PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 12 Gugurnya Nara Putra Mandraka


__ADS_3

Perang besar masih terjadi dengan sengit. Kematian Raden Utara membawa pukulan yang sangat besar bagi para Pandawa, terutama Raden Wiratsangka. Raden Wiratsangka adalah saudara dari Raden Utara. Dia tidak terima dengan kematian saudaranya. Akhirnya dia maju ke medan perang dan berhadapan langsung dengan senapati perang Kurawa Sang Beghawan Druna.


Putra dari Raja Wiratha itu langsung merangsek ke hadapan sang Druna. Sambil menghunus pedang dan  menunggang kuda perang, dia kemudian menyerang senapati Kurawa itu.


Beghawan Druna walaupun dengan tangan yang hanya sebelah karena ketika muda dihajar karena kesalahannya yang mengakibatkan tangan yang satunya lumpuh dan tidak bisa digunakan, namun dia adalah gurunya Pandawa dan Kurawa. Dalam hal keahlian memanah, Beghawan Druna sudah tidak diragukan lagi. Dia sangat lihay dan mahir menggunakan senjata yang satu ini. Bahkan ketika masih menjadi guru bagi Pandawa dan Kurawa, yang memberi pelajaran memanah bagi para Pandawa termasuk Raden Arjuna juga Beghawan Druna.


“Beghawan Druna, saya tidak terima jika saudaraku harus mati di tangan kalian. Aku akan menuntut balas kematian saudaraku” kata Raden Wratsangka dengan gemetar menahan marah.


Beghawan Druna tersenyum tipis sambil menyiapkan busur anak panah untuk senjata melawan para Pandawa.


“Dalam perang, kalah dan menang, hidup dan mati adalah hal yang biasa Wiratsangka. Siapapun yang turun ke medan laga, harus berani menanggung rasa itu. Jika kamu ingin menuntut balas kematian Raden Utara, majulah secara kesatriya. Dan kita tunjukkan mana yang menang dan mana yang kalah” kata Beghawan druna kalem.


Melihat hal itu, bukan main marahnya Raden Wiratsangka. Dia kemudian mengambil busur panah dan diarahkan langsung ke Beghawan Druna. Namun berkali kali panah itu melesat, tidak ada satupun yang berhasil mengenai Pandita yang berasal dari Pertapaan Sukalima itu.


Melihat usahanya selalu gagal, Wiratsangka semakin jengkel. Lambat laun serangannya makin membabi buta, dan kesempatan itu digunakan oleh Beghawan Druna untuk menyerang balik Wiratsangka. Senjata panah andalan dari senapati Kurawa itu kemudian melesat bagaikan kilat. Wiratsangka yang tidak menduga adanya serangan tersebut, berusaha menghindar. Namun panah itu terlalu cepat dan berhasil menembus paha kananya.


Wiratsangka meringis kesakitan, darah segar mengucur dari luka yang sangat lebar di kakinya. Ketika dia berusaha untuk bangkit, tidak disangka satu anak panah lagi melesat menembus dada Wiratsangka. Akhirnya pemuda naraputra Wiratha itu harus gugur kembali di medan laga.

__ADS_1


Suasana riuh kembali terdengar. Para prajurit Pandawa geger. Kematian Raden Wiratsangka segera tersebar dan sampai ke Manggalayuda Pandawa.


Raden Arya Seta yang mengetahui dua saudaranya, Raden Utara dan Raden Wiratsangka gugur segera bergegas mengendarai kuda dan menyiapkan senjata untuk berperang. Laju kuda Raden Arya Seta sangat cepat. Yang dituju oleh Raden Arya Seta adalah Raja Mandraka, Prabu Salya.


Suasana saat itu benar benar mencekam, semua orang sibuk untuk saling melindungi diri dan berusaha membunuh lawan sebanyak mungkin. Kedatangan Raden Arya Seta hampir saja tidak disadari dan di ketahui oleh Prabu Salya. Mengetahui hal itu, para prajurit Kurawa segera memberondong dan melempari Raden Arya Seta dengan segala macam persenjataan.



Namun Naraputra Mandraka yang satu ini tidak bisa dianggap enteng. Semua persenjataan, baik tombak, panah, pedang , keris dan berbagai senjata yang dilemparkan oleh para prajurit Kurawa, tidak ada satupun yang berhasil mengenai dirinya.


