasukan Kurawa bersama dengan sekutu sekutunya serta pasukan Pandawa bersama dengan semua Negara dan orang orang yang mendukung mereka sudah siap bertempur semua………


Saat itulah, prabu Puntadewa atau Yudistira sedang meneliti ‘gelar baris’ para pasukan Pandawa yang sudah berbaris rapi di tegal Kurusetra. Namun setelah selesai melakukan pengecekan barisan Pandawa, ada yang aneh yang dilakukan oleh Prabu Puntadewa. Tiba tiba saja pambarep Pandawa itu mencopot gelung yang dipakainya dan diganti dengan topi perang yang disiapkannya.


Yang lebih mengherankan lagi, Prabu Puntadewa kemudian berjalan menuju ke medan peperangan dengan berjalan kaki dan tanpa membawa senjata. Padahal saat itu kereta perang sudah disiapkan untuk manggalaning jurit atau senopati perang yang akan bertarung di medan laga.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat para Pandawa yang lain merasa keheranan. Kemudian tanpa di komando. Bima, Arjuna dan Nakula Sadewa segera berjalan mengikuti kakaknya yang sudah lebih dahulu berjalan ke tengah medan pertempuran.


“Kanda Prabu, ada apa sebenarnya ini? Mengapa kanda Prabu tidak menaiki kereta perang dan membawa senjata.justru berjalan dan tanpa membawa senjata apapun ke tempat musuh kita Kurawa? Kami mengkawatirkan keselamatan Kanda Prabu? “ begitulah kata kata yang keluar dari mulut para Pandawa.


Namun apa yang terjadi, Prabu puntadewa tidak memberikan jawaban sedikitpun atas pertanyaan saudara saudaranya. Bahkan makin mempercepat langkahnya menuju ke tempat dimana para Kurawa berada. Sementara itu Bima, arjuna serta Nakula Sadewa segera menemui pujangga atau penasehat perang Pandawa yaitu Prabu Sri Bhatara Kresna. Mereka meminta petunjuk dengan apa yang telah dilakukan oleh kakaknya Yudistira, sekaligus sangat kawatir dengan kejadian tersebut.


Pada saat itulah kemudian Raja Dwarawati yang merupakan titisan dari Dewa Wisnu itu kemudian memberikan penjelasan.


“Adik adik ku Pandawa, kalian tidak usah kawatir. Apa yang dilakukan oleh kakakmu Yudistira itu adalah perbuatan yang baik. Dia menepati darmanya sebagai seorang yang menduduki kanoman atau saudara muda. Dia ingin menghaturkan sembah dan permintaan maaf sekaligus meminta doa restu dari para sesepuh yang saat ini membela Kurawa. Dia ingin menemui Beghawan Bisma, Prabu Salya, Beghawan Druna dan Resi Karpa. Mereka adalah sesepuh dan juga guru para Pandawa. Sudah selayaknya dan sewajarnya jika Yudistira melakukan sungkem dan meminta restu dari keempat sesepuh ini. Jadi kalian tidak usah kawatir yang berlebihan” kata Prabu Kresna.


Kata kata dari Prabu Kresna itu akhirnya mampu membuat hati para Pandawa menjadi tenang.setelah mendapat penjelasan dari pujangga perang Pandawa itu akhirnya Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa segera mengikuti jejak kakaknya menuju ke tempat empat sesepuh tadi.


“Wah, kenapa itu si Puntadewa kok sudah kesini ya? Apa sudah ingin menyerah? “


“Mungkin ingin minta senjata dari Resi Bisma barangkali? Dia mungkin sudah takut karena guru kita memihak pada kita”


“Wah, tidak tahu malu ya, sekalian sajalah menyerah daripada dipermalukan oleh Resi Bisma nanti”

__ADS_1


Dan masih banyak lagi olok olok dari para Kurawa kepada mereka. Namun Yudistira dan saudara saudaranya Pandawa tidak bergeming. Mereka terus menuju ke tempat Resi Bisma, Prabu Salya, Beghawan druna dan Resi Karpa. Tujuan mereka hanya satu, yaitu bertemu dengan para pepunden mereka.