Mengetahui dirinya dikeroyok oleh para Kurawa, membuat Raden Arya Seta menjadi murka. Diambilnya kereta perang yang ada di depan prajurit Pandawa. Kemudian dia segera mengamuk bagaikan ‘banteng ketaton’. Siapapun prajurit Kurawa yang ditemui, tidak akan luput dari dirinya. Bahkan mereka yang berdiri dari jarak 5 meter dari kereta kuda pun akan tertebas tak tersisa.


Tubuh kesatriya Kurawa itupun akhirnya harus terinjak injak kaki kuda dan roda kereta. Melihat musuhnya tidak berdaya, kemudian  Raden Arya Seta segera mengayunkan gada kea rah kepala Raden Rukmarata. Seketika itu juga, gugurlah Raden Rukmarata.


Setelah berhasil membunuh Raden rukmarata, amukan dari Raden Arya Seta tidak berhenti sampai disitu. Kemudian Raden Arya Seta segera melesatkan keretanya menerjang barisan Kurawa. Para prajurit dari Kurawa itu menjadi kocar kacir, mereka sibuk menyelamatkan diri. Jika tidak, maka tubuh mereka akan hancur diinjak kuda dan roda kereta Raden Arya Seta.


Mengetahui hal itu, Sang Maharesi Bisma segera bertindak. Dia tidak ingin terlalu banyak korban lagi di pihak Kurawa. Beghawan Bisma kemudian mengambil busur panah, dan diarahkan menuju ke kereta milik Raden Arya Seta.

__ADS_1


Bidikan Sang Maharesi Bisma betul betul sangat akurat. Panah itu tepat mengenai kuda dan kereta yang dikendarai oleh Raden Arya Seta. Seketika itu, kereta tersebut hancur berkeping keeping. Untungnya Raden Arya Seta sempat melompat dari kereta sesaat sebelum kereta itu hancur.


Pertarungan antara Raden Arya Seta dan Resi Bisma akhirnya dilanjutka dengan pertarungan di daratan. Walaupun Resi Bisma adalah ksatriya yang sangat sakti mandraguna dan memiliki segudang ilmu kadigdayaan, namun Raden Arya Seta juga bukan ksatriya yang bisa dianggap enteng.


Mereka bertempur dengan sangat sengit. Saling serang, saling tangkis, saling tending dan berbagai gerakan jurus jurus yang mematikan.


Keahlian Resi Bisma yang paling bagus adalah dalam hal memanah. Sedangkan Raden Arya Seta adalah dalam hal olah gada atau tombak. Hal in sedikit menguntungkan bagi Raden Arya Seta. Dengan bertarung pada jarak dekat, maka senjata yang paling efektif adalah pedang, tombak, gada atau keris. Dan disinilah keahlian Raden Arya Seta berada.


Pertarungan makin berlangsung seru. Belum ada tanda tanda siapa yang akan menang dalam adu tanding antara Resi Bisma dan Raden Arya Seta. Namun setelah berpuluh puluh jurus berlalu, Nampak disitu ada kelemahan pada diri Resi Bisma. Dengan bertarung jarak dekat, rung gerak Sang Maharesi Bisma tidak bisa begitu longgar.


Kesempatan ini digunakan dengan sebaik baiknya oleh Raden Arya Seta. Pada saat mendapat kesempatan bagus, dia berhasil mengayunkan gadanya tepat mengenai punggung sang Maharesi Bisma. Laki laki tua itu kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kesalahan kecil saat dia berusaha menghindar dari sergapan Arya Seta tadi, membuat dirinya lengah.


Sergapan dari arah kanan yang seakan akan mau menebaskan gada kea rah kaki Sang Maharesi Bisma, ternyata hanya tipuan kecil yang dibuat Arya Seta. Tujuan sebenarnya adalah utnuk menyerang nya dari sebelah kanan. Dan itu terlambat disadari oleh Sang Maharesi Bisma. Akhirnya, dia harus merasakan sakit yang amat sangat karena pukulan gada dari Raden Arya Seta.


Karena merasakan sakit yang amat sangat, akhirnya Beghawan Bisma kemudian lari meninggalkan medan peperangan. Dia berlari dan berlari sambil merasakan sakit di punggungnya yan semakin menjadi. Pelarian Sang maharesi Bisma berakhir di tepian sungai Gangga.


Apayang akan dilakukan Resi Bisma di pinggir sungai Gangga, nantikan episode selanjutnya ya………

__ADS_1


Terimakasih untuk readers yang telah memberikan like dan votenya


Selamat membaca........


__ADS_2