Setelah sampai di depan Beghawan Bisma, dan para pepunden yang lain, Yudistira mewakili para Pandawa yang lain segera berkata “ Mohon ampun para sesepuh, Eyang Bisma, Bapa Guru Druna, Prabu Salya dan Eyang Karpa. Cucumu Pandawa mohon maaf dan mohon ampun karena hari ini para Pandawa harus berani melawan para sesepuh semua. Kami memohon kepada Eyang semua untuk bisa bersatu dengan para Pandawa, karena kami para Pandawa hanya ingin meminta hak kami dari para Kurawa”


Mendengar ucapan dari Yudistira tersebut, Beghawan Bisma menghela nafas berat.


“Cucuku Yudistira. Terima kasih Engkau sudah sudi untuk datang dan meminta restu pada eyangmu. Ketahuilah cucuku, jika kamu tidak datang sebelum perang ini terjadi, mungkin Eyang tidak akan segan segan untuk bertarung melawan kalian, tapi karena kalian datang pada saat ini, maka restu Eyang untukmu, semoga kamu menang dalam perang. Perihal permintaanmu untuk bergabung sengan Pandawa, itu adalah sesuatu yang tidak mungkin cucuku. Karena Eyang sudah terlanjur makan dan hidup di Negara Hastina, makan dari pemberian Kurawa dan Daryudana. Namun jika kamu mempunyai permintaan lain, mungkin Eyang bisa memenuhinya” kata Resi Bisma.


“Mohon maaf Eyang, jika memang Eyang bersikukuh untuk membantu para Kurawa, Kami tidak bisa berbuat apa apa. Hanya satu yang kami minta, Eyang sudi memberikan para Pandawa agar unggul di dalam peperangan ini Kanjeng Eyang?” kata Yudistira kemudian.


“Baiklah cucuku. Eyang akan berusaha agar cucuku Pandawa bisa unggul dalam perang Bharatayuda ini. Perlu cucuku ketahui. Memang dalam tata lahir Eyang membantu para Kurawa, tapi dalam hati Eyang, batin Eyang tetap manunggal jadi satu dengan cucuku Pandawa. Jadi cucu Prabu tidak usah terlalu kawatir, doa Eyang tetap untuk kemenangan cucu cucuku Pandawa” kata Resi Bisma.


“Kalau begitu, bagaimana kami bisa menang jika yang menjadi senapati para Kurawa adalah Eyang Bisma, sedangkan kami tahu walaupun kami berlima bersama sama untuk melawan Eyang pun tidak akan menang?” kata Yudistira setengah putus asa karena tidak berhasil membujuk Beghawan Bisma bergabung dengan Pandawa.


“Cucuku, apa yang kamu katakana memang benar. Jangankan titah sesama manusia. Sekalipun Dewa Indra turun untuk membantu melawan pun Eyang, Eyang rasa belum mampu mengalahkan keahlian Eyang dalam berperang. Tapi tidak ada seorangpun di dunia ini yang tanpa cacat dan kelemahan. Setiap sesuatu pasti ada kelemahan atau pengapesannya. Demikian pun juga Eyang. Ilmu kadigdayaan Eyang akan berkurang jika menghadapi musuh wanita. Itulah yang menjadi satru dari pun Eyang. Jika menghadapi musuh wanita, maka kadigdayaan Eyang akan berkurang bahkan bisa habis tak tersisa, ingatlah itu cucuku jika pada saatnya Eyang maju menjadi Senapatinya Kurawa” kata Beghawan Bisma.


Betapa kagetnya para Pandawa mendengar perkataan dari Beghawan Bisma. Apa yang akan terjadi selanjutnya di Tegal Kurusetra, nantikan episode selanjutnya ya……

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan juga kritik saran untuk cerita ini………


Selamat membaca……………..


__ADS_